*** "Halo?" "Sudah membaca pesanku?" Suara bariton Matteo terdengar tenang, namun tegas. Seketika, Mira merasa udara di sekitarnya menipis. Detak jantungnya berdebar tak karuan. "Oh… iya. Maksudku aku sudah membacanya," sambil berusaha terdengar tenang. "Lalu kenapa meneleponku?" Suaranya terdengar semakin dingin, nyaris tanpa emosi, membuat Mira kehilangan kata-kata. "Maaf… aku sempat ingin membalas pesanmu, tapi ragu jika nomor asing itu bukan kamu. Namun setelah mendengar suaramu… aku yakin sekarang." Keheningan di seberang sana membuat Mira mulai merasa jengkel. "Baiklah, besok aku akan datang ke lokasi yang kamu kirim. Tapi… kalau boleh tahu, dari mana kau mendapatkan nomorku?" tanyanya hati-hati. Tangan kirinya tanpa sadar mengepal erat. Sebelum jawaban itu datang, suara l

