Siang itu, Sofia akhirnya mengutus sopir pribadinya untuk mengantar Mira kembali pulang. Sebenarnya, Sofia sangat ingin menahan calon menantunya lebih lama, setidaknya hingga sore menjelang, bahkan berharap putranya sendiri yang akan mengantarkannya.
Namun keadaan berkata lain. Beberapa urusan penting memaksa segalanya dipercepat. Mira pun tak bisa berlama-lama. Ia harus pulang pagi ini juga, dan meninggalkan Mansion Vittale dengan perasaan yang masih menggantung.
..
Setibanya di rumah, Mira tak memberi ruang bagi lelahnya sendiri. Ia segera bersiap untuk bertemu Fayre, pertemuan yang baginya bukan sekadar janji biasa, melainkan sebuah titik penentu bagi langkah dan masa depan kariernya.
Karena itu, Mira harus bergegas. Setiap detik terasa berharga, seolah keterlambatan sedikit saja bisa membuat kesempatan itu terlewat dan tak kembali.
Di sebuah restoran mewah yang berdiri anggun di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan, pertemuan itu akhirnya terjadi. Suasana elegan yang tenang seolah menjadi saksi dari percakapan yang sarat kepentingan dan harapan.
"Nona Fayre, Terima kasih. karena sudah meluangkan waktu untuk bertemu denganku," ucap Mira dengan nada tertahan, berusaha menjaga ketenangan meski hatinya bergejolak.
"Tidak masalah," jawab Fayre singkat, matanya menatap Mira dengan penuh perhatian.
Mira menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. "Aku mohon… beri aku waktu dua bulan lagi," katanya, suaranya lembut namun sarat kesungguhan. "Aku berjanji, jika dalam dua bulan itu aku masih belum bisa kembali, aku akan menyerahkan surat pengunduran diri tanpa keberatan."
Permohonan itu bukan sekadar kata-kata. Mira benar-benar menggantungkan harapannya pada Fayre, berharap diberi ruang sejenak untuk menyelesaikan kekacauan yang tengah melingkupi hidupnya, agar ia bisa kembali berdiri dan bekerja seperti sedia kala.
"Mira… kamu tahu betapa besar peranmu bagi kami saat ini," ujar Fayre dengan nada tenang namun tegas. "Batas waktu yang bisa kuberikan hanya satu bulan. Itu pun karena aku sangat percaya pada kinerjamu, dan juga pada dirimu sebagai pribadi. Namun jika hingga batas waktu itu kamu masih belum kembali, jangan kecewa padaku. Aku harus segera mencari seseorang yang mampu menggantikan posisimu."
Kata-kata itu jatuh perlahan, namun terasa begitu berat di hati Mira. Kerutan halus di dahinya tak mampu ia sembunyikan, memantulkan kesedihan dan rasa tak berdaya yang menguasai dirinya. Semua itu tak luput dari perhatian Fayre, yang menangkap jelas kegelisahan Mira di balik wajahnya yang berusaha tetap tegar.
"Baiklah… maafkan sikapku tadi," ucap Mira pelan, suaranya nyaris bergetar. "Aku pasti sudah sangat merepotkanmu, Nona Fayre." Ucapnya pelan.
"Sejujurnya, aku sendiri tak bisa menjamin apakah aku masih dapat kembali bekerja atau tidak." Ia terdiam sejenak, seolah menimbang kata-katanya sendiri. "Tapi Aku akan mencoba membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan calon suamiku. Mungkin ia tidak akan menyukainya… atau justru sebaliknya. Aku juga masih benar-benar bingung."
Kedua matanya menatap kosong ke depan, seakan kehilangan arah. Keputusasaan perlahan merayap, melumpuhkan seluruh keberanian yang tersisa dalam dirinya, membuat Mira tak berdaya di hadapan pilihan yang kian menghimpit.
Sebelah tangan Fayre perlahan mengenggam jemari Mira yang terdiam di atas meja. Sentuhan itu sederhana, namun cukup untuk menarik Mira kembali dari pikirannya yang kacau.
"Mira, dengarkan aku," ucap Fayre dengan nada lembut namun penuh keyakinan. "Aku akan selalu menunggumu, dan aku sungguh ingin melihatmu kembali bekerja. Jadi, jangan putus asa." Ia tersenyum tipis sebelum melanjutkan.
"Cobalah bicarakan hal ini dengan calon suamimu. Bujuk dia dengan caramu sendiri. Cari perhatiannya, atau dekati keluarganya. Aku yakin dia tidak akan menolak permintaanmu, apalagi setelah memiliki calon istri secantik dan sekuat dirimu."
Di tengah keputusasaan yang menyelimuti dirinya, nasihat Fayre terdengar nyaris mustahil untuk dilakukan. Namun justru di sanalah, Mira merasakan secercah kehangatan, sebuah harapan kecil yang mencoba bertahan di antara rasa takut dan ketidakberdayaannya.
Kata-kata Fayre menggema lama di benak Mira. Ia menunduk, menatap jemari mereka yang saling bertaut, seakan mencari kekuatan dari sentuhan itu.
Di dadanya, rasa takut dan harapan bertabrakan tanpa suara. Ia tahu jalan yang harus ditempuh tidak akan mudah, namun untuk pertama kalinya sejak tadi, keputusasaan itu tak lagi sepenuhnya gelap.
"Aku akan mencoba," ucap Mira akhirnya, lirih namun jujur. "Entah bagaimana hasilnya nanti, setidaknya aku tak ingin menyerah sebelum berjuang." ucap Mira.
Fayre mengangguk pelan, melepaskan genggaman itu dengan senyum yang menenangkan. "Itu sudah lebih dari cukup." Ucap Fayre. Bagaimanapun juga, Fayre tetap tak mampu mengubah keputusannya. Waktu yang bisa ia berikan hanyalah satu bulan masa pemberhentian kerja, tak lebih.
Ia memahami betul betapa rumitnya situasi yang tengah dihadapi Mira. Gadis itu terpaksa melangkah menuju pernikahan dengan pria yang tak ia cintai, sambil menanggung ketidakpastian tentang masa depannya sendiri.
Bahkan setelah menikah nanti, Mira tak tahu apakah pria yang akan menjadi suaminya itu bersedia memberinya ruang untuk kembali bekerja, atau justru menutup semua pintu yang selama ini ia perjuangkan.
Tak lama kemudian, mereka bangkit dari kursi masing-masing. Restoran kembali dipenuhi percakapan dan denting peralatan makan, seolah tak pernah ada pergulatan batin yang baru saja terjadi.
Mira melangkah keluar lebih dulu. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sesaat, menyimpan tekad yang rapuh namun nyata. Di balik langkahnya yang perlahan, ia membawa satu hal yang tersisa harapan untuk tetap berdiri, meski masa depan masih terasa samar.
Akhirnya, keduanya kembali pada jalan masing-masing. Mira pulang membawa beban pikirannya sendiri, sementara Fayre kembali tenggelam dalam rutinitas pekerjaannya.
Setibanya di rumah, Mira memilih mengurung diri di dalam kamar. Ia merebahkan tubuhnya, membiarkan lelah fisik dan kepenatan batin menyatu, mencari jeda sejenak dari segala keputusan yang terus menghimpit hidupnya.
Di dalam kamar yang sunyi, pikiran Mira kembali melayang pada ucapan ayahnya tempo hari. Keluarga Xander dengan tegas tak menginginkan dirinya tetap melanjutkan pekerjaan setelah resmi menjadi menantu keluarga Vittale.
Sebuah keputusan yang sudah ditetapkan, dan tak memberi ruang bagi siapa pun untuk mengubahnya.
Keraguan pun semakin mengusik. Bagaimana pendapat calon suaminya nanti? Pertanyaan itu terus berputar, mengganggu ketenangan Mira tanpa henti. Ia sadar, pembicaraan ini tak bisa dilakukan dengan gegabah. Setiap kata harus dipikirkan matang, sebelum akhirnya ia memberanikan diri menyampaikan semuanya kepada Matteo.
Gadis itu mencoba meredakan kegelisahannya dengan duduk meringkuk di atas kasur, memeluk lututnya sendiri, berharap tubuh yang ia tenangkan dapat menenangkan pikirannya juga.
Namun kenyataan tak semudah itu. Mira bahkan belum pernah benar-benar berbincang dengan calon suaminya. Lalu bagaimana mungkin semua rencana ini bisa berjalan baik? Bayangan sikap Matteo yang dingin kembali mengusik benaknya.
Tatapan datar pria itu, nada bicaranya yang kaku, sudah cukup membuat d**a Mira sesak. Perlahan, rasa enggan itu tumbuh, mencuri sedikit demi sedikit harapan yang ia miliki, hingga menyisakan kebingungan dan amarah yang tak berani ia suarakan.
Mira memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, cepat atau lambat, percakapan itu harus terjadi. Namun untuk saat ini, ia membiarkan dirinya terdiam, mengumpulkan keberanian yang masih tersisa.
**
Sementara itu, di markas besar Fercgrey, Matteo Eliyan Vittale tampak bergegas menuju perusahaan. Pengawal sudah menyiapkan mobil mewah miliknya tepat didepan pintu utama markas Fercgrey. Mobil hitam itu melesat membelah jalanan yang telah akrab baginya, aspal yang sama, rutinitas yang tak pernah berubah.
Kecepatannya penuh, seolah tak memberi ruang bagi keraguan. Di belakangnya, tiga mobil pengawal setia mengikuti dalam formasi rapi, mereka selalu siaga ke mana pun ia melangkah. Iring-iringan itu bergerak seperti bayangan kekuasaan, senyap namun mengintimidasi, menandai kehadiran pria yang tak pernah berjalan sendirian. Kekuasaan Matteo melaju tanpa hambatan, dingin dan tak tersentuh.
Sejak usianya masih belasan tahun, Matteo telah tumbuh bersama bayang-bayang dunia bisnis gelap. Warisan itu bukan sekedar harta, melainkan takdir yang perlahan membentuk jiwanya. Bersama Valez, sepupunya. Matteo belajar memahami bahwa kekuasaan selalu menuntut pengorbanan, dan setiap keputusan memiliki harga.
Dalam kegelapanlah Matteo ditempa, hingga dingin dan ketegasan melekat pada dirinya. Dan menjadikan pria yang kini berdiri di puncak, jauh dari belas kasih4n dan keraguan. Matteo sang pemilik gedung pencakar langit itu akhirnya tiba disana. Langkahnya mantap, kaki panjangnya membawa wibawa yang seakan memenuhi setiap sudut koridor.
Pintu ruang rapat yang telah dipersiapkan sejak tadi terbuka menyambut kehadirannya. Ia bukan hanya berdiri sebagai pemimpin Fercgrey, tetapi juga dipercaya Thomas untuk menjabat sebagai ceo di perusahaan lain miliknya.
Tanggung jawab besar itu menjadikan Matteo sosok yang nyaris tak pernah memiliki ruang untuk ragu apalagi untuk menoleh pada urusan di luar dunia yang telah ia kuasai sepenuhnya.
Di dalam, para karyawan dan anggota tim telah bersiaga, menahan napas dalam diam, menanti sosok yang kepemimpinannya mampu mengubah arah keputusan dan nasib banyak orang.