03. RANGER

2031 Words
Chika merebahkan badannya dikasur kesayangan miliknya dan memejamkan mata sambil mengingat kejadian tadi pagi di sekolah ia tidak pernah menyangka kalau bisa kenal dengan Dika mas crush satu SMA Karya Negara. Mimpi apa gua bisa interaksi sama dia dan begonya dalam satu hari ini dua kali berurusan sama dia, emang ganteng sih gua akuin arghhh!. Chika langsung bersembunyi kedalam selimutnya dan mencoba tidur untuk melupakan cowok itu, sekalinya ia makan ke kantin dan langsung berurusan sama cowok yang digilai banyak cewek cantik dari dalam sekolah ataupun luar sekolah. "Chika..." "Apaaa?" Chika membuka matanya saat selimut miliknya ditarik oleh Reynard abangnya mereka berbeda 10 tahun. Reynard kini sedang menjalani training di perusahaan Rendi ayah mereka berdua. "Besok pulang sekolah jangan main lo Chik" Reynard merebahkan badannya disebelah Chika sambil menyalakan tv. Chika mengernyitkan matanya tidak paham, "apa maksudnya bang gua gak paham masaaa" Chika melihat Reynard yang melihat Chika malas lalu menarik kecil rambut adiknya itu gemas. "Kita diundang sama pak Aaron Damarion pemilik perusahaan nomor satu di Indonesia" Melihat wajah Chika jauh dari kata paham. "Udahlah lo mana tahu dunia bisnis tahunya dunia SpongeBob dan kawan-kawan" Chika cemberut saat mendengar ucapan Reynard. Reynard heran melihat Chika yang bergelayut manja di lengan sebelah kanannya sambil memasang wajah sok imut. "Apaan sih lo? Cari cowok sana" Chika menggeleng dan melingkarkan tangan Reynard di bahunya untuk memeluk dirinya. "Gua lagi butuh sandaran banggg" Rengek Chika moodnya tiba-tiba saja jelek entah karena apa. Reynard yang paham dengan sifat adiknya ini langsung memeluk gadis itu dan mengusap rambutnya, "diputusin cowok lo?" Chika menggeleng. "Cinta lo bertepuk sebelah tangan? Yakin nih gua" Chika menggeleng. "Bukannn, nggak ada hubungannya sama cowok" Reynard memilih diam daripada cewek ini semakin berkoar hanya memekakkan telinganya saja. "Ya udah tidur, gua temenin. Kamar lo adem banget emang enak ya jadi anak paling kecil" Reynard melihat sekitar kamar Chika yang sangat aesthetic dan wangi. Ia kembali fokus pada tv dan saat melihat jam pukul 10 malam ia meletakkan kepala gadis yang sangat ia sayang ini dibantal meskipun ngeselin tapi tetap adik perempuan satu-satunya yang selalu ia jaga. ••• "Pa. Emangnya nanti kita mau dateng ke acaranya rekan bisnis papa?" Tanya Chika memakan rotinya. "Kok kamu tahu Chik?" Indira mama Chika bingung darimana putrinya tahu. "Bang Rey yang ngasih tahu aku, nanti pulang sekolah jangan kemana-mana gitu" Reynard baru turun dan mendengar namanya disebut, "ngomongin apaan lo Chik?" Reynard duduk di sebelah Chika yang memakan roti dengan selai coklat. "Soal undangan yang semalem lo omongin bang" Saat tahu itu Reynard hanya ber-oh sambil memakan nasi goreng yang dibuat oleh mamanya. "Iya, anaknya satu sekolah sama kamu kalau gak salah Chik" Beritahu Rendi sambil melihatnya. "Siapa? Kok baru tahu sih" Chika melahap rotinya sambil melihat Rendi yang tampak berfikir. "Lupa papa" Jawab Rendi. Nadia baru turun dari ojek online yang ia pesan dan melambaikan tangan kepada sahabatnya yang tengah berjalan santai menghampirinya, "tumben lo datengnya siang Nad?" Tanya Chika. "Palalo siang! kepagian gua b**o" Chika tertawa mendengar kekesalan sahabatnya yang satu ini. Mereka berdua berjalan melewati segerombolan cowok-cowok yang tengah duduk dipinggir lapangan dengan santai Chika maupun Nadia jalan didepan cowok itu dengan wajah cuek tidak sedikitpun meladeni sapaan centil dari gerombolan itu. "Eh ini Chika ya? Judes amat sih mentang-mentang lagi naik daon" Celetuk salah satu cowok yang berambut kribo yang biasa dipanggil Puyol dia salah satu anggota Ranger. "Mana Chika? Yang make jedai itu? Mantapp" Tambah cowok berbadan kurus tinggi yang bernama Jeki dia juga merupakan kawanan dari Ranger tapi memang jarang bergabung dengan Dika karena beda kelas. Begitulah sapaan centil dipagi hari yang dialami oleh Chika ia tahu pasti ini gara-gara kemarin ia berurusan dengan Dika dari mulai dirinya digodai di kantin, dan Dika menolongnya saat dipaksa oleh Raja. "Gila Chik seketika nama lo langsung melejit dikalangan anak Ranger dan satu sekolah" Nadia benar-benar salut dengan temannya satu ini yang sekalinya makan di kantin langsung dinotice oleh Pangeran sekolah. "Anak Ranger?" Nadia mengangguk dan menunjuk ke arah belakang saat sudah menjauh dari gerombolan cowok itu. "Yang tadi itu namanya Puyol sama Jeki dia itu anak Ranger meskipun jarang gabung sama pemimpinnya" Beritahu Nadia. "Ranger? Power rangers maksud lo?" Chika melihat kebelakang. "Mereka itu cowok yang suka nonton power rangers? Apa gimana sih? Lo gak jelas!" Nadia menjentikkan jarinya di kening Chika cukup kencang. Pletak! Chika meringis sambil mengelus keningnya. "Lo bodoh boleh b**o jangan diborong juga" Kesal Nadia. Ia akui Chika memang tidak peduli dengan macam-macam organisasi atau squad terkenal di sekolah mereka karena Chika pernah bilang; selagi dia gak kenal sama gua buat apa gua capek-capek tahu tentang mereka. "Ranger itu nama gengnya Dika, dan pemimpinnya itu adalah Dika Ragesta. Cowok yang nolongin lo kemaren" Nadia melihat Chika yang sedang berpikir keras ia heran kenapa cewek seperti Chika bisa dipilih sebagai Tosser di eskul Volly padahal memahami yang mudah saja lama tapi memang harus ia akui sahabatnya ini sangat profesional saat menjadi Tosser karena mereka selalu menang saat mengikuti arahan dari Chika. "Kok bisa lo kepilih jadi Tosser sih Chik, yang gampang aja gak paham coba" Kesal Nadia. Chika memasang wajah polos dan sambil menggeleng. "Gua juga gak nyangka bisa jadi Tosser padahal gua setiap ngarahin lo pada gak punya stategi apa-apa" Jawab gadis itu dengan polosnya. "Apa?! Jadi-" Nadia tidak menyangka selama ini ia pikir Tosser kebanggaannya itu penuh strategis saat bermain tapi nyatanya ah sudahlah. "Jadi lo selama ini ngasih komando sama kita bukan dari pemikiran lo yang benar-benar udah akurat?" Chika mengangguk tanpa dosa. "Tapi itu cuman strategis asal tembak doang?" Chika mengangguk lagi. Cukup sudah! Ia harus memasang otak lain kali saat latihan untuk lomba dengan SMA Bratawijaya. Lawan mereka minggu besok dikenal sangat hebat dalam menentukan serangan. Dan SMA Bratawijaya adalah Rival sejatinya SMA Karya Negara sejak dulu karena kedua itu sama-sama menjadi sekolah terfavorit dengan siswa-siswi yang sama mumpuni dalam bidang akademik atau non-akademik. ••• "Eh Dik gua denger-denger lo lagi digosipin sama cewek yang namanya Chika ya?" Puyol dan beberapa anak Ranger sedang berada di kelas ketua mereka. Kini suasana kelas 11 IPS 7 sangat ramai bayangkan saja setengah anak Ranger berkumpul di tempat ini. "Tempe darimana lo Yol?" Tanya Kemal membuka kuaci sambil melihat teman-temannya yang tengah sibuk membahas cewek yang bernama Chika itu. "Cewek-cewek di kelas gua heboh ngomongin tuh cewek pada ngestalk akun sosmed dia" Beritahu Puyol sambil meminum kopi hitam diikat dengan plastik yang ia bawa dari luar sekolah. Jeki menepuk bahu Dika yang daritadi hanya diam seperti orang ngantuk habis ngeronda keliling satu kampung. "Woy pak bos! Diem aje lau. Tahu nih gua pasti lagi mikir strategi buat ngelumpuhin mangsa baru yaaa" Tuduh Jeki membuat 10 temannya tersenyum penuh makna. "Sok tahu lu Jek! Sono lu pada keluar ke kantin kek gua mau tidur" Usir Dika melihat 10 temannya yang melongo atas perkataannya. Dika mengeluarkan dompetnya dan meletakkan uang seratus ribu diatas meja, "sono makan jangan balik ke kelas sebelum bel masuk" Dika langsung merebahkan kepalanya di meja tidak peduli dengan cowok-cowok itu. "Ini duit gua rasa baru digesek sama pak bos dari ATM soalnya tegang bat mana wangi lagi" Ucapan Oji membuat teman-temannya ambigu dengan perkataan yang ia lontarkan barusan. "Otak lo pada sepinteng semua sih isinya KOTOR! Udah ayo buru kita ke kantin gua yang traktir pake duit pak bos" Mereka semua langsung keluar dan ke kantin meninggalkan Dika yang tidur di kelas. Teresa yang habis dari kantin dengan Naya melihat anak Ranger berjalan dengan gagahnya dan kali ini jumlah mereka cukup banyak itu membuat para cewek-cewek terkesima dengan 11 laki-laki itu dengan dipimpin oleh Kemal di barisan paling depan. "Eh? Kok tumben nggak ada babang Dika?" Bisik Naya di teling Teresa. Ke 11 cowok keren dan tegap itu mereka seperti training TNI karena memiliki tubuh yang bagus ya meskipun tidak semua tapi dibarisan depan itu menutupi kekurangan barisan belakang. "Hai cantik, kok bengong aja nyariin aa ya?" Teresa terkejut saat digoda oleh Kemal meskipun sambil berjalan tapi tetap saja berkesan digoda oleh anak Ranger meskipun bukan langsung dari ketuanya. "Nay! Nay! Lo lihat nggak barusan dia nyapa gua?! Nayaaa gua mimpi gak sih disapa sama Kemal?" Teresa heboh sendiri sambil berjalan duluan ke kelas dan diikuti oleh Naya dibelakangnya yang sama tidak percayanya. Teresa masuk ke kelas dengan wajah senang dan mata yang berbinar ia berteriak di kelas membuat seisi kelas terkejut dan melihatnya kesal. "NADIAAA, CHIKAAA. LO TAHU GAK? HARUS TAHU GUA TADI DISAPA SAMA KEMALLL" Heboh Teresa sambil terduduk di lantai dan berpegangan dengan kaki meja. "Malu-maluin lo Ter!" Kesal Nadia menjauhkan tangan yang berada ditelinganya. "Benerrr" Naya satu pendapat dengan Nadia yang memakan lontong daunnya. "Ish! Bilang aja lo berdua pada iri sama gua gara-gara diriku yang cantik ini dinotice sama aa Kemal" Teresa tersenyum sambil membayangkan tadi Kemal menyapanya dengan suara yang errr. Chika hanya tersenyum melihat Teresa yang sepertinya sedang pindah haluan ke Kemal meskipun orang itu masih satu lingkaran dengan cowok yang ia suka dulu. "Jadi udah gak Dika nih?" Goda Chika melihat gadis mungil itu yang menggeleng kepadanya. "Dika terlalu sulit didapatkan, lagian dia juga lagi deket sama lo jadi gapapa gua ikhlas, gua udah oleng ke Kemalll" Chika melebarkan matanya sejak kapan dirinya dekat dengan cowok itu. Ohh ini gosipnya yang sampai cewek-cewek hits di sekolah sama cewek borjuis diluar sekolah pada ngestalk gua batin Chika. "Tapi tadi gua nggak lihat suami lo Chik, kenapa dia Chik?" Chika menggebrak meja. Brakkk!. "Suami-suami! Lo kira gua punya hubungan sama dia? Ya nggaklah siapa juga yang mau sama cowok playboy modelan dia gitu!!" Omel Chika. Tidak terima pasalnya sejak gosip bahwa ia dan dika memiliki hubungan hidupnya seperti dikepoin cewek-cewek penggemar Dika sampai banyak yang mengirimnya pesan di i********:. "Bisa dipegang ucapan lo yang tadi?" Semuanya melihat ke pintu kelas mereka yang ternyata Dika sudah berdiri disana sambil bersandar dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya. Semua cewek menutup mulut saat melihat Dika menyisir rambut kebelakang dengan jarinya. "Yaampun damage-nya sampai tulang betis donggg" "Itu rambutnya aja ganteng yaallah" "Kenapa masih jodoh orang yang gua puji, jodoh gua manaaa" Celetukan cewek-cewek itu membuat Chika menahan tawa mendengarnya karena yang berbicara itu tepat duduk belakangnya. Tapi memang ia akui sekarang bahwa Dika lebih dari kata tampan ia itu paket komplit banget pasti harganya mahal. Dika berjalan mendekatinya. Dia jalan aja udah bikin cewek sekelas gigit bibir, meskipun seragam yang kurang rapi seperti 2 kancing atas dilepas dan dasi yang sengaja dilonggarkan menambah kharismanya orang ganteng memang beda. "Gua mau ngomong sama lo sebentar" Dika langsung to the point saat sudah berhadapan dengan Chika yang memicingkan matanya tidak mengerti. Dika memang selalu gemas dengan cewek satu ini dari mulai awal ketemu di kantin. Nadia merasa malu ketika sifat Chika yang satu ini muncul. Nadia menyenggol sepatu cewek itu cukup kencang "Dika mau ngomong katanya sama lo" Nadia memberikan pelototan kepada Chika agar tidak kebanyakan mikir dengan ekspresi seperti itu. "Ya udah ngomong aja" Celetuk Chika melihat cowok bernetra coklat gelap itu. "Berdua" Kali ini suara Dika terdengar lebih memaksa dan tak terbantahkan. Namun bukan Chika namanya kalau tidak bisa mengontrol wajahnya dalam keadaan seperti ini cukup sekali ia kalah. "Gua gak bisa sekarang" "Gua maksa" "Siapa lo maksa-maksa gua? Presiden aja kalau maksa rakyat masih mikir lah lo?" Teresa ikut menyenggol sepatunya dari arah depan. Teresa mulai merasa suasana menjadi memanas, Chika memang belum mengerti siapa lawannya kali ini dia sudah berani dengan Dika bersiap saja akan memiliki masalah dengan cowok tampan berhati dingin itu. Bel masuk berbunyi semua murid kembali duduk ke bangkunya sedangkan Dika tidak ada habisnya menatap Chika. Jujur yang ditatap merasa takut karena Dika menatapnya tanpa jeda dan begitu dingin tidak seperti biasanya. Mampus gua bisa-bisa diajak berantem nih kayak Raja kemarin tatapannya sama banget lagi mama aku takuttt teriak Chika dalam hati. "Udah sana lo balik ke kelas lo keburu ada guru emangnya mau dihukum?" Chika mencoba mencairkan suasana sekitar dan terutama suasana hatinya yang menjerit takut dengan tatapan itu. Chika menghela napasnya, "gus janji habis pulang sekolah kita ngomong" Chika berharap tatapan dingin yang menusuk itu cepat hilang. Dika mengalihkan pandangannya, "pulang sekolah jangan kemana-mana" Chika mengangguk dan langsung menghembuskan napasnya lega saat melihat cowok itu keluar. "Cari gara-gara lo sama dia Chik" Ucap Naya sebelum menghadap ke depan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD