Satu tahun sebelum kejadian.
Fita teman satu-satunya Dara. Awalnya Dara tidak menyukai cewek itu, menurut Dara teman sekelasnya itu terlalu cerewet dan berisik. Namun, karena Fita yang tak kenal lelah selalu mengajaknya mengobrol sejak semasa MOS membuat dirinya dapat menerima cewek itu sebagai temannya. Itu pun setelah mereka naik kelas 11. Perlu waktu satu tahun bagi Dara untuk menerima Fita sebagai temannya.
Dara yang dari keluarga berada tak pernah perhitungan pada Fita. Dia selalu memberi temannya itu, pakaian, makanan bahkan uang. Namun, Fita juga harus menahan sabar tatkala mood Dara sering berubah-ubah dan berkata seenaknya.
"Halo, Fita. Udah lama di sini?" Ucap Hendrick tatkala Fita main ke rumah Dara.
Pria paru baya itu masuk ke dalam kamar anaknya, begitu melihat kamar anak satu-satunya itu terbuka.
Fita yang hanya memiliki seorang ibu ditanya seperti itu oleh ayah dari temannya tersenyum lebar.
"Iya, Oom."
"Dara nggak bikin kamu kewalahan kan?"
"Ayah apasih, sana ah jangan ganggu aku."
"Hahaha bercanda, Sayang. Papa bawain kakak camilan nih, kebab sama churros eskrim. Dibagi sama Fita yah."
Mata Dara berbinar dia lantas beranjak dari sofa yang di dudukinya menghampiri sang ayah lalu memeluknya.
"Makasih, Yah."
"Iya, Sayang. Yaudah kalian lanjutin aja mainnya ya, Papa ke bawah dulu."
"Oom duluan yah, Fit."
"Iya, Oom makasih."
Setelah itu Hendrick pergi dari kamar sang anak menuju Arin-sang istri.
"Ayah lo perhatian banget yah, Ra."
"Iya dong, bokap gue."
"Gue iri deh sama lo."
"Gak usah iri, anggap aja ayah gue, ayah lo juga."
Mata Fita berbinar mendengarnya. "Makasih ya, Ra."
"Hn,"
Dan mereka kembali melanjutkan acara mengkutek jemari tangannya.
***
"Fit, gue suka sama Rama!"
Fita mendengar hal itu membulatkan matanya.
Rama cowok ganteng, irit senyum, pinter, ketua osis, anak jurusan bisnis. Usut punya usut ayahnya adalah salah satu donatur terbesar disekolahnya. Maka tak heran jika Rama selalu menjadi buah bibir dikalangan sekolah.
"Sumpah?"
"Iya, dia tuh cakep, pinter, suaranya bagus lagi."
Fita mengigit bibirnya mendengar ucapan Dara. Perasaannya tidak tenang, dia takut, jika Dara akan merebut kekasihnya. Iya benar, Fita sudah berpacaran dengan Rama. Tapi, tidak ada yang mengetahuinya. Itu semua karena dirinya sendiri yang tidak berani. Mereka dekat karena dirinya ikut anggota osis juga, maka tak heran jika dirinya bisa dekat dengan Rama.
Rama terlalu tinggi untuk dia gapai, perbedaan status keluarga menjadi penghalangnya. Apalah dirinya yang anak beasiswa dan Rama yang anak konglo mau dengannya. Tapi hati kan tidak bisa memilih kemana harus berlabuh? Jadi Fita mau mencoba berpacaran dengan Rama dengan syarat, mereka harus backstreet.
"Gue bisa gak yah jadi ceweknya." Gumam Dara pelan, kala itu mereka sedang berada di kantin.
Entah setan dari mana Fita tiba-tiba memberikan ide.
"Gimana, kalau lo tembak dia aja."
"Hah! Ngawur lo!"
"Masa cewek duluan yang nembak."
"Iya gak masalah kan?"
"Duh, tapi kan Fit. Dia gak begitu kenal gue, lo sih se ekskul sama dia. Lah gue? Kenalnya cuman sebatas nama doang."
"Yaudah, gimana kalau lo masuk anggota osis aja?"
"Ah gila lo, masa mau kenaikan kelas tiga daftar osis sih!"
"Ck, yaudah gue gak tau juga ngedeketinnya gimana."
"Hm, apa gue kasih dia surat atau makanan aja yah? Dia suka apa sih?"
"Eng, coklat kayaknya."
"Hah masa sih?"
"Iya, coba aja lo kasih dia coklat. Terus lo taro di tas nya dia."
"Ih, gue gak akan dianggap penguntit apa?"
"Yah nggak dong, atau lewat gue aja gimana?"
"Emm, boleh deh."
"Suratnya jangan lupa."
"Ck, gue berasa balik ke jaman mana deh, pake surat-suratan segala."
"Nggak apa-apa dong, itu effort namanya."
***
"Sayang, kamu tau? Dara dia suka sama kamu loh."
Seru Fita memberitahu Rama ketika mereka sedang berkencan di rumah Fita. Fita menyender pada d**a bidang Rama.
"Ck, kan aku udah bilang. Kita gak usah backstreet."
"No, no. Aku gak mau, untuk sekarang aku gak mau."
"Tapi liat kan akibatnya, temen kamu sendiri suka sama aku."
"Yah aku sih gak masalah, asal itu bukan kamu yang suka."
Mata Fita memandang wajah kekasihnya yang begitu rupawan.
"Mau kado apa dari aku?"
Seringai setan tiba-tiba muncul diwajah cantik Fita.
"Cukup kamu turutin apa kata aku."
Alis Rama naik ke atas mendengar omongan kekasihnya.
"Jangan aneh-aneh,"
"Nggak."
***
Semenjak Fita memberitahu Dara soal ide gilanya, semenjak itu pula Dara mau menuruti ide Fita. Cewek itu setiap hari membawakan makanan manis, seperti coklat, kue, dan juga surat ah bahkan Dara memberikan Rama jam, dan Topi. Namun, semua pemberian dari Dara tak pernah sampai pada Rama. Karena Fita yang mengambilnya, Rama tahu semua barang itu ada di tasnya karena di menunjukkan pada Fita. Hanya saja, makanan dari Dara selalu dimakan oleh Fita pun dengan topi juga jam yang tidak pernah Rama pakai.
Puncaknya Fita menyuruh Dara untuk mengatakan perasaannya pada Rama di kantin. Itu untuk menguji cinta Dara juga Rama dan untuk mentraktir anak-anak yang ada di kantin jika Rama menerima Dara.
Rama sudah diberitahu oleh Fita untuk menerima Dara. Karena dia ingin membuat temannya itu menderita, dia tidak suka jika hidup Dara begitu bahagia. Memiliki keluarga yang hangat, cemara, dengan ekonomi yang begitu wah. Dia iri dan dia tidak menyukainya. Jadi, dia meminta Rama untuk menyetujui ide gilanya.
Semenjak Dara dan Rama berpacaran, sifat Dara sedikit berubah pada Fita. Karena dirinya sering melihat tatapan suka Fita pada kekasihnya. Maka wajar saja jika dirinya sebal?
***
Tahun setelahnya.
Dara berjalan angkuh masuk ke dalam dapur, tempat di mana dirinya akan praktek. Dia mengambil tempat paling ujung seorang diri. Tidak ada yang mau dekat dengannya, dan dia tidak peduli. Dia sudah seperti ini dari pertama kali dia masuk SMK. Baginya mempunyai teman atau pun tidak, tidak ada pengaruhnya bagi kehidupannya. Dia tidak suka jika hanya untuk dijadikan alat oleh temannya, maka dari itu lah dirinya lebih baik tidak memiliki teman.
"Baik, bisa kita mulai. Untuk kelompoknya, masing-masing terdiri dari dua orang. Kalian bebas memilih kelompok sendiri." Sahut seorang Ibu guru bernama Yani.
Mereka semua kemudian berpencar, mencari teman untuk dijadikan teman kelompok. Lagi dan lagi hanya Dara sendiri yang tidak memiliki teman, karena jumlah murid sekelasnya yang ganjil, dia sudah terbiasa seperti ini. Dan ia tidak memperdulikannya, adanya teman kelompok atau tidak, itu sama saja baginya.
Bu Yani yang melihat Dara hanya diam tanpa protes pun, kembali dibuat sedih. Semua guru sudah tahu, jika Dara tidak memiliki teman di kelasnya, bahkan selalu di jauhi atau dimusuhi. Hanya Fita dan Rama lah orang terdekatnya, itu pun mereka berbeda kelas. Beberapa guru pernah memanggil orangtua Dara ke sekolah, menanyakan bagaimana hubungan dengan orangtuanya, atau karena ada masalah lain yang membuat Dara dikucilkan. Orangtua Dara menjelaskan, jika anaknya itu menjadi introvert semenjak dikhianati sahabatnya sendiri sejak SMP. Semua guru kemudian memaklumi, tapi tetap saja mereka merasa prihatin pada Dara.
Dara mengambil semua barang yang dibutuhkannya untuk praktek. Ia kembali mengambil meja untuk praktek paling ujung, dia kemudian mulai membuat masakan yang di perintahkan oleh Bu Yani. Bersyukurlah dirinya tidak kesulitan apapun, tanpa adanya teman yang membantu pun dirinya bisa.
Tak terasa praktek masak kelas dirinya berakhir. Setelah Bu Yani dan beberapa guru lain mencicipi masakan semua muridnya, dan menilai kelas praktekpun bubar. Dara segera berjalan keluar dari dapur sekolah. Dia tidak melihat Rama yang menunggunya, menghela napasnya kasar. Dara terus berjalan tanpa memgacuhkan tatapan yang memandangnya sinis.
Dara menyetop sebuah taksi yang akan membawanya pulang. Dia tidak menelepon Rama, rasanya ia terlalu lemas karena lelah.
Dara yang sedang asik menatap keluar jendela luar, menaikan alisnya bingung ketika melewati sebuah minimarket. Ia melihat ayahnya tengah mengandeng seorang wanita, yang dapat dipastikan wanita itu bukan ibunya. Perasaannya seketika tidak enak, pikirannya bertanya-tanya apakah benar itu ayahnya? Tapi tidak mungkin jika ayahnya di jam segini masih di luar. Mungkin itu hanya pria yang mirip saja. Batinnya.
Sesampainya di rumah, Dara langsung masuk ke dalam rumah. Tidak melihat ibunya, mungkin ibunya sedang di kamar. Pikir Dara, yang terus berjalan menuju pintu kamarnya.
Dara begitu lelah, ia lalu menaruh tas selempangnya di dalam lemari. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, tak membutuhkan waktu lama Dara keluar dengan tampilan segar. Ia segera memakai baju santainya kemudian melompat di atas kasur. Hari ini terasa berat baginya, meskipun dia sudah terbiasa seperti ini, tapi entah kenapa hari ini terasa berbeda. Tubuhnya yang begitu capek membuat dirinya langsung tertidur saat itu juga.
Dara tidak tahu dia sudah tertidur berapa lama, yang dia tahu. Hari telah beranjak malam, mungkin tengah malam. Karena ketika matanya melihat keluar jendela kamarnya, langit begitu hitam hanya ada sinar cahaya dari bintang.
Perutnya tiba-tiba saja merasa lapar, dia melupakan makan malamnya. Dengan malas ia beranjak dari ranjang kesayangannya. Ketika dirinya akan berjalan menuruni anak tangga, ia seketika terdiam mendengar suara ribut orang tuanya.
Sebenarnya ia tidak aneh dengan orang tuanya yang terkadang ribut, dia anggap itu hal wajar. Namun rasanya kali ini berbeda, ia mendengar ibu dan ayahnya saling menyalahkan. Kemudian ia mendengar suara teriakan ibunya, ini kali pertama ia mendengar ibunya marah seperti itu kepada ayahnya. Ia penasaran, tapi ia tidak mau menguping. Jadi lebih baik dirinya kembali berjalan menuruni anak tangga menuju dapur.
Dara melihat meja makan yang tertutupi tudung saji, makanan di atas meja begitu banyak dan terlihat sekali jika belum ada yang memakannya. Apa kedua orangtuanya tidak makan? Atau mungkin makanan ini kembali di masak? Ia jelas tahu sifat ibunya seperti apa.
Dara lalu makan dalam diam, sesekali pikirannya memikirkan keributan orangtuanya tadi. Ia berharap kedua orangtuanya kembali berbaikan seperti dulu.
***
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Dara tidak tahu jika sejak pertengkaran malam itu, ayahnya tidak pernah pulang. Ia jelas menanyakan keberadan sang ayah pada ibunya, namun ibunya mengatakan jika ayahnya tengah berada di luar kota. Pada minggu pertama, Dara percaya karena dia tahu pekerjaan ayahnya seperti apa. Pada minggu kedua, ayahnya tidak kembali pulang. Dan minggu ketiga, ketika ayahnya pulang, mereka-ayah dan ibunya kembali bertengkar.
Ibu menangis dan menuduh jika ayahnya berselingkuh dan selama ini, ayahnya ada di rumah wanita lain. Ayahnya jelas membantah, namun ibunya tidak percaya dan mereka kembali bertengkar. Tanpa menutup-nutupi darinya, Dara jelas sedih dan kecewa melihat kedua orangtuanya yang seperti ini.
Dia mempercayai penglihatannya kala itu, selama ini ayahnya bermain gila dengan wanita lain. Hatinya jelas sakit, ayahnya yang dulu dia banggakan, ayahnya yang dulu menyayanginya kini tidak ada. Yang ada hanya ayahnya yang hobi marah-marah dan bertengkar.
Ia lantas berjalan keluar rumah, dan mendapati Rama berada di depan rumahnya dengan raut bosan. Iya, dia dan Rama kembali berbaikan setelah satu minggu mereka saling diam dan tak memberi kabar. Namun Dara, yang sudah cinta mati pada Rama menemui pria itu duluan, dan pada akhirnya membuat mereka kembali berbaikan hingga sekarang.
"Lama." Decak Rama sebal sambil membukakan pintu mobil untuk Dara.
Dara menampilkan senyum separuhnya, "Aku kesiangan, kemarin nungguin kamu nelepon aku sih. Tapi sampe jam satu malem kamu nggak nelepon aku juga." Balas Dara sambil mencebikan bibirnya, membuat Rama gemas hingga ingin mencium bibir kekasihnya itu.
"Aku sudah tidur. Maaf yah." Dusta Rama yang jelas dipercayai oleh Dara.
Dara mengangguk lalu masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Rama. Mobil Rama kemudian meninggalkan rumah Dara menuju sekolah.
Begitu mereka sampai di sekolah, Dara segera turun dari mobil setelah memberi ciuman pada kekasihnya tersebut. Hari ini sekolah mereka mengadakan ulangan sekolah, dan bel masuk telah berbunyi. Karena kelas Dara yang berada di lantai atas, sedangkan kelas Rama yang berada di lantai bawah. Membuat Dara harus segera pergi dari mobil Rama, maka setelah dirinya mencium bibir kekasihnya. Dara melesat begitu saja meninggalkan Rama yang masih berada di dalam mobil.
Rama kemudian berjalan menuju kelasnya, begitu dirinya akan masuk kedal kelas. Lengannya tiba-tiba di tarik, membuat Rama berbalik.
"Apa yang kau lakukan?!" Tegur Rama pada perempuan yang menariknya.
Perempuan itu merajuk. "Kenapa kau membentakku."
"Fit, kita di sekolah oke. Jadi sebaiknya kau berhati-hati."
Fita kesal mendenga perkataan Rama.
"Kenapa? Lorong ini sepi tidak akan ada yang melihat." Rajuknya lagi sambil merangkul lengan Rama.
"Bagaimana jika yang lain melihat?"
Fita segera melepaskan rangkulannya pada lengan Rama dengan cepat.
"Selalu saja seperti ini! Aku juga kekasihmu, tapi mengapa aku tidak bisa melakukannya di depan orang lain?!"
Rama mulai jengah dengan tingkah merajuk Fita.
"Ingat, siapa yang membuatku berpacaran dengannya? Kau kan? Kau yang membuatku berpacaran dengannya."
Ketika Fita akan membantah perkataan Rama, Rama seketika memotong perkataannya.
"Dengar, nanti malam aku akan kembali tidur denganmu. Jadi jangan merajuk, semua waktuku lebih banyak dihabiskan denganmu bukan dengannya, jadi kau tenang saja oke?"
Perkataan Rama memang ada benarnya juga, namun ia merasa cemburu. Ia tidak menyukainya, tapi mau bagaimana lagi ia harus menerimanya.
Rama yang melihat kekasihnya masih diam tanpa membalas perkataannya, seketika dengan nekat mencium bibir Fita cepat. Membuat Fita membulatkan matanya kaget, kaget akan tindakan gila Rama.
"Aku akan duluan masuk, setelah itu kau, mengerti?" Tanya Rama yang diangguki Fita.
Dan sesuai yang diucapkan Rama, mereka masuk ke dalam kelas dan kembali berakting jika mereka hanya sebatas teman sekelas.
***
Tbc