Pencuri?

1418 Words
"Tuan! Tuan!" gadis yang di tarik oleh Smith berteriak memanggil sambil menggoyangkan tubuhnya dengan keras. Karena tidak ada reaksi apapun gadis itu segera berteriak minta tolong namun sayang di sekitarnya sedang sepi dan jauh dari keramaian. Beruntung seorang pengendara mobil bersedia untuk menolongnya dan mengantarkan ke rumah sakit. "Tabrak lari?" tanya pria penolongnya dalam bahasa Inggris, rupanya ia warga asli Australia yang terlihat juga dari penampilannya. "Iya." jawab sang gadis cepat. Ia masih terlihat panik. Kedua tangannya gemetar saat memegangi luka di kepala Smith. Pria penolongnya pun mengangguk paham. "Sabarlah, sudah dekat." ujarnya sembari melirik gadis itu dari kaca spion. Ia hanya tersenyum kecil saat di acuhkan gadis itu yang masih tetap mengarahkan perhatiannya pada sang korban. Tak lama mobilnya pun sampai di rumah sakit terdekat lalu berhenti tepat di depan lobby rumah sakit. Ia pun segera memanggil perawat untuk segera menolong Smith lalu ia buru-buru pergi setelah sang gadis mengucapkan terima kasih padanya. Smith tertangani dengan baik setelah gadis itu menanda tangani beberapa berkas administrasi. Tidak ada luka yang parah hanya luka akibat benturan di pelipis kanannya yang masih mengeluarkan darah namun tidak berbahaya. Gadis itu beringsut menjauh dari Smith yang terbaring lemah di sudut ruang perawatan ketika ponselnya berdering nyaring. "Ya Tuan?" "Bagaimana kondisinya?" "Sudah beres Tuan, dia baik-baik saja. Hanya luka benturan di pelipis kiri yang sempat membuatnya kehilangan kesadaran tadi saat menolongku. Aku sangat menyesal sudah ceroboh." jelas gadis itu dengan raut wajah sedih. "Sudahlah yang penting dia masih sehat dan selamat." "Terima kasih Tuan." ucap gadis itu tulus. "Tapi maaf aku tidak bisa memesan ruang VIP untuknya karena keterbatasan biaya yang ku miliki. Lagi pula aku tidak mau dia curiga kalau tiba-tiba orang sepertiku ini menolongnya dan memberinya fasilitas kesehatan dengan kamar VIP, apa nanti yang dia pikirkan Tuan?" lanjutnya panjang lebar. Pria itu pun terbahak mendengarnya. "Kamu benar. Kerja yang bagus! Sudah ku transfer semua biaya perawatannya ke rekening tabunganmu. Kalau lebih biarkan saja anggap bonus buatmu yang sudah cekatan membawanya ke rumah sakit." "Tapi bukan aku yang membawanya, tadi ada seorang pria yang kebetulan melintas dan menolong kami." jawab gadis itu dengan jujur menjelaskan kondisi sebenarnya. Terdengar kekehan tawa di ujung panggilan. "Sepertinya aku tidak salah memilih orang. Aku suka kamu jujur seperti itu. Ya sudah, lanjutkan tugasmu dengan baik. Ada bonus besar menunggu di akhir tugasmu nanti." "Baik Tuan, terima kasih." jawab gadis itu yang lalu menyimpan ponselnya kembali setelah pria yang menghubunginya mengakhiri panggilan. Gadis itu diam termenung memikirkan semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Tuntutan biaya hidup yang tinggi dari ayah angkatnya membuatnya terpaksa menerima tawaran kerja dari sang Tuan yang baru saja menghubunginya itu. Samar-samar ingatannya pun melayang pada kejadian pedih dua hari yang lalu di rumahnya. "Cepat carikan uang seratus lima puluh juta dalam waktu lima hari kalau kau tidak mau nyawa ibumu yang tercinta itu melayang!" teriak Gunarso tepat di hadapannya. Jarinya sibuk menunjuk ke arahnya dan ibunya yang terbaring lemah di lantai setelah di dorongnya dengan kasar. "Tolong jangan kasar padanya! Dia ibuku pak! " teriaknya waktu itu tidak terima. "Dan uang sebanyak itu darimana ku dapatkan dalam waktu yang singkat? Kau tahu aku hanya seorang karyawati toko biasa dan hanya berjualan secara online itupun tidak banyak menghasilkan." "Diam kau! Bisamu cuma menentang tanpa mau memberiku uang! Ingat, aku ini ayahmu biarpun hanya ayah angkat!" Dirinyapun mencebik dan sedikit memicingkan matanya menatap wajah garang Gunarso, sang ayah angkat. "Dimana-mana yang namanya ayah sudah pasti akan bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, bukan malah mengemis sepertimu! Kerja pak kerja! Kau itu laki-laki yang masih muda dan kuat!" protesnya yang membuat Gunarso langsung naik pitam. "Tutup mulutmu Olin! Sekali lagi kau menentangku maka ibumu ini yang akan jadi sasaran pertama kakiku!" ancamnya sembari menarik kasar tubuh ibunya. "Pergilah Olin, jangan pikirkan ibu lagi. Cepat pergi jauhi laki-laki ini, maaf ibu telah salah memilihnya." sahut ibunya waktu itu yang tidak ingin Gunarso berbuat kasar pada putrinya. Namun ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi ketika tangan kekar milik Gunarso telah menutupnya dengan satu gerakan cepat dan keras membuahkan tanda biru dan kemerahan di ujung bibirnya. Air matanya pun luruh seketika. Ia pun memekik sedih melihat ibunya di perlakukan seperti itu. Nyaris ia melempar wajah Gunarso dengan bangku kayu yang tergeletak di sebelahnya jika saja ibunya tidak menatapnya dengan tatapan sayu penuh permohonan. Olin memalingkan wajahnya dengan kesal ke arah luar, air matanya membanjiri wajahnya yang putih ketika melihat banyak mata dan kepala yang begitu senangnya menonton drama kehidupan yang hampir setiap hari di lakonkan oleh keluarganya termasuk dirinya sendiri. Manusia memang lebih tertarik dengan cerita dan keburukan orang lain tanpa melihat cermin tentang cerita dan keburukan yang terjadi dalam kehidupannya masing-masing. "Cepat cari uang yang ku minta sebelum kakiku bergerak!" ancam Gunarso lagi. Olin pun tidak tahan. "Baiklah aku akan mencarinya untukmu! Tapi lepaskan dulu ibuku." Teriaknya tanpa memperdulikan tatapan mencemooh dari kerumunan itu. Sekalian saja, toh mereka sudah melihat dan mendengar sejak awal, batinnya ketika melihat kerumunan di depan rumahnya semakin banyak. Gunarso tertawa sinis, "Kau pikir aku bodoh? Sebelum kau memberiku sejumlah uang itu aku tidak akan melepaskannya!" tegas Gunarso. Karena tidak tahan melihat ibunya yang menangis dengan kondisi tersiksa karena rambutnya di tarik kencang oleh Gunarso, Olin pun pergi tanpa pamit setelah meneriakkan janji untuk kembali demi ibunya. Gadis itu menyeka air matanya dengan pedih. Ya, dialah Olin Xivanya. Putri kandung Anna Respati yang kini sedang dalam tawanan Gunarso, suami barunya. Ayah kandung Olin sudah meninggal sejak ia masih berusia 8 tahun. Sejak saat itu kehidupan mereka yang semula berkecukupan perlahan berubah menjadi kekurangan karena kondisi ibunya yang hanya mampu bekerja sebagai pengasuh balita dan buruh cuci pakaian. Olin sering membantu ibunya dengan menjual koran berkeliling sekaligus menyemir sepatu. Olin bekerja sambil sekolah hingga akhirnya ia lulus dari sekolah tingkat atas dan melanjutkan kuliah dengan biaya bantuan pemerintah sekaligus beasiswa yang ia dapat dari prestasinya yang gemilang. Olin bersyukur mampu melewati semua ujian hidup bersama ibunya. Perlahan hidup mereka menjadi lebih baik sedikit demi sedikit saat Olin bekerja di sebuah restoran ternama dengan gaji yang menurutnya cukup besar. Hingga kemudian kedamaian mereka terganggu dengan kehadiran Gunarso yang menikahi ibunya. Awalnya pria itu terlihat bertanggung jawab karena selalu memberi ibunya uang untuk kebutuhan sehari-hari namun belakangan Olin tahu uang itu ia dapat dari hasil berjudi dan hutang pada seorang rentenir tanpa Gunarso sanggup membayarnya. Dan pada akhirnya Olin lah yang menanggung semuanya. Lamunan Olin buyar seketika saat ia mendapati Smith tersadar dari pingsannya dan berusaha untuk duduk bersandar. Olin berlari mendekatinya sembari membantunya. "Kau sudah sadar Tuan? Syukurlah." Smith menoleh menatapnya dengan heran. "Kenapa aku bisa sampai di tempat ini?" Olin tersenyum semanis mungkin. "Maafkan aku Tuan, Anda telah tertabrak motor saat menolongku tadi." jawab Olin sedikit mengingatkan Smith. Smith pun terdiam seolah sedang mengingatnya. "Kau bagaimana ada luka?" tanya Smith mencoba memberi perhatian. Olin menatapnya terpana merasa terharu dengan perhatian kecilnya itu. "Aku baik-baik saja Tuan. Terima kasih." ucapnya tulus. "Hmm, ya." jawab Smith singkat. Pria itu pun lalu berusaha turun dari ranjang dengan susah payah. "Anda mau kemana?" "Pulang. Tempatku bukan disini." jawab Smith dengan wajah datarnya. "Tunggu dulu Tuan, aku panggilkan dokter dulu. Anda harus diperiksa dulu kondisinya untuk memastikan apa sudah boleh pulang atau belum." jelas Olin yang lalu menekan tombol di samping pembaringan memanggil perawat. "Cerewet! Aku mau pulang, tidak usah ini itu." bentak Smith yang membuat Olin terkejut. "Oh baiklah kalau itu mau Anda." Olin pun lantas pergi meninggalkan Smith begitu saja. "Hey kau mau kemana? Dasar tidak bertanggung jawab!" teriak Smith gusar. Ia kesulitan untuk turun karena kepalanya masih terasa berat oleh sebab itu ia membutuhkan bantuan dari Olin. "Pulang." teriak Olin membalasnya. "Bantu aku dulu! Dasar tidak tahu terima kasih." Olin pun menatap Smith dengan kesal. Ia mengurungkan langkahnya yang hanya berniat untuk duduk diluar saja demi memancing reaksi Smith. Tapi masih beberapa langkah ternyata pria itu dengan cepat sudah berteriak padanya. "Butuh bantuan? Masih pusing? Itu tandanya Tuan masih belum sehat. Aku tidak yakin kalau Tuan sudah boleh pulang." "Diam kau cerewet! Aku akan membayarnya kalau tidak boleh pulang. Uangku bany..." Smith tidak melanjutkan ucapannya. Ia menatap bingung ke arah tangannya yang kini sedang sibuk merogoh semua saku celana dan bajunya. "Dimana dompetku? Kau mencurinya??" tuduhnya langsung dengan tatapan tajam pada Olin. Kedua mata Olin membulat. "Dompet?" ia pun lalu menepuk dahinya pelan. "Oh astaga dompetmu Tuan. Itu anu, aku..." "Cepat berikan padaku! Dasar pencuri!" teriaknya kesal. Olin pun melotot tajam padanya. "Dimana ada pencuri?" teriak seorang perawat yang baru datang ke ruangan Smith. "Gadis ini. Dia mencuri dompetku." Smith menunjuk Olin tanpa ampun. "Tunggu dulu Tuan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD