BAB 8: STUDY TOUR: PRAKTIK GUIDING

2861 Words
Sebelum ujian kenaikan kelas, siswa siswi kelas 10 dan 11 diwajibkan melaksanakan kegiatan study tour. Kelas 10 akan tur keliling pulau Jawa, sedangkan kelas 11 akan tur Jawa, Bali dan Lombok. Hal ini penting, karena selain belajar teori di sekolah, para murid jurusan pariwisata diwajibkan untuk belajar menjadi seorang tour guide, tour leader dan tour planner yang baik di lapangan. Sedangkan jurusan perhotelan wajib mengetahui standard-standard terbaik yang di miliki hotel dengan cara mendatanginya secara langsung. Sebelum hari H keberangkatan, Aku, Divya, Baskara dan Citra sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan kami bawa. Kami ingin study tour, tapi barang yang kami siapkan malah barang-barang yang terbilang tidak terlalu penting. Bayangkan, kami berniat membawa tikar dan rice cooker. Dikira mau piknik. Divya bahkan berniat membawa cangkul saktinya. Tentu aku larang. Kami juga sibuk mempersiapkan jaket untuk kelasan kami. Jaket yang didesain sendiri oleh kami, diproduksi sendiri oleh kami dan akan dipakai sendiri oleh kami. Keren bukan? Entah setelah ini kami akan membuka usaha jualan dan permak jaket atau tidak, kami harus membicarakannya terlebih dahulu. Jaket kami selesai diproduksi kemarin lusa. Jaket berwarna biru donker bertuliskan FREEXCITED—sebutan untuk angkatan kelasku—langsung menarik perhatian kelas-kelas lain dan bahkan para senior. Mereka mengatakan jaket angkatan kami bagus, entah dari segi bahan dan desain. Mengalahkan jaket-jaket angkatan lain dari semua jurusan dengan budget yang sama. Anak-anak perhotelan seangkatan kami bahkan langsung mendesain ulang jaket angkatan mereka, karena merasa desain jaket mereka tidak sekeren desain jaket kami. Ya, kelas kami memang selalu menjadi trendsetter. Bukan aku yang berbicara, tapi orang-orang. Hari H keberangkatan. Suasana hatiku malah buruk. Rasanya seperti ada awan mendung yang menutupi pikiranku. Aku kembali mendapati penglihatan mengenai lorong mewah tak berujung yang tempo hari kulihat saat sedang touring ke Monas. Tapi kali ini berbeda. Aku mendapati teman-temanku berada di dalam setiap ruangan yang berada di balik pintu-pintu yang ada. Kondisi mereka begitu—bagaimana menjelaskannya ya. Mereka tanpa busana, tubuh mereka berkeringat dan ada cairan-cairan aneh yang menurutku sangat menjijikkan, tampak seperti seseorang yang habis melakukan hubungan badan. Laki-laki dan perempuan, kondisi mereka sama. Selain teman-temanku di ruangan itu, ada sosok lain yang bersama mereka. Sosok yang menjaga kamar dan sepertinya merekalah yang telah menyebabkan teman-temanku jadi seperti ini. Hal inilah yang membuatku terus kepikiran. Pukul 4 sore. Bus kami tiba. Setelah semua koper dan barang-barang bawaan masuk, bus langsung melaju pergi. Lagi, pikiranku benar-benar tak bisa fokus. Bahkan saat Citra terjungkal ke depan saat bus baru melaju, hingga berakhir nungging di sela-sela kursi penumpang, aku tidak bisa menertawakannya seperti biasa. Tidak hanya aku dan teman-temanku yang berada di bus ini, tapi ada murid-murid dari Global Indonesia juga. Masih satu jurusan yang sama, jurusan pariwisata. Ya, setiap study tour, kedua sekolah yang masih berada di bawah naungan satu yayasan yang sama ini akan berangkat bersama-sama. Karena jurusan pariwisata muridnya sedikit, maka kami digabungkan di satu bus yang sama. Bus berangkat dari Global Indonesia, transit di Jakarta Wisata, dan barulah memulai perjalanan study tour setelahnya. Sayang, aku tak bisa melihat Akka, Bahrudin dan Berto, karena jurusan mereka adalah DKV, sedangkan yang melaksanakan study tour ini hanyalah jurusan pariwisata dan perhotelan saja. Tapi, aku masih bisa melihat Avi. Tadi kami sempat saling melambaikan tangan. Ia ada di bus 4. Tidak seperti anak-anak dari Global Indonesia yang terlihat kalem dan malu-malu meong, kelasku amat sangat heboh dan berisik. Bahkan saat kita pertama kali menginjakkan kaki di dalam bus. Pak Uyo, guru pendamping dari Global Indonesia, sopir bus dan asistennya sampai geleng-geleng kepala. Bu Atna, wali kelas kami—salah satu guru pendamping perwakilan dari Jakarta Wisata—harus meminta maaf pada orang-orang tadi. “Murid-murid saya memang begitu. Sifat dan karakternya agak jahiliyah. Jadi, tolong dimaklumi,” kata Bu Atna. Pak Uyo, sopir bus dan asistennya hanya mengangguk. Entah mereka mengiyakan atau pasrah karena harus berurusan dengan kelasku. Semoga mental mereka tidak terganggu. Dan, semoga Citra tidak kumat jiwa biduannya. Karena akan sangat gawat jika dia tiba-tiba saja menari striptis di hadapan orang-orang. Bisa-bisa bus kita celaka. Sepanjang jalan keadaan bus sangat ramai—oleh kelasku. Hanya aku yang agak diam dan terus terlarut dalam pikiranku. Divya, Baskara dan Citra sempat bertanya, tapi aku berbohong pada mereka dengan menjawab bahwa aku mabuk kendaraan dan nanti akan baik dengan sendirinya. Mereka pun percaya dan kembali bernyanyi lagu iwak peyek dengan cengkok arab. Tiba di rest area pertama, bus diisi bensin. Kami diminta untuk tidak turun, kecuali jika ingin pergi ke toilet atau membeli sesuatu yang penting di minimarket. Setelah pengisian bensin selesai, kami kembali melanjutkan perjalanan. Namun, ada hal yang berbeda dari sebelumnya. Keadaan bus kini amat sangat hening dan tenang. Bukan karena teman-temanku yang sudah taubat, tapi karena adanya keberadaan sosok yang amat sangat disegani seantero galaksi. Yaitu, Pak Ernan. Ya, beliau pindah ke bus kami. Semua teman-temanku kini fokus membaca buku dalam diam. Beberapa masih ada yang bermain ponsel, tapi dengan volume yang sangat kecil. Suara semut bergosip pun masih lebih keras dari suaranya. Kami benar-benar segan pada Pak Ernan. Aura mendominasi dan diktatornya kuat sekali. Seperti Adolf Hitler, tapi Batak version. “Besok pagi kita mulai praktik guiding. Kalian maju satu per satu sesuai absen dan wajib menggunakan bahasa inggris. Siapkan materi kalian dengan baik,” kata Pak Ernan. Tiba-tiba. Paniklah semua orang—tidak untukku, Divya dan Baskara. Semuanya tampak pucat. Citra bahkan langsung kebelet poop. Sayang, ia lupa membawa botol Tupperware kosong untuk menampung kotorannya. Teman-temanku yang sebelumnya bermain ponsel, kini beralih membaca buku. Mereka mulai menghafal materi. Beruntung bagi mereka karena aku, Divya dan Baskara sudah menyiapkan rangkuman materi yang bisa mereka hafal dan pelajari dengan cepat, lengkap dengan terjemahan dari bahasa indonesia ke bahasa inggris. Kami benar-benar ketua dan wakil ketua kelas yang baik dan sigap. ‘Tenang, tidak usah panik. Pak Ernan tidak akan mencambuk kalian jika kalian tidak lancar melakukan guiding besok.’ Itu bunyi pesan yang Bu Atna kirim di grup kelasan kami. Tenang sesaat. Itu yang teman-temanku rasakan. ‘Tapi, kalian harus siap-siap menerima komentar pedas darinya, jika menurutnya praktik guiding kalian jelek.’ Bu Atna kembali mengirim pesan. Keadaan kembali tegang. Kami seperti di-prank. Merasa tenang hanya dalam beberapa detik saja. Pukul 7 malam. Bus berhenti di rumah makan Ampera. Keadaannya sangat ramai. Perutku benar-benar sudah keroncongan. Karena terus memikirkan perihal penglihatanku, energiku jadi terkuras habis. Sial, karena lelah, aku jadi tidak bisa mengontrol kemampuan telepatiku. Kini, aku bisa membaca pikiran semua orang yang ada di sekitarku. Isi kepalaku benar-benar ramai. Semuanya campur aduk. Penuh! “Kenapa?” tanya Divya. Ia menyentuh pundakku. “Aku baik-baik saja,” jawabku. Bohong. “Heh!” Dia tiba-tiba saja membentak. Aku kaget. “Dari awal keberangkatan sampai sekarang, aku tahu kalau ada yang salah denganmu. Kamu lebih banyak diam!” katanya. “Cepat, katakan padaku, apa yang mengganggu pikiranmu!” Dari ketiga bestie-ku, hanya Divya yang paling peka dengan kondisiku. Begitu pun sebaliknya. Akhirnya, aku menceritakan padanya mengenai penglihatanku. Ia tampak terkejut. Tapi, setelah itu ia berusaha menenangkanku. “Semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak perlu terlalu memikirkannya.” Ia kemudian menunjukkan kalung dengan liontin batu giok biru yang kini ia kenakan. Kedua mataku membelalak. Itu adalah benda pusaka! “Bapak yang memberikannya padaku. Untuk jaga-jaga,” ujar Divya. “Jika nanti ada masalah, aku pasti bisa membantumu.” Setelah sekian lama gusar, akhirnya aku bisa sedikit merasa tenang. Perkataan Divya berhasil membuatku tak terlalu mengkhawatirkan penglihatanku. Divya benar-benar hebat. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan kalung yang ia kenakan? Entahlah. Yang penting sekarang aku bisa makan malam dengan tenang dan pikiranku tak lagi sekacau sebelumnya. Malam yang sepi. Pak Ernan menyetel lagu. Bukan lagu Raisa, Tulus, Geisha, Noah, Justin Bieber, Taylor Swift, Limbad, DJ Marshmello atau DJ Snake. Tapi, lagu jadul yang entah apa judulnya dan siapa penyanyinya. Manis di bibir. Memutar kata. Malah kau tuduh akulah sebagai penyebabnya. Siapa terlena, pasti kan terpana, bujuknya, rayunya, suaranya, yang menyimpan simpati dan harapan. Awal kudengar lagunya, rasanya seperti, okay ini lagu orang tua. Tapi, setelah Pak Ernan mengulang lagu tersebut sebanyak 12 kali tanpa henti. Ternyata lagunya enak juga. Tak hanya aku yang berpikir seperti ini, yang lain juga. Bahkan, kami mulai hafal dengan liriknya. Aku mulai menyanyikannya. Apakah hal yang dilakukan Pak Ernan ini termasuk sebagai pencucian otak? Karena sekarang kami jadi menyukai lagu ini. Keesokan paginya, seusai sarapan. Momen maju satu per satu untuk praktik guiding dimulai. Awalnya berdasarkan absen, tapi karena banyak yang belum siap, dan baik dari Jakarta Wisata maupun Global Indonesia saling tunjuk untuk maju duluan, akhirnya aku memberanikan diri untuk maju pertama kali. Bu Atna langsung memberikan tepuk tangan. Ia menangis terharu. Aku berhasil menghentikan pertumpahan darah yang hampir saja terjadi. Tidak, kami tidak se-bar-bar itu. Teman-temanku dan seluruh murid dari Global Indonesia, mereka semua aman. Untuk sementara waktu. Setelah giliran guiding-ku selesai, mereka akan kembali ke mode panik. Tapi untungnya, mereka bisa aman sampai dua giliran berikutnya. Karena setelahku, Baskara maju ke depan, dan lalu disusul oleh Divya. Pak Ernan memuji kami bertiga. Katanya, skill guiding kami sangat bagus. Pengucapan bahasa inggris kami juga terdengar seperti orang amerika asli. “Kalian sudah sangat bagus. Kembangkan terus kemampuan kalian,” kata Pak Ernan. Citra yang merasa terpacu, mencoba untuk maju. Tapi sayang, dia yang terlalu gugup malah berakhir ah, eh, oh di depan semua orang. Bukan mendesah, dia gugup dan berakhir gagap. Beruntung, Pak Ernan tidak mengkritik, dan malah menyuruhnya untuk kembali duduk. Citra diminta untuk menangkan diri. Beliau bahkan mengapresiasi keberanian Citra yang maju setelah aku, Divya dan Baskara. Teman-teman yang lain ikut terpacu. Yoga dan Zain bahkan berebut untuk maju duluan. Mereka melakukan suit. Yoga yang menang. Ia maju duluan, baru setelahnya Zain. Wow! Mereka berhasil memandu kami dalam kurun waktu yang cukup lama. Bahkan, Yoga bisa mengajak orang-orang yang ada di dalam bus mengobrol dan bercanda, walau dengan kemampuan bahasa inggrisnya yang masih terbatas. “Masih terasa sedikit gugup, tapi kalian sudah bagus,” puji Pak Ernan. Satu per satu temanku ikutan maju. Citra kembali maju dan kali ini ia berhasil. Walaupun, bahasa inggrisnya sangat belepotan dan masih bercampur dengan bahasa indonesia, Pak Ernan memberikan pujian. Namun, saat giliran Naraya dan Maya yang maju, aku menangkap hal yang tidak terduga. Tanpa sengaja sinyal telepatiku menangkap isi pikiran Pak Ernan. Isi pikiran kotornya. Pria yang sudah memiliki istri dan anak itu tertarik pada Naraya dan Maya. Pikiran-pikiran m***m pun terpampang jelas di otaknya. Merinding aku dibuatnya. Tidak! Tidak bisa kubiarkan! Aku harus melindungi Naraya dan Maya! Kukatakan hal ini pada Divya, Baskara dan Citra. Mereka pun setuju untuk melindungi keduanya dari Pak Ernan. “Jangan sampai Pak Ernan mengajak Naraya dan Maya pergi tanpa kita. Kita harus terus bersama-sama,” kataku. Mereka bertiga mengangguk. “Beri tahu yang lain. Tapi, jangan berisik.” Kami segera memberitahu teman-teman kami yang lain. Tak kusangka, orang yang tampak berwibawa seperti Pak Ernan memiliki sifat yang sangat buruk seperti ini. Mengerikan sekali. Apalagi, dia adalah kepala sekolah sekaligus pendiri yayasan sekolah kami. Apakah dia bisa dikategorikan sebagai predator? Jika iya, maka aku ingin segera menyanyikan salah satu lagu milik duo Ratu. Lelaki, buaya darat. BUSET! Aku tertipu lagi. Uwo uwo. Tidak, ini bukan saat yang tepat untuk bernyanyi. Aku harus bersiaga. Tibalah waktunya makan siang. Bus berhenti di sebuah rumah makan padang yang namanya sama dengan hewan yang menjadi simbol negara Indonesia. Tempat makan ini sangat terkenal, tidak hanya karena rasanya, tapi juga karena harganya. Ada harga, ada kualitas. Kegiatan praktik guiding pun dihentikan. “Nanti kita lanjut lagi,” kata Pak Ernan. Tapi, ia belum selesai bicara. “Ini yang dari tadi maju dari Jakarta Wisata terus? Dari Global Indonesianya mana?” Perkataan Pak Ernan sontak membuat seluruh anak-anak Global Indonesia menunduk malu. Pak Uyo bahkan terlihat tidak enak hati. Ia juga sepertinya menahan malu. “Setelah ini yang maju dari Global Indonesia ya. Jakarta Wisata istirahat dulu,” kata Pak Ernan, sebelum akhirnya turun dari bus. Diikuti oleh Pak Uyo. Divya, Citra, Arsy dan Frida langsung menggandeng tangan Naraya dan Maya. Mereka memberitahu keduanya perihal apa yang aku katakan sebelumnya. Mereka berdua kaget, dan setuju untuk dikawal ke mana-mana. Para lelaki juga sudah bersiap untuk mengawal. Kami akan menjaga dan melindungi Naraya dan Maya ke mana pun keduanya pergi. “Hah!? Kau berpacaran dengan Kak Ina?” Semua orang membelalak, termasuk Bu Atna yang duduk bersama kami. Ibra mengangguk malu. Bagaimana bisa? “Gila sih. Seorang Ina yang juteknya naudzubillah, bisa ditaklukkan oleh si kalem Ibra. Semuanya beri tepuk tangan untuk kawan kita, Ibra Al Hajar,” kata Yoga. Kami bertepuk tangan. Ya, Ibra dan Kak Ina telah resmi berpacaran. Ini aneh. Padahal sebelumnya ia jelas-jelas mengejar-ngejar Naraya. Apakah cintanya ditolak sehingga beralih ke Kak Ina? Tapi, kenapa harus Kak Ina? Eh, kenapa aku malah memikirkannya? Bukan urusanku. “Tolong kasih tips n triknya dong, suhu,” pinta Zain pada Ibra. Bima dan Biang siap mencatat. Dengan senyum yang terukir di wajahnya, Ibra berkata, “Yang penting yakin. Kalau kita sudah yakin, semuanya pasti akan berjalan sesuai rencana.” Para lelaki mengangguk. Mereka seperti terkena siraman rohani. Para gadis—Bu Atna juga—saling melirik. Mereka seperti menghakimi para lelaki. Aku dan Baskara tidak ikutan. Kami fokus makan. Kami lanjut makan sembari mengobrol. Bu Atna memuji kami atas skill guiding kami yang bagus. Ia merasa bangga di depan Pak Ernan karena berkat kami, Jakarta Wisata menjadi unggul satu langkah di depan Global Indonesia. Di sinilah sebuah fakta terkuak. Walau berada di bawah naungan payung yang sama, ternyata Jakarta Wisata dan Global Indonesia selalu bersaing dalam banyak hal. Tak hanya murid, para gurunya pun sama. Makanya, saat praktik guiding kami bagus, Bu Atna merasa sangat bangga di hadapan Pak Uyo. Pasalnya, tahun lalu Pak Uyo sempat meledek anak-anak jurusan pariwisata dari Jakarta Wisata, karena hanya ada satu orang yang pandai berbicara bahasa inggris, yaitu Kak Nana. Sisanya, zonk. Hal ini jelas membuat Bu Atna yang juga menjadi guru perwakilan pada saat itu merasa malu. Tapi, ia tetap bangga pada seluruh murid-muridnya. Tapi tetap saja, ia merasa gondok pada Pak Uyo. “Ibu sangat berterima kasih pada kalian,” ucap Bu Atna. Mendengar ini, aku merasa terpacu untuk meningkatkan kualitas angkatanku. Kelasanku sudah terkenal akan banyak hal: kekompakan, bakat, inovasi, visual yang cantik dan tampan, supel, aneh menjurus ke gila, dan sepertinya akan bagus jika kutambahkan satu lagi, yaitu angkatan emas. Angkatan terbaik dari yang terbaik. Ya, akan kurealisasikan rencanaku ini. Perjalanan dilanjutkan. Seperti yang dikatakan Pak Ernan sebelumnya, kini giliran murid-murid dari Global Indonesia yang maju untuk praktik guiding. Cukup mencengangkan. Skill guiding mereka benar-benar payah. Materi yang mereka bawakan tak beraturan. Bahasa inggris mereka kacau. Sampai-sampai aku tak bisa menangkap apa yang satu per satu dari mereka bicarakan di depan sana. Citra ingin tertawa saat salah seorang murid mengucapkan kata dalam bahasa inggris, namun dalam logat jawa yang medok. Tapi, Baskara langsung mencubitnya. Memintanya untuk jangan menertawakannya. Ya, sebelum kembali ke dalam bus, aku mengatakan pada teman-temanku untuk jangan ada yang menertawakan anak-anak dari Global Indonesia jika mereka berbuat salah atau terlihat sangat gugup saat sedang praktik guiding. “Kita sama-sama masih belajar. Kita harus menghargai mereka,” kataku. Mereka mengiyakan. Enaknya punya teman-teman yang kompak dan pengertian seperti mereka. Mempermudah tugasku sebagai ketua kelas. Pak Ernan yang sangat kecewa mengkritik pedas murid-murid dari Global Indonesia. Benar kata Bu Atna, mulut Pak Ernan sangat pedas. Walau tidak ada kata-kata umpatan yang keluar, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat menusuk. Aku yang mendengarnya sampai skor jantung. “Belajar lagi! Tanyakan pada teman-teman dari JakartaWisata, bagaimana caranya menjadi tour guide yang baik! Belajarlah dari mereka!” itu kata Pak Ernan. Pak Uyo hanya bisa diam seribu kata sembari menatap ke luar jendela. Pasti ia menahan malu. Praktik guiding dihentikan. Pak Ernan meminta kepada murid-murid dari Global Indonesia untuk kembali menyiapkan diri beserta materi yang lebih matang. Aku yang kasihan, lantas mencoba membantu mereka. Kudekati ketua kelas mereka yang bernama Aryo, mengatakan padanya bahwa aku siap membantu. “Kami juga akan membantu,” kata Divya yang sudah berdiri di belakangku. Teman-temanku yang lain juga telah siap di belakangnya. Mereka semua siap membantu. Akhirnya, murid-murid kelasku membantu murid-murid dari Global Indonesia. Kami berpencar, berbaur dengan murid-murid dari Global Indonesia. Tak hanya mengajari, kami juga berdiskusi. Aku sangat terkejut, karena bila dibandingkan dengan kami, materi yang mereka pelajari sangat tertinggal jauh di belakang kami. Pantas saja kemampuan guiding mereka sangat payah. “Pelan-pelan, pasti kalian bisa,” kataku. Sore menjelang malam dihabiskan untuk praktik guiding murid-murid dari Global Indonesia. Kemampuan mereka sudah meningkat, walaupun masih banyak yang harus mereka asah lagi. Tapi setidaknya, respons positif datang dari Pak Ernan. Ia mengapresiasi usaha murid-murid Global Indonesia yang mau belajar, juga mengapresiasi kami—murid-murid dari Jakarta Wisata—yang mau membantu murid-murid dari Global Indonesia untuk belajar. “Ini pertama kalinya saya melihat kedua sekolah yang saya pimpin akur. Mau belajar dan berdiskusi bersama. Sebelum-sebelumnya tidak pernah,” ujar Pak Ernan. “Saya harap kalian terus menjaga hubungan pertemanan kalian,” tambahnya. Aku dan Aryo tersenyum. Kami melakukan tos. Tak kusangka, momen ini akan menjadi sangat berkesan bagiku. Bukan lagi murid-murid dari Jakarta Wisata atau murid-murid dari Global Indonesia, kini yang ada hanyalah murid-murid jurusan pariwisata yang menempati bus 1. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD