Bab 6

1933 Words
"Kau pikir kau cantik? Hah?!" Dara semakin menjambak Fita keras, membuat kepala Fita mendongak ke atas. "Rambutmu yang kau banggakan, ini pasti dari uang Ayahku. Karena aku tahu, kau itu miskin. Kau dan Ibumu hanya memanfaatkan pria kaya untuk memenuhi gaya hidup kalian!" Seru Dara lagi dengan mata menyorot dingin sambil tangannya tak lepas menjambak rambut Dara. "Lepaskan tanganmu dari rambut anakku!" Seru wanita paruh baya marah, tak rela jika Fita diperlakukan seperti itu oleh anak tirinya. "Boleh saja, asal kau mau menggantikannya. Bagaimana?" Balas Dara memandang wanita itu dengan seringai setan. "Hentikan Dara. Kamu bisa membuat kepalanya botak." Seloroh Ayah Dara yang kini telah berdiri di dekat Dara. "Justru itu yang aku inginkan, membuat kepalanya botak, ckck pasti akan sangat cantik." "Dara, to-tolong le-lepasin. I-ini sa-sakit." Mohon Fita dengan mata berkaca-kaca menahan sakit. "Benarkah? Tapi aku tidak percaya, karena seharusnya akulah di sini yang tersakiti bukan kau!" Tandas Dara sengit. "Dara!" Bentak Rama keras yang membuat Dara seketika melepaskan jambakannya pada rambut Fita dengan dorongan yang keras. Membuat Fita yang lemas terjatuh seketika,Rama dan juga wanita menjijikan disebelah itu berdiri. Mereka bertiga memandang Dara dengan tatapan marah. Sedangkan Rama langsung menghampiri Fita yang masih terjatuh, membantunya untuk berdiri. Diikuti dengan pandangan dingin Dara, berbeda sekali dengan perasaannya yang sesak. Melihat Rama yang peduli pada wanita lain di depan dirinya. "Kamu sudah keterlaluan, Dara. Fita sudah menjadi saudaramu!" Bentak ayahnya marah, yang sepertinya tidak peduli mereka berada di mana, sekalipun menjadi tontonan. "Ck apa, saudara? Yang benar saja! Sampai kapanpun, dia dan Ibunya hanya wanita asing yang tidak sengaja Ayah pungut!" "Cukup Dara! Kamu sudah keterlaluan!" Seloroh Rama dengan keras, salah satu tangan menompang tubuh lemas Fita. Dara terdiam mendengar bentakan Rama padanya, kemudian tiba-tiba dia tertawa. Dara sepertinya tidak mempedulikan dirinya berada ditempat kerjanya, yang bisa saja mengancam pekerjaannya akan tindakannya kali ini. "Aku, keterlaluan? Ck apa nggak salah? Kalian yang keterlaluan." Seru Dara muak memandang mereka berempat. "Kamu, Rama selama ini kamu dan Fita berselingkuh dibelakang ku. Sampai rasanya aku muak melihat kalian yang berpura-pura di depanku." Seru Dara sengit sambil mengalihkan tatapannya kepada Rama dan Fita. Mengapa Dara tahu? Karena dia mendapatkan vidio Rama yang sering mengantar Fita kesana-kamari, awalnya dia tidak percaya namun begitu dirinya akan ke rumah Fita. Dia mendengarkan percakapan mereka yang menyuruh Rama untuk memutuskannya segera. Dia jelas saja kaget juga sakit hati, dia pikir Fita tidak seperti temannya yang dulu tapi ternyata dugaannya salah. Fita lebih iblis dari iblis itu sendiri. Rama dan Fita jelas kaget akan ucapan Dara, tidak menyangka jika hubungan yang selama ini mereka tutupi akhirnya terbongkar juga. "Aku bertanya-tanya, kapan kalian akan mengatakan jika kalian selama ini berselingkuh. Tapi, sepertinya kalian tidak berniat untuk mengatakannya. Jadi, yasudah lebih baik aku membongkarnya saja bukan. Aku tidak menyangka, Ayah dan kekasihku menyukai wanita-wanita menjijikan seperti kalian." Ucapan Dara semakin membuat sang ayah murka, karena detik berikutnya pria paruh baya itu menampar wajah Dara dengan keras. Membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah. Baik Dara, Rama dan juga wanita yang menjadi musuhnya itu kaget. Tidak percaya jika ayah Dara mampu menampar sang anak di depan umum. Pekikan kaget seketika memenuhi restoran tersebut. Dan lagi-lagi mereka berlima tidak mengindahkan. Ayah Dara memandang tangan yang digunakannya untuk menampar sang anak, emosi masih melingkupi dirinya. Ia sendiri tidak percaya bisa lepas kendali dengan menampar Dara. Tapi anaknya itu memang harus diberi pelajaran, agar menghormati pada yang lebih tua. Dara memegangi wajahnya yang ditampar, ia mendengus lalu terkekeh. "Wow Ayah hebat, hasil menikahi wanita jalang itu Ayah menamparku. Ck kemajuan yang begitu besar." Dara berujar dengan nada bangga. "Lancang sekali kamu! Aku tidak pernah mendidik mu seperti ini, Dara. Apa ini hasil didikan Ibumu?!" Dara seketika tersentil mendengar Ibunya yang disalahkan. Ingin sekali dirinya melempari ayahnya itu dengan sesuatu. Tapi itu tidak mungkin, selain karena kurang aja pada ayah sendiri. Bosnya pun turun dari lantai atas menghampirinya. "Ada apa ini? Kenapa kalian ribut-ribut di sini?!" Tanya Galang, manager di sini. Sorot pria itu dingin, meminta penjelasan pada Dara dan juga tamunya. "Maaf tapi saya kecewa dengan pelayanan di restoran ini, sebaiknya kita pergi dari sini. Ayo, Mas, Fit kita pergi." Ucap wanita paruh baya yang langsung menggandeng lengan ayah Dara sambil melangkah pergi. Galang tidak menahan empat tamu itu untuk tetap berada di restorannya, Galang justru tertarik, melihat pria seumuran Dara. Yang sedari tadi terus memandangi karyawannya itu dengan pandangan sulit dijelaskan. Begitu ke empat tamu tak di undang itu pergi, Dara segera membungkuk sambil meminta maaf atas keributan yang terjadi. Dara menyesal karena membuat keributan di tempatnya bekerja, dia tidak bisa menahan emosinya maka dari itulah dia tidak memedulikan apa yang akan terjadi kepadanya. Tapi sekarang, apapun keputusan bosnya itu dia terima, sekalipun dirinya harus dipecat. Setelah Dara meminta maaf pada Galang, ia lantas berlari ke lantai atas. Bisik-bisik tentang keributan yang terjadi akibat dirinya memenuhi jalan dirinya menuju lantai dua. Ia sungguh tidak peduli, meskipun dari mereka membicarakan tentang betapa kasihannya dirinya. Dara masuk ke dalam toilet, tubuhnya seketika meluruh. Sedetik kemudian tangisnya pecah, ia meraung-raung sambil memukul-mukuli dadanya. Berharap jika dengan memukuli dadanya, hatinya yang sakit akan berkurang. Tapi rasanya itu mustahil, Hatinya sudah hancur berkeping-keping. Dara tidak percaya jika ayahnya berselingkuh dengan ibu Fita. Bagaimana mungkin ayahnya bisa tergoda oleh wanita tidak bermoral seperti ibu Fita? Wanita yang dari segi manapun jauh dibawah ibunya. Belum lagi Rama, apa cowok itu mengetahui jika ayahnya memang berselingkuh dengan ibu Fita? Jika iya, Rama tak ubahnya seperti ayahnya yang b******k. Dia benar-benar sakit hati dan muak dengan mereka semua. Dia bersumpah akan membalaskan rasa sakit hati ibunya, dan juga dirinya. Membuat mereka menyesali apa yang pernah mereka lakukan kepadanya. Tangis Dara berangsur-angsur berhenti, ia menghapusnya dengan kasar. Mulai detik ini, dirinya bukan lagi Dara yang mengemis cinta dari Rama, ataupun perhatian dari ayahnya. Justru dia akan membuat mereka menyesali perbuatannya, karena mereka telah salah untuk menyakitinya. Dara kemudian keluar dari toilet, ia membasuh wajahnya. Memandang lurus pada cermin di hadapannya, sudut bibirnya yang berdarah terlihat membengkak. Dengan hati-hati, ia membasuh sudut bibirnya diiringi dengan ringisan. Matanya kembali berkaca-kaca, Dara mencoba untuk menahan tangisnya karena lukanya benar-benar perih. Tidak, dia tidak boleh menangis jika dia kembali menangis, itu artinya dirinya lemah. Setelah Dara menyelesaikan kegiatannya, ia berjalan dengan dagu terangkat tinggi. Meskipun wajahnya merah bekas tamparan, dan sembab akibat tangisan dia tetap mengangkat wajahnya. Menganggap jika kejadian menghebohkan tadi bukanlah apa-apa, dan tidak berpengaruh kepadanya. "Dara." Panggil Galang, begitu melihat Dara keluar dari toilet di lantai dua. Dara lalu menghampiri managernya itu. "Iya, Pak?" Balasnya sambil membungkuk sedikit. "Soal kejadian tadi---" perkataan Galang seketika menggantung di udara. Galang terdiam melihat wajah karyawan cantiknya itu memerah, dengan sudut bibir yang terluka. Dara menyela perkataan atasannya tersebut, meskipun terkesannya tidak sopan. "Maaf, Pak. Bisakah saya tetap bekerja di sini? Saya janji, saya tidak akan membuat keributan seperti tadi lagi." Selanya dengan cepat sambil kembali membungkuk. "Bisakah saya mempercayainya?" Tanya Galang balik bertanya. Dara diam tidak bisa membalas, enggan sebenernya. Takut jika ucapannya hanya di anggap alasan belaka. Galang yang melihat salah satu karyawan pavoritnya hanya diam, kembali berujar. "Aku anggap kejadian tadi tidak pernah terjadi, jadi sebaiknya kamu kembali bekerja bantu teman-teman yang lain." Dara yang tadi menunduk seketika mendongak memandang Galang kaget. "Saya tidak dipecat, Pak?" Alis hitam Galang tertarik ke atas. "Kau ingin aku pecat?" Dara menggeleng seketika. "Ti-tidak." "Yasudah, kembali ke dapur." "Baik, Pak terima kasih." Balas Dara tak menutupi raut leganya. Dara lantas undur diri, lalu berjalan dengan cepat menuju dapur. Meninggalkan Galang yang tengah memandang punggung Dara dengan tatapan tak dapat di artikan. "Menarik." Gumamnya dengan senyum penuh arti. _ _ _ _ _ _ Setelah kejadian yang menggemparkan itu, kehidupan Dara ditempat bekerja berubah. Mereka jadi menyukai Dara karena sikap gadis itu yang keren menurut mereka. Tak banyak dari teman-teman cowoknya yang semakin berani mendekati Dara, bagi karyawan cowok di sana. Dara itu cewek langka, dan membuat di restoran semakin menarik akan adanya Dara di sana. Tapi meskipun begitu ada saja yang tidak menyukai Dara. Masih menganggap jika Dara itu hanya perusak suasana, dan cewek tukang cari perhatian. Dan sekali lagi Dara tidak peduli, dia masih berikap cuek dan tidak banyak bicara. Dia akan bicara seperlunya dan jika ada yang bertanya. Dia justru selalu diam di dapur, melihat beberapa chef di sana memasak. Jam istrihatnya selalu dia gunakan untuk membantu para chef di sana, karena sejujurnya dulu ia ingin melamar dibagian dapur. Tapi apalah daya, dia tidak mempunyai pengalaman dibagian sana. Cukup menjadi waiters saja ia sudah bersyukur. "Kamu ingin mencobanya?" Tanya Alan sambil melirik Dara yang diam si sampingnya. "Emangnya boleh?" "Tentu saja. Dua minggu ini kamu diam terus di dapur, masa kamu tidak ingin mencobanya?" Dara tersenyum lebar, ia lantas mengambil tempat Alan. "Apakah seperti