12. GEN KEPEMIMPINAN

1595 Words
** "Rapat ini selesai." Kalimat itu menjadi penutup yang tegas. Begitu rapat hari ini usai, Matteo, sang pemimpin, segera melangkah pergi meninggalkan ruangan. Pertemuan tadi berjalan mulus, bahkan melebihi ekspektasinya. Kepuasan itu ia wujudkan dengan keputusan sederhana namun berarti, bonus tambahan untuk bulan ini. Bagi Matteo, kerja keras tidak pernah layak berlalu tanpa penghargaan. Setiap karyawan yang menunjukkan dedikasi dan performa terbaik akan selalu mendapatkan apresiasi yang setimpal. Itulah caranya menghormati jerih payah mereka, mengakui setiap tetes keringat yang tercurah demi kemajuan perusahaan. Tak heran jika semangat selalu hidup di antara para karyawannya. Mereka bekerja bukan sekadar demi kewajiban, melainkan karena tahu usaha mereka dilihat, dihargai, dan dimuliakan. Di bawah kepemimpinan Matteo, kerja keras memiliki nilai, dan loyalitas tumbuh dari rasa saling menghormati. Di dalam ruang pribadinya, setumpuk dokumen telah menanti di atas meja kerja. Puluhan berkas itu menuntut perhatiannya, masing-masing meminta tanda tangan yang tak bisa ditunda. Matteo menarik napas singkat, lalu mulai bekerja. Satu per satu kertas ia ambil, dan pada setiap halaman ia meninggalkan jejak tinta, tanda kuasa sekaligus keputusan yang akan menggerakkan roda perusahaannya. Secangkir kopi hangat yang sejak tadi setia menemani kini telah kehilangan uapnya, berubah dingin tanpa sempat ia sentuh kembali. Matteo bahkan tak memiliki waktu untuk sekadar berpaling dari tumpukan pekerjaan di hadapannya. Beginilah hari-hari yang ia jalani, tenggelam dalam kesibukan yang tak bertepi, memikul tanggung jawab besar sebagai pemimpin dua perusahaan terbesar milik kakeknya. Waktu baginya bukan untuk disia-siakan, melainkan untuk ditebus dengan kerja keras dan keputusan yang tak boleh keliru. Thomas tak pernah meragukan satu hal, kemajuan dua perusahaan besarnya akan melesat pesat bila berada di tangan orang yang tepat, dan orang itu adalah Matteo Eliyan Vittale. Keyakinan itulah yang perlahan menumbuhkan bara cemburu di hati Valez. Ia telah berjuang, berusaha, bahkan menempuh berbagai cara demi mendapatkan kesempatan memimpin Fercgrey, namun pintu itu tak pernah benar-benar terbuka untuknya. Ironisnya, Matteo yang sejak awal tak menginginkan posisi tersebut, yang memilih bersembunyi di balik sikap dingin dan menutupi kemampuan sejatinya, justru terpilih menjadi pemimpin. Takdir seolah berjalan dengan caranya sendiri, yang mengejar kekuasaan terabaikan, sementara yang menghindarinya justru dipaksa memikul beban terbesar. Di sanalah kecemburuan Valez tumbuh semakin dalam, bercampur luka, ambisi, dan perasaan tak diakui. Meski sikap Matteo sering kali dingin, keras kepala, dan kaku hingga menguras kesabaran, justru keteguhan serta rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang membuat Thomas tertegun. Di balik pembawaan yang sulit ditaklukkan itu, Thomas melihat pantulan dirinya sendiri, seolah d4r4h yang mengalir dalam diri Matteo membawa gen kepemimpinan yang sama dengannya. dingin dalam sikap, ker4s dalam prinsip, namun taj4m dalam perhitungan. Sebaliknya, Xander, anak kandungnya sendiri, tumbuh dengan karakter yang jauh berbeda. Ia tidak memiliki d******i yang dibutuhkan untuk memimpin, terlalu patuh pada setiap perintah Thomas, seolah tak pernah berani berdiri dengan kehendaknya sendiri. Dalam hal bela diri pun Xander tertinggal, padahal kemampuan itu adalah syarat mutlak untuk memimpin Fercgrey, bisnis gelap yang Thomas bangun dan wariskan dengan tangan besinya sendiri. Di sanalah ironi itu bermula. d4r4h daging tak selalu mewarisi jiwa, dan penerus sejati kadang lahir dari garis yang tak disangka. Semua dokumen itu akhirnya rampung ditandatangani. Ketika sejak tadi orang-orang telah menepi pada waktu istirahat, Matteo justru baru tersadar bahwa hari telah berganti malam. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja, membiarkan kelelahan meresap perlahan. Sendi-sendinya yang semula kaku dan membeku kini mulai melonggar, seakan lelah itu ikut luruh bersama hembusan napas panjang yang ia lepaskan. Setelah rasa penatnya perlahan surut, Matteo pun bersiap untuk pulang. Sebelum melangkah pergi, ia kembali meraih jas hitam yang sempat ia lepaskan di sela waktu senggang, lalu mengenakannya dengan rapi seolah kembali merangkul peran dan beban yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. *** Usai menyantap makan malam bersama keluarganya, Matteo segera kembali ke kamarnya lebih awal. dengan niat menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih tersisa. Namun ketika ibunya masuk ke kamar itu, Sofia tak mendapati keberadaan putranya di sana. Padahal Matteo sempat mengatakan bahwa ia akan langsung beristirahat setelah makan malam tadi. Tapi saat ini Tak ada satu pun tanda yang menunjukkan bahwa pria itu benar-benar berada di dalam kamar. "Tadi katanya dia sangat lelah… tapi di mana Teo? Apa dia masih bekerja sampai larut begini?" gumam Sofia, perasaan tak percaya menyelinap di hatinya, seolah ia sedang dibohongi oleh putranya sendiri. Tanpa menunda, Sofia melangkah menuju ruang kerja Matteo. Dan benar saja di sana tampak sosok pria itu, tenggelam di balik layar laptopnya, larut dalam kesibukan yang menelan sisa malam. "Masuklah," perintah Matteo tanpa menoleh, suaranya tenang namun tegas, seakan ia telah lama menyadari keberadaan seseorang di balik pintu. Sofia yang tertangkap basah pun melangkah masuk, menampakkan diri. "Nalurimu begitu tajam, Nak," ucap Sofia, nada suaranya mengandung ketertegunan, takzim pada kepekaan Matteo yang mampu menangkap kehadirannya tanpa perlu menoleh sedikit pun. "Apa yang Mama lakukan di sini?" tanya Matteo tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. Kedua tangannya masih lincah menari di atas keyboard. Sofia melangkah lebih dekat. "Mama ingin membicarakan sesuatu… ini mengenai persiapan pernikahanmu dengan Mira, Nak." Mendengar kelanjutan ucapan Sofia, jemari Matteo terhenti seketika. Layar di hadapannya masih menyala, namun fokusnya sudah sepenuhnya buyar. Pria itu menghela napas pelan sebelum akhirnya menutup laptopnya dan menatap sang ibu. "Pernikahan?" ulangnya pelan. "Bukankah semua sudah Mama atur?" Sofia tersenyum tipis, namun sorot matanya tampak serius. "Tidak semua hal bisa diatur tanpa dirimu, Matteo. Pernikahan ini akan menjadi awal hidupmu nak." Matteo bersandar di kursinya. Bayangan wajah Mira kini terlintas di benaknya. Ia mengembuskan napas kasar, seolah pembicaraan Sofia barusan menjadi beban berat baginya. "Apa aku juga perlu turun tangan dalam persiapan pernikahan ini?" protesnya. Nada bicara Matteo sontak membuat Sofia geram. Ia melipat tangan di depan d**a, berusaha menahan kesal. "Nak, dengarkan Mama dulu. Mama tahu kamu sangat sibuk dengan pekerjaanmu. Lagipula Mama tidak memintamu untuk ikut terlibat dalam seluruh persiapan pernikahan ini. Mama dan Mira bisa mengatasinya bersama." Sofia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tegas. "Kecuali satu hal. baju pengantin. Kamu dan Mira wajib melakukan janji temu desain gaun pengantin bersama besok. Tidak mungkin, kan, Mama yang pergi dengan Mira?" Matteo menatap Sofia dengan sorot mata tajam. Rahangnya mengeras, jelas menahan sesuatu yang ingin ia ucapkan. "Besok?" tanyanya singkat. "Iya. Tidak bisa ditunda," jawab Sofia mantap. "Mama sudah mengatur waktunya." "Baik," ucapnya akhirnya, meski nadanya terdengar dingin. "Aku akan pergi." Sofia menghela napas lega, meski kegelisahan masih tersisa di wajahnya. Ia tahu, di balik sikap dingin Matteo, ada konflik yang belum sepenuhnya terselesaikan dan janji temu desain besok bisa menjadi awal dari semuanya. "Jam berapa janji temunya akan dimulai?" tanyanya singkat. "Mungkin dimulai dari pukul tiga siang," jawab Sofia. "Besok jemput Mira ke rumahnya. Kalian akan pergi bersama-sama, ya?" "Hm." Matteo hanya berdehem sebagai jawaban. Sofia yang sudah kelewat geram akhirnya tak sanggup berlama-lama di ruangan itu. Ia melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak. "Mama pergi dulu. Jangan tidur terlalu larut. Bagaimanapun juga tubuhmu itu butuh istirahat yang cukup," Tanpa menoleh, Matteo menjawab pelan, "Iya, Ma." Pintu tertutup perlahan. Suasana diruangan kerja itu kembali sunyi, hanya terdengar dengung pendingin ruangan disana. Matteo memijat pelipisnya, lalu bersandar di kursi. Dan Ingatannya kembali pada pertemuan terakhir mereka tatapan Mira yang tenang namun menyimpan jarak. "Besok…" gumamnya lirih. Sementara didalam kamar, Mira menatap cermin di kamarnya. Ia menghela napas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa ia siap untuk janji temu baju pengantin besok, dan untuk pernikahan yang semakin dekat. Namun entah mengapa, dadanya terasa tak setenang yang ia harapkan. ** Mobil hitam milik Matteo telah menepi di depan kediaman Roseti. Damien yang menyadari kedatangannya segera menyongsong pria bertubuh tinggi itu, mempersilahkannya masuk ke dalam rumah. "Ayo, masuk dulu, Nak," ujar pria paruh baya itu hangat. Matteo menuruti ajakan tersebut, melangkah tenang mengikuti Damien hingga akhirnya mereka tiba di ruang tamu. Baru saja duduk, Matteo telah disuguhi secangkir kopi hangat yang mengepul pelan di hadapannya. "Kopinya, silakan diminum, Nak," tawar Damien dengan senyum ramah. "Baik, Tuan Damien," jawab Matteo sopan, lalu meneguk kopi itu, membiarkan kehangatannya menyapa tenggorokan. "Mira masih bersiap-siap di kamarnya, mungkin sebentar lagi selesai," lanjut Damien. Ia dapat menangkap makna dari sorot mata Matteo. Sepasang mata hitam yang tengah menjelajahi setiap sudut rumah dari tempat duduknya, seolah mencari sesuatu yang belum ia temukan. Senyum datar terukir di wajah Matteo. Tak lama kemudian, Mira turun dari kamarnya dan menemui calon suaminya bersama sang ayah yang tengah duduk berdampingan di ruang tamu. Diam-diam, Matteo mengamati penampilan sederhana wanita itu. Busananya rapi dengan paduan warna yang menenangkan kemeja putih berpadu dengan celana jeans yang sederhana. Wajah Mira pun nyaris tanpa riasan, hanya sentuhan pelembap dan tabir surya yang melindunginya dari sengat sinar matahari, justru kian menegaskan kecantikan alaminya yang tenang. "Ternyata kamu sudah datang," ucap Mira. kali ini ia menurunkan gengsinya dan memilih memulai percakapan diantara mereka lebih dulu. Sebab Kehadiran ayahnya di sana tak memberinya ruang untuk bersikap acuh pada Matteo. "Nak, Teo sudah berada di sini sejak dua puluh menit yang lalu," sahut Damien, yang sejak tadi setia menunggu Mira turun dari kamarnya. "Ouw, begitu ternyata…" ucap Mira sambil tersenyum malu, senyum kecil yang tak lepas dari wajahnya. "Sudah selesai?" tanya Matteo singkat, tanpa basa-basi. "Sudah. Ayo kita pergi," ajak Mira cepat, tak ingin janji temu dengan desainer gaun pengantin mereka hari ini berakhir terlambat. Sebelum melangkah pergi, Mira lebih dulu berpamitan pada Damien. Berbeda dengan Matteo yang hanya diam, lalu melangkah lebih dulu seolah waktu tak sabar menunggunya. "Ayah, maafkan perilakunya, ya. Dia memang begitu… bahkan pada orang tuanya sendiri," bisik Mira tepat di dekat telinga Damien, dengan nada setengah sungkan, setengah pasrah. Damien tersenyum kecil, maklum. "Ya sudah, Nak. Hati-hati di jalan," ucapnya tenang seolah sikap kaku calon menantunya itu sudah lama ia masukkan ke dalam daftar hal-hal yang bisa dimaklumi, bahkan sedikit menggelitik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD