Jangan bawa-bawa surga
Lalu lintas begitu padat di bawah terik matahari pada siang hari di atas sebuah pemukiman di wilayah Sidney Australia.
Seorang pria terlihat berlari kencang melintasi jalanan yang begitu padat, sesekali ia menoleh ke belakang menghitung jarak antara dirinya dan para pengejarnya. Ia pun kembali berlari lebih kencang, meliuk ke sana kemari melewati semua kendaraan yang melaju searah dengannya tanpa menghiraukan teriakan dan makian dari semua pengguna jalan.
Pria itu terlihat masih muda dan berotot kekar. Tubuhnya basah karena peluh yang membanjiri wajah dan seluruh tubuhnya. Beruntung ia sering berolah raga lari di pagi hari dan rutin membentuk otot tubuhnya dengan semua perlengkapan gym yang ada di rumahnya. Jadi semua halangan yang ada di hadapannya saat ini begitu mudah untuk ia taklukkan.
Ia melompat, berputar dan sesekali bersalto melewati motor atau mobil yang berhenti mendadak saat berpapasan dengannya. Tak urung membuat semua yang melihatnya merasa takjub meskipun sedikit jengkel karena perjalanannya terganggu.
Sementara jauh di belakangnya terlihat sekitar empat orang berlari mengejar. Mereka berteriak memanggil sang pemuda yang terus berlari menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan ke empat pengejarnya.
Salah seorang diantaranya berhenti dan membungkukkan badannya. Napasnya memburu dan sedikit terbatuk. Ia terlihat sangat lelah.
"Luar biasa Tuan Muda larinya sangat kencang." ujarnya sembari mengusap peluh di dagu menggunakan ujung lengan kirinya. Sesekali ia membuang saliva dengan cueknya.
Ketiga temannya pun ikut berhenti dan melakukan hal yang sama. Sampai akhirnya seorang warga berbaik hati membagikan botol air mineral untuk mereka berempat. Mereka pun sangat berterima kasih karenanya.
"Don, segera lapor Tuan besar. Kita kehilangan jejaknya." celetuk salah satu temannya yang terlihat putus asa. Kedua temannya yang lain pun mengangguk setuju.
"Baiklah. Tapi sebentar aku atur napas dulu." jawab Doni yang terlihat lebih memimpin.
Tak lama kemudian Doni mengambil ponselnya dan berdiri di sudut yang agak sepi lalu menghubungi seseorang yang mereka sebut sebagai Tuan Besar.
"Maaf Tuan kami kehilangan jejaknya lagi." jelasnya dengan nada menyesal.
"Gagal lagi?"
"Maafkan kami Tuan Dominic. Kami sungguh sudah berusaha mengejar Tuan Muda Smith sejak melihatnya melintas di sekitar jembatan Sidney Harbour." jelas Doni dengan wajah memelas. Rupanya badannya yang begitu tegap tidak mencerminkan kondisi jiwanya yang sedikit lembut.
Ketiga temannya menatap dengan santai sembari menenggak minumannya.
Terdengar helaan napas yang panjang dari ujung panggilan. "Ya sudah, kalian kembali ke markas dulu. Setelah dua jam kalian cari lagi dia di tempat kalian saat ini mengejarnya." titah Ernest Dominic, sang pemilik bisnis periklanan besar berskala internasional, Dominic StarAdv., di wilayah Indonesia, Singapura dan Australia.
"Siap Tuan." jawab Doni dengan perasaan lega.
"Tapi jangan santai dulu, tetap carilah dengan cara apapun tentang keberadaannya. Aku yakin pencarian atas nama Smith Dominic tidak akan sulit, mengingat dirinya adalah putraku, sang pewaris tahta Dominic StarAdv." ujarnya pongah.
"Baik Tuan Besar. Kami akan terus mencarinya."
Ernest Dominic menutup pembicaraan secara sepihak. Keempat anak buahnya pun menghela napas lega.
"Beruntung Tuan Besar adalah seorang bos yang baik. Beliau tidak pernah menghukum kita meskipun gagal." celetuk salah satu diantara mereka.
"Tapi hal itu justru malah membuatku segan kalau tugasku gagal." kilah Doni. "Menjadi anak buah dari seorang bos yang baik bukan berarti kita lantas enak-enakan dan santai dalam bertugas." lanjutnya tegas.
Ketiga rekannya pun mengangguk setuju.
"Kita pulang dulu. Dua jam lagi kita cari beliau lagi di sekitar sini."
"Siap."
Doni dan ketiga rekannya beranjak pergi setelah memastikan bayangan orang yang mereka cari benar-benar menghilang.
Sementara itu tak jauh dari tempat mereka menghubungi Ernest Dominic, sepasang mata terlihat berbinar saat mengetahui kepergian mereka berempat. Seulas senyum tersungging di bibirnya yang merah dan sedikit tebal di bawah, membuat belahan dagu bawahnya sedikit merekah ke samping. Ia sudah terbebas dari kejaran orang-orang suruhan ayahnya.
Ya, pria muda berusia 27 tahun itu adalah Smith Dominic. Putra tunggal Ernest Dominic yang adalah salah satu orang terkaya di wilayah Asia tenggara. Yang juga seorang pengusaha produk kecantikan dan kesehatan selain perusahaan periklanan miliknya yang kini semakin berkembang pesat.
Smith Dominic, yang lebih suka dipanggil Smith daripada nama Jawa yang melekat di depan nama baratnya. Selama ini ia tidak pernah mencantumkannya pada setiap kartu nama dan identitas pengenal lainnya selain KTP dan di kartu keluarga milik ayahnya.
Terlahir dari rahim seorang wanita lemah lembut dan baik hati yang berasal dari Jawa bernama Arum Batari istri dari Ernest Dominic yang berasal dari Australia.
Jika ditanya kenapa Smith tidak mau mencantumkan nama Jawanya? Jawabannya adalah karena ia malu. Padahal ibunya begitu tulus dan bersungguh-sungguh memberinya nama yang sangat berarti baginya itu namun Smith tetap berkeras untuk tidak mencantumkannya sembari meminta maaf berkali-kali pada sang ibu.
"Kamu tidak menghargai ibu nak, padahal ibu sudah bersusah payah mencarikannya untukmu waktu itu. Dan bahkan menurut daddy itu nama yang sangat bagus dan cocok buatmu." protes ibunya waktu itu. Namun Smith hanya tertawa sembari menciumi wajah ibunya.
"Ibuku sayang, bukan berarti Smith tidak menghargai ibu, Smith hanya ingin terlihat lebih keren aja tanpa nama itu. Smith tidak bermaksud untuk menghilangkannya kok bu, tenang saja, nama itu akan selalu melekat di hati Smith sampai ajal menjemput."
"Halah omong apa kamu itu. Lha wong di panggil nama itu aja kamu nggak mau kok le, malah mau di lekatkan di hati." sewot ibunya.
"Sudahlah ibu, jangan marah-marah nanti cepat tua."
"Ibu cuma heran saja kamu kok aneh, pengen keren tapi masih manggil aku ini dengan sebutan ibu. Kenapa bukan mommy saja le?"
Smith tersenyum bangga. "Karena sebutan ibu lebih pantas buatmu bu. Panggilan ibu lebih dalam maknanya dan itu sangat berarti buat Smith." jawabnya waktu itu. "Coba ibu ingat selama ini yang ada kan surga di bawah telapak kaki ibu bukan di bawah telapak kaki mommy bukan?"
"Bocah tambeng yo kowe iki le. Gak usah bawa-bawa surga kalau mau menghibur ibu, itu berat kamu nggak akan kuat!" hardik Arum yang gemas dengan putranya.
Smith tertawa mendengar seloroh ibunya. "Ya udah bu Smith mau berangkat dulu ke medan perang. Doa kan biar putra gantengmu ini cepat kaya dan sukses di perantauan. Nanti kuberikan semuanya buat ibu."
"Halah ibu ora kepengen dunyamu le. Daddy mu itu sudah lebih dari kaya dan sudah memberikan ibu lebih dari apapun yang ibu minta. Ibu ini pengennya ya cuma di temani sama kamu saja le." jawab ibunya yang selalu memanggilnya dengan sebutan untuk anak lelaki jawa bagi putranya itu. Tanda kasih sayang katanya.
Namun wanita itu tetap harus berbesar hati dan hanya mampu menghela napas panjang lalu mengelus dadanya berkali-kali saat melihat putranya satu-satunya itu berlalu pergi sembari terkekeh dan melambaikan tangannya setelah mencium takzim punggung tangannya. Sebenarnya ia sangat bangga karena putranya tidak mau menggantungkan hidup pada kedua orang tuanya. Smith tidak suka jika dianggap menumpang nama besar ayahnya. Ia ingin hidup mandiri dan bekerja keras untuk membangun dunianya sendiri tanpa bayang-bayang nama besar seorang Ernest Dominic.
Smith Dominic sejak ia menyelesaikan study akhirnya di Amerika, ia tidak pernah pulang ke Indonesia untuk tinggal bersama kedua orang tuanya. Ia malah lebih memilih untuk berkelana di Australia dan menetap di sana sampai saat ini. Smith hobi travelling dan sekali waktu ia memberikan jasa sebagai seorang guide di negara itu menyusuri tempat-tempat wisata yang indah di sana bersama para wisatawan. Ia begitu menikmati hidupnya dan hanya sekali waktu ia berkunjung ke rumah orang tuanya hanya untuk sekedar melepas rindu. Biar bagaimanapun juga ia sangat menyayangi ibunya. Arum Batari adalah satu-satunya harta yang paling berharga bagi seorang Smith.
Dan kini setelah hampir lima tahun Smith hidup sendiri, Ernest Dominic mencarinya dan bermaksud untuk memintanya menggantikan dirinya untuk menangani semua perusahaan yang sudah ia bangun dengan susah payah selama ini. Hanya Smith seorang yang berhak mewarisi semuanya, namun putranya itu berkeras untuk menolak. Hingga akhirnya Ernest terpaksa melakukan sesuatu untuk "memaksa" Smith kembali ke dunia yang seharusnya ia jalani dan meneruskan bisnisnya. Hal itu di karenakan ia telah mendapat teror dari adiknya dan juga adik Arum istrinya yang ingin menggantikan posisi Smith jika memang putranya benar-benar menolak permintaannya itu. Namun Ernest sangat keberatan. Baginya hanya Smith lah satu-satunya yang pantas meneruskan kerajaan bisnisnya.
Smith meninggalkan tempat persembunyiannya lalu melangkah pergi dengan begitu percaya diri sembari bersiul riang dan memasang kaca mata hitamnya. Gaya khas seorang Smith. Ia sering kali iseng melirik dan melempar senyum pada setiap gadis yang berpapasan dengannya. Ia lebih melebarkan senyumnya saat para gadis itu malah melengos pergi setelah melihatnya. Ia tidak heran. Siapapun mungkin akan jijik melihat tompel besar berwarna hitam di pipi kanannya yang mengurangi sedikit kadar ketampanan wajahnya. Namun Smith tetap tidak perduli. Baginya yang selalu gagal dan di tolak oleh setiap gadis incarannya itu adalah hal biasa yang tidak perlu di pikirkan terlalu dalam.
Tiba di ujung jalan yang berkelok ia sedikit mengumpat saat bertabrakan dengan seseorang. Kaca mata yang bertengger di hidungnya pun terjatuh dan retak saat ia menginjaknya tanpa sengaja.
"Hey, apa kamu tidak mempunyai mata untuk melihat?" protesnya sembari memungut kaca mata retaknya tanpa melihat sosok yang sudah bertabrakan dengannya.
"Oh maaf Tuan, saya tidak sengaja. Harusnya Tuan juga lihat jalan dong, pantes aja lah pakai kaca mata hitam sih." jawab sosok itu dengan suara merdunya.
Cewek? Batin Smith. Ia pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap gadis itu.
"Apa katamu? Enak saja! Salahmu sendiri tidak memberi tanda kalau mau belok." protes Smith dengan cueknya.
Gadis itu melotot menatapnya, "Dikira kendaraan kalau mau belok kasi tanda dulu. Helooo, ini manusia! Mana tau kalau situ juga mau belok ke arah sini." teriaknya tidak mau kalah. Ia pun lalu beranjak pergi setelah melempar lirikan tajam untuk Smith.
Smith hanya mencebik lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding untuk membetulkan kaca matanya yang bengkok. Ia bermaksud untuk tetap memakainya meskipun retak. Namun pandangan matanya terpaku pada gadis itu yang terlihat sedikit terhuyung dan melangkah ke tengah jalan raya sementara di belakangnya sebuah motor sedang melaju dengan kencang.
Tanpa pikir panjang Smith melempar kaca matanya dan berlari menghampiri gadis itu lalu menariknya ke tepi jalan dan di sekitarnya pun menjadi gelap. Smith tidak bisa melihat apapun.