Rahasia Smith

1206 Words
Smith terbahak melihat ekspresi wajah Olin yang memucat. Sebenarnya ia hanya iseng saja saat mengatakannya tadi. "Aku hanya bercanda, jangan memasang tampang aneh begitu," ujar Smith sembari melangkah ke dapur mencari makanan kecil. "Aku sedang lapar, bisakah kau memasak sesuatu untuk kita makan bersama?" Olin pun langsung beranjak menghampiri Smith ke dapur. Tanpa banyak bicara gadis itu pun mencari sesuatu yang bisa dimasak dengan cepat dari dalam kulkas. "Aku akan memasak, tunggulah disana sebentar," ujar Olin sembari mulai memotong sayur dan menyiapkan beberapa bumbu. Ia sudah membersihkan daging dan siap untuk mengolahnya. Smith melenggang pergi sembari berucap, "kau sudah boleh bekerja saat ini juga." "Oke, apa katamu lah Tuan. Aku siap kapanpun juga," jawab Olin. Smith menunggu sembari memainkan ponselnya di ruang tengah apartemennya. Ia baru saja menyalakan televisi namun langsung ia matikan ketika beberapa stasiun televisi menyiarkan tentang keberhasilan ayahnya dalam bisnis. Sesekali ia menghembuskan napas kesal. Bisnis lagi bisnis lagi, apa mereka tidak bosan? Dunia seni dan wisata bagiku lebih menarik daripada sekedar bisnis yang saat ini banyak mafianya, huh. Keluhnya dalam hati. "Makanan sudah siap." Olin menyajikan sayur dan olahan daging diatas meja lalu bergerak spontan menuangkan nasi untuk Smith. "Segini cukup?" Smith yang selama ini tidak pernah mendapatkan perlakuan spesial merasa jengah dan hanya mampu menganggukkan kepalanya saja sembari mengucap terima kasih. Keduanya makan dengan hening. Tak ada satupun yang berniat untuk membuka suara, sampai akhirnya Smith menangkap sorot mata sedih milik Olin yang kini sedang menunduk menatap makanannya. Rupanya sedari tadi gadis itu hanya mengaduk makanan tanpa berniat sungguh-sungguh untuk memakannya. Smith menghela napas panjang. "Mana bisa habis makanannya kalau cuma dilihatin saja kayak gitu?" tegurnya pelan. Ia takut menyinggung perasaan Olin. Olin sedikit tersentak lalu bergegas menyuapkan makanan ke mulutnya sampai tersedak. Refleks Smith mengambilkan segelas air putih untuk Olin. "Kalau makan hati-hati. Lagian dari tadi kulihat kamu melamun saja, ada masalah?" Olin menggeleng. "Aku hanya ingat sama ibuku disana." "Ibumu?" "Ya, ibuku," jawab Olin sedih. "Pasti dia sedang kesakitan sekarang ini," gumamnya tanpa sadar namun masih bisa di dengar oleh Smith. "Beliau sakit?" Olin sedikit terkesiap lalu menggelengkan kepalanya cepat. "Oh tidak, maksudku pasti sakit rasanya kalau menahan rindu karena kutinggal sendirian disana," kilahnya. Smith mendengkus. "Jangan berbohong padaku, aku tahu kau sedang mengkhawatirkannya." Olin kembali menunduk. Melihat hal itu Smith pun merasa iba dan penasaran tentang Olin. "Mulai saat ini kau bisa mengatakan apapun padaku, jangan ada yang berusaha untuk kau sembunyikan dariku," ujarnya sembari menatap tajam Olin. "Sudahlah Smith, tidak ada yang kusembunyikan darimu, percayalah." Smith menggeleng. "Tidak, kau menyembunyikan sesuatu," sanggahnya tetap berkeras. "Kau tahu Olin, kau bisa anggap aku ini siapapun yang membuat kau nyaman. Anggap saja aku seperti ayahmu, atau kakakmu, atau ibumu juga bisa, atau siapapun yang menurutmu bisa membuatmu nyaman." Olin tersenyum sinis. "Ayahku? Tidak!" tegasnya jengkel. Smith terkejut saat mendapati raut wajah penuh amarah disana saat dia menyebut ayah. "Kenapa memangnya?" Smith ingin tahu. "Apakah seorang ayah setega itu memeras anaknya demi memenuhi semua keinginannya?" Smith menggeleng tegas. "Tidak ada ayah yang seperti itu." "Ada!" Olin tertawa pedih. "Apakah ayahmu seperti itu?" tanya Smith hati-hati. Olin mengangguk. "Dia sudah memperbudakku dan menahan ibuku sebagai jaminan." Pada akhirnya Olin tidak sanggup lagi menahan semua himpitan permasalahan dalam hatinya. Smith terbelalak tak percaya. "Apa? Ayahmu?" "Ya, dia bilang dia ayahku, biarpun hanya seorang ayah angkat. Dan kami harus selalu patuh serta memenuhi semua kebutuhannya," jelas Olin sedih. "Kenapa ayahmu begitu picik pemikirannya?" geram Smith. Olin hanya mengedikkan bahunya. Ia pun berpikiran sama dengan Smith. Tak habis pikir malah, melihat kelakuan ayah tirinya selama ini hingga membuatnya saat ini terdampar di Sidney, Australia, meninggalkan ibunya yang menderita seorang diri disana hanya demi untuk memberi uang secara cuma-cuma untuk pria malas dan kejam itu. "Beri aku alamat rumah kalian," pinta Smith masih geram. "Untuk apa? Kau mau kesana, pulang ke Indonesia?" kedua mata Olin berbinar cerah. Ia sangat berharap Smith mau untuk pulang ke Indonesia, karena dengan begitu ia berhasil menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Ia bisa kembali pulang untuk menjaga ibunya. "Tidak, orangku yang akan kesana," tegas Smith. Seketika binar itupun padam. Olin tertunduk lemas. "Ku kira kau sendiri yang akan kesana." Smith menggeleng. "Tidak. Aku lebih suka disini," tegasnya. Olin hanya mampu menghela napas panjang. Bakalan lama pekerjaanku di sini. "Hari ini kita istirahat. Mulai besok kau ikut bersamaku, dan ini jadwal kegiatanku, pelajarilah." Smith memberikan satu buku yang agak tebal untuk Olin. Pria itu lalu mengusap bibirnya dengan tissu dan membawa piring kotornya ke dapur. Olin hanya diam memperhatikan buku itu. "Waktumu hanya sampai nanti malam. Besok kau sudah harus lebih fokus mengikutiku," jelas Smith. "Saranku, pelajarilah semuanya perhari, jangan langsung semuanya, agar kau tidak bingung dan bisa dengan mudah menghapalnya." "Siap Boss!" sahut Olin. *** Matahari masih terlihat malu-malu memancarkan pesonanya, sementara ayam jago sudah terlebih dahulu berkokok, seolah memberi semangat dan memanggil sang surya untuk lekas menyinari bumi. Pagi itu Smith sudah terbangun dan bersiap untuk menjalankan pekerjaan rutinnya sebagai seorang guide. Sudah tinggal empat puluh lima menit lagi waktu yang tersisa sementara Olin masih belum tampak keluar dari kamarnya. Smith mengetuk pintu kamar Olin berkali-kali namun tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya karena kesal Smith menggedor pintu dengan keras, mengagetkan Olin yang masih bermesraan dengan bantal dan gulingnya. "Ada apa sih? Masih subuh juga nih!" teriak Olin memprotes sang penggedor pintu. "Bangun Olin! Sudah waktunya bekerja!" teriak Smith kesal. Olin melompat seketika dari ranjang lalu mengerjapkan matanya menatap jam dinding. "Apa? Jam berapa ini, huh!" ia pun lalu membuka pintu dan nenatap tajam sang bos barunya. "Kau mau kerja pagi-pagi buta gini paman?" "Apa kau tidak lihat jadwal?" balas Smith geram. "Jam kerjamu untuk hari ini dimulai jam empat tepat, tidak bisa ditawar lagi! Dan kau hanya mempunyai waktu tiga puluh menit lagi untuk bersiap," jelas Smith. "Cepatlah, ku tunggu di bawah!" Smith pun langsung melenggang pergi setelah mengatakan semuanya. "Tunggu dulu paman, aku mas_.." "Dua puluh tujuh menit lagi!" teriak Smith memotong protes Olin yang seketika menutup pintu kamarnya dengan keras dan bergegas mempersiapkan diri. Smith menyunggingkan senyumnya lalu menggumam pelan, "Kau memang perlu pemanasan di awal, biar tidak santai melulu kerjamu." Smith sedikit terlonjak ketika Olin menabrak tubuhnya sembari terengah-engah. "Paman aku sudah siap." "Ck, kau tidak mandi rupanya," protes Smith sembari menutup hidungnya rapat-rapat lalu masuk ke jok belakang mobilnya di ikuti oleh Olin. "E-eh, siapa suruh duduk disini? Ke depan! Kau sopirnya!" bentak Smith. "Lho paman, aku kan asistenmu, bukan sopir?" "Asisten pun seringnya jadi sopir pribadi. Cepat sana! Jangan buang-buang waktu!" Smith mendorong tubuh Olin agar cepat pergi dari sisinya. Akhirnya dengan sangat terpaksa Olin pun mematuhi perintah sang atasan barunya itu. "Harusnya aku di gaji dobel untuk semua ini," gerutunya. "Diamlah! Kau kan tinggal gratis di apartemenku." Olin terdiam seketika. Ia pun menyerah daripada panjang urusan kedepannya. Ia masih butuh kesempatan untuk bisa mendekati Smith. Beruntung dia pernah kursus mengemudi dan sempat beberapa kali menggantikan posisi temannya sebagai driver taksi online. "Ehm, omong-omong apa aku boleh bertanya paman?" "Hmm." "Itu anu, yang menempel dipipi paman.." Olin melirik Smith dari kaca spion. "Kenapa? Ada masalah?" gertak Smith tidak suka. "Waduh, galak amat paman. Orang cuma mau tanya doang," gerutu Olin yang seketika membatalkan niatnya. "Ini rahasiaku," jawab Smith pada akhirnya. "Rahasia? Ehm maaf, aku kurang paham, tompel itu rahasiamu paman?" "Tompel?" Smith mengerutkan dahinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD