"Tunggu, saya bukan pencuri! Enak saja main tuduh." Olin menatap tajam ke arah Smith yang saat itu juga sedang menatapnya bingung.
"Lalu kalau tidak mencuri apa namanya? Dari tadi cuma kau yang ada di dekatku. Kau juga mengaku yang membawaku kesini."
"Eh, bukannya terima kasih malah sesukanya saja. Gini ya pak, Tuan atau apapun panggilan Anda, aku memang yang bawa Anda kesini. Aku juga yang bawa dompet Anda lal..."
"Nah itu kamu mengaku. Cepat balikin sini! Atau ku laporkan ke polisi!" potong Smith cepat.
"TUNGGU DULU Tuan yang terhormat, aku belum selesai bicara!" gertak Olin yang tidak suka bicaranya di potong begitu saja. Sang perawat hanya diam memperhatikan interaksi keduanya.
Olin menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan. Seolah ia sedang membawa beban yang begitu berat. "Jadi gini sus, Tuan ini kan masih pingsan setelah di tangani dokter, nah tadinya waktu mengurus administrasi aku tidak tahu data diri beliau, makanya aku ambil saja dompetnya untuk mencari kartu identitasnya." jelas Olin panjang lebar.
"Lalu?" Smith dan sang perawat menunggu dengan tidak sabar.
"Lalu aku lupa setelah itu dimana dompet itu dan bagaimana nasibnya hiks.." Olin memasang wajah sedih dan memelas.
Sang perawat hanya menghela napas panjang sedangkan Smith langsung naik pitam.
"Cari sampai ketemu! Makanya kalau mau ambil dompet ijin dulu sama yang punya!" teriaknya gusar. "Ada banyak uang dan kartu-kartu penting didalamnya."
"Apa aku harus minta ijin pada orang pingsan?? Namanya juga panik Tuan, aku jadi lupa sudah menaruhnya dimana." Olin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Yang penting Anda di tangani duluan." lanjutnya.
"Sudah, sudah tenang dulu ini rumah sakit. Gak enak sama pasien yang lain." sang perawat pun akhirnya turun tangan menenangkan. "Gini aja mbak, tadi kan ke ruang administrasi, cari aja di sana siapa tahu ada yang menemukan lalu menitipkan ke pos satpam." sarannya pada Olin.
"Benar juga. Baiklah sus, terima kasih." Olin bergegas pergi ke ruang administrasi untuk mencari dompet Smith yang tertinggal.
Smith memperhatikan Olin yang berlari menjauh lalu menatap perawat di sampingnya. "Apa saya sudah boleh pulang sus?"
"Tunggu kunjungan dokter dulu ya pak. Sebentar lagi beliau datang. Maaf, kalau saya tidak bisa memutuskan karena saya lihat Anda masih pucat." jawab sang perawat.
Smith mendecak kesal. "Saya banyak urusan."
"Iya pak, yang sabar di tunggu saja." jawab perawat itu sekenanya sembari memompa alat pengukur tensi darah.
Setelah sang perawat selesai menjalankan tugasnya ia pun berpamitan pergi. Tak ingin membuang waktu lebih lama Smith segera menarik kabel infus dari pergelangan tangannya lalu menyeret kakinya keluar setelah berhasil turun dari pembaringan dengan susah payah.
Ia pun melongok keluar, memindai keadaan di sekitar tempatnya berdiri. Setelah di rasa aman Smith melangkah perlahan menuju ke ruang administrasi menyusul Olin. Sesekali ia bersandar pada dinding saat merasakan sedikit pusing dan pandangan matanya menggelap.
Baru saja ia hendak melangkah kembali seorang pria tiba-tiba menabraknya dengan keras. Smith nyaris terjatuh kalau saja ia tidak sigap berpegangan pada pilar.
"Siapa kau?" bentak Smith lalu menatap pria itu dengan menyipitkan kedua matanya. Samar-samar di lihatnya pria bertopi hitam dan berkacamata saat itu sedang menatapnya tajam.
"Cepat tanda tangani berkas ini!" desisnya sembari menunjukkan senjata tajam yang ia selipkan di pinggangnya.
Smith menggelengkan kepalanya, berusaha untuk melihat dengan jelas wajah pria itu namun masih tetap buram. Iapun mendecak kesal. "Berkas apa?" tanyanya gusar.
"Penyerahan kekuasaan atas Dominic StarAdv." desis pria itu lagi. satu tangannya membuka jaket agar Smith dapat melihat senjata yang ia bawa meskipun sebenarnya sia-sia karena pandangan mata Smith sedang terganggu.
"Ck! Ambil saja! Aku tidak mau berurusan dengan itu." bentaknya Smith kesal. Kepalanya semakin pusing.
"Tidak akan bisa tanpa tanda tangan Anda." bisik pria itu kini tidak lagi mendesis. Ia mencoba bersikap tenang agar tidak terlihat mencurigakan. Kebetulan tempat itu sedang sepi dari lalu lalang pengunjung karena memang masih belum waktunya jam berkunjung.
"Tuan!" teriak Olin dari ujung koridor rumah sakit yang menghubungkan dengan ruang administrasi.
Pria itu pun terkejut lalu secepatnya pergi meninggalkan Smith seorang diri.
"Tuan kenapa keluar dari ruangan? Balik lagi yuk." Olin terkejut mendapati Smith bersandar dengan lemas lalu memegangi lengannya yang kekar dan menuntun kembali ke ruang perawatan. Dahinya berkeringat padahal udara tidaklah panas.
Smith hanya menggumam tidak jelas tapi Olin tetap cuek membawanya pergi dari tempat itu.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Anda Tuan. Sedangkan aku masih jauh disana." Dengan telaten Olin membantu Smith untuk kembali berbaring. Ia pun menggelengkan kepalanya saat melihat noda merah yang sedikit tercecer di sprei bagian pinggir tempat Smith meletakkan begitu saja jarum infusnya.
Olin menekan tombol pemanggil perawat di samping kanan Smith lalu duduk tepat di sebelah pria muda itu. "Ini dompet Anda sudah ketemu. Maafkan atas kecerobohan ku."
Smith menyambar begitu saja dompetnya lalu segera membuka dan melihat isinya dengan seksama. Dahinya sedikit berkerut saat tidak menemukan sesuatu yang di carinya. Olin hanya menghela napas kesal. Benar-benar batu tidak ada senyum dan terima kasihnya sama sekali. Menyesal aku sudah membantunya kalau saja aku tidak terikat dengan Tuan itu.
"Dimana KTP ku?" Smith menatap Olin curiga.
Olin menepuk dahinya lalu terkekeh. "Lupa lagi." ujarnya yang lalu merogoh saku dalam jaket yang di pakainya dan mengeluarkan KTP milik Smith sembari membaca nama yang tertera. "Tuan Bambang Smith Dominic. Benar ya ini milik Anda?" Olin menatap Smith sembari mengulum senyumnya semanis mungkin. Berharap ucapan terima kasih dari Smith.
Namun pria itu malah cemberut lalu menyambar begitu saja KTP nya dan segera memasukkan kembali ke dalam dompet.
"Terima kasih." sindir Olin pelan. Smith hanya mendengus kesal.
"Tuan Bambang, saya tinggal ke toilet dulu, lagi kebelet." pamit Olin cuek.
"Tunggu!" teriak Smith kesal.
"Ada apa lagi? Semuanya sudah saya kembalikan."
Smith melotot ke arah Olin sembari mengangkat telunjuknya mengarah ke wajah gadis itu. "Ingat, jangan sekali-kali memanggilku dengan nama itu."
Olin menatap Smith heran. "Loh, bukannya itu nama Anda Tuan?"
"Panggil aku Smith saja! Dan jangan panggil Tuan, karena aku bukan bosmu!"
"Ehm, baiklah Tuan eh paman Smith." jawab Olin cepat. Tubuhnya sedikit bergidik karena menahan hasrat ingin membuang cairan kotor dalam tubuhnya.
"Kenapa begitu? Kamu jijik melihat wajahku?" Smith kembali gusar saat melihat gerak spontan tubuh Olin.
"Lah, jijik kenapa paman? Orang aku lagi nahan kebelet. Ah ya sudah aku sudah tidak tahan lagi." Olin berlari kencang menuju toilet umum di ujung deretan kamar pasien ruang ekonomi kelas 4.
Smith hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. "Kalau saja aku tidak tertabrak motor itu. Dia jadi tahu nama asliku. Huh!"
Tak lama dokter pun datang memeriksa kondisinya dan menyatakan jika sampai sore hari tensinya tetap normal dan sudah tidak merasa pusing lagi Smith sudah di perbolehkan untuk pulang. Smith menanggapinya dengan antusias. Dokter itu pergi tepat ketika Olin baru saja selesai dari kamar mandi. Mereka berpapasan dan saling menganggukkan kepala.
"Dia sudah boleh pulang dok?" tanya Olin menahan langkah sang dokter.
"Boleh kalau sudah tidak pusing lagi dan tensinya normal." jawabnya sopan.
Olin pun tersenyum lega dan berterima kasih.
"Yeaay hari ini kau sudah boleh pulang paman. Semoga pusingmu itu segera menghilang." teriak Olin kesenangan.
Smith malah cemberut menatapnya, "Aku yang sakit malah kamu yang senang." protesnya.
"Iya dong. Itu berarti aku tidak susah-susah jagain paman nginap di sini. Aku tidak tahan bau obat." jawab Olin ceria. Ia pun kemudian membereskan semua barang bawaannya dan bersiap untuk pergi.
"Mau kemana?" Smith menatap Olin tajam.
"Persiapan pulang paman."
"Tidak bisa! Kau tidak akan pulang sebelum aku pulang." cegah Smith tidak suka.
Olin menghempaskan tubuhnya di atas kursi di sebelah Smith. "Aku ngantuk paman." keluhnya.
"Tidur saja lah."
"Tidur dimana?"
"Tuh ada tempat tidur kosong." Smith menunjuk dengan dagunya ke tiga bed pasien yang kosong di deretan sebelah kirinya. Olin pun cemberut.
"Ogah!"
"Ya sudah melek aja di situ." ujar Smith jutek.
"Bosan!"
"Ya ngobrol apa gitu atau main ponsel."
"Ngobrol apa? Emang paman mau denger obrolanku?"
Smith hanya mengedikkan kedua bahunya cuek. Olin pun mendecak kesal lalu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Paman, boleh tanya nggak?"
Smith menatapnya tajam. "Paman paman saja dari tadi. Panggil yang lain!" protesnya.
"Abisnya paman ini kelihatan jauh lebih tua dariku. Masa ku panggil kakak? atau om?"
Kini Smith lah yang mendecak kesal.
"Lalu kenapa paman tidak suka di panggil Bambang?" tanya Olin lagi yang sedari tadi penasaran.
"Bukan urusanmu!" bentak Smith.
"Paman malu kalau di panggil Bambang?" tebak Olin dengan tepat. "Oh ya aku tadi juga menemukan ini, kartu nama paman. Tapi namanya cuma Smith Dominic gitu aja. Ketahuan kalau memang paman tidak mau di panggil Bambang."
Smith merampas paksa kartu nama di tangan Olin lalu menyimpannya ke dalam saku. "Karena itu memang namaku!" jawabnya singkat.
"Bambang juga namamu. Aku yakin orang tuamu tidak sembarangan mencarikan nama buatmu." sahut Olin.
"Tahu apa kamu tentang orang tuaku?" gusar Smith.
"Eum, masih belum tahu sih. Tapi tidak mungkin orang tua memberi nama tanpa arti." jawab Olin penuh keyakinan. Smith mengedikkan bahunya.
Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh dengan keras di dekat mereka. Sontak Olin pun beranjak dari duduknya lalu berlari ke pintu. "Siapa??"