Putri gunung es

1100 Words
" Selamat pagi ibu,semua dokumen sudah siap di meja. oiya ibu nampak cantik sekali hari." lirikan matanya seperti menelanjangi Cecile dari atas ke bawah. Hari ini Cecile mengenakan terusan berwarna hitam di atas lutut dengan stocking warna senda. Di tambah ikat pinggang kecil gold mempertegas lekuk tubuhnya yang sexy. Rambutnya yang terurai menambah kecantikannya. " Laura segera keruangan saya" perintah Cecile " Siapa pria yang menyiapkan dokumen ini?" " Anthony, dia karyawan baru di bagian legal." Jawab Laura. " Pecat dia sekarang" Tegas Cecile " Apakah ada yang salah dengan suratnya? mungkin bisa di revisi kembali" Cecile menatap tajam ke arah Laura. " Saya tidak perlu alasan untuk memecat orang dari kantor saya." " Baik, akan segera saya informasikan ke bagian HRD." Laura tidak dapat membantah. " Bagaimana kondisi anakmu?" " Sudah lebih baik,terimakasih atas...." ucapannya terhenti saat Cecile memotong pembicaraan. " Bagus, jadi kau tidak punya alasan lagi untuk tidak masuk kerja." Laura adalah teman dekat Cecile semenjak kuliah, jungkir balik kehidupan Cecile pun sudah paham. Laura orang tua tunggal. Suaminya selingkuh dengan rekan kerjanya dan meninggalkan Laura begitu saja. Setahun bekerja dengan Cecile ia hampir menyerah tidak sanggup dengan sikapnya. Tapi ia bertahan, Cecile memberikan biaya pengobatan full untuk anaknya serta fasilitas rumah tinggal. Laura tidak pernah mengerti sifat si putri gunung es ini padahal semasa kuliah Cecile merupakan orang yang sangat baik hati dan ceria. Tapi ia tidak ambil pusing dan bekerja sesuai kemauan Cecile. Karena dia tahu bahwa bosnya punya masa lalu yang menyakitkan. " Betina sialan!! seharusnya dia bangga ku katakan cantik tapi dia malah memecatku, kalau saja bodyguardnya tidak membayanginya sudah ku habisi dia!!" Cecile muak dengan laki laki bermulut manis. Mengatakan diri nya cantik dan sexy, Baginya semua itu adalah omongan yang mematikan. Cecile si Putri Gunung Es. mempunyai sikap dingin dan keras. Tidak mudah di dekati, bukan lawan bisnis yang lemah. Di balik semua ketangguhannya Cecile tetap memiliki kelemahan, Seks! " Kau sangat sexy sayang, bahkan tanpa membuka baju pun daya tarik mu sangat kuat." Ujar lelaki yang sudah menanggalkan bajunya. " Terlalu banyak bicara, cepat lucuti pakaianmu." Perintah wanita tersebut. Dengan segera mereka bercinta tanpa pemanasan dan perasaan. " Bolehkah aku menghubungi mu setelah ini?" Pinta lelaki tersebut. " Kau taukan konsekuensinya?" Tatapannya tajam menusuk. " Hahaha sudah lah sayang, nanti semua orang akan tau siapa sebenarnya dirimu, lagi pula kamu pasti akan merindukan tidur denganku." Ucapan lelaki tersebut bagai belati menghujam dadanya. Cecile meninggalkan kamar hotel tanpa banyak bicara. Di dalam mobil. " Diego, aku ingin kamu menyingkirkan seseorang. Namanya Anthony." Lelaki berperawakan besar, dengan muka tampan berambut kelimis itu pun mengangguk. ***** Rapat pagi itu terlihat tegang dengan kehadiran Cecile. " Saya harus mendapatkan properti tersebut! Siapa pesaing kita?" " PT. Global bu" jawab Laura. "Harga penawarannya lebih tinggi sedikit dari kita." Lanjutnya. " Saya tidak perduli, lakukan apa yang seharusnya kalian lakukan. 1 minggu cukup untuk menyingkirkan pesaingku" Penekanan kalimat Cecile membuat semua orang yang hadir di rapat itu bergidik. Mereka tahu apa yang si bos mau harus di dapatkan apapun caranya. " b******n, bagaimana bisa kita selalu kalah dalam pembelian properti? apakah penawaran kita kurang maksimal?" Lelaki tersebut mengepalkan tangannya dengan geram. " Penawaran mereka lebih tinggi 25 persen bos, mereka pun memberikan extra uang untuk setiap penghuni sebelumnya.Jelas kita kalah jauh." Jawab si asisten. " Siapa pesaing kita?!" " PT. Baja Industri" " Mau sampai kapan kau bersaing denganku Cecile? apakah kehancuran dua perusahaan dan perkawinanku tidak cukup bagimu?" Tom menatap ke jendela mencoba mencari tahu. ***** Minggu pagi yang cerah Cecile sudah tiba di rumah bunda. Hari ini mereka ada janji sarapan bersama dan akan pergi ke suatu tempat. Cecile memberikan hunian kepada keluarganya bak istana. Rumah dua lantai dengan tema contemporer tersebut terlihat sangat megah. Ditambah pilar pilar yang menjulang tinggi serta lampu kristal yang menggantung diatasnya. " Aku akan membuat keluargaku terpandang dan tidak di hina orang lagi" itu janji Cecile. Cecile, bunda dan Clara menyusuri jalan setapak sampai mereka tiba di pemberhentian yang di tuju. " Ayah, bunda dan anak anak datang" Bunda mengusap lembut batu nisan ayah sembari menitikan air mata. " Clara mau minta restu ayah, Clara akan menikah. Aku tau ayah tidak bisa mendengar tapi aku akan tetap meminta doa ayah." Clara menangis kemudian di peluk bunda. " Kemari nak" Bunda memanggil Cecile. Sifat kerasnya membuat Cecile enggan mendekati makam ayahnya. " Kenapa kau membenci ayahmu Cecile? apa salahnya padamu?" Bunda yang sedari tadi menahan tangis akhirnya pecah juga. " Sudah siang bunda, mari kita pulang, banyak pekerjaan menantiku" Cecile membalikan badan meninggalkan Bunda dan Clara. Bunda terdiam selama perjalan pulang " Tak habis pikir, mengapa Cecile sangat membenci ayahnya, bahkan pada saat kematian ayahnya ia tidak hadir." ***** Dulu aku sangat mengagumi mu, Bagiku kau cinta pertamaku, kau adalah pahlawan keluarga yang penuh kasih sayang. Kau pelindung bagi kami. Sekarang kau hanyalah seseorang yang sangat ku benci. Seseorang yang tega menyakiti ibuku. wanita yang penuh kesabaran dan lemah lembut, kau mengkhianatinya! Biarlah hanya aku yang tau semuanya. kusimpan semua kebusukanmu dari ibu dan adikku. Sampai matipun aku tidak rela memaafkan mu ayah. **** Kematian hampir merenggutnya. " Sial, sungguh merugi melukai diriku sendiri. Apabila aku gagal mati maka kau yang harus mati Tom". Cecile bersumpah tidak akan membuat hidup Tom tenang. Setahun lebih berlalu. Cecile mencoba memperbaiki hidupnya, dengan support yang besar dari keluarga. Namun tetap saja bayang bayang Tom selalu menghantuinya. " Kamu sudah tau kalau Tom akan menikah? kabarnya gadis yang akan di nikahinya sudah hamil." Cecile tidak membalas membalas pesan di handphonenya. Tapi ia tau cara membalas Tom. Malam itu seluruh keluarga berkumpul,menikmati makan malam bersama yang penuh kesederhanaan. " Ayah bangga nak, kamu dapat melewati semuanya dengan baik bahkan karir mu pun menanjak" Ayah menggenggam tangan Cecile. " Ayah bangga juga kan kepada ku?" suara Clara terdengar iri sekaligus manja. Ayah membelai lembut kepala anak bontotnya. " Ayah sangat bangga dengan kalian berdua, kalian anak anak hebat." Cecile dan Clara tersenyum. Siang itu Clara sedang fokus bekerja, laptopnya yang rusak membuat ia harus kembali ke rumah untuk meminjam laptop ayah. Matanya memerah, pandangannya tajam bagaikan belati. Clara tidak menyangka apa yang ia lihat. Pesan mesra di email dan foto foto yang seronok membuatnya jijik. "Apakah mungkin bunda tau, tapi mengapa bunda tetap bertahan dan diam? pasti bunda tidak tahu, kenapa ayah tega?tega sekali!" Pandangan Cecile buram karena air mata, Pikirannya berkecamuk, dadanya terasa terhimpit karena emosi, rasanya sulit sekali untuk bernapas. Cecile menghapus air matanya,mencoba berpikir jernih sambil mengamati foto foto tersebut. Ia merasa kenal dengan sosok wanita tersebut. " Ya Tuhan itu adalah Donna. Ibunya Tom!!" Pekiknya dalam hati. Hatinya pun mati seketika!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD