Lelaki yang baik

1106 Words
Rosemary baru saja selesai mandi dan dia harus bergegas kalau tidak mau terlambat tiba di rumah Anggoro Mulya, produser film tempatnya bermain peran. Rosemary menyadari bahwa seharusnya dia pergi ke salon agar bisa mendapatkan penampilan yang lebih baik, tetapi dia tidak punya waktu untuk melakukannya sehingga dia hanya bisa mengandalkan keahliannya yang dia peroleh setelah mengikuti kursus merias sebelum akhirnya dia tertarik dengan tawaran bermain film yang diberikan oleh salah satu teman SMA-nya. “Tidak terlalu mengecewakan,” katanya bangga melihat hasil kerjanya melalui cermin yang ada di depannya. Rosemary melihat jam dinding dan waktunya semakin mendekat dan dia tidak mempunyai waktu banyak untuk mengagumi penampilan dirinya. Mengenakan gaun terusan serta sepatu yang dikirim ibunya dari luar negeri, Rosemary menjadi wanita muda yang berbeda. Dia bukan lagi gadis remaja yang culun dan tidak mengenal mode melainkan seorang gadis yang cukup dewasa. Penampilannya kali ini berhasil menipu usianya yang baru melewati 18 tahun. Rosemary baru saja keluar dari kamarnya dan berusaha mencari ayahnya saat dia bertemu dengan Husna, kakak tirinya yang juga mau pergi. Husna menatap iri penampilan Rosemary dan dia bertanya penuh kedengkian pada adik tirinya, “Mau kemana, sudah rapi?” tanyanya sinis. “Aku mau ke rumah Pak Anggoro Mulya, dia produser film tempat aku bekerja,” jawab Rosemary pelan. “Mau ngapain?” Husna menatap dengan pandangan menuduh membuat Rosemary mengangkat wajahnya. “Pak Anggoro mengundang kami semua para pendukung film agar hadir di rumahnya. Kebetulan sponsor dana utama akan datang dan beliau ingin mengenal semua pemainnya,” kata Rosemary berusaha menjelaskan. “Ooh, pergi sama siapa?” tanya Husna lagi sementara dari arah luar, terlihat ayahnya berjalan masuk. “Waah, anak-anak ayah mau kemana, sudah rapi dan cantik,” tanya Ayah Rosemary yang bernama Sion dengan bangga. “Kalau Rose ada acara di rumah Pak Anggoro. Ayah, ayah punya waktu buat nganter Rose tidak, soalnya kalau naik kendaraan umum takut tidak cukup waktunya,” kata Rosemary berusaha membujuk ayahnya. “Jam berapa acaranya?” tanya Sion melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sekitar 1 jam lagi,” jawab Rosemary pelan. “Ya sudah, ayah antar, tapi ayah mandi dulu ya,” katanya beranjak pergi ke kamar. “Ayah, aku juga minta antar. Ayah bisa juga, kan? Aku mengalah diantar terakhir juga tidak apa-apa,” kata Husna ikut bicara. “Kalau tujuannya searah tidak masalah. Tapi kalau tujuan kalian berlawanan, ayah minta maaf tidak bisa melakukannya,” jawab Sion tenang. Kemudian secara bergantian Rosemary dan Husna menyebutkan alamat tujuan mereka membuat Sion mengangguk, “Akan ayah antarkan, tapi ayah mau mandi dulu. Tidak masalah, kan?” jawab Sion melirik wajah Rosemary yang selalu tenang. “Tapi jangan lama-lama. Aku tidak mau terlambat tiba di tempat undangan,” jawab Husna dengan sengaja melihat jam dinding. Berbeda dengan Husna yang merupakan anak yang dibawa istrinya sekarang, Rosemary yang merupakan putri kandungnya justru lebih banyak diam. Seringkali Sion menduga kalau sifat Rosemary ini seperti ibunya. Wanita yang lebih memilih diam tanpa memberikan alasan yang masuk akal saat dia menuntut bercerai darinya. Malam itu cuaca sangat cerah sementara lalu lintas sangat mendukung hingga mobil yang dikendarai Sion tiba 5 menit sebelum waktu yang sudah disebutkan Danur. Berjalan dengan langkah lebih cepat dari seharusnya membuat napas Rosemary memburu dan dia harus membuatnya kembali normal lagi sebelum masuk ke dalam rumah besar yang memiliki taman tidak kalah luasnya. “Menunggu sesuatu?” terdengar suara seorang lelaki menyapanya membuat Rosemary tersentak dan nyaris melompat. “Ya Tuhan…Alfa kau membuatku terkejut,” pekik Rosemary tanpa sadar. “Sorry. Sedang apa, kenapa tidak masuk ke dalam. Kau tidak bermaksud menunggu aku datang, kan?” tanya Alfaroz dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi. “Aku tidak menunggu siapa-siapa. Aku hanya istirahat sejenak,” jawan Rose mulai berjalan masuk. “Memangnya kau berlari kemari?” goda Alfaroz tertawa. “Tidak dari rumah. Aku berlari dari pintu gerbang yang jaraknya ke rumah ini begitu jauh,” jawab Rosemary membuat Alfaroz menghentikan langkahnya. “Kau serius? Memangnya kau tidak bawa kendaraan?” tanya Alfaroz seolah-olah semua orang harus mempunyai kendaraan sendiri. “Keuanganku tidak cukup untuk memiliki kemewahan tersebut,” jawab Rosemary tertawa. Melihat tawa Rosemary membuat Alfaroz ikut tertawa. Sejak bertemu dengan Rosemary pada awal acara syukuran awal syuting, Alfa sudah tertarik pada Rose yang menurutnya semua sikapnya tidak ada yang dibuat-buat, apa adanya. “Jadi kau diantar atau naik taxi?” selidik Alfa menjajari langkah Rosemary. “Diantar, tapi ayahku harus segera pergi karena masih ada kakakku yang harus diantar juga,” jawab Rosemary. “Pulangnya boleh aku antar?” tanya Alfa tertarik. “Terima kasih. Nanti ada ayahku yang akan menjemput,” jawab Rosemary sebelum kedatangan mereka di sambut dengan suasana ramai yang berasal dari tamu-tamu yang sudah hadir. “Mereka ternyata tepat waktu semua, tidak seperti kita,” bisik Alfa di telingan Rosemary membuatnya sedikit jengah. Seorang bintang utama tidak perlu berada di samping pemain figuran dan itulah yang dilakukan oleh Alfa. Begitu mereka bertemu dengan tamu yang lain, dia langsung menemui orang-orang yang bisa mendukung kariernya. “Kenapa aku tidak bisa seperti mereka, apa aku memang tidak bisa bersosialisasi layaknya seorang bintang film?” batin Rosemary. Rosemary memperhatikan sekelilingnya, dia melihat hampir seluruh pemain sudah hadir, hanya seorang yang masih di tunggu kedatngannya. Orang paling penting yang membuat mereka semua harus hadir di rumah Anggoro Mulya pada malam hari ini. Mengikuti yang lainnya, Rosemary mengambil minuman berupa air jeruk yang begitu segar mengalir di tenggorokannya setelah dia memasukkan sebuah kudapan sementara yang lainnya menyebar di setiap tempat khusus yang lebih mirip lapak yang menyediakan berbagai macam kuliner. “Menurutku kau harus segera menyelesaikan kegiatanmu berkeliling untuk mencoba setiap makanan karena kita akan segera beraksi,” terdengar suara yang begitu dekat di telinga Rosemary yang lagi-lagi berasal dari Alfaroz. “Aku heran sama kamu, kenapa sih tidak bicara dengan normal, selalu saja buat aku kaget. Untung saja aku tidak menuang minuman ini ke bajumu,” tegur Rosemary jengkel. Rosemary antara keberuntungan atau kemalangan berteman dengan bintang film setenar Alfa. Sudah banyak film yang sudah dia bintangi dan meraih kesuksesan hingga dia merasa beruntung bertemu dan berteman dengan Alfa yang sikapnya selalu apa adanya. Khususnya terhadap dirinya yang selalu melihat dan mendapati Alfa tidak jaim. Namun. karena sikapnya tersebut juga yang sering membuat Rosemary mendapat masalah dari para fansnya dan mendapat tuduhan bahwa dia mendekati Alfa untuk mencari ketenaran. Apa dia sudah menjadi bintang yang bersinar tenar sejak hubungannya dengan Alfa menjadi konsumsi public? Tidak ada yang berubah dalam kehidupan Rosemary. Dia adalah actris baru di dunia film dan pengalaman yang dimiliki lebih tipis daripada kulit ari sehingga dia merasa malu kalau berkata bahwa dia adalah bintang film.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD