Dara sudah berpikir matang-matang, dia tidak akan melanjutkan sekolahnya. Dia akan mencari pekerjaan untuk biaya hidupnya, meskipun ia rasa, mencari pekerjaan untuk seumuran dengannya jelas tidaklah mudah.
Dara merenggangkan kedua tangannya, tidak percaya jika dirinya melakukan pekerjaan rumah seorang diri. Rumahnya memang hanya dua tingkat tanpa pembantu, terlebih baru kali ini dirinya membersihkan rumah. Padahal sebelumnya, ada Bi Sumi yang membantu membereskan rumah.
Lelah dengan aktivitas yang dilakukannya sedari tadi, membuat Dara lapar. Dara lantas beranjak ke dapur, ia membuka lemari es yang hanya berisi telur dan sosis. Itu pun hanya ada beberapa butir, cukup untuk makannya selama dua hari. Dara menggigiti bibirnya dengan rasa sesak, dulu jika dia ingin makan apapun, selalu sudah tersedia. Tapi sekarang, dia harus hemat mengingat uang yang berada di rekeningnya hanya tinggal lima ratus ribu.
Dara mengambil sebutir telur untuk dimasak olehnya, sambil pikirannya berkelana pada yang lain. Masih tidak percaya jika dirinya ditinggalkan oleh kedua orangtuanya, ia tahu ibunya sedang menenangkan diri di rumah tantenya, sedangkan ayahnya? Dia tidak tahu berada di mana. Sampai sekarangpun dirinya tidak tahu mengapa ibu dan ayahnya berpisah.
Sibuk dengan pikirannya, Dara tidak menyadari jika telur yang sedang di masaknya itu gosong. Ia sadar ketika mencium bau gosong, Dara yang panik seketika mematikan kompornya. Matanya menatap nanar telur yang berada di teflon, telur itu gosong merata membuat nafsu makannya hilang. Padahal perutnya sudah keroncongan minta di isi, dengan lesu ia meninggalkan dapur berjalan menuju kamarnya.
Dara mengambil cardigan dan juga dompetnya, lebih baik dirinya makan diluar sambil mencari info lowongan kerja. Dengan pikiran positif, ia kembali melangkah meninggalkan rumah. Dara merasa menyesal kenapa dirinya harus tinggal di sebuah komplek. Rumah yang dirinya tinggali seperti rumah-rumah lainnya, setipe. Dan karena itulah, dia merasa sepi karena tidak melihat orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya.
Dara masuk ke dalam mini market, mengambil beberapa bungkus mie dan juga camilan lainnya. Sebelum membayar, ia menyeduh dulu mie tersebut kemudian keluar. Melihat beberapa meja dan kursi yang masih tersisa untuk dirinya duduki, Dara lantas mengambil tempat itu. Ia mendudukan tubuhnya, lalu mulai memakan mienya. Otaknya kembali berpikir, ke mana dia harus mulai mencari pekerjaan? Mini market di depannya jelas tidak membutuhkan pegawai baru. Pusing dengan pikirannya, ia lantas mengambil ponselnya. Bukan karena ponselnya yang berdering karena telepon, bukan karena itu. Karena tidak ada yang meneleponnya, bukan pula ada pesan masuk, tidak ada pesan masuk untuknya. Sekalipun dari Rama, tidak sama sekali. Cowok itu kembali menghilang, seperti sebelum-sebelumnya dan ia jelas sudah terbiasa.
Dara mulai melihat media sosialnya-i********:, tidak ada yang menarik menurutnya. Sampai kemudian, ia melihat sebuah postingan tentang restoran yang sedang membutuhkan karyawan. Dengan cepat ia mencatat kontak tersebut, lalu menghubunginya.
Setelah mendapatkan informasi yang di dapatnya, Dara segera bergegas. Ia kembali ke dalam mini market untuk membeli keperluan yang dibutuhkannya. Setelah itu dirinya pulang ke rumah untuk menyiapkan segalanya.
Sesampainya di rumah, Dara segera membuat surat lamaran. Membuat cv dan hal sebagainya yang dibutuhkan, setelah siap dirinya segera bersiap untuk melamar. Dara tidak ingin membuang waktu, meskipun sebeneranya besok masih bisa tapi Dara tidak mau.
Dara memakai pakaian hitam putih, mengambil tas selempangnya lalu membawa surat lamaran. Dia berharap jika usahanya membuahkan hasil. Dengan langkah mantap ia berjalan meninggalkan rumah menuju restoran.
Dara berpikir restoran itu kecil tapi ternyata dugaannya salah, restoran ini begitu besar dan cozy. Cocok untuk seumuran dirinya menongkrong, karena dirinya melihat banyak sekali seumurannya yang memenuhi restoran ini. Tanpa rasa malu, dirinya menghampiri satpam di sana. Lalu dirinya di bawa masuk ke dalam restoran, ia kemudian di perkenalkan pada pekerja di sana. Setelah itu dirinya di bawa kembali masuk ke dalam, menaiki anak tangga untuk dibawanya ke sebuah ruangan yang tepatnya ada di lantai 3.
"Hallo selama sore, Pak. Saya Dara, yang ingin melamar bekerja di sini."
Pria berusia akhir dua puluhan itu mengangguk, lalu menyuruh Dara duduk. Pria yang menjabat sebagai manager itu mewawancarai Dara, dimulai dari pendidikan terakhir di mana, mengapa dirinya memilih bekerja di sini dan lain-lainnya yang di jawab dengan lugas tanpa hambatan.
Pria itu terkesan dengan jawaban Dara, terlebih Dara lulusan sekolah masak yang mana itu menjadi nilai plusnya. Dara juga terlihat memiliki pribadi yang tangguh dan juga cantik, cocok untuk berada di restoran ini.
Dara begitu senang karena dirinya diterima bekerja di sini, dan mulai besok dirinya sudah bekerja. Meskipun hanya sebagai waiters, dia menerimanya dengan baik.
_
_
_
_
_
Hari berganti hari, Dara disibukan dengan pekerjaan barunya. Sampai dirinya tidak pernah lagi memikirkan Rama, tapi berbeda dengan Rama yang sekarang mulai merasa merindukan Dara. Ini aneh, perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, kini ia rasakan. Pada Fita saja tidak seperti ini, sekalipun mereka berjauhan. Tapi dengan Dara, ia merasa kosong, biasanya Dara selalu meneror dirinya dengan beberapa puluh pesan bahkan telepon. Tapi sekarang, dua minggu ini gadisnya itu tidak menerornya. Dan itu jelas membuat perasaannya bertanya-tanya, apa Dara sudah mengetahui tentang hubungannya dengan Fita? Atau Dara sedang tidak berada di sini? Memikirkan Dara yang tidak di kota yang sama dengannya, membuat Rama tidak suka. Ia harus mencaritahunya, alasan Dara menghilang selama dua minggu ini.
"Jadi, kita pisah univ dong, yang?" Tanya Fita sambil mendongak memandang wajah Rama.
Posisi Fita yang tengah tiduran dipaha Rama membuat gadis itu dapat dengan leluasa memandang wajah kekasihnya. Fita merasa jika Rama aneh, sering melamun dan selalu mengecek ponselnya. Membuat dirinya bertanya-tanya, apa yang dipikirkan Rama. Tidak mungkin kan, jika Rama memikirkan gadis menyebalkan itu? Lalu, Rama menunggu kabar dari siapa? Tidak mungkin juga jika Dara. Karena dia selalu mengecek ponsel Rama tanpa kekasihnya itu tahu, dan ia tidak menemukan satu pesan pun dari gadis yang menjadi musuhnya itu. Jika bukan Dara, lalu siapa? Siapa yang membuat kekasihnya itu berbeda.
"Hm, aku sudah mendaftar. Dan lusa aku sudah mulai masuk. Bagaimana denganmu?" Tanya Rama sambil mengelus rambut Fita tanpa sadar.
"Aku tidak tahu, aku menunggu keputusan dari ayah tiriku."
"Maaf aku tidak sempat menghadiri pesta pernikahan Ibu dan Ayah tirimu." Ujar Rama dengan sesal.
Fita mengangguk walaupun terasa kesal karena masih mengingat jika Rama tidak datang pada pesta orang tuanya.
"Tidak apa, hanya saja lain kali kau harus bertemu dengan Ibu dan Ayah tiriku."
"Baiklah, aku akan datang jika kalian mengundangku."
Fita mengangguk sambil tersenyum, gadis itu lalu menarik leher Rama untuk mempersatukan bibirnya dengan bibir kekasihnya. Pada awalnya Rama membiarkan Fita mencium bibirnya, tapi seketika ia teringat akan Dara. Bagaimana wajah Dara merengut lucu ketika dirinya yang selalu mencuri ciuman dari gadisnya itu. Rama langsung menarik wajahnya sehingga bibir mereka berdua terlepas. Fita memandang Rama dengan pandangan bertanya, sedangkan Rama malah melemparkan kepalanya pada sandaran sofa. Menggelengkan kepalanya, mengusir bayangan Dara yang selalu menghantui pikirannya.
Fita yang berpikir jika Rama sedang sakit kepala pun memaklumi, gadis itu kembali merubah posisi tidurnya menjadi terlentang, dengan wajah yang memandang langit-langit ruang tamunya.
"Aku bertanya-tanya, mengapa Dara tidak mengganggu kita? Biasanya Dara begitu menyebalkan karena selalu memberimu pesan, dan meneleponmu. Tapi sekarang, aku merasa jika Dara berubah, apa cewek menyebalkan itu pindah? Jika iya itu bagus, aku muak jika kamu harus menemuinya." Seru Fita jengkel sedangkan Rama hanya diam. Diam dengan hati yang panas.
Rama kembali merasa aneh, mengapa dirinya tidak menyukai jika Fita menjelek-jelekan Dara? Biasanya ia akan diam saja dan menyetujui apapun yang diucapakan oleh Fita. Tapi, sekali lagi dirinya tidak suka jika Fita menjelek-jelekkan Dara. Dan ini sangat aneh menurutnya.
"Mungkin, aku tidak tahu." Balas Rama sekenanya.
Dan Fita mendengus sebagai jawaban.
_
_
_
_
_
Hari itu hari minggu, restoran tempat Dara bekerja sedang ramai-ramainya. Dara yang sudah mulai terbiasa dengan suasana ditempat kerjanya begitu menikmati. Tapi terkadang dirinya merasa tidak nyaman, ketika beberapa teman di restorannya selalu bersikap sinis kepadanya. Terkadang mereka terang-terangan membicarakannya, dan dia tidak peduli. Selama dirinya tidak membuat repot orang lain, dia akan tutup mata.
"Ra, tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor 5." Titah Amira pada Dara yang baru saja masuk ke dapur.
Dara mengangguk sambil mengangkat tray yang berisi beberapa makanan dan minuman. Dara berjalan dengan perasaan yang sulit di artikan, semoga saja perasaannya kali ini bukan maksud buruk.
Dara berjalan dengan dagu terangkat tinggi, tanpa senyuman. Walaupun segaris saja, tapi dia tetap tidak tersenyum. Jika restoran lain memiliki karyawan yang tidak ramah seperti dirinya, mungkin Dara sudah dipecat. Tapi di sini berbeda, justru Dara menjadi primadonanya. Karena wajah cantik dingin Dara menjadi nilai plusnya, ditunjang dengan body Dara yang begitu aduhai. Baik karyawan maupun pelanggan pria selalu melirik Dara, karena bagi mereka Dara itu menarik, sangat menarik.
Meja bernomor 5 itu terasa berbeda, karena suasana di meja itu terasa tegang. Rama tidak peraya jika ayah tiri Fita adalah ayah Dara, apakah Dara tahu jika ayahnya menikah lagi dengan wanita lain, yang sialnya wanita itu ibu dari Fita musuh buyutnya. Apa jadinya jika Dara tahu? Dia tidak bisa membayangkannya.
"Silakan, ini makanan---" ucapan Dara terputus begitu wajahnya terangkat, ketika dirinya telah selesai menaruh minuman di atas meja.
"A-ayah?" Seru Dara tercekat.
Tiba-tiba Dara tertawa, tawa yang menyakitkan jika didengar. Apakah dia tidak salah melihat? Fita temannya itu dengan Rama? Lalu wanita itu ibunya? Apakah ini keluarga ayahnya yang baru?
"Ah, jadi ini keluarga baru Ayah? Dan Fita? Wow kau juga ada di sini dengan Rama? Mengejutkan sekali kalian berada di satu meja yang sama." Seru Dara dibuat kaget dengan pekikan.
"Wah Fit, selamat yah lo beneran pengen ayah gue jadi ayah lo. Ckckck, hebat-hebat."
Wajah Fita memerah mendengarnya. Rama dan kedua orangtua di sana diam mendengarkan dengan wajah yang berbeda.
"Kamu Dara? Ayok sayang duduk di sini kita makan bersama."
Dara memandang wanita kelebihan bedak itu dengan pandangan sinis.
"Najis, yang ada gue mau muntah!"
"Dara/Dara!"
Itu suara dari ayahnya juga Rama.
"Dara, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Rama sarat akan keterkejutan, namun dirinya merasa rindu.
"Ck apa kau rabun? Kau tidak lihat pakaian yang aku kenakan? Aku bekerja, apalagi memangnya." Balas Dara sambil mendengus.
"Wow kau bekerja, ckck kasian sekali dirimu." Cemooh Fita memandang remeh Dara.
Dara sedikitnya terkejut dengan sifat asli Fita yang sebenarnya, ular.
Cemoohan Fita mendapat mendapat kekehan kering Dara.
"Kasihan? Ck apa kau buta? Siapa di sini yang kasihan? Kau dan ibumu hanya wanita rendahan. Kau mengambil kebahagiaan milik orang lain, dan kau mengataiku kasihan? Ck dasar gila!" Sembur Dara marah dengan suara yang keras. Sehingga beberapa tamu yang berada di meja dekat dengannya mulai melirik mereka.
"Dara! Hentikan, kita bisa bicara di rumah?!" Tegur ayahnya memperingati.
"Rumah? Rumah yang mana? Bahkan semenjak Ayah berpisah dengan Ibu, Ayah tidak pernah ke rumah. Ah maafkan aku, mungkin maksud Ayah rumah yang lain." Balas Dara sinis sambil menyeringai.
Wajah ayah Dara mengeras, kedua tangannya terkepal dengan erat. Merasa terhina karena dipermalukan oleh anaknya sendir di depan umum. Mata hitamnya memandang Dara marah.
"Cukup, Dara. Kamu keterlaluan!" Kali ini interupsi dari seorang wanita paruh baya di samping ayahnya, yang sudah jelas jika wanita itu istri baru ayahnya.
"Maaf, Anda siapa? Berani-beraninya kau menasehatiku! Kau siapa? p*****r Ayahku?!"
"Dara!" Bentak ayahnya keras, jelas sekali jika dirinya marah.
"Ah maafkan aku, seharusnya aku mengatainya jalang? Wanita terhormat tidak mungkin menggoda suami orang, tapi aku lupa. Jika anakmu pun berlaku demikian, kalian sangat cocok. Ibu dan anak yang sama-sama menjijikan!"
"Tutup mulutmu?!" Seru Fita marah.
Fita berdiri dari kursinya lalu mendorong Dara hingga tersungkur ke meja dibelakangnya. Membuat tubuh Dara menabrak piring, gelas dan beberapa barang pecah belah. Sehingga barang pecah belah tersebut jatuh ke bawah, membuat serpihan kacanya itu melukai lengan Dara.
"b******k!" Umpat Dara marah dan sakit akibat lukanya.
Dara berbalik lalu menarik rambut Fita keras, kemudian menjambaknya sampai musuhnya itu meronta-ronta kesakitan.
"Apa yang kau lakukan, Dara. Hentikan!"
"Tidak, dia pantas mendapatkannya." Sembur Dara marah sambil tetap menjambak Fita.
***
Tbc