Bab 2

960 Words
Hari-hari setelah pernikahan seharusnya dipenuhi senyuman, pelukan hangat, dan janji manis yang membuat setiap pasangan baru mabuk cinta. Namun bagi Aurelia, hari-harinya hanya dipenuhi hening yang mencekik. Rumah besar keluarga Leonhart kini menjadi tempat tinggalnya. Bangunan itu megah, berdiri kokoh dengan arsitektur modern yang memancarkan keangkuhan. Dinding marmer putih berkilau, lampu gantung kristal berkilau di langit-langit, dan setiap ruangan dipenuhi barang mewah yang hanya bisa dimiliki segelintir orang di dunia ini. Namun, bagi Aurelia, semua itu tidak lebih dari penjara emas. Setiap kali Aurelia melangkah di lorong panjang rumah itu, langkahnya terdengar begitu sepi. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada tangan yang meraih. Yang ada hanyalah udara dingin yang menempel di kulitnya, membuatnya merasa asing di rumah sendiri. Adrian jarang berada di rumah. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di luar, entah untuk bisnis atau untuk menemani Evelyn. Jika pun pulang, wajahnya selalu tanpa ekspresi, seakan-akan Aurelia hanyalah bayangan yang kebetulan tinggal di tempat yang sama. Malam-malam Aurelia sunyi. Ia sering duduk di tepi ranjang besar, menatap pintu kamar yang selalu terbuka, menunggu Adrian masuk. Namun saat Adrian benar-benar datang, bukan kebahagiaan yang menyambut, melainkan tatapan dingin yang membuat hatinya membeku. “Apa yang kau lakukan di sini?” suara Adrian datar, seperti berbicara kepada pelayan. “Aku… menunggumu,” jawab Aurelia dengan suara lirih. “Untuk apa? Jangan harap aku akan menidurimu seperti pria normal kepada istrinya.” Aurelia menunduk, jemarinya meremas ujung gaun tidurnya. Kata-kata itu seperti racun yang menetes perlahan ke dalam hatinya. Namun, meski terluka, ia masih menyimpan harapan kecil. “Tak apa,” ucapnya pelan. “Aku hanya ingin berada di sisimu. Itu sudah cukup.” Adrian menatapnya lama, lalu berjalan melewatinya tanpa kata, meninggalkan aroma parfum maskulin yang menusuk hidung Aurelia. Saat pintu tertutup kembali, Aurelia membiarkan air matanya jatuh, membasahi pipinya yang pucat. Kehidupan sehari-hari Aurelia tak jauh berbeda. Pagi-pagi ia selalu bangun lebih awal, menyiapkan sarapan untuk Adrian meski ada puluhan pelayan yang bisa melakukannya. Ia ingin setidaknya Adrian merasakan sedikit perhatiannya. Namun saat ia menghidangkan sarapan itu, Adrian hanya melirik sekilas. “Kau tak perlu repot. Aku tidak akan makan makanan yang disentuh tanganmu,” katanya dingin, lalu berjalan pergi. Sarapan yang telah disiapkan Aurelia dengan penuh cinta hanya dibiarkan dingin di meja makan panjang. Pelayan-pelayan rumah itu saling bertukar pandang, sebagian merasa kasihan, sebagian lagi memilih pura-pura buta. Di balik semua itu, ada satu orang yang selalu hadir,Evelyn. Wanita itu sering datang ke rumah dengan alasan sepele, seperti mengantarkan makanan untuk Adrian, menemani Adrian rapat kecil, atau sekadar ingin berkunjung. Senyumnya lembut, tutur katanya halus, dan setiap kali Adrian melihatnya, matanya yang dingin berubah hangat. “Aku membuat sup herbal untukmu, Adrian. Aku tahu akhir-akhir ini kau terlalu sibuk dan tidak menjaga kesehatan,” kata Evelyn suatu hari sambil meletakkan mangkuk sup di meja. Adrian tersenyum samar senyum yang tidak pernah diberikan pada Aurelia. “Terima kasih, Evelyn. Kau selalu mengerti aku.” Aurelia berdiri di sudut ruangan, memandang pemandangan itu dengan d**a yang bergetar. Ia baru saja menyiapkan teh hangat untuk Adrian, tapi gelas itu tetap dingin di tangannya, terlupakan oleh senyuman yang Adrian berikan pada Evelyn. “Aurelia, kenapa kau hanya berdiri? Setidaknya duduklah dan makan bersama kami,” kata Evelyn, suaranya manis, tapi matanya melirik Aurelia dengan sinis, seolah berkata: lihatlah, dia hanya melihatku, bukan kau. Aurelia menunduk, menahan air mata. “Aku… tidak lapar.” Ia lalu meninggalkan ruangan itu dengan langkah berat. Di balik pintu kamar, Aurelia bersandar pada dinding, membiarkan air matanya jatuh. Kenapa dia tidak bisa melihatku? Kenapa hanya Evelyn yang ada di matanya? Namun meski sakit, Aurelia tetap menolak menyerah. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa cinta bisa tumbuh perlahan. Bahwa suatu hari, Adrian akan lelah dengan Evelyn, dan akhirnya menoleh padanya. Hari itu, luka pertama yang nyata terjadi. Evelyn mengunjungi rumah lagi, kali ini membawa bunga segar untuk Adrian. Aurelia, yang sedang memegang vas bunga, tanpa sengaja tangannya tergores duri mawar. Darah menetes, mengenai tangan Evelyn yang ikut membantu. “Aduh!” Evelyn berteriak kecil, menampilkan wajah kesakitan. Padahal hanya ada goresan tipis di tangannya. Adrian yang baru turun dari tangga segera menghampiri. “Evelyn, kau baik-baik saja?” Suaranya panik, tangannya meraih tangan Evelyn dengan lembut. “Tidak apa-apa, Adrian. Hanya sedikit goresan. Aurelia tidak sengaja melakukannya,” kata Evelyn dengan nada manis, tapi matanya menatap Aurelia seakan-akan ia adalah penjahat. Adrian berbalik, tatapannya menusuk Aurelia seperti belati. “Apa yang kau lakukan? Kau melukai Evelyn?” “Aku… tidak sengaja. Tadi tanganku tergores duri” “Jangan beralasan!” bentaknya. Aurelia terdiam, tubuhnya gemetar. Air matanya mulai menggenang, tapi ia menahannya. Adrian lalu menarik tangan Evelyn dengan lembut, membawanya duduk di sofa. “Pelayan! Ambil kotak P3K! Cepat!” perintahnya. Sementara pelayan sibuk mengobati goresan kecil itu, Aurelia hanya berdiri di sudut ruangan, tubuhnya gemetar. Luka di tangannya sendiri yang lebih dalam tidak ada yang peduli. Darahnya menetes ke lantai, tapi tidak ada yang memperhatikan. Yang ada hanya Evelyn, duduk dengan wajah seolah korban, menerima semua perhatian yang seharusnya dimiliki Aurelia sebagai istri. Saat pelayan selesai membalut tangan Evelyn, Adrian mendekati Aurelia. Tatapannya dingin, penuh kebencian. “Sekali lagi kau menyakiti Evelyn, sekecil apa pun, aku tidak akan segan membuatmu menyesal,” katanya, suaranya seperti cambuk yang merobek jiwa. Aurelia menunduk, air matanya jatuh ke lantai. “Aku… tidak bermaksud…” “Cukup. Tutup mulutmu.” Adrian berbalik, kembali ke sisi Evelyn, meninggalkan Aurelia sendirian dengan luka di tangannya yang terus berdarah. Malam itu, Aurelia berbaring di ranjang, menatap luka di jarinya yang masih nyeri. Di matanya, luka itu bukan hanya goresan kecil, melainkan tanda pertama bahwa cintanya akan selalu dibalas dengan penderitaan. Ia menutup mata, air mata mengalir deras. Dalam keheningan, ia berbisik pada dirinya sendiri, “Aku bisa bertahan… aku harus bertahan. Mungkin suatu hari dia akan sadar.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD