Berisik

1163 Words
"Apa mungkin dia yang sudah mengirimku bingkisan itu?" gumam Smith pelan namun cukup terdengar oleh Olin. Gadis itu menatap Smith dengan penuh tanya. "Pria yang mana?" "Apa tadi kamu melihat pria bertopi dan berjaket hitam meninggalkanku saat kamu datang dari ruang administrasi?" Olin terdiam sesaat mencoba mengingat saat itu. "Hmm, ada sih. Apa pria itu jangkung?" "Ya," jawab Smith singkat. Ia pun mencoba mengingat wajah pria itu namun tidak bisa karena saat itu pandangan matanya sedang terganggu. "Apa paman curiga sama dia?" "Begitulah. Karena sebelum kau datang tadi dia sempat mengancamku dan meminta tanda tangan dariku," jelas Smith. "Tanda tangan untuk apa?" "Seingatku dia bilang pengambil alihan perusahaan." "Lalu paman tanda tangani begitu saja?" Smith menggeleng. "Tidak. Aku hanya bilang kala dia mau ambil saja. Toh aku tidak membutuhkannya," jelasnya. Olin mendecak kesal. "Kenapa malah bilang begitu? Bukannya perusahaan itu penting? Eh maaf, perusahaan siapa nih yang dimaksud, punya paman?" "Bukan. Perusahaan milik ayahku." Olin kembali mendecak. "Paman ini aneh. Perusahaan milik ayahmu kan berarti juga milik mu Paman. Kenapa malah jawab begitu? Nanti kalau lepas ke tangan mereka nyesel lho!" "Tahu apa kamu soal perusahaan? Jangan ikut campur!" ketus Smith. "Iya sih. Ngapain juga aku ikut campur urusan paman." Olin pun terdiam dan melanjutkan langkahnya. Smith melirik Olin di sebelahnya dengan perasaan bersalah. Namun ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada gadis itu tentang kondisi yang sesungguhnya. Smith hanya enggan membicarakan masalah kekayaan ataupun perusahaan milik ayahnya. Ia mau setiap waktu hanya memikirkan dunianya saja bukan dunia glamour yang selalu di geluti oleh ayahnya. Sedikit banyak Smith mewarisi sifat dari ibunya yang lebih suka hidup sederhana. Mereka masing-masing terdiam hingga tanpa terasa sudah sampai di lobby rumah sakit. "Paman aku mau kesana. Paman cepatlah pulang dan istirahat. Bye!" pamitnya sembari melangkah ke luar lobby rumah sakit dengan ceria. Smith menatapnya tidak suka. "Tunggu Olin!" teriak Smith menahan langkah Olin lebih jauh lagi. "Kamu mau kemana?" Olin mengedikkan bahunya. "Kemana aja yang penting bahagia," jawabnya asal karena memang ia masih belum mempunyai tempat tinggal di sana. "Sory, maksudku kau mau pulang? Tinggalmu dimana barangkali kita searah," jelas Smith. "Aku masih mau cari tempat tinggal." "Kamu baru datang di kota ini?" heran Smith. Olin mengangguk dan tersenyum tipis. "Begitulah paman." "Memang kau tahu dan hapal wilayah sini?" "Nggak, hanya tahu beberapa tempat saja. Itu pun masih bingung," jawab Olin dengan lugunya. "Kalau begitu ikut aku saja," ajak Smith yang lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Olin menatapnya bingung. "Ayo, kita tunggu disana sambil makan. Aku lapar. Kamu juga pastinya sama denganku." Smith menyambar pergelangan tangan Olin dan menariknya begitu saja, membawanya masuk ke dalam restoran cepat saji di sebelah rumah sakit. Olin hanya diam dan patuh. "Apa tujuanmu datang ke tempat ini?" Smith bertanya sembari mengunyah makanan pesanannya. "Iseng aja, pengen cari hiburan. Lagi pusing di rumah," jawab Olin santai. "Rumahmu dimana memangnya?" "Jakarta," jawab Olin singkat yang langsung membuat Smith tersedak dan buru-buru menenggak minumannya. "Jangan bercanda kamu." "Beneran paman. Aku dari Jakarta." "Jauh lho. Naik apa kesini?" "Becak. Ya pesawat lah paman cuma itu satu-satunya alat transportasi yang bisa nyampe sini dengan cepat." Smith menatap Olin tak percaya. "Kamu sendirian?" Olin mengangguk. "Ada saudara disini?" Olin hanya menggeleng sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. "Ck.. Buang-buang uang," gumam Smith. "Nggak juga. Ada yang bayarin kok," sahut Olin cepat. "Oh ya? Pacarmu?" Olin terbahak mendengarnya sampai nyaris tersedak lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak punya pacar paman. Emangnya siapa yang mau sama gadis gembel ini?" Smith menatap Olin intens dari atas ke bawah sembari memikirkan sesuatu. "Jangan begitu lihatnya. Ntar jatuh cinta loh.." celetuk Olin yang tak urung salah tingkah melihat Smith menatapnya dengan cara seperti itu. "Aku tidak percaya kamu gembel." Olin mengedikkan bahunya. "Ya sudah gapapa kalau memang gak percaya. Aku gak maksa." Smith menghela napas panjang merasa prihatin dengan Olin. "Berapa biaya rumah sakitnya? Biar aku ganti." Olin sedikit tercekat, bingung untuk menjelaskan. "Ehm, anu sudah ada yang bayarin." "Siapa?" "Entahlah aku tidak kenal paman. Dia yang bawa kita ke rumah sakit juga," dusta Olin. "Oh ya? Kamu gak bohong kan?" "Nggak paman. Kalau memang aku yang bayar duitnya dari mana? Biaya perawatan di sini mahal." Smith mengangguk paham namun masih tetap tidak percaya. Dalam benaknya saat itu bisa saja Olin berbohong. Tak lama setelah mereka selesai makan dan keluar dari restoran itu datanglah sebuah mobil hitam yang lalu berhenti tepat di depan mereka. "Masuklah," titah Smith sembari sedikit mendorong pelan tubuh Olin untuk segera masuk ke dalam mobil. "Ini mobil siapa paman, bagus banget," celetuk Olin yang lalu membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Smith sudah masuk lebih dulu dari pintu satunya. "Gak penting ini mobil siapa," jawabnya datar. "Byan, tolong antar ke rumah sakit itu," titahnya pada sang sopir. "Siap." "Mau apa kembali lagi kesana paman?" tanya Olin sembari menatap curiga ke arah Smith yang duduk di sebelahnya. "Ada yang tertinggal di kamar itu," jawab Smith cuek. "Tunggulah disini. Aku hanya sebentar," Smith keluar dari mobil saat sudah sampai di depan lobby rumah sakit. Byan memutar mobilnya dan menunggu di tempat yang agak jauh. Smith berlari menuju tempat ia di rawat sebelumnya dan langsung menuju ke ruang adminstrasi menanyakan tentang biaya rumah sakit atas nama dirinya. Ia pun akhirnya tahu kalau semua biaya terbayar atas nama Olin Xifanya. Smith lalu pergi ke bagian perawat dan mengingat salah satu perawat yang selalu mendatangi ruangannya. Beruntung Smith berpapasan dengannya. "Ehm permisi sus," sapa Smith dengan sopan. "Iya Tuan, ada yang bisa di bantu? Bukannya Tuan sudah pulang?" "Iya. Ehm anu sus, saya mau tanya apa kira-kira Anda tahu yang membawa saya kesini siapa, apa cuma gadis itu atau ada orang lain yang bersamanya?" Perawat itu terlihat sedang mengingat sebentar lalu tersenyum. "Dari awal hanya gadis itu yang datang bersama Anda Tuan. Dan kebetulan waktu itu gadis itu cerita kalau sudah di antar seorang pria sampai lobby depan dan kebetulan waktu itu bertepatan saya sedang di luar dan melihatnya." "Apa pria itu memberinya uang?" Perawat itu menggeleng. "Tidak, beliau hanya memanggil kami dan meminta bantuan untuk segera membawa Anda. Memangnya ada apa Tuan, ada masalah?" "Oh tidak sus, saya hanya ingin tahu karena mereka sudah bayar semuanya untuk saya," jelas Smith. "Bukannya gadis itu yang bayar ya? Pakai kartu debit kok atas nama dia sendiri." "Benarkah? Anda yakin?" Perawat itu mengangguk. "Saya yang menerima berkas bukti pembayarannya dari bagian administrasi untuk pelengkap berkas Anda Tuan." "Oke baiklah sus. Terima kasih banyak. Saya pamit dulu." Smith tersenyum semanis mungkin lalu meninggalkan perawat itu yang menatapnya keheranan. Jadi kamu yang sudah membayar biayanya. Hm, menarik. Aku jadi penasaran kenapa kamu tidak mengakuinya. Batinnya berkecamuk. Ia merasa heran kenapa Olin begitu baik padahal mereka baru kenal. "Sudah ketemu yang ketinggalan?" tanya Olin saat Smith membuka dan duduk di sebelahnya." "Sudah. Byan kita jalan sekarang ke apartemen." "Siap." sahut Byan. Ia pun segera melajukan mobilnya menjauh dari rumah sakit. "Mulai sekarang tinggalah bersamaku," ujar Smith cuek sambil memainkan ponselnya. Olin tercekat. "Maksud paman, aku tinggal serumah dengan paman? Oh tidak!" Olin sedikit memekik. "Diamlah. Kau berisik sekali."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD