Bab 8

1876 Words
Fita bersama kedua temannya tengah berjalan menuju mobil barunya yang diparkir. Mobil itu salah satu mobil yang di incar olehnya dan Dara, dia sengaja meminta pada ayah tirinya untuk dibelikan mobil seperti ini. Beruntungnya dirinya yang memiliki mobil ini, sedangkan Dara tidak mendapatkannya. Sayangnya ia tidak bisa pamer pada musuhnya itu, jika saja musuh dan saudara tirinya itu satu universitas denganya, mungkin dia bisa pamer. Fita shock melihat mobil barunya yang berwarna silver itu dipenuhi tulisan pilox berwarna merah darah. Dengan tulisan, tulisan mengerikan, bahkan mengatai jika dirinya anak dari perebut suami orang. Kedua teman Fita ikutan kaget, tidak percaya jika teman barunya itu ternyata anak dari wanita perebut suami orang. "Sialan!" Seru Fita berang sambil menghapus tulisan-tulisan yang berada di mobil. Yang jelas itu percuma, karena gambar dengan pilox itu permanen. "Kayaknya percuma deh, Fit. Itu keliatannya permanen, nggak bisa lo alus pake air." Tanya salah satu teman Fita berambut pendek. "b******k. Siapa sih yang jahilin gue, nggak lucu!" Marah Fita sambil terus mencoba untuk menghapus coretan-coretan tersebut. Karena mobil Fita yang paling depan, dan area parkir yang sedang ramai-ramainya karena jam pulang. Membuat beberapa mahasiswa-mahasiswi mulai berjalan, menuju kendaraan mereka bisa dengan mudah melihat mobil Fita yang terlihat mengenaskan itu. Ada beberapa yang diam sambil menertawakannya, kemudian pergi. Ada yang terang-terangan menyudutkannya. "Lo anak pelakor, Fit? Wah boleh juga Ibu lo!" Celetuk mahasiswa sambil berjalan melewati Fita. "Kalau Ibunya pelakor, anaknya apa dong? Boleh dong Fit gue booking lo." Ujar cowok berbadan besar dengan kepala plontos, mengedipkan matanya menggoda pada Fita. "Sembarangan lo. Emangnya gue cewek apaan!" Sembur Fita marah pada cowok itu dengan kedua mata menyala-nya. Cowok plontos itu tertawa mendengarnya. "Yaelah, sok jual mahal lo, orang Ibu lo aja jualan. Masa lo nggak?" Ejek pria lain, di samping pria plontos itu. "Yah biasa, mana ada anak pelakor ngaku. Lagian gue juga yakin, barang dia aja pasti udah di celup sana-sini." Seru cowok pertama yang mengatai dirinya anak pelakor. Fita yang malu dan juga marah, seketika masuk ke dalam mobil di ikuti kedua temannya. Fita tidak ingin jika dirinya menjadi bahan olokan teman se-universitasnya, ia langsung melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkiran. Namun ketika mobilnya akan keluar dari gerbang parkir, ia merasa ada sesuatu yang aneh di dalam mobilnya. Terdengar suara katak yang saling bersahutan, Fita yang tahu jika salah satu temannya memasang dering suara katak seketika memarahinya. Tapi temannya itu mengelak, jika itu bukan suara katak dari ponselnya. Fitri yang duduk di belakang Fita menggaruk kakinya yang terasa gatal dan perih. Fitri melihat ke bawah ke arah kakinya, dan seketika itu juga dirinya menjerit. Membuat Fita mengerem mendadak karena kaget, lalu memarahin temannya itu. Dan tak lama kemudian Fita dan temannya yang lain sama-sama menjerit. Melihat kecoa yang begitu banyaknya, dan juga katak yang perlahan mulai keluar dari sebuah karung yang berada di belakang Fitri. Mereka semua menjerit dan berebut ingin keluar, namun sayang mereka kesulitan karena panik. Fita membuka kunci mobil lalu keluar di ikuti kedua temannya yang lain. Dan berbarengan dengan itu, kecoa dan katak yang berada di dalam mobil Fita pun mulai keluar. Membuat beberapa mahasiswi yang masih di sana menjerit histeris, sedangkan para cowok tertawa melihat Fita dan kedua temannya. Wajah Fita begitu kacau, rambut yang di sisir rapih sudah tidak beraturan akibat beberapa kecoa yang hinggap di atas rambut Fita. Kedua teman Fita yang lain pun sama saja, mereka begitu kacau. "Hahaha azab anak pelakor." Sahut salah satu mahasiswi yang sedari tadi memerhatikan Fita dan kedua temannya. "Makanya Fit, baek-baek lo. Kali aja ini azab buat lo karena jadi anak pelakor." Seru temannya yang lain. "Diam kalian, gue aduin bokap gue lo yah. Ngatain gue yang nggak-nggak." Balas Fita sambil menggaruk-garuk lengan dan juga lehernya, sehingga kulitnya memerah. "Uuu takut," seru cowok jabrik yang tadi menggoda Fita. Membuat Fita yang marah memilih untuk pulang dengan taksi. Diikuti oleh kedua temannya yang lain. Dara yang tengah diam di belakang pohon yang tak jauh dari sana tersenyum puas. Ia bersumpah ini bukanlah terakhir kalinya ia mempermalukan Fita, sebelum dirinya puas dia akan terus membuat Fita malu dan menderita. Karena rasa sakit hatinya tidak akan cepat membaik. Setelah melihat Fita yang telah berlalu meninggalkan parkiran, Dara keluar dari tempat persembunyiannya. Kemudian mulai berjalan dan pergi menuju restoran tempat dirinya bekerja dengan senyum puas. _ _ _ _ _ Dara mendesah lelah, pekerajaannya begitu melelahkan. Sudah satu bulan dirinya tidak bertemu dengan ibunya, ia merindukan sang ibu. Tapi setiap dirinya menelepon ibunya itu selalu tidak ada, atau banyak lagi alasan. Yang tentunya membuat dirinya berpikiran yang bukan-bukan. Hari ini dirinya masuk midle dan pertama kali dirinya mendapat upah sebagai karyawan. Ia benar-benar senang, karena baru kali ini dirinya bisa mendapatkan uang sendiri. Tanpa minta pada siapapun, dirinya bisa merasakan jika mencari uang tidak lah mudah. Ia jadi menginginkan membelikan sesuatu untuk ibunya, benar ia akan membelikan sesuatu untuk ibunya. Dengan suasana hati yang riang, ia kembali ke dapur setelah menaruh uangnya di saku seragamnya. "Dara, tolong antarkan ini ke meja nomor 11." Sahut Aya, seniornya. Dara mengangguk lalu mengambil tray yang berisi beberapa jus, dan makanan ringan. Karena hatinya yang sedang senang, Dara tidak menyadari ada sepasang mata hitam, yang sedari tadi keluar dari dapur memerhatikannya dengan pandangan banyak arti. Dara tertegun di tempatnya, ia lalu menaruh makanan dan minuman yang di pesan beberapa cowok di depannya itu. "Silakan." Ujar Dara datar tanpa melirik Rama sedetikpun. Dalam hatinya Dara mengumpati cowok itu, tidak habis pikir untuk apa Rama di restorannya. Ah, dia tahu. Cowok itu hanya ingin membuatnya malu, karena dia bisa mempermalukannya di teman-temannya. Yah, cowok k*****t. "Usulan lo buat ngerjain tugas di sini emang keren, Ram. Tau aja lo, kalau di sini waiters nya cantik-cantik." Seru cowok dengan rambut jabrik dengan kulit sawo matang. Mengingatkan Dara dengan cowok yang berada di parkiran minggu lalu. Rama tidak membalas ucapan temannya itu, Rama malah memandang Dara. "Hei cantik, nama lo siapa?" Tanya cowok memakai topi eiger berwarna hitam, disebelah Rama. Dan Dara hanya diam tanpa membalas. "Gue suka nih, cewek-cewek cantik tapi jutek gini, berasa tantangan." Seru cowok bertopi itu lagi. Dara ingin sekali mengumpat, tapi dia tidak ingin kembali mempermalukan dirinya lagi. Cukup dua minggu lalu yang membuat dirinya di cap ini dan itu, lagi pula dia masih membutuhkan pekerjaan ini. Jika Galang melihatnya lagi kembali bertengkar dengan customer, bisa habis dia dikeluarkan. "Udah deh, lo jangan gangguin dia, Rey!" Tegur cowok jabrik. Sedangkan Rama hanya diam, diam yang membuat Dara muak. Setelah dia menaruh jus dan makanan di atas meja, Dara langsung undur diri. Tak memedulikan seruan cowok-cowok---teman Rama, yang terus-terusan memanggilnya. _ _ _ _ _ Dara mendatangi rumah adik ibunya yang rumahnya lumayan jauh, dia membawa camilan kesukaan sang ibu. Dara mengernyitkan keningnya, melihat rumah tantenya yang sepi. Ia mulai mengetuk pintu rumah tantenya dengan perasaan ragu. Takut jika sang pemilik rumah tidak ada, dan juga ibunya. Tak berapa lama, pintu di hadapannya itu terbuka menampakkan wajah sang tante yang kaget melihatnya. "Dara?" "Hai, Tan." Balasnya kemudian menyalami adik dari ibunya tersebut. "Ibu ada?" Raut wajah sang tante semakin berubah, kemudian wanita itu menghela napas. "Masuklah," ucap wanita dewasa di hadapannya itu. Dara mengangguk lalu masuk ke dalam. Rumah tantenya itu begitu sepi, maklum lah tantenya itu belum menikah hanya ada asisten rumah tangganya saja. Ia lalu duduk di sofa ruang tamu, menunggu tantenya kembali. "Minum, Ra." Adik dari ibunya itu menaruh segelas air putih di hadapannya. Dara hanya mengangguk, namun tidak berniat untuk minum. Dirinya sudah sangat merindukan sang ibu, maka dari itu lah dirinya ingin cepat-cepat bertemu dengan ibunya. "Tan, Ibu mana?" Tanya Dara lagi. Dan lagi-lagi tante nya itu hanya menghela napasnya, kemudian bangkit berdiri membuat Dara bingung. "Ayo, ikut Tante." Adik ibunya itu berjalan mendahului Dara, Dara mengikutinya dari belakang. Sampai kemudian mereka berdua berhenti di sebuah kamar yang berada di dekat dapur. Sang tante membuka pintu di depannya dengan pelan lalu masuk, di ikuti Dara. Cewek berusia delapan belas tahun itu membeku, paper bag yang berisi camilan kesukaan ibunya itu terjatuh dari genggaman tangannya. Dara seketika menangis, lalu menghambur memeluk sang ibu yang berada di atas kursi, tengah memandang keluar jendela dengan pandangan kosong. Ibunya begitu kurus, tak ada sinar di kedua mata ibunya, hanya ada pandangan kosong. Dara menangis sejadi-jadinya melihat kondisi ibunya yang seperti ini, ia bersimpuh di kaki sang ibu meminta maaf atas kelalaian dirinya. Dara menangis histeris, sakit hati akan ke adaan ibunya yang seperti ini. Sang tante yang melihat Dara seperti itu pun memilih keluar, membiarkan Dara dan kakanya. Tangisan Dara rupanya membuat sang ibu seakan tersadar, mata berwarna cokelat gelap itu perlahan memandang Dara. Dan kemudian mata itu berkaca-kacat, dengan ragu ibu Dara memeluk kepala anaknya yang bertumpu pada kakinya. "Da-Dara?" Ujar sang ibu pelan dan ragu. Dara langsung mendongak begitu ibunya memanggil namanya, tangis Dara semakin keras melihat ibunya yang kini mulai menyadari kehadiran dirinya. Ibunya itu memeluk dirinya erat, sambil memanggil-manggil namanya, dan Dara hanya mengangguk dengan kedua tangan yang terus memeluk sang ibu. Di dalam hatinya, Dara bersumpah akan membalaskan penderitaan ibunya kepada ayah dan juga wanita jalang itu. Jika bisa, dia ingin kedua wanita menjijikan itu merasakan yang lebih menyakitkan dari yang telah dirinya dan ibu rasakan. Dia bersumpah untuk itu. _ _ _ _ _ Dara kini berada di universitas Fita, dia telah membulatkan tekatnya. Mata hitam Dara memandangi satu persatu mahasiswi yang mulai berjalan ke parkiran, sampai kemudian matanya mengunci cewek yang sedari tadi tengah ditunggunya. Sialanya cewek itu berjalan dengan Rama, kedua tangan Dara terkepal dengan kuat, hatinya memanas melihat itu semua. Fita yang baru saja melewati tempat persembunyianya berbarengan dengan Dara yang muncul di hadapan Fita. Dara yang sudah tidak memedulikan lagi Rama memilih untuk terbuka saja dengan cowok itu. "Ikut gue!" Dara menarik tangan Fita membuat Fita kaget akan kehadiran Dara. Fita berusaha melepaskan cekalan Dara sambil berteriak-teriak menyebalkan. "Diam sialan! Lo emang minta gue kasarin yah?!" Dengan begitu Dara menarik rambut Fita dengan keras lalu membawa cewek itu mengikuti langakh dirinya. Rama yang masih kaget dengan kedatangan Dara, dan tindakan kasar Dara membuat cowok itu hanya bisa diam. Ada beberapa mahasiswa-siswi yang melihat kejadian itu, salah satunya cowok yang mengejek Fita. "Woah Fitaaa, lo emang anak perebut suami orang yah? Gila meen azab anak perebut suami orang ada di depan mata kita!" Seru cowok jabrik dengan baju berwarna putih, kontras sekali dengan kulitnya yang berwarna sawo matang. Dara tidak memedulikan seruan cowok itu, dirinya terus berjalan sambil menjambak rambut Fita. Membuat musuhnya itu berteriak kesakitan, namun Fita tidak peduli. Dia tetap berjalan ke arah taksi yang berada di depan universitas, beberapa mahasiwa-siswi mengikuti mereka dari belakang begitu pun dengan Rama. Cowok itu mengikutinya tanpa perkataan apapun, membuat Dara semakin senang dibuatnya. Dara membuka pintu taksi tersebut, lalu dengan kasar ia mendorong Fita untuk masuk ke dalam taksi, meminta pada supir taksinya itu segera mengunci pintunya. Sebelum Dara masuk, mengikuti Fita. Tubuh cewek itu membalik, bertatapan dengan sepasang onyx yang memandangnya dengan tatapam yang sulit dijelaskan. "Jangan pernah ikutin gue, kalau mau cewek lo baik-baik aja!" Ancam Dara sambil memandngi Rama dengan pandangan tajam, lalu ia masuk ke dalam taksi. Taksi yang ditumpangi Dara dan Fita segera berjalan meninggalkan kampus, dengan pandangan kosong dari Rama serta teriakan kecewa dari mereka yang mengikuti kejadian barusan. Kecewa karena tidak dapat melihat aksi keren Dara yang tengah membully Fita. *** Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD