Ujian kelulusan kini berada di depan mata, semua murid kelas 3 telah melakukan ujikom. Dan mereka tinggal mengikuti ulangan tertulis saja, Dara beruntung memiliki kepala dengan daya serap yang bagus. Sehingga dirinya tidak membutuhkan waktu lama untuk menghafal. Itu suatu keuntungan baginya di saat seperti ini, saat kedua orangtuanya yang kembali bertengkar.
Dara yang berada di halaman belakang tengah belajar, kembali mengeluh begitu mendengar pertengkaran kedua orangtuanya. Ia sudah muak dan benci, melihat ibu dan ayahnya yang kembali ribut untuk sesuatu yang belum tentu benar.
Dulu ketika orangtuanya bertengkar seperti ini, dia merasa sedih dan diam-diam akan menangisi mereka. Tapi sekarang, hatinya sudah lelah melihat dan mendengarkan mereka yang seperti itu. Dara merasa ingin kedua orangtuanya itu berpisah saja daripada harus seperti ini setiap bertemu.
Akhirnya Dara memilih untuk keluar dari sana, ia lantas menghampiri kedua orangtuanya yang berada di ruang makan. Karena letak halaman belakang tidak jauh dari ruang makan, hanya dihalangi oleh sebuah tembok sebagai pembatas.
"Bisakah kalian berhenti! Aku muak mendengar kalian yang selalu bertengkar. Lebih baik kalian berpisah saja daripada harus seperti ini!" Seru Dara dengan nada tinggi, sehingga kedua orangtuanya berhenti. Dan melihat dirinya dengan pandangan berbeda-beda, antara kaget dan juga marah.
"Tutup mulut kamu, Dara! Sebaiknya kamu pergi ke kamar dan lupakan kejadian ini!" Jawab sang ayah pada putri satu-satunya.
Lihat bahkan ayahnya sekarang berani membentaknya. Hatinya benar-benar hancur sekarang.
Dara memandang sang ayah dengan tatapan nanar juga benci.
"Turuti apa kata Ayahmu. Dan jangan pernah berkata seperti itu lagi!" Jawab sang ibu.
Dara memandang kedua orangtuanya dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Ia tersenyum miris kemudian pergi meninggalkan kedua orangtuanya.
Dara lantas berjalan ke kamar dengan langkah lebar, ia mengambil sebuah obat yang selalu membantunya ketika sedang begini. Setelah meminumnya dengan dosis biasa, ia lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tak membutuhkan waktu lama membuatnya bisa tertidur dengan nyenyak.
Ini bukan kali pertama Dara mengkonsumsi obat seperti ini, dia sudah beberapa kali. Sejak melihat pertengkaran orangtuanya beberapa bulan lalu, dia selalu terbangun ketika memimpikan kedua orangtuanya yang bertengkar. Dan ketika dirinya terbangun, ia kesulitan untuk tertidur. Maka dari itulah ia selalu mengkonsumsi obat tersebut jika dirinya sedang tertekan, tidak bisa mengeluarkan amarahnya, dan tidak bisa kembali tidur. Dengan obat seperti itu membuatnya bisa tidur dengan nyenyak, dan melupakan masalahnya sejenak.
****
Hari-hari berat Dara sebagai seorang siswi kini berakhir, mereka semua lulus. Dara sedikit kecewa dengan hasil nilai yang diperolehnya, nilainya cukup memuaskan sebenaranya. Hanya saja dia tidak bisa masuk ke universitas keinginanya, dia jelas kecewa. Ini semua gara-gara kedua orangtuanya, andai saja dia tidak memedulikan pertengkaran ibu dan ayahnya. Mungkin nilainya akan sempurna, tapi lihatlah dia hanya mendapatkan nilai yang tidak sesuai keinginannya. Impiannya untuk masuk universitas Boga khusus memasak hilang sudah.
"Coba aku lihat nilaimu." Sahut Rama tiba-tiba mengambil hasil nilai kelulusan Dara.
Dara hanya pasrah begitu kertas penting itu di ambil Rama.
"Fita ke mana? Aku tidak melihatnya." Tanya Dara pada Rama.
Rama yang tengah asik membaca hasil kelulusan Dara, membalas pertanyaan sang kekasih dengan santai. "Tidak tahu, mungkin bersama temannya."
"Nilaimu bagus. Aku bangga padamu." Ujar Rama sambil mengecup rambut Dara, lalu membalikan kertas tersebut pada sang empunya.
"Tapi tetap saja, aku tidak bisa masuk ke universitas yang aku mau." Balasnya sedih.
"Kau bisa masuk universitasku kalau mau."
"Tapi itu tidak ada jurusan restoran, atau masaknya."
"Yah memang,"
Lalu kemudian mereka kembali terdiam. Mereka kini berada di sebuah taman komplek dekat dengan rumah Dara. Setelah pulang dari sekolah, mereka memutuskan untuk langsung pulang. Tapi Dara tidak menemukan Fita, padahal dia ingin melihat nilai kelulusan Fita. Apakah nilainya kebakaran? Atau bagus melampauinya? Tapi itu tidak mungkin, nilainya selalu bagus di antara teman sekelas dan juga Fita.
Dara menyenderkan kepalanya di bahu Rama, ia begitu lelah dengan masalah yang menimpanya sehingga membuatnya menghela napas dengan berat.
Rama yang merasa Dara sedikit aneh belakangan ini pun akhirnya bertanya.
"Apa yang membuatmu menghela napas seperti itu?"
"Sepertinya kedua orangtuaku akan bercerai."
Perkataan Dara seketika membuat tubuh Rama menegang.
"Hust, kau tidak boleh berbicara seperti itu."
"Karena memang itu kenyataannya, aku sudah muak melihat mereka terus bertengkar setiap bertemu." Keluh Dara pada Rama.
"Mengapa kau baru memberitahuku?" Seru Rama terdengar tidak suka.
"Kau sibuk, aku tidak ingin mengganggumu dan membuat kita kembali bertengkar. Itu akan semakin membuat nilai ujianku jelek nantinya."
Jawaban Dara membuat Rama tertohok, dia sedikit merasa bersalah karena dirinya tidak berada di sisi Dara saat-saat seperti ini. Dia malah sibuk berpacaran dengan Fita tanpa memedulikan Dara yang tengah mempunyai masalah dengan orangtuanya.
"Aku minta maaf." Ujar Rama sambil menciumi rambut Dara dengan tulus.
Kini posisi Dara duduk menyamping sambil memeluk Rama, Rama pun membalas pelukan Dara sambil terus menciumi rambut kekasihnya.
"Kau mau berjanji padaku?" Tanya Dara sambil mendongak.
"Hm?"
"Jangan tinggalkan aku, apapun masalahnya, jangan pernah tinggalkan aku. Sekalipun kau tidak mencintaiku. Cukup kau berada di sampingku." Ucap Dara dengan memohon.
Rama terdiam mendengar permintaan Dara, ia jelas begitu kaget akan ucapan kekasihnya tersebut. Permintaan Dara itu wajar namun tak wajar, jika dirinya mengatakan iya. Bagaimana dengan Fita? Tapi jika dia menolak, bagaimana dengan wanita yang memeluknya ini.
"Jika kau diam saja, itu artinya iya. Kau setuju dengan permintaanku." Sahut Dara kemudian yang membuat Rama tersadar dari lamunannya.
Rama menunduk memandang wajah cantik Dara yang terkena silau matahari sore. Gadis yang tengah memandangnya itu begitu cantik, dan kuat. Entah mengapa ia merasa perasaan yang asing ketika memandang wajah Dara. Hatinya mengatakan untuk melepaskan Dara sebelum semuanya terlambat, dan membuat Dara semakin sakit hati akan dirinya. Di sisi lain, dirinya belum bisa untuk melepaskan Dara. Ia terpikat dengan wajah cantik gadis dingin di hadapannya. Gadis rapuh yang begitu kuat dan tegar tanpa mau meminta bantuan pada siapapun.
"Dara."
"Iya?"
"Kau cantik."
Dara mendengus mendengar ucapan Rama membuat wajahnya merona, Rama yang gemas melihat perubahan wajah Dara membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Membuat mereka saling memeluk dengan erat, menyesap aroma masing-masing.
Setelah ini mereka akan jarang bertemu, Rama akan sibuk dengan urusan kuliahnya, begitupun dengan Dara.
***
"Apa kau akan ikut dengan Ayah?" Tanya ayah Dara pada sang putri yang masih menangis mendengar perkataan final ayahnya tadi.
Iya, ayah dan ibunya memutuskan untuk bercerai. Ayahnya sudah muak dengan ibunya, dan ibunya pun demikian. Sekuat tenaga dirinya meminta, bahkan memohon untuk membatalkan perceraian. Tapi mereka seolah tidak peduli pada dirinya, mereka bahkan tidak mendengarkan permintaannya.
"Aku tidak akan ikut dengan kalian, aku akan sendiri."
"Dara!"
"Apa? Aku akan tetap pada pendirianku. Aku akan tinggal sendiri, selama ini kalian tidak pernah memikirkanku! Kalian hanya memikirkan diri kalian sendiri, jadi untuk apa aku hidup dengan kalian!" Seru Dara marah dengan air mata yang terus berjatuhan.
Ayah Dara yang melihat putri satu-satunya itu marah dan menangis, mambuatnya merasa sedih dan juga kecewa.
"Maafkan Ayah, Dara. Tapi kau tidak bisa hidup sendiri, bagaimana dengan kuliahmu? Biaya hidupmu? Dengan kau hidup dengan Ayah, kau akan terjamin."
Dara menggeleng sambil mengusap matanya. "Dengan wanita jalangmu? Tidak terima kasih. Lebih baik aku kelaparan daripada harus hidup dengan wanita yang merampas keluargaku!"
"Cukup Dara! Kau seperti Ibumu, Ayah sudah baik mau menampungmu tapi kau berbicara seperti itu! Terserah, Ayah tidak akan memaksamu. Kau tidak akan bisa hidup tanpa Ayah!" Seru sang ayah marah kemudian berlalu meninggalkan kamar Dara.
Dan Dara kembali menangis, menangisi kehancuran keluarganya. Dia tidak menyangka, jika hari kelulusannya adalah hari terburuk baginya. Kedua orangtuanya resmi bercerai, ibunya sudah pergi begitu dirinya sampai rumah, sedangkan ayahnya baru saja meninggalkannya. Padahal dia ingin mengatakan pada kedua orangtuanya untuk masa depannya. Agar mereka mengerti, jika dirinya masih membutuhkan ayah dan ibunya. Dia ingin mendengarkan pendapat ayahnya tentang universitas yang akan di ambilnya, dia ingin mendengarkan sang ibu yang akan mendukungnya. Tapi sekarang, apa? Belum sempat dirinya mengumumkan perihal hasil ujiannya, orangtuanya meninggalkannya. Dara menangis kembali, menumpahkan rasa marah, kecewa, dan sedihnya hingga rasa lelah mengambil alih, sehingga membuatnya jatuh tertidur.
Dilain tempat di waktu yang sama. Rama yang tengah bermanja ria dengan Fita. Setelah mengantar Dara pulang ke rumah, dirinya memilih untuk pulang ke kosan Fita. Karena kekasihnya tengah menunggunya sedari tadi.
"Kapan kau akan memutuskan Dara? Kau berjanji akan memutuskannya setelah kelulusan." Sahut Fita sambil mendongak ke atas, memandang wajah sang kekasih.
Fita dan Rama tengah bersantai di sofa, paha Rama digunakan sebagai alas kepala Fita. Elusan tangan Rama dikepala Fita seketika terhenti begitu mendengar ucapan kekasihnya.
"Aku tidak mau yah, Dara terus menempelimu. Dia seperti lem yang sulit di hilangkan."
"Hm, aku akan mencari waktu yang pas untuk memutuskannya." Balas Rama pada akhirnya, setelah dirinya terdiam beberapa saat.
Ponsel Rama tiba-tiba berdering, ia lalu meminta Fita untuk beranjak dari pahanya. Kening Rame mengernyit begitu nama ibu Dara yang telah meneleponnya.
"Aku harus mengangkat telepon ini." Pamit Rama yang kini berjalan menuju toilet.
Fita mendengus jengkel, ia penasaran mengapa Rama harus menjauhinya ketika menerima telepon. Apakah itu Dara? Tapi tidak mungkin, jika itu Dara. Pasti Rama akan mengangkat teleponnya di sini, tidak menghindarinya. Itu membuatnya penasaran dan juga curiga.
Tak berapa lama, Rama datang kembali dengan wajah yang pucat.
"Aku harus pergi." Ujarnya sambil memakai jaketnya lalu mengambil tas, serta kunci mobilnya.
"Ke mana?" Tanya Fita dengan mata memicing.
"Rumah Dara."
Wajah Fita berubah marah.
"Kau baru saja datang setelah mengantarnya pulang, lalu sekarang kau akan pergi menemuinya lagi. Apa maksudmu Rama?!"
Rama menghela napasnya dengan gusar. "Dara membutuhkanku oke---"
"Aku juga membutuhkanmu, Ram! Kau itu pacarku, dan Dara itu hanya cewek yang pantas untuk kita sakiti. Jadi jangan pernah kau merasa kasihan padanya, bahkan sampai mencintainya!" Ingat Fita pada Rama.
"Hn." Rama hanya berdehem sebagai jawaban.
"Aku mengizinkan kau pergi dengan satu syarat. Putuskan Dara sekarang, atau aku yang akan mengatakan padanya jika selama ini, kau hanya kasihan padanya. Dan kau menjadikan dia kekasihnya karena sebagai permainan saja."
***
Tbc