Bab 7

1850 Words
Pertanyaan Rama membuat Dara memandang mantannya itu dengan sorot tajam. "Itu bukan urusan lo! Lo udah nggak berhak buat nanyain siapa cowok yang deket sama gue!" Seru Dara marah. Rama tersentak mendengar Dara berkata 'elo, gue' karena semenjak mereka berpacaran. Kata-kata 'elo, gue' sudah tidak pernah digunakan lagi oleh mereka. Maka wajar baginya ketika Dara mengatakan hal seperti itu. "Elo? Kamu bilang elo?" Alis Dara terangkat. "Iya elo, emangnya kenapa? Kita udah nggak pacaran lagi. Jadi nggak masalah, kalau gue manggil elo bukan kamu!" Rama mendengus sebagai jawaban. "Kamu berubah, Ra. Kamu bukan Dara yang dulu." Kali ini giliran Dara yang mendengus. "Ck lucu banget sih lo, Ram. Lo pikir, gara-gara siapa gue berubah? Hah! Elo dan cewek lo yang bikin gue kayak gini, nyokap cewek lo juga yang bikin gue begini. Coba lo diposisi gue, apa lo bakalan bisa diem aja?!" Sentak Dara yang membuat Rama kembali tertohok. "Jangan-jangan selama ini, elo juga tahu. Kalau selingkuhan bokap gue itu, si jalang nyokapnya Fita? Wow keren juga akting lo, Ram. Pura-pura gak tahu, ck." Tuduhan Dara membuat Rama menggelengkan kepalanya. Tidak terima dituduh seperti itu oleh cewek dihadapannya. "Gue nggak tahu, kenapa elo nerima perasan gue. Gue nggak tau, apa salah gue sama lo, sama Fita. Mungkin gue aja yang bego percaya gitu aja kalau elo juga cinta gue. Tapi kenyataannya, elo sama Fita punya hubungan dibelakang gue. Gue pikir, nggak masalah kalau elo punya cewek lain sekalipun itu Fita, asal elo masih bisa sama gue. Tapi sekarang, gue muak jadi cewek bego yang diem aja lo berdua bohongin. Cukup sampai di sini aja gue pura-pura nggak tau apa-apa. Gue udah lepasin lo, sekarang lo bebas pacaran sama cewek sialan lo itu. Gue udah nggak peduli sama lo berdua!" Sembur Dara dengan napas terengah-engah. Mengeluarkan semua amarahnya yang ia tahan selama ini. "Dan stop buat nguntit gue! Sebelum gue laporin lo ke kepolisian." Ancam Dara. Rama menggeleng dengan wajah frustrasi. "Aku tahu permintaan maafku saja tidak akan cukup untuk membuatmu memaafkanku, Ra. Tapi, aku benar-benar menyesal, menyesal karena menyakitimu seperti ini." Akunya dengan jujur. Dara memandang sinis Rama, tidak terpengaruh pada ucapan mantan kekasihnya itu. Hatinya terlalu sakit dan sulit untuk kembali seperti dulu. "Gue udah maafin lo, kalau itu yang lo mau." Tandas Dara dingin. "Sebaiknya lo pulang, gue mau mandi." Usir Dara yang langsung masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Rama yang masih terdiam melihat punggung kurus Dara, masuk ke dalam rumahnya. Helaan napas kasar keluar dari mulut Rama, ia benar-benar tidak percaya akan apa yang diperbuatnya. Pikirannya seketika terbuka lebar, jika dirinya selama ini dibutakan oleh Fita. Cinta butanya pada Fita membuat dirinya menutup mata tentang sikapnya selama ini pada Dara. Dan puncaknya minggu lalu, saat dirinya mengetahui jika Dara mengetahui jika dirinya berpacaran dengan Fita membuat dirinya shock bukan main. Terlebih saat dirinya baru mengetahui jika ayah tiri Fita, yang tak lain ayah kandung Dara berselingkuh dengan ibu Fita. Membuat dirinya semakin merasa bersalah, Rama yakin jika Dara menuduhnya tahu tentang perselingkuhan ayahnya. Padahal, dirinya sama sekali tidak tahu, ia hanya baru saat kejadian minggu lalu. Dan itu jelas membuat Dara semakin membenci dirinya. Rama lantas pergi meninggalkan rumah Dara dengan membawa rasa sesak dihatinya. Dia tidak akan menyerah, dia akan kembali membawa Dara ke dalam pelukannya. _ _ _ _ _ Hari ini jadwal libur Dara, dia ingin bermalas-malasan. Tapi baju kotornya sudah menumpuk, dengan malas ia beranjak dari ranjang empuknya. Ia mengambil keranjang yang berisi pakaian kotornya, lalu membawa ke dalam kamar mandi. Ia memasukan semua pakaian kotornya ke dalam mesin cuci, sambil menunggu pakaiannya bersih. Dara memilih untuk membersihkan diri, meskipun hari ini dirinya libur. Tak masalah jika dirinya sudah mandi kan, siapa tahu dia ingin berjalan-jalan keluar. Tak lama kemudian pakaian yang dicucinya telah bersih, ia membawanya keluar untuk di keringkan. Setelah selesai dengan acara menjemur, Dara kembali bersiap memakai pakaian santai ala rumahan. Dan kembali melemparkan tubuhnya di ranjang, perutnya belum lapar jadi tidak masalah jika dirinya kembali tidur. Baru saja dirinya memejamkan mata, ponselnya berdering. Dengan ogah-ogahan ia mengambil ponselnya yang berada di samping kaki kirinya. Dara mengernyitkan alisnya, melihat nama adik ayahnya yang menelepon dirinya. "Iya, Tan." Balas Dara. "---" "Sekarang banget yah, Tan?" "---" "Yaudah deh, aku siap-siap dulu." "---" Dara lalu mematikan ponselnya, lalu beranjak dari ranjang. Sejujurnya, ia malas untuk pergi ke rumah neneknya. Tapi dirinya cucu satu-satunya dari keluarga ayahnya, dan setiap satu bulan sekali. Neneknya itu memang selalu mengumpulkan semua anak-anaknya untuk mengumpul. Dulu, mereka akan pergi bertiga bersama ayah, ibu dan juga dirinya. Tapi, sekarang hanya dirinya saja yang pergi. Dia sudah menolak sebenernya, tapi tante Aneu memaksnya. Karena sudah tiga bulan dirinya dan keluarganya absen untuk acara rutinan. Maka dari itulah sekarang dia terpaksa untuk datang, yah hanya makan, mengobrol sebentar lalu pulang. Itu yang dipikirannya tadi saat di rumah, tapi nyatanya tidak seperti itu. Begitu sampai di rumah sang nenek, Dara segera di bawa ke ruang makan. Di sana sudah ada kedua adik ayahnya, tante Aneu dan Om Romi bersama keluarganya. Tante Aneu dan Om Romi telah menikah, namun dari mereka belum memiliki keturunan. Maka dari itulah kehadiran dirinya yang selalu ditunggu-tunggu oleh mereka semua. "Cucu Kakek." Seru pria yang menjadi kakek Dara sambil memeluk cucu satu-satunya itu dengan sayang. "Gimana kabar Kakek sama Nenek?" Tanya Dara setelah memeluk kakek dan neneknya itu. "Baik sayang, mengapa kamu jarang mengunjungi kami?" Tanya sang nenek. "Maaf, Dara sibuk." Balasnya sambil tersenyum tipis. "Gimana sekolah kamu, Ra? Masuk univ mana?" Tanya Om Romi. Pertanyaan yang biasa sebenarnya, tapi bagi Dara itu sungguh pertanyaan yang sulit untuk dirinya jawab. Sampai membuatnya melamun dan ditegur oleh tantenya. "Ah, maaf. Kayaknya Dara mau nunda dulu." Enam orang dewasa di sana memandang Dara dengan pandangan bertanya. "Kenapa kamu mau menundanya?" Tanya tante Aneu. Dara kembali diam. "Dara ingin kerja, yah itung-itung cari pengalaman lah." Kakeknya memandang cucu satu-satunya itu dengan menyipit. "Benarkah? Bukan karena alasan lain?" "Iya, Kek. Tapi emang karena Dara ingin mandiri." Meskipun sang kakek dan beberapa orang yang memerhatikannya tidak mempercayai perkataan Dara. Tapi mereka membiarkannya saja, menunggu sampai Dara mengatakannya tanpa paksaan. Dan mereka kembali mengobrol, tentang pekerjaan sementara Dara. Sampai kemudian suara yang dibenci Dara merusak suasana makan siang tersebut. "Selamat siang, maaf kami terlambat." Seru suara berat yang familiar ditelinga Dara. Dara seketika menolehkan wajahnya, memandang dingin ke arah tamu tidak di undang. Kedua tangannya terkepal dengan erat, ia benar-benar marah. Ayahnya itu memang pria b******k, bisa-bisanya pria itu membawa kedua wanita jalang ke sini. "Bisa kau jelaskan, Tio. Siapa wanita yang bersamamu itu?!" Tanya kepala keluarga di rumah ini. Dengan percaya dirinya Tio menjawab. "Dia Anita istri baruku, dan juga Fita anak tiriku." Jawaban Tio jelas membuat semua orang di sana kaget, tak terkecuali Dara. Dara seketika mendorong kursinya keras lalu berdiri. "Sebaiknya aku pergi, di sini begitu panas. Aku tidak ingin berada di dalam ruangan dengan wanita asing." Ucap Dara sambil membungkukkan tubuhnya. "Tunggu, Dara. Tetap di tempatmu!" Seru sang kakek yang tak ingin membuat cucu kesayangannya itu pergi. "Apa maksudmu Tio. Istri? Wanita asingmu itu istrimu? Omong kosong macam apa ini?!" "Aku tidak berbicara omong kosong, Ibu. Dia memang istri baruku dan juga anakku. Karena aku telah menikahinya." "Dasar b*****h! Lalu Arin bagaimana, hah? Apa kau sinting menikahi wanita yang tak jelas asal-usulnya?!" Sembur sang kakek. "Kami telah berpisah sebulan lalu," "Berani-beraninya kau!" "Mengapa kau menceraikan Arin? Kurang apa istrimu itu, Tio. Kau memang benar-benar anak b******k!" Sembur nenek Dara. "Aku tidak peduli dengan reaksi kalian, yang jelas sekarang Anita istriku dan Fita anakku. Kalian harus menghormati keputusanku." Aneu mengikuti sikap keponakannya. "Apa yang kau lihat dari wanita norak itu, Mas? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu." "Ayahku mungkin telah diracuni otaknya, Tan. Sudahlah biarkan saja, aku saja tidak peduli." Balas Dara acuh. "Apa ini alasanmu untuk tidak melanjutkan sekolahmu, Dara?" Tanya Om Romi yang sukses membuat Dara menegang. Dara diam, bingung untuk membalas perkataan Romi. "Diammu, berarti iya. Apa ayahmu sudah tidak mampu untuk membiayai sekolahmu, Dara? Jika iya, biar Om saja yang membiyainya." Sahut Romi lagi yang membuat Tio memandanh adiknya itu marah. "Tutup mulutmu, Romi. Aku masih bisa membiayai hidup putriku. Sebaiknya kau tidak usah ikut campur dengan keluargaku." Sengit Tio terpancing emosi. "Lalu mengapa Mas Tio membiarkan Dara bekerja?" "Itu keinginannya, semenjak aku berpisah dengan Ibunya dia menjadi anak pembangkang, dan tidak menuruti perkataanku." "Menuruti untuk hidup bersama dengan wanita jalang itu? Yang benar saja, Ayah! Aku tidak sudi jika harus se atap dengan wanita menjijikan itu, lebih baik aku tinggal sendiri. Bisa-bisa aku ketularan hinanya seperti mereka." Ujar Dara dengan sinis, tak peduli jika perkataannya akan membuat ayahnya semakin murka. "DARA!" Dara memutar bola matanya malas mendengar seruan ayahnya yang tengah marah kepadanya. "Sebaiknya aku pergi," ucap Dara sambil melangkah pada kakek dan neneknya. "Nenek dan Kakek tolong urusi wanita asing itu, jika Kakek dan Nenek masih mau aku kemari, karena jika tidak. Aku tidak akan mau ke sini lagi." Ucap Dara pada kakek dan neneknya. Ia lalu menghampiri om dan tantenya, setelah itu Dara berlalu begitu saja melewati ayah dan wanita pembawa sial itu. "Kau puas, Tio. Membuat cucuku pergi, lebih baik kau pergi dari sini. Ibu tidak mau melihat kau dengan wanita sundel itu," "Dia istriku Ibu, baik jika Ibu dan Ayah menolak kehadiran istri dan anak tiriku. Aku tidak akan pernah menginjakan rumah ini, sebelum kelian menerima Anita dan Fita." Tandas Tio dingin. Aneu yang muak, seketika berjalan menghampiri Tio. Ia lantas menarik tangan Anita yang berada di samping kakaknya itu, menariknya dengan kuat lalu berteriak kepada asisten rumah untuk membukakan pintu utama. Di belakang Aneu dan Anita, ada Fita dan Tio yang mengikuti dari belakang. Tio meneriaki Aneu untuk melepaskan istri barunya, namun jelas saja tidak di gubris oleh Aneu. Adik bungsu Tio justru semakin mempercepat langkahnya, bahkan setengah berlari. Ketika sampai di pintu utama yang telah terbuka, Aneu seketika mendorong Anita keluar kemudian berteriak. "Jangan pernah injakan kaki di sini lagi! Aku nggak mau rumah Ibuku terkontaminasi dengan wanita sepertimu, jika Kakaku menerimamu. Bukan berarti aku dan keluargaku menerimamu, camkan itu!" Seru Aneu lalu berbalik ke dalam rumah. Tidak memedulikan Tio yang memarahinya. _ _ _ _ _ Dara tahu, jika Fita masuk ke universitas yang sama dengan Rama. Cewek itu benar-benar membuatnya muak, dia mendapatkan apa yang dia mau. Sedangkan sekarang dirinya harus bekerja dulu untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Hari ini Dara mendapatkan shift sore, jadi dia bisa menjalankan rencananya. Dia akan membuat cewek itu membayar apa yang dia rasakan selama ini. Dara masuk ke dalam parkiran universitas, ia lalu menghampiri mobil baru Fita. Mobil yang dulu dia inginkan pada ayahnya, tapi dia tidak mendapatkannya. Dan itu membuat dirinya semakin berani untuk menjalankan misinya. Dara mengambil sesuatu di dalam tasnya. Ia lalu mengeluarkan pilox permanen, kemudian mencoret-coret mobil baru tersebut dengan umpatan-umpatan, serta tulisan jika dirinya anak perebut suami orang. Tak puas sampai di situ, Dara membuka kaca mobil penumpang. Melemparkan sekarung katak, dan kecoa ke dalam mobil. Setelah selesai, ia berjalan meninggalkan tempat parkir itu untuk melihat kejadian menarik yang sebentar lagi akan terjadi. Beruntunglah hari ini Rama tidak masuk, jadi dirinya tidak akan kecewa karena rencananya yang mungkin akan gagal jika Rama ada. *** Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD