Saat Mira menapaki anak tangga, Damien memanggilnya. Suaranya terdengar tegas, namun ada sesuatu di baliknya nada samar yang sulit ditebak, seolah menyimpan lebih dari sekadar panggilan biasa.
"Mira, kemari, Nak."
Dengan kepatuhan yang telah lama tumbuh dari rasa hormat Mira membalikkan langkahnya, menghampiri sang ayah tanpa banyak tanya.
"Ada apa, Ayah?" suaranya nyaris setipis hela napas.
"Duduklah di sini, di samping Ayah. Ada yang ingin Ayah sampaikan padamu, nak." ucap Damien. Nada suaranya tenang, namun menyimpan beban yang tak kasatmata.
Mira tak membantah. Ia kembali dan duduk di sisi ayahnya dekat secara jarak, namun hatinya waspada, seolah bersiap pada sesuatu yang belum ia pahami.
Mira menunduk pelan, sengaja mengabaikan sepasang mata biru yang sejak tadi setia mengikuti setiap geraknya.
"Apa yang ingin Ayah sampaikan?" tanyanya pelan. Ada jeda tipis di antara kata-katanya, seolah ia sudah bersiap menerima kabar yang mungkin tak membawa kelegaan.
Damien menarik napas dalam sebelum berbicara. "Pagi tadi, Ayah menerima undangan makan malam di kediaman keluarga Vittale, Salah satu ajudan kepercayaan Tuan Xander datang sendiri untuk menyampaikan pesan itu." Ucapnya tenang.
Ia berhenti sejenak, sorot matanya melembut namun tak mengurangi keseriusan nada bicaranya.
"Karena itu, Ayah tidak bisa menolaknya." Sunyi kecil menggantung di antara mereka sebelum ia melanjutkan, lebih pelan namun tegas,
"Bersiaplah. Sore nanti kita akan pergi bersama ke kediaman Vittale." Kata-kata itu jatuh begitu saja, tapi rasanya seperti mengetuk sesuatu yang lama Mira hindari.
"Baiklah, Ayah. Aku akan bersiap," Suaranya terdengar tenang, namun kegelisahan yang pelan-pelan merayap di d4danya tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan.
Ia pun bangkit dari duduknya, langkahnya teratur seperti biasa meski isi kepalanya tak lagi setenang gerak tubuhnya.
Mira berdiri cukup lama di depan lemari, jemarinya menyusuri deretan kain sebelum akhirnya berhenti pada sebuah gaun putih sederhana berbahan wol.
Tak ada kilau berlebihan di gaun itu, tak ada potongan mencolok namun justru dalam kesederhanaannya, gaun itu terasa paling jujur mewakili perasaannya malam itu.
***
Waktu merambat menuju sore. Langit berwarna jingga terbentang luas, seolah mencoba menghibur hati Mira di sepanjang perjalanan menuju mansion Vittale.
Cahaya senja yang hangat menyentuh jendela mobil, menari pelan di wajahnya yang lebih banyak terdiam. Dan Kali ini Gavin menyerahkan kemudi pada Jack.
Sejujurnya, Mira telah mencoba berbagai cara agar tak berada dalam satu mobil dengan pria itu. Namun keadaan selalu punya jalannya sendiri untuk mempertemukan mereka dalam ruang yang sama.
Demi alasan keamanan, Damien memutuskan Gavin dan Jack menemani Mira dalam satu kendaraan, sementara ia sendiri pergi bersama ipar dan adik perempuannya.
Semuanya tampak tersusun rapi logis, pantas, bahkan wajar bila dilihat dari pembagian usia dan peran. Namun bagi Mira, keteraturan itu justru terasa seperti takdir kecil yang diam-diam mengekangnya.
Di dalam mobil, suara Gavin dan Jack saling bersahutan. Jack tetap mengemudi dengan sikap terkendali, namun pantulan Mira di kaca depan menjadi satu-satunya hal yang tanpa sengaja terus ia perhatikan, seolah kehadirannya lebih bising daripada kata-kata.
Sejak tadi, Mira memilih diam, menyembunyikan dirinya di balik layar ponsel. Jemarinya menggulir pelan, menyaksikan unggahan rekan-rekan kerjanya yang kini meramaikan panggung fashion week di Milan kota yang pernah ia genggam erat dalam mimpinya.
Sorot lampu, derap langkah para model, kain-kain indah yang bergerak mengikuti irama semuanya melintas di matanya, seperti potongan hidup yang nyaris pernah ia genggam.
Andai ia masih berada di dunia itu, mungkin namanya pun ikut terucap malam ini. Mungkin rancangannya akan berjalan anggun di atas panggung, membawa sebagian dari jiwanya bersinar di hadapan dunia.
Namun kini, yang tersisa hanyalah bayangan kemungkinan dan senyum tipis yang ia paksa bertahan, agar tak runtuh menjadi rindu yang terlalu nyata.
Tak ingin membiarkan hatinya tenggelam lebih jauh, Mira segera mematikan layar ponselnya dan menyelipkannya kembali ke dalam tas. Gerakan itu tampak sederhana, namun seperti upaya kecil untuk menutup kembali pintu kenangan yang sempat terbuka tanpa izin.
Di balik kemudi, Jack diam-diam memperhatikan wajah murung gadis itu melalui pantulan samar di kaca depan. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, banyak kalimat yang berdesakan di ujung lidahnya.
Namun jarak di antara mereka kini tak lagi sekadar ruang melainkan sekat yang tak kasatmata. Andaikan hubungan mereka masih sehangat dulu, mungkin tanpa ragu ia sudah menoleh dan bertanya pelan tentang keadaan gadis itu.
Tapi kini, kepedulian itu hanya tinggal niat yang tertahan, menggantung sunyi di antara dua hati yang sama-sama memilih diam.
Mobil yang mereka tumpangi melaju pelan memasuki gerbang panjang milik Vittale. Besi-besi tinggi berukir itu terbuka dengan tenang, nyaris tanpa suara.
Bagi Jack, rasanya seperti melewati batas tak kasatmata dari dunia yang riuh ke tempat yang memilih diam. Swiss terbentang di sekelilingnya. Perbukitan hijau diselimuti kabut tipis, danau berkilau pucat di kejauhan, sementara garis Alpen memudar di bawah langit senja.
Indah. Terlalu indah. Jack tak yakin apakah ia sedang tiba… atau sedang diuji.
Halaman depan mansion terbuka luas, rapi, nyaris steril. Di sana, waktu terasa berjalan lebih pelan, seakan segala sesuatu diminta untuk menahan diri.
"Boleh juga…"
Gumaman itu terlepas tanpa sengaja dari bibir Jack. Ia hanya mengenal Gstaad sebagai kawasan elit tempat Mansion Vittale berdiri, sebatas cerita yang pernah ia dengar.
Kini, ia melihat sendiri perbedaannya kemewahan old money di kota-kota Amerika terasa mencolok dan penuh pernyataan, sementara di Gstaad, segalanya tampak tenang, anggun, dan nyaris tak perlu memamerkan diri.
Ini pertama kalinya ia datang ke tempat seperti ini kemewahan yang tidak berisik, tidak memamerkan apa pun, tapi tetap membuatnya merasa kecil tanpa berniat merendahkan. Bangunan utama berdiri anggun di kejauhan. Sekilas seperti kastel tua Eropa, namun garis-garis modernnya tegas dan dingin.
Jack menangkap satu kesan yang sama kuatnya dengan kemegahan itu kendali.
Tempat ini tahu siapa dirinya dan tahu bagaimana caranya membuat orang lain menyesuaikan diri. Lalu matanya tertarik pada satu titik.
Sebuah Cedar of Lebanon berdiri di tengah halaman luas Mansion Vittale, sendirian namun dominan. Akar-akar tuanya mencengkeram tanah dengan keyakinan, batangnya gelap dan kokoh, cabang-cabangnya merentang mendatar seperti lengan yang tak pernah lengah.
Jack tak tahu kenapa, tapi ada sesuatu dari pohon itu yang membuat daadanya mengencang seolah ia sedang menatap seseorang, bukan sekadar tumbuhan.
Kerikil putih di jalan masuk berderak halus di bawah roda mobil. Aroma cedar menyusup samar, bercampur tanah lembap dan udara pegunungan. Cahaya sore menyentuh pucuk-pucuk hijau kebiruan, memantulkan kilau dingin yang tenang.
Tak mencolok. Tak perlu.
Di bawah naungannya, sebuah bangku batu tua berdiri diam. Terlalu diam. Jack membayangkan berapa banyak hal yang pernah diputuskan di sana tanpa saksi, tanpa penyesalan yang diucapkan keras.
Jendela-jendela tinggi mansion memantulkan bayangan cedar itu, dan untuk sesaat Jack merasa, tempat ini memilih siapa yang pantas berada di dalamnya.
Cahaya senja terakhir menyentuh dinding-dinding batu, membuat mansion Vittale tampak lebih dari sekadar megah. Ia terasa… penuh. Seperti menyimpan cerita-cerita besar yang tak sembarang orang diizinkan untuk mengetahuinya.
Mobilnya akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama. Jack menarik napas pelan.
Segalanya tampak tenang, tertata, sempurna. Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa ia benar-benar sedang memasuki wilayah orang lain.
Para pengawal berpakaian rapi telah berdiri siaga sejak tadi, sikap mereka tegap dan penuh kewaspadaan. Begitu mobil benar-benar berhenti, tanpa perlu aba-aba, mereka serempak melangkah mendekat tangan terulur sigap untuk membukakan pintu, menyempurnakan penyambutan yang terasa resmi sekaligus berjarak.
Setelah Gavin turun lebih dulu, Jack memanfaatkan momen itu untuk menanyakan keadaan Mira.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jack pelan, nadanya ditahan. "Aku... sedikit khawatir padamu."
Mira menatapnya singkat sebelum mengangguk. "Aku baik-baik saja. Terima kasih." Ia turun dari mobil lebih dulu, meninggalkan kalimat itu menggantung di antara mereka.
Saat anggota keluarganya telah lebih dulu melangkah masuk, Gavin mendekati Mira yang masih terpaku di tempatnya. Tatapannya kosong, seolah pikirannya tertinggal jauh di tempat lain. Wajahnya tampak pucat, dan kecemasan tergambar jelas di raut lembutnya yang biasanya tenang.
"Mira… apa yang kamu pikirkan? Ayo, semua orang sudah masuk," ucap Gavin pelan namun tegas.
Suara itu seakan menariknya kembali ke dunia nyata. Mira berkedip pelan, napasnya teratur kembali, lalu mengangguk kecil.
"Ba… baik, Kak," jawab Mira singkat, suaranya rapuh seperti benang yang ditarik terlalu pelan.
Gavin tak langsung percaya. Ia kembali menggenggam tangan adik perempuannya itu, hangat dan penuh perlindungan, seolah takut Mira akan kembali terlepas ke dalam pikirannya sendiri.
"Kamu benar-benar tidak apa-apa?"
Tanyanya lembut.
Tangannya terangkat, menyentuh dahi Mira dengan gerakan refleks bukan hanya ingin memastikan suhu tubuhnya, tapi juga mencoba menenangkan sesuatu yang tak terlihat namun terasa jelas mengusik gadis itu.
"Apa yang Kakak lakukan…? A-aku baik-baik saja," ia berusaha terdengar meyