Olin mengedikkan bahunya saat tidak melihat siapapun di luar ruangan. Ia pun melenggang masuk dengan santai.
"Tidak ada siapa-siapa." ujarnya pelan.
"Benda apa itu? Cepat ambillah!" titah Smith seenaknya.
Olin sedikit membungkuk saat mengambil bungkusan berwarna coklat berbentuk persegi dengan ukuran yang cukup besar, sebesar buku kamus yang tebal lalu memberikannya ke tangan Smith yang menunggunya.
Smith membuka bungkusan itu dengan hati-hati. Namun setelahnya ia membelalakkan matanya takjub. "Apa ini?" serunya.
"Entahlah aku nggak tau paman." jawab Olin cuek. Gadis itu berdiri bersandar pada dinding, kedua tangannya bersidekap di depan Smith yang sedang tertunduk menatap isi bungkusan itu.
"Aku tidak tanya padamu nak!" sahut Smith jengkel. "Cepat kesini, lihat benda apa ini sebenarnya." titahnya sembari menatap tajam Olin.
Gadis itu pun mendekat dengan malas lalu mengikuti arah pandang Smith. Sedetik kemudian ia berlari keluar sembari memuntahkan segala isi perutnya. Smith tergelak menatapnya. Ia pun menghela napas panjang dengan puas. Rasakan! Siapa suruh rese di depanku.
Olin mengumpat dalam hati. Lagi-lagi ia harus mengelus dadanya menguatkan hati demi sejumlah uang yang ia butuhkan untuk sang ibu. Dasar Bambang, seenaknya saja kelakuannya dari tadi huh! gumamnya kesal
Ia heran kenapa Smith tidak mual seperti dirinya saat melihat isi bungkusan itu. Padahal baunya sangat menyengat.
Lamat-lamat terdengar teriakan dari dalam. Rupanya Smith sedang memanggilnya. Olin pura-pura tidak mendengar. Ia malah duduk dengan santai di pinggiran taman sembari bernyanyi kecil dan memainkan ponselnya.
Smith menunggunya dengan kesal karena ia sudah tidak tahan dengan aroma yang keluar dari bungkusan aneh itu. Salah satu kakinya yang jenjang mendorongnya menjauh ke ujung ranjang. Ia pun melongok mencari sosok Olin yang terlihat duduk dengan cuek di luar. Smith mendengus kesal lalu turun dengan perlahan.
"Hei kau!!" teriaknya bermaksud memanggil Olin karena ia masih belum mengetahui namanya. Yang di panggil tetap bungkam dan pura-pura tidak mendengar.
Akhirnya Smith pun sampai di belakang Olin. Ia lalu menepuk pelan bahu Olin yang membuat gadis itu seketika menoleh karena terkejut tidak menyangka pria itu akan mendatanginya.
"Ada apa paman?" tanya Olin tanpa dosa.
"Cepat masuk!" bentak Smith mengundang perhatian beberapa orang di sekitarnya.
"Ck! Aku masih mau disini." rengek Olin manja.
"Ku hitung sampai tiga kau tidak masuk maka.."
"Apa?" tantang Olin.
"Aku akan teriak kalau kamu pencuri!"
Kedua mata Olin membulat tak percaya. "Bukannya dompetmu sudah balik paman?" protesnya cepat sembari melirik kanan dan kirinya.
"Bodo amat!" sahut Smith cuek.
"Ya udah aku disini saja."
Smith mendecak kesal lalu menarik napasnya bersiap untuk teriak. "Bap..."
"Iya iyaaa aku masuk!" teriak Olin sembari menutup mulut Smith dan menariknya masuk ke dalam ruangannya.
Smith sedikit kesulitan mengikuti langkah Olin yang begitu cepat. Ia pun mengumpat dan menjilat tangan Olin yang menutup bibirnya.
"Kamu tidak tahu aku sedang sakit?" protesnya saat terbebas dari tangan Olin. Gadis itu hanya mengedikkan bahunya lalu mencuci tangan ke wastafel.
"Buang itu!" titah Smith sembari menutup hidungnya yang mancung dengan satu tangannya.
"Ogah! Enak saja. kan paman yang udah buka." tolak Olin sembari menjauhi bungkusan itu.
"Cepat buang! Kau mau membantah?"
Olin menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. Lalu dengan terpaksa mencari tas plastik besar untuk membungkus kembali benda itu dan mengikatnya kuat lalu membuangnya keluar.
"Puas?" teriak Olin sambil menggosok tangannya dengan sabun di atas wastafel.
Smith tertawa senang. "Kau terlihat cantik kalau patuh begitu."
"Dih gombal! Rayuan receh." olok gadis itu jengkel.
"Omong-omong namamu siapa?" Smith berusaha bersikap ramah. Bagaimanapun juga gadis itu dari awal sudah berbaik hati menolong dan menemaninya.
"Untuk apa pakai tanya nama segala? Namaku Olin Xivanya." protesnya yang tak urung mengatakan juga namanya pada Smith.
"Biar gampang kalau aku panggil kamu kayak tadi." sahut Smith cepat. "Gitu aja marah."
" Iya lah. Barang busuk gitu di suruh lihat dari dekat. Eh kau itu punya banyak musuh ya paman?"
Smith sedikit tercekat. "Kenapa tanya begitu?"
"Tuh yang dikirim bangkai ayam. Mana kepala doang." jawab Olin sembari melirik ke tempat sampah di luar.
Smith terdiam sesaat. "Mungkin cuma orang iseng." jawabnya cuek.
"Mana ada iseng kok pakai nama paman?"
"Ada namaku?"
"Iya, ditulis besar-besar tadi BAMBANG SMITH." jawab Olin sembari menahan tawanya. Membuat pria itu menggeram marah.
"Kenapa sih dengan nama itu? Bagus loh. Aku aja suka."
"Ambil aja kalau suka." celetuk Smith jengkel.
"Dikira barang di suruh ambil."
Smith hanya mendengus kesal.
"Eh paman nanti makin tua kalau mendengus mulu dan marah-marah gak jelas gitu." tegur Olin.
"Sekali lagi kamu bicara seperti itu hilang salah satu bibirmu!" ancam Smith.
"Woah serem amat cuma masalah nama aja."
"Aku sudah bilang tidak suka. Jangan di ulang lagi. Panggil aku dengan Smith saja." pintanya sekali lagi.
Olin terlihat sedang berpikir lalu menyeringai di depan wajah Smith. "Aku tahu harus memanggilmu apa paman."
Smith menatap tajam kedua manik indah milik Olin menunggu gadis itu melanjutkan bicaranya.
"Paman Bams." ujar gadis itu sembari tertawa. Smith cemberut.
"Jelek!" protesnya.
"Eum kamu suka yang ke barat-baratan ya paman. Eum, uncle Bams! Ok itu aja ya keren loh!"
Smith terdiam menatap gadis itu. Tidak menolak ataupun menjawab iya. Membuat Olin berpikir pria itu menerima idenya.
"Oke uncle, ini sudah hampir sore. Yuk mulai betkemas."
"Aku masih pusing."
"Kenapa uncle?"
"Pusing melihat tingkah anehmu." jawab Smith sembari berdiri dan melangkah keluar dengan tersenyum simpul. Gadis yang menarik.
"Mau kemana?" teriak Olin.
"Ruang administrasi. Mau pulang."
"Aku sudah membayarnya. Kau tinggal pulang saja." sahut Olin cepat sebelum Smith keluar dari pintu.
"Maksudmu?"
Olin mengangguk. "Sudah lunas sampai hari ini."
Smith menghela napas panjang lalu mengambil ponselnya dari atas nakas dan menyimpannya ke dalam saku. "Ayo pulang."
Olin hanya bisa pasrah mengikuti langkah Smith yang sedikit sempoyongan. Rupanya kondisi mata Smith pun mulai membaik.
Mereka berjalan di sepanjang koridor dengan berdiam diri. Tiba-tiba Olin teringat sesuatu.
"Paman, kau tidak curiga dengan bungkusan tadi?" tanya Olin memecah kesunyian.
"Tidak." jawab Smith singkat.
"Itu seperti pesan ancaman buatmu." ujar gadis itu pelan.
"Ancaman? Aku tidak punya musuh."
"Itu kan menurutmu. Siapa tahu diam-diam ada yang mengincarmu di luar sana, mungkin hartamu atau kalau tidak kau sedang ada tanggungan hutang."
"Enak saja, tidak mungkin aku berhutang."
"Lalu apa kau ingat mungkin kau pernah menyakiti hati orang lain contohnya aku."
Smith mendengus. "Tidak ada. Aku tidak pernah berurusan dengan hal yang tidak penting." jawabnya datar.
"Coba paman ingat-ingat lagi deh." saran Olin sembari memainkan ujung bawah jaketnya.
"Tidak ad.." Smith terdiam saat mengingat dirinya telah di tabrak oleh seorang pria tak di kenal. Ia pun mencoba menghubungkan dengan kiriman bungkusan tadi namun ia masih tidak yakin.
"Kenapa paman, ada ya?" tebak Olin.
Smith mengangguk pelan. "Tapi aku masih belum yakin." jawabnya. Smith pun menceritakan peristiwa itu sampai kedatangan Olin yang telah menyelamatkannya.
"Berarti kamu sedang dalam bahaya paman."