Bab 3

981 Words
Hari itu matahari bersinar cerah, sinarnya menembus jendela besar rumah keluarga Leonhart. Namun, bagi Aurelia, cahaya itu sama sekali tidak bisa menghangatkan hatinya. Sejak pernikahan, ia sudah terbiasa duduk sendirian di meja makan panjang, menunggu Adrian yang jarang pulang. Bahkan jika pulang, Adrian selalu membawa Evelyn bersamanya. Seakan Evelyn adalah ratu rumah ini, sementara dirinya hanyalah bayangan yang kebetulan menyandang gelar istri. Pagi itu, Aurelia membawa secangkir teh hangat ke taman belakang. Taman itu dipenuhi bunga mawar merah yang tumbuh rapi. Ia mencoba mencari ketenangan di sana, menghirup aroma bunga untuk meredakan sesak di dadanya. Namun langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara tawa yang ia kenal. Adrian. Ia menoleh, dan benar saja, di gazebo taman, Adrian duduk bersama Evelyn. Senyum lembutnya, tatapan hangatnya semua yang tidak pernah ia berikan pada Aurelia kini terhampar hanya untuk Evelyn. Aurelia berdiri kaku, tangannya menggenggam cangkir teh hingga gemetar. “Adrian… kau harus lebih sering istirahat. Kau terlihat lelah,” suara Evelyn terdengar lembut, penuh kepedulian palsu. “Aku baik-baik saja,” jawab Adrian, namun senyumnya menunjukkan betapa kata-kata Evelyn adalah obat bagi jiwanya. Aurelia melangkah mendekat, mencoba tersenyum meski hatinya seperti diremas. “Adrian, aku membuatkan teh untukmu. Ini hangat, bagus untuk tubuhmu.” Namun saat ia meletakkan cangkir itu di meja, Evelyn pura-pura terkejut. Tangannya mengenai cangkir, membuat teh tumpah ke gaun putihnya. “Aah!” Evelyn berteriak kecil, wajahnya berubah panik. Teh itu tidak panas, hanya hangat, dan jelas Aurelia tahu itu tidak berbahaya. Namun ekspresi Evelyn seolah ia baru saja disiram air mendidih. Adrian sontak berdiri, wajahnya tegang. “Evelyn! Kau baik-baik saja?” “Tidak apa-apa, hanya sedikit panas… mungkin Aurelia tidak sengaja ” Evelyn menahan tangannya, wajahnya tampak menahan tangis. Air mata menetes di pipi Evelyn, jatuh dengan sempurna, seperti aktris yang sudah terbiasa memerankan korban. Adrian menoleh ke Aurelia dengan tatapan yang menusuk. “Bagus sekali, Aurelia. Kau sudah mulai berani melukai Evelyn?” “Aku tidak! Aku tidak sengaja! Tadi hanya ” “Diam!” Suara Adrian meledak, membuat d**a Aurelia bergetar hebat. Tangannya gemetar, air mata mulai menggenang. “Adrian, sungguh, aku tidak ” “Aku sudah muak dengan alasanmu!” Adrian menggenggam lengan Aurelia dengan kasar. “Kau pikir aku akan diam saja melihat Evelyn menangis karena ulahmu?” Sebelum Aurelia sempat berkata lagi, Adrian menyeretnya masuk ke dalam rumah. Para pelayan menunduk, pura-pura sibuk, meski suara langkah keras Adrian terdengar jelas. “Adrian! Tolong! Aku sungguh tidak bermaksud! Itu hanya kecelakaan!” Aurelia berteriak, suaranya pecah. Namun Adrian tidak peduli. Ia menyeret Aurelia ke lorong panjang, lalu berhenti di depan sebuah pintu kayu tua. Gudang penyimpanan. Pintu itu terbuka dengan suara berderit menyeramkan, memperlihatkan kegelapan pekat di dalamnya. Bau debu dan kayu lapuk menusuk hidung. Aurelia langsung gemetar hebat. Dadanya sesak. Gudang gelap adalah ketakutan terbesarnya sejak kecil, trauma yang ia bawa karena pernah terkunci di ruangan gelap saat masih anak-anak. “Tidak… jangan di sana, Adrian. Aku mohon…” Suaranya bergetar, air matanya jatuh deras. “Kalau begitu, jangan pernah membuat Evelyn menangis lagi,” kata Adrian dingin. Sebelum Aurelia sempat memohon lebih jauh, tubuhnya didorong masuk. Pintu kayu itu tertutup dengan keras, suara kunci diputar dari luar. Gelap. Sunyi. Hanya suara detak jantungnya yang menggema di telinga. “Tidak… tidak… tidak…” Aurelia meraba-raba dinding, tangannya gemetar hebat. Nafasnya pendek, sesak. Trauma masa kecilnya menghantam kembali bayangan dirinya yang kecil, menangis sendirian di kegelapan, kini terulang lagi. “Aku takut… tolong… aku takut…” suaranya pecah, tubuhnya meringkuk di sudut ruangan. Air matanya membasahi wajah pucatnya, napasnya tersengal. Waktu berjalan lambat. Setiap menit terasa seperti jam. Gelap itu menelan pikirannya, membuatnya merasa seolah-olah ia akan mati di sana. Kilas balik Saat itu, Aurelia masih berusia tujuh tahun. Tubuhnya mungil, matanya berbinar polos. Namun, hidupnya bahkan sejak kecil tidak pernah diberkati kasih sayang. Hari itu, ia hanya ingin bermain dengan kakaknya. Ia tersenyum sambil membawa boneka kecilnya. “Kak, ayo main bersamaku.” Namun sang kakak menatapnya dengan kesal. “Kau menyebalkan, Aurelia. Pergi sana!” Aurelia tetap tersenyum, berharap kakaknya berubah pikiran. Tapi, tatapan kesal itu berubah menjadi keisengan yang kejam. “Kau suka sekali boneka itu, ya? Kalau begitu… aku akan berikan permainan yang menyenangkan.” Sebelum Aurelia sempat bertanya, ia sudah diseret ke sebuah gudang kayu kecil di belakang rumah. Gelap dan pengap. “Kak… jangan… aku takut gelap…” suaranya gemetar. “Diam! Kau harus belajar agar tidak menyusahkanku lagi.” Pintu itu ditutup, dikunci dari luar. Gelap menelan segalanya. “Aaah!! Jangan!! Kak, buka pintunya!!” Aurelia menangis keras, menghantam pintu dengan tangannya yang kecil. Suaranya serak, tubuhnya gemetar. Tapi yang ia dengar hanyalah suara tawa kakaknya dari luar. “Menangislah sepuasmu, Aurelia. Tidak ada yang peduli padamu!” Waktu berjalan. Menit berubah menjadi jam. Tangis Aurelia melemah, berganti isakan lirih. Nafasnya sesak, tubuhnya meringkuk di sudut ruangan, matanya menatap kosong ke kegelapan. “Aku takut… aku sendirian… tolong aku…” Namun tidak ada yang datang. Tidak ada yang menolong. Ketika akhirnya pintu itu dibuka, matahari sore menampar wajahnya. Tubuh kecilnya sudah lemas, wajahnya penuh air mata dan debu. Kakaknya hanya menatap dengan puas, seolah melihat seekor binatang yang baru saja dijinakkan. Sejak hari itu, kegelapan menjadi momok yang menempel di jiwa Aurelia. Kembali ke masa kini Di gudang rumah Leonhart, rasa sesak yang sama menghantamnya. Tubuhnya meringkuk di sudut ruangan, sama seperti dirinya yang kecil dulu. “Kenapa selalu aku…? Kenapa sejak dulu aku selalu dikurung dalam gelap…?” Air matanya jatuh tanpa henti. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah, mencoba menahan jeritannya. Tapi luka itu terlalu dalam. Kegelapan, pengkhianatan, dan kesendirian semua kembali menghantam. Hingga akhirnya, Aurelia hanya bisa berbisik, dengan suara yang nyaris hilang, “Kalau cinta selalu membawaku ke kegelapan ini… mungkin aku harus belajar untuk berhenti mencintai.” Namun, bahkan di tengah penderitaan itu, hatinya masih menolak. Masih berharap Adrian suatu hari akan melihat dirinya. Harapan yang sama rapuhnya dengan dirinya yang kini terkurung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD