Arti Sebuah Nama

1300 Words
"Itu kamarmu dan ini kamarku," jelas Smith sembari menunjuk kamar yang nantinya akan di tempati Olin, bersebelahan dengan kamarnya yang terlihat lebih luas. Olin menatap takjub apartemen Smith yang begitu mewah dan cukup luas. Ia pun melangkah ke arah dapur minimalis dan modern lalu membuka kulkas dua pintu berukuran besar yang hanya terisi beberapa minuman kaleng saja. Hmm, kalau di rumahku kulkas ini pasti akan banyak terisi banyak macam bahan makanan atau apapun yang bisa kumasukkan kedalamnya. Kalau disini kau kosong, kasihan sekali nasibmu.. Olin terkekeh sendiri membayangkan hal itu dalam benaknya. Smith memandanginya tak berkedip. Di satu sisi ia yakin kalau gadis itu yang telah membayar biaya perawatannya tapi disisi lain ia pun ragu saat mengetahui Olin yang terlihat seperti belum pernah melihat barang-barang mewah. "Sudah cukup lihat-lihatnya?" tegur Smith yang melihat Olin hanya berdiri mematung di depan aquarium besar berisi ikan-ikan yang selama ini belum pernah ia jumpai dan kelihatannya berharga fantastis. Gadis itu berdecak kagum berkali-kali. Olin tersenyum menatap Smith. "Aku akan bekerja di sini setiap hari untukmu paman, anggap saja untuk biaya aku menumpang hidup disini sementara," ujarnya penuh terima kasih. "Terserah," sahut Smith cuek. Ia pun lalu masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri. Olin bergegas masuk ke dalam kamar yang ternyata sudah disiapkan untuknya. Gadis itu memindai seluruh ruangan dengan penuh takjub. Ia tidak pernah menyangka akan bisa tinggal di salah satu apartemen mewah meskipun hanya untuk sementara. Olin menyimpan sling bag dan beberapa barang bawaannya di atas meja di sebelah lemari pakaian. Iseng ia pun membuka pintu lemari itu dan seketika kedua matanya terbelalak saat melihat beberapa pakaian wanita sudah tergantung dan tersusun rapi disana. Tidak hanya itu, di sudut ruangan ada rak kecil tempat menyimpan sepatu dan sendal. Ia pun bersorak riang ketika mencoba salah satu sepatu kets berwarna putih kesukaannya yang ternyata ukurannya sangat pas dengan kakinya. Setelah puas mengagumi semua barang yang ada ia pun berlari masuk ke kamar mandi yang lagi-lagi membuatnya terpana. Ukuran kamar mandi itu tiga kali lipat dari ukuran kamar mandi rumahnya di kampung. Lagi-lagi Olin mendecak kagum saat melihat dekorasi yang terkesan modern. Ia menyentuh lembut setiap ornamen yang terpasang begitu juga kaca penyekat kamar mandi yang bermotif bambu. Suasana segar dan natural dapat dirasakan siapapun yang masuk ke tempat itu. Gadis itu membuka dan menutup closet duduk lalu tertawa sendiri saat teringat closet jongkok di kamar mandi rumahnya. Ia pun memutar keran untuk menyiram air kotor begitu juga keran air panas atau dingin yang ia campurkan dengan beberapa tetes sabun cair beraroma lavender dan mawar memenuhi bathub. Olin melangkah ke dekat pintu mencari gantungan untuk menyimpan pakaian yang kini ia lepaskan dari tubuhnya yang sedang merasa gerah sejak dari rumah sakit. Tanpa menunggu lama Olin bergegas masuk kedalam bathub lalu berendam dengan memejamkan matanya rileks. Menikmati satu hal yang biasanya hanya mampu ia lihat dalam tayangan film, tanpa berani untuk berharap semua akan menjadi nyata dalam hidupnya yang serba pas-pasan itu. Dan kini siapa yang dapat menyangka jika ternyata dirinya sedang menikmatinya secara nyata. Setengah jam kemudian ritual Olin di kamar mandi pun usai. Dengan hanya memakai handuk kimono ia melangkah keluar dan mencari baju di dalam lemari besar yang sudah di sediakan. Ia sedikit menggerutu kesal saat memakai pakaian dalam yang tidak sesuai dengan ukurannya, namun ia terpaksa tetap memakainya. Lagi pula siapapun yang menyiapkannya tentu tidak tahu ukurannya yang pas. Olin terkekeh sendiri. Olin terperanjat saat terdengar ketukan di pintu kamarnya. Dengan segera ia pun membuka dan mengintip dari dalam. "Auch!" Olin mengusap dahinya saat mendapat sentilan keras tangan Smith. Pria itu menatapnya tajam. "Apa yang kau lakukan?" tegur Smith sedikit berang saat melihat Olin mengintipnya dari celah pintu yang terbuka, membuat Olin seketika gugup. "Maaf Uncle, aku lupa kalau sedang di apartemenmu," jawab Olin lugu. Ia memang benar-benar lupa kalau sekarang tinggal bersama Smith. Smith hanya diam menatapnya lalu beranjak dari tempat itu seraya memberi perintah, "Duduklah, aku mau bicara." Olin berlari dan duduk tepat di sofa yang tadi sudah di tunjuk oleh Smith. "Apa kau pernah bekerja sebelumnya?" tanya Smith membuka percakapan. "Dan sebelumnya aku ingatkan lagi, jangan pernah memanggilku dengan nama itu dan rahasiakan itu dari orang lain." "Memangnya kenapa paman?" sahut Olin yang merasa begitu heran dengan Smith. "Bukankah nama itu sangat penting untukmu? Kau tahu paman, setiap insan pasti akan membawa pesan tersendiri dari sebuah nama yang sudah disematkan sejak lahir. Orang tua tidak mungkin sembarangan memberi kita nama, sudah pasti tersirat harapan yang terkandung di dalamnya. Dan percayalah bahwa disana hanya ada harapan baik untuk hidup kita. Maka hargailah, karena tidak sesederhana yang kita pikirkan," ucap Olin panjang lebar yang cukup membuat Smith tertegun. Apa yang dikatakan Olin sepenuhnya benar, hanya saja ia yang tetap berkeras dengan pendiriannya. Smith menggelengkan kepala lalu menatap tajam gadis itu. "Tidak usah ceramah! Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku, apa kau sudah pernah bekerja?" ulang Smith dengan geram. Olin mengangguk. "Sudah. Saat ini aku sedang ijin cuti satu minggu," jawabnya. "Oke, kerja dimana?" "Di Selera Kita Resto. Sebagai kasir dan kadang ikut bantu-bantu bagian pramusaji." "Sudah lama?" "Lumayan, bulan depan sudah dua tahun," jawab Olin cepat. "Kenapa kau tanyakan itu?" Smith menatap Olin ragu. "Aku sedang berpikir untuk memberimu pekerjaan disini." Kedua mata indah Olin berbinar. "Wah, benarkah paman?" "Tapi aku masih ragu," sahut Smith cepat. "Kenapa paman? Apa aku terlihat kurang meyakinkan?" "Bukan begitu, selain bersih-bersih apartemen ini apa kau mau jadi asistenku?" Olin mengernyitkan dahinya tak mengerti. "Bukankah bersih-bersih apartemen juga pekerjaan seorang asisten?" Smith memutar bola matanya malas. "Bukan yang itu, maksudku benar-benar asistenku. Kau akan selalu ikut kemanapun aku pergi," jelas Smith yang sudah mulai sedikit gusar karena harus menjelaskan semuanya pada Olin sementara ia sendiri juga bingung untuk mengatakannya. "Oh begitu, baiklah paman, tidak masalah," jawab Olin antusias. Dalam benaknya saat itu sedang sibuk menghitung banyaknya lembaran dolar yang akan ia terima nantinya, baik dari Smith ataupun dari pria yang saat itu menyuruhnya untuk mengawasi Smith. Tugas yang semula menurut Olin sangat berat karena ia di haruskan untuk selalu dekat dengan Smith, namun kini ia bahkan tidak perlu repot-repot lagi untuk memikirkan caranya, Smith sendiri yang telah menentukan posisinya. "Tapi sebelumnya aku perlu tahu dulu apa kelebihan yang kau miliki," tegas Smith memberi syarat. "Pekerjaan ini tergantung dari kelebihanmu. Jika aku rasa tidak sesuai maka kau akan batal menjadi asisten." Hati Olin mencelos seketika saat mendengarnya. Bagaikan kalah sebelum berperang, Olin sudah merasa minder duluan saat tahu latar belakang pendidikannya yang mungkin tidak sesuai dengan harapan Smith. "Kelebihan? Aku hanya mempunyai kemampuan di bidang fotografi dan pengalaman kerjaku paman. Selain itu tidak ada lagi, termasuk kelebihan berat badan. Kau lihat aku cukup langsing bukan?" jawab Olin polos yang membuat Smith seketika menahan tawa saat mendengarnya. Smith mengangguk puas. "Bagus, lumayan sesuai dengan pekerjaanku." Olin menghembuskan napas lega. "Jadi aku diterima paman?" "Menurutmu bagaimana? Apa kau merasa pantas untuk diterima?" Olin mengangguk yakin. "Tentu saja, aku yakin akan bisa bekerja dengan baik sebagai asistenmu," sahutnya cepat sembari tersenyum bangga. "Hmm, bagus! Tingkat kepercayaan dirimu lumayan tinggi juga," puji Smith yang membuat cuping hidung Olin seketika kembang kempis. Gadis itu merasa tersanjung mendengar pujian dari Smith. "Boleh kulihat contoh hasil pekerjaanmu sebagai fotografer?" Dengan cepat Olin pun membuka galeri dalam aplikasi ponselnya dan mencari album foto yang ia simpan sebagai bahan referensi atau contoh untuk iklan. Setelah menemukannya ia pun menunjukkan album foto itu ke hadapan Smith. "Cukup bagus!" lagi-lagi Smith memujinya. "Terima kasih, tadinya ku pikir beberapa foto ini hasilnya kurang memuaskan." "Ada satu dua saja yang kurang pas letak fokusnya, tapi tidak masalah menurutku. Tidak terlalu kelihatan juga." Olin tersenyum mendengar penuturan Smith. "Sebelum memulai tugasmu sebagai asisten, ada satu tugas buatmu, anggap saja sebagai tes ujian kerja buatmu." "Apa itu? Katakan saja paman." "Kau harus mengambil foto di rumah sakit." Olin menatap Smith penuh tanya. "Di rumah sakit?" "Ya, di kamar mayat!" tegas Smith. "Apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD