bc

Kekasih GelapKu

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
revenge
love-triangle
family
HE
opposites attract
second chance
kickass heroine
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
office/work place
childhood crush
affair
selfish
like
intro-logo
Blurb

Seharusnya Dara sadar, jika hidup tidak akan pernah berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan. Tapi dirinya terlena dengan hidupnya yang sekarang, hidup dalam kekayaan orangtua, dilimpahkan dengan kasih sayang, dan memiliki kekasih yang begitu dia cintai. Dirinya dibutakan dengan itu semua, hingga membuatnya mudah meremehkan orang lain.Namun, hidupnya mendadak berubah begitu mengetahui rahasia yang di sembunyikan kekasihnya selama ini. Dan juga, munculnya fakta-fakta mengenai kedua orangtuanya, yang membuat dirinya nyaris gila. Terlebih, musuhnya itu kini menjadi saudara tirinya. Benar-benar sialan!

chap-preview
Free preview
Bab 1
Dara memandang tidak suka pada cewek yang sedang mengobrol dengan kekasihnya- Rama. Cewek yang masih berstatus sebagai temannya itu tersenyum dengan mata berbinar. Dia jelas tahu arti tatapan mata itu, karena dia pun sama akan seperti itu jika berpandangan dengan Rama. Tak ingin membuat hatinya semakin panas, Dara segera berjalan menghampiri mereka berdua. Lalu menyela di antara kekasih dan juga temannya, membuat Fita terdorong ke samping. Seolah dirinya tak melakukan kesalahan apapun, ia segera menggandeng lengan Rama sambil menunjukan senyum cantiknya. "Ayo kita pulang, aku udah kelar nih." Ajak Dara pada Rama tak memandang Fita sedikitpun, walaupun dia temannya. Rama melirik Fita yang berada di sisi Dara dengan pandangan yang sulit di artikan. "Fit, gue ama Rama balik duluan yah." Seru Dara tanpa memandang Fita yang berada di sampingnya. Fita hanya bergumam sambil mengangguk. Rama dan Dara lantas berjalan meninggalkan Fita yang masih berdiri di depan gerbang sekolahnya. "Kamu kenapa sih kasar gitu tadi sama Fita." Sahut Rama memecahkan keheningan. Dara melirik Rama sekilas yang duduk di sampingnya, tangannya sibuk dengan kemudi. "Kamu juga, ngapain bikin anak orang baper?" Salah satu alis Rama tertarik ke atas. "Hah, maksud kamu apa?" Dara malah mendengus sambil memutar bola matanya malas. "Jangan banyak ngomong sama Fita atau cewek-cewek lain disekolah." "Mulai lagi." "Apa? Wajar dong aku ngomong kayak gitu. Itu tandanya aku cinta sama kamu. Emangnya kamu, aku deket sama cowok lain aja kamu lempeng. Nggak marah atau cuekin aku. Huh!" Sungut Dara mengeluarkan unek-uneknya. Rama hanya diam enggan berkomentar, membiarkan kekasihnya mengeluarkan kekesalannya. Tiba-tiba saja ponsel Rama bergetar, Rama melirik sekilas Dara yang masih memandang keluar jendela. Ia lalu membaca pesan tersebut dengan cepat lalu memasukan kembali ponselnya ke dalam saku seragamnya. "Besok aku praktek, kamu mau anter aku ke supermarket?" Tanya Dara sambil memandang Rama. Rama terdiam beberapa saat, lalu memandang kekasihnya kemudian mengangguk. Mobil yang dikendarai Rama seketika berbelok memutar arah menuju supermarket. Tak lama mobil mereka berhenti disebuah supermarket yang terbilang kumplit. Dara segera turun sambil menggandeng lengan Rama. Mereka berdua berjalan beriringan, Rama dengan sigap mengambil troli. Rama menghentikan trolinya, ketika Dara diam disebuah rak yang berisi berbagai tepung dengan merk berbeda. "Kok bengong, kenapa nggak ambil aja salah satunya." Tanya Rama bingung melihat kekasihnya yang malah diam. "Aku lagi mikir, mau pilih yang mana. Ini kan kandungan proteinnya beda, yang." Rama yang tidak paham hanya menganggukan kepalanya saja. Dirinya dan Dara memang berbeda jurusan, dia mengambil administrasi-perkantoran, sedangkan Dara mengambil jurusan tataboga. Waktu praktek mereka pun berbeda, Rama yang tak membutuhkan waktu lama dengan prakteknya, sedangkan Dara yang begitu lama. Terkadang Rama harus menunggu sampai sore di sekolah. "Besok kamu praktek jam berapa?" Tanya Rama sambil mengikuti sang kekasih yang berjalan di depannya. "Pelajaran terakhir." Jawabnya sambil memasukan bahan-bahan yang dirinya butuhkan. Jawaban Dara membuat Rama menekuk wajahnya. Alamat pulang sore. Batinnya mengeluh. "Kamu sendiri?" Tanya Dara balik yang kali ini berjalan beriringan dengan kekasihnya. "Pelajaran pertama." Desah Rama malas. Kemudian mereka berjalan menuju kasir, karena bahan yang diperlukan Dara sudah lengkap. Dara menatap tajam kasir di depannya yang tengah berani memandangi kekasihnya. "Tolong yah, Mbak. Matanya dijaga, saya tahu pacar saya itu emang ganteng. Nggak usah liatin kayak gitu, norak!" Sengit Dara yang membuat beberapa orang disekitarnya menatap ke arah sang kasih dan dirinya. Dan yang dilakukan Rama jelas menegurnya, lalu buru-buru membayar barang belanjaannya. Kemudian menarik Dara untuk pergi dari supermarket tersebut. Ini bukan hal yang baru bagi Rama melihat Dara yang terang-terangan bertindak seperti itu di depan umum. Sudah tidak terhitung lagi Dara memarahi cewek yang terang-terangan menunjukkan rasa suka padanya. Awalnya Rama tidak peduli dan merasa biasa saja, tapi makin lama, seiring hubungannya dengan Dara yang semakin lama dan jauh. Rama mulai merasa jengah dan tidak suka, kekasihnya itu terlalu over. Yang berakhir mereka seperti ini, bertengkar. Ingatkan jika dirinya masih berada di parkiran supermarket. Meskipun tempat parkir dalam ke adaan sepi, tapi tidak menutup kemungkinan orang-orang akan melihat ke arah mereka. Rama menegur Dara akan kelakuan kekasihnya itu yang sudah mempermalukan mereka berdua. Dara yang keras kepala, malah menuduh Rama yang lain-lain. Rama yang mulai kesal membentak Dara, sehingga membuat kekasihnya itu kaget bahkan membuat matanya berkaca-kaca. Rama yang melihatnya seketika kehilangan kata-katanya. Cowok itu padahal sudah membuka pintu untuk Dara, bahkan dirinya sudah memasukan belanjaan kekasihnya ke dalam bagasi mobil. Tapi kekasihnya itu marah, enggan masuk ke dalam. "Elo emang nggak cinta sama gue, Ram!" Seru Dara yang langsung berjalan ke arah bagasi. Mengambil barang belanjaan dirinya dengan kesusahan. Tanpa sepatah kata, Dara berjalan meninggalkan Rama yang terbengong. Cewek itu berjalan dengan kesusahan akibat belanjaannya yang berat. Rama yang masih kesal karena sikap Dara yang tidak mau mendengar perkataannya lantas masuk ke dalam mobil. Dia melihat Dara yang sesekali menghentikan langkahnya, dalam sudut hatinya ia merasa kasihan. Tapi ia mengeraskan hatinya, sekali-kali kekasihnya itu harus dikasih pelajaran. Jadi dirinya terus menjalan mobilnya meninggalkan Dara yang kesusahan. Dara sendiri semakin mengeratkan tangannya pada tas belanjaannya, dia benar-benar tidak percaya akan Rama yang tega meninggalkan dirinya di parkiran dengan belanjaan yang begitu berat. Hatinya jelas sakit akan tindakan Rama, bukan saja karena ditinggalkan tapi juga karena kekasihnya itu membentaknya dengan keras. Mengingat sikap Rama yang berubah membuat air mata yang ditahannya sedari tadi tumpah juga, ia menangis sambil berjalan kesusahan. "Ra..." "Dara?" "Ra?!" Teriak orang itu pada akhirnya karena cewek yang dipanggilnya tidak mengidahkan panggilannya. Dara kemudian berbalik, dengan wajah yang begitu kacau. "Kak Raymond?" Sahut Dara bingung masih dengan sesenggukan akibat tangisnya. Cowok yang dipanggil Raymond itu seketika menghampirinya dengan panik. "Hey kok nangis?" Tanya Raymond khawatir. Seketika itu juga Dara kembali menangis membuat Raymond kelabakan. Terlebih mereka berada di lobi mal, orang-orang yang berada di sekitar mereka memandang Raymond dengan pandangan menuduh. "Ssstt... Aduh, udah ya, Ra nangisnya. Kita diliatin nih," seru Raymond. Namun Dara malah kembali menangis mengingat kembali perkataan Rama. Tanpa basa-basi, Raymond segera menarik tangan Dara dan membawa barang belanjaannya itu ke arah motor yang tida jauh dari mereka berada. Dara masih menangis membuat Raymond sendiri yang harus memasang helm pada cewek itu. Ia lau menyuruh Dara untuk duduk dibelakang tubuhnya, dan Dara pun mengikuti tanpa bantahan. Air mata Dara perlahan berhenti ketika motor yang dikendarai Raymond telah sampai di depan rumahnya. Dara lalu turun dari motor, mengambil barang belanjaannya. Kemudian mengucapkan terima kasih pada Raymond sambil masuk ke dalam rumah, meninggalkan cowok itu sendiri dengan kebingungan. *** Cowok yang masih memakai seragam putih abu itu masuk ke dalam sebuah rumah minimalis. "Sorry lama." Ucap cowok itu kemudian mencium pipi cewek yang tengah cemberut. Cewek itu hanya menggumam sebagai respon. "Aku lapar, dan belum makan." Sahut cowok itu lagi sambil memeluk cewek yang duduk di sampingnya. "Aku nggak nyuruh kamu buat nggak makan." "Tapi kamu selalu nyuruh aku buat nggak makan masakan dia." Balas cowok itu lagi membuat cewek itu menyerah pada akhirnya. "Kamu nyebelin tahu nggak?" Cowok itu mengangguk sambil tersenyum, masih memeluk cewek yang berstatus sebagai kekasihnya. "Jadi mau makan, atau kamu mau aku makan?" Seru cowok itu sambil melepaskan pelukannya dengan alis yang dinaik turunkan. Cewek itu seketika mendengus kemudian berdiri. "Ayo makan, aku udah buatin makanan kesukaan kamu." Ajak ceweknya sambil mengulurkan salah satu tangan pada cowok yang masih duduk di sofa. "Padahal aku pengen makan kamu." Desahnya dengan nada kecewa yang dibuat-buat. Dan yang dilakukan cewek itu hanya menjerit kesal. "Ramaaaa...." *** Tbc

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
200.3K
bc

Kali kedua

read
219.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.5K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook