Jantungnya berpacu kencang, Sadin ingin menangis namun ditahan. Sadin merasa takut sekaligus bahagia. Sadin melihat Papa lagi setelah sekian lama, tapi poin menyedihkannya adalah Papa tetap memberinya tatapan sama. Tatapan marah dan kecewa. Sadin tak berani mendekat, ia berniat untuk langsung pergi saja, tepat ketika Duta menarik tangannya, berjalan ke arah Papa dan Nadia berada. Sadin terkesiap, apa yang mau Duta lakukan? Didepan Papa, dengan sikap yang dibuatnya setenang mungkin. Duta menundukkan pandangannya hormat, lalu mengucap salam. "Selamat siang, Om." Duta mungkin melupakan wajah Dimas, tapi Duta tak pernah melupakan wajah orang yang selalu mengantar Sadin sekolah. "Kita pulang, Nad." Papa melirik Nadia sekilas, tanpa mengindahkan keberadaan dan salam Duta. "Papa," langkah Pap

