Di dalam mansion Vittale, mereka disambut hangat oleh seluruh anggota keluarga Vittale, termasuk paman dan bibi Matteo beserta tiga anak mereka yang baru datang dari Spanyol.
Wajah-wajah itu terasa asing bagi Mira, apalagi pada kunjungan terakhirnya di Mansion Vittale ia tak pernah melihat mereka. Han dan istrinya Aila menyambut Mira dengan ramah, memperkenalkan diri satu per satu dengan senyum sopan dan jabatan tangan yang hangat.
Mira membalas dengan sikap yang sama, menjaga senyumnya tetap anggun meski ada jarak bahasa yang tak sepenuhnya bisa ia jembatani. Beberapa dari mereka berbicara dalam bahasa Spanyol yang terdengar lembut namun cepat di telinganya.
Mira tak selalu memahami kata demi kata, namun ia menangkap nada ramah di dalamnya dan untuk sementara, itu sudah cukup membuatnya merasa sedikit lebih diterima di tengah keramaian yang masih terasa asing.
Meski gugup masih bergetar pelan di dalam dãdanya, Mira merasakan sedikit kehangatan saat melihat betapa akrabnya calon mertuanya berbaur dengan keluarganya.
"Damien, sudah lama kita tak berjumpa. Kau tampak jauh lebih muda sekarang," ujar Thomas dengan senyum hangat.
Damien tersenyum tipis sebelum duduk di sisi sofa. "Anda juga terlihat jauh lebih bugar, Tuan Thomas. Senang akhirnya kita bisa bertemu kembali," balasnya sopan.
Thomas terkekeh pelan, sorot matanya dipenuhi kepuasan. "Bukankah ini memang tujuanku sejak awal? Menjodohkan cucuku dengan putrimu, Mira, agar hubungan kedua keluarga kita semakin erat."
Ucapan itu segera disambut tawa ringan. Suasana di ruangan itu pun dipenuhi canda yang hangat. Percakapan mereka mengalir tanpa canggung, menghadirkan kehangatan yang kontras dengan fakta bahwa pertemuan itu adalah awal dari penyatuan dua keluarga besar.
Mira sempat berniat menghampiri Gavin tempat yang selalu terasa paling aman baginya. Namun langkahnya terhenti ketika sebuah suara lembut memanggil namanya.
"Mira" Ia menoleh. Sofia menatapnya dengan senyum hangat yang tak dibuat-buat.
"Duduklah di sini, Nak," ucapnya lembut.
Bagi Mira permintaan itu terasa lebih seperti pelukan tak kasatmata daripada sekadar ajakan. Ia pun menurut. Ia duduk di sisi Sofia, rasa canggung perlahan mencair oleh keramahan Sofia yang tulus.
Meski belum sepenuhnya terbiasa, Mira berusaha menikmati momen itu. Di tengah percakapan yang hangat, Mira menyadari satu hal sejak tadi. Pandangannya sempat berkelana, menyapu ruangan, namun sosok pria dengan aura dingin yang begitu mudah dikenali itu tak juga ia temukan.
Kesadaran itu datang seperti bisikan lirih. Napasnya tertahan sesaat, dãdanya terasa kembali menyempit. Mira menunduk, jarinya mengusap pelan sisi gaunnya, menahan dorongan untuk bertanya.
Tak ada keberanian yang cukup untuk melontarkan nama itu pada Sofia.
Pertanyaan tersebut hanya berputar di kepalanya, menggantung sunyi, tak pernah benar-benar sampai ke bibirnya
"Di mana Matteo? Sejak tadi aku tidak melihatnya," tanya Gavin. Keningnya berkerut tipis karena sejak awal ia tak menemukan tanda-tanda keberadaan Matteo disana.
Xander menoleh dengan senyum tenang yang sulit ditebak artinya.
"Matteo sedang dalam perjalanan pulang, Nak. Dia akan tiba sebentar lagi," jawabnya lembut.
Jawaban itu terdengar sederhana, namun entah mengapa membuat udara di sekitar Mira terasa sedikit lebih berat seolah sebuah nama saja sudah cukup untuk mengubah irama detak jantungnya.
Apa mereka benar-benar yakin pria itu serius menjalani hubungan ini? batin Gavin dingin.
Matteo bahkan belum juga terlihat, sementara yang lain telah datang jauh lebih awal. Sejak kapan kesibukan menjadi alasan yang layak? Mira pantas mendapatkan lebih dari sekadar janji yang terus datang terlambat. Namun Matteo selalu tampak tenggelam dalam urusannya sendiri, seolah keberadaan adiknya bukanlah sesuatu yang perlu ia dahulukan.
Pandangan Gavin perlahan bergeser ke arah Mira. Adik perempuannya itu tengah tersenyum manis di antara keluarga Vittale, menanggapi percakapan dengan anggun seakan ia benar-benar menikmati kehangatan yang mengelilinginya.
Rahang Gavin mengeras.
Mereka mungkin melihat seorang gadis yang tampak tenang dan bahagia. Namun baginya, Mira tetaplah adik kecil yang harus ia lindungi bahkan dari pria yang seharusnya menjadi calon suaminya sendiri.
Gavin terlalu mengenalnya untuk tertipu oleh pemandangan itu. Ia tahu senyum itu bukan sepenuhnya lahir dari hati yang ringan, melainkan dari keteguhan yang dipaksakan.
Mira hanya tak ingin ayah mereka atau siapa pun merasa tak nyaman karena dirinya. Maka ia memilih mengenakan topeng paling indah yang ia punya senyum yang lembut, tatapan yang tenang, dan hati yang diam-diam belajar menahan diri.
Hati Gavin terasa perih setiap kali melihat senyum itu. Ia tahu betul, di balik wajah tenang yang Mira tunjukkan pada dunia, ada sisi rapuh yang selalu ia sembunyikan dari banyak orang sisi yang hanya terlihat saat ia merasa benar-benar aman.
Perlahan, Mira bangkit dari tempat duduknya. Dengan langkah tenang yang nyaris tak menarik perhatian, ia menyelinap menjauh dari keramaian, meninggalkan riuh tawa dan percakapan yang saling bersahutan.
Ia berjalan menuju bagian belakang rumah, mencari ruang sunyi di dalam toilet, tempat ia bisa bernapas tanpa perlu berpura-pura.
Tanpa ia sadari, sepasang mata biru mengikuti langkahnya dari kejauhan. Jack bergerak pelan di belakangnya bukan untuk mengganggu, hanya karena ada kekhawatiran yang tak sempat ia ucapkan, namun terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.
***
Sementara itu, di halaman luas mansion Vittale, sebuah mobil hitam milik Matteo berhenti mulus tepat di depan pintu utama.
Matteo turun dengan gerakan tenang dan rapi, tanpa tergesa seperti seseorang yang selalu terbiasa mengendalikan keadaan, bukan dikuasai olehnya.
Dari luar, riuh suara para tamu sudah terdengar jelas, menyatu dengan cahaya hangat yang tumpah dari dalam rumah. Namun wajah Matteo tetap datar, sulit ditebak, seolah keramaian itu tak cukup kuat untuk mengusik ketenangan dingin yang melekat padanya.
Saat ia menapakkan kaki di ruang tamu, Matteo langsung disambut oleh paman serta bibinya yang baru datang dari Spanyol, bersama ketiga anak mereka yang tengah menempuh pendidikan di bangku kuliah.
"Hola, cuánto tiempo sin verte, dan Terima kasih sudah datang berkunjung," sapa Matteo dalam bahasa Spanyol, suaranya tenang namun tetap hangat.
Han tersenyum puas melihatnya. "Halo, Nak. Kami baik-baik saja. Senang akhirnya bisa bertemu kembali denganmu, terlebih setelah mendengar kabar bahwa kau akan segera menikah."
Matteo mengangguk pelan, senyum tipis terukir di bibirnya cukup sopan untuk keluarga, namun tetap menyisakan jarak yang sulit ditebak.
"Calon istrimu sangat cantik, Nak. Kau pasti sangat mencintainya." ucap Aila dengan senyum tipis yang sarat godaan.
Matteo tidak segera menanggapi. Senyum datar yang sulit diartikan terbit di wajahnya, seolah ucapan itu tidak cukup berarti untuk menggoyahkan ketenangannya. Namun di balik sikapnya yang tenang, ada kelegaan samar ketika ia mendengar bahwa Mira telah datang.
Kedua matanya bergerak perlahan menyapu ruang tamu yang luas itu tajam, penuh kendali. Tetapi hingga detik itu berlalu, sosok yang ia cari justru tidak terlihat di mana pun. Rahangnya mengeras nyaris tak terlihat.
Setelah itu, Matteo kembali mendapati keluarga Roseti berada di sana.
"Bagaimana kabarmu, Tuan Damien?" sapa Matteo dengan sopan.
"Kabarku baik, Nak. Kenapa kamu baru pulang selarut ini?" tanya Damien. Nadanya tenang namun sarat teguran halus.
Matteo menautkan kedua tangannya di depan tubuhnya, sikapnya tetap tenang seperti biasa. "Aku tidak bermaksud membuat kalian menunggu. Ada urusan mendadak yang tidak bisa kutinggalkan."
Cara bicaranya singkat, jelas, tanpa nada ragu. Aura kepemimpinan yang melekat padanya begitu kuat dan tak dibuat-buat. hal yang diam-diam disadari Gavin saat memperhatikannya dari kejauhan.
"Aku ingin mengganti pakaianku terlebih dahulu," ucap Matteo singkat, sebelum melangkah menjauh dari keramaian tanpa menunggu jawaban.
Di dalam kamarnya yang bernuansa hangat, ia justru kembali disambut oleh kesunyian. sunyi yang terasa akrab, namun selalu membawa hawa dingin yang tak terlihat.
Ruangan itu rapi, tenang, seolah tak pernah benar-benar dihuni oleh perasaan apa pun. Perlahan, ia melepas setelan jas hitam yang sejak pagi membalut tubuhnya seperti lapisan kedua. Bersama, ia juga menanggalkan beban lain yang tersembunyi senj4t4 ãp! yang terselip rapi di balik jasnya, benda dingin yang kontras dengan hangat cahaya lampu kamar.
Di balik pintu tertutup itu, Matteo bukan hanya mengganti pakaian ia sedang melepaskan satu wajah, sebelum kembali mengenakan yang lain.
Jika Mira datang, mengapa perempuan itu tidak ada di sini? Sebuah pertanyaan sederhana, namun cukup untuk membuat rahang Matteo mengeras samar.
Matteo menyandarkan tubuhnya sejenak, memejamkan mata. Ia mencoba mengusir wajah yang terus muncul di sela-sela kesadarannya, seolah pikirannya sendiri mulai mengkhianati kendali yang selama ini ia bangun.
Selama ini Matteo selalu mampu menata pikirannya seteratur langkah dan keputusan yang ia ambil. Namun kali ini berbeda.
Hanya satu sosok dan itu sudah cukup untuk menciptakan kekacauan kecil yang bahkan dirinya sendiri tak bisa sepenuhnya kendalikan.
***
Saat keluar dari toilet, Mira terkejut mendapati Jack sudah berdiri tepat di depan pintu.
"Huh…!" Mira tersentak. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya dengan napas masih memburu.
"Ayo ikut denganku," ucap Jack singkat.
Tanpa memberi kesempatan Mira menolak, Jack meraih tangannya dan menariknya dengan p4ks4 menuju halaman belakang.
"Lepaskan tanganku…" ucap Mira sambil berusaha menahan tubuhnya agar tidak terus tersēret. Namun usahanya sia-sia tenaga pria itu jauh lebih kuat darinya.
Mira juga menahan diri untuk tidak berteriak, tak ingin menimbulkan keributan di Mansion Vittale.
"Jack… lepaskan! Kamu meny4kit!ku…" ucapnya lirih, menahan perih yang menjalar di pergelangan tangannya.
Jack perlahan melepaskan genggamannya dari tangan Mira, seolah baru menyadari betapa keras ia menc3ngkerämnya sejak tadi.
"Mira, Maafkan aku. aku benar-benar terbawa emosi," ucap Jack dengan suara lebih rendah dari biasanya. Ada nada penyesalan yang jelas terdengar.
Tatapannya jatuh pada pergelangan tangan Mira yang memer4h. Seketika rahangnya menegang, rasa bersalah menyusup ke wajahnya saat menyadari bekas itu adalah akibat dari tindakannya sendiri.
"Mira maafkan perbuatanku, aku sungguh tidak bermaksud meny4kit!mu…" tambahnya pelan, nyaris seperti bisikan.
"Aku baik-baik saja," ucap Mira pelan.
Ia menepis tangan Jack yang kembali ingin menyentuhnya. Perlahan, Mira mulai mengatur ritme napasnya berusaha terlihat tenang. Meski kini hanya ada mereka berdua di tempat itu.
"Mira, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," ujar Jack hampir berbisik. Ia melangkah mendekat dengan hati-hati, seakan takut membuat Mira kembali terkejut.
"A-apa yang akan kamu lakukan…?" suara Mira melemah. Jantungnya berdetak lebih cepat saat menyadari jarak di antara mereka kini nyaris tak ada.
"Jack… semua orang ada di sini. Jadi jangan coba macam-macam padaku," ucap Mira pelan, meski suaranya bergetar.
Kedua kakinya melangkah mundur perlahan. Namun langkah itu terhenti saat punggungnya menyentuh dinding dingin di belakangnya. Ruang geraknya kini lenyap.
Dengan sigap, kedua tangan Jack terangkat, menahan di sisi dinding mengurung Mira tanpa benar-benar menyentuhnya. Jarak di antara mereka kini hanya sejengkal, cukup untuk membuat napas mereka terasa berat.
Dãda Mira berdegup tak terkendali. Jack menundukkan sedikit tubuhnya, menyesuaikan tinggi gadis yang jauh lebih mungil darinya itu. Tatapannya jatuh lurus ke mata Mira, dalam, sulit dibaca membuat udara di antara mereka terasa semakin menyesakkan.
"Mira..." suara Jack terdengar rendah, nyaris tertahan. "I just want to say… I miss you more than anything."
Ia menarik napas berat, rahangnya menegang sebelum melanjutkan dengan suara yang bergetar, "Dan perasaan itu… sudah lama sekali menghancurkanku dari dalam." Tatapannya tak lepas dari wajah Mira, seakan takut kehilangan satu detik pun untuk menyampaikan isi hatinya.
Bola mata biru itu menatap lekat ke dalam bola mata cokelat milik Mira. Keduanya terdiam, seolah membiarkan tatapan mereka saling berbicara menyentuh sisa luka yang belum benar-benar sembuh.
Dalam hening yang menggantung, kenangan manis perlahan menyusup, hadir tanpa diminta. Potongan masa lalu berkelebat di benak mereka tentang tawa, tentang rasa, tentang Mira yang pernah jatuh begitu dalam bahkan sebelum Jack memberinya tempat untuk berlabuh.
Namun Mira tak ingin terlihat rapuh di hadapan pria itu. Ia memalingkan wajahnya, memutus jalinan tatapan yang terasa terlalu dalam, lalu dengan gerakan pelan namun tegas, mendorong tubuh Jack hingga jarak kembali tercipta di antara mereka.
Jack tidak melakukan perlawanan. Ia menurut, perlahan mundur dan memberi jarak di antara mereka.
Tanpa berkata apa pun lagi, Mira segera berbalik dan berlari menjauh dengan langkah terburu-buru, suara hak tinggi yang dikenakannya memecah keheningan.
Pikirannya kacau, emosinya berbaur tanpa arah. Udara di sekitar mereka mendadak terasa begitu dingin, seakan menyerap hangat yang tadi sempat tersisa.
Jack tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung Mira yang semakin menjauh. Rahangnya menegang, sementara tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya.
Ia tidak mengejar.
Hanya menatap… dengan d4da yang terasa kosong, seolah sesuatu yang berharga baru saja kembali terlepas dari genggamannya.
****