ini?" Tanya Dara dengan tangan kanan memegangi pisau, dan tangan kiri yang memegangi daging. "Salah, jika tanganmu seperti itu. Kamu akan memfillet tanganmu bukan dagingnya." Balas Alan. Dara kemudian mengangguk, lalu mencoba membenarkan letak tangannya seperti yang diperintahkan oleh Alan. "Seperti ini?" Tanya Dara lagi. Alan mengangguk sambil berdehem. Apakah dia sudah mengatakan, jika Dara bukan hanya cantik secara fisik. Tapi dia juga cerdas, sekali diberitahu dia akan langsung mengerti. Daya ingatnya saja sangat kuat, maka dari itulah dirinya cepat belajar. Dua minggu Dara diam di dapur, gadis itu bisa melakukan apa yang dilihat dan dipelajarinya. Maka tak heran jika Galang--- manager mereka tidak mau kehilangan Dara, karyawan favorit yang segala bisa. "Mau makan siang bersamaku setelah ini?" Tanya Alan sambil memerhatikan tangan Dara yang tengah memfillet daging. "Tapi waktu makan siangku sebentar lagi habis," "Kamu kan membantuku, jadi itu tidak termasuk ke dalam waktu istirahat." Dara mendengus sebagai jawban. "Aku akan semakin dibenci karyawan di sini, karena merebut perhatian chef favorit mereka." Kini giliran Alan yang mendengus. "Seperti kau peduli saja." Tandas Alan sinis. Dan Dara malah terkekeh mendengar ucapan Alan. "Dara, di panggil Pak Galang." Teriak Ayuni salah satu waiters senior angkatan Alan. Salah satu senior yang tidak menyukai dirinya dari awal hingga sekarang. "Sepertinya makan siang kita gagal lagi." Celetuk Dara sambil mencuci tangannya. Alan menghela napasnya. "Mengapa mengajakmu makan sulit sekali sih, Ra." Dan Dara kembali terkekeh. "Aku pergi dulu, Mas." Pamit Dara pada Alan yang dibalas dengan anggukan lemas dari pria yang berusia 25 tahun itu. Ayuni masih berdiri di depan pintu dapur, Dara menunduk begitu melewati wanita dewasa itu. Dan Ayuni malah mendengus, menegaskan jika dirinya tidak suka pada Dara. Dan sekali lagi, Dara tidak peduli. _ _ _ _ _ Dara berdecak melihat Rama yang selalu mengikutinya seminggu ini, sejak kejadian menggemparkan di restoran tempat dirinya bekerja. Sejak saat itu pula, Rama selalu mengikutinya ketika dirinya pulang bekerja. Seperti saat ini, cowok itu kembali mengikutinya dari jarak yang lumayan. Mungkin cowok itu tidak menyadari jika dirinya sudah tahu, tentang kelakuan absurd Rama. Begitu dirinya sudah sampai di depan depan pagar rumahnya, dan Rama tengah bersembunyi disebuah pohon milik tetangga di samping rumahnya. Dara pun membalikkan tubuhnya lalu berseru. "Keluarlah, aku tahu kau mengikuti sejak tadi. Ah, tidak. Bukan sejak tadi, tapi semenjak seminggu yang lalu." Seruan Dara sukses membuat Rama menegang, lalu pada akhirnya ia keluar dari tempat persembunyiannya. Berjalan dengan pelan menghampiri Dara. "Apa yang kau lakukan dengan membuntutiku?" Tanya Dara langsung tanpa basa-basi. "Aku ingin bicara." "Tapi aku tidak." "Dara." "Apa? Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Semuanya sudah jelas, dan aku tidak ingin membahasnya." "Tidak, Dara. Kita belum selesai, aku belum memutuskanmu." Dara mendengus. "Kalau begitu aku yang memtuskanmu!" Rama membuang napasnya kasar, lalu salah satu tangannya mengacak surai legamnya. Sorot matanya meyiratkan banyak arti dan yang pasti tidak ingin Dara ketahui apa arti sorot mata Rama untuknya. "Apa ini karena pria itu?" Tanya Rama dingin. *** Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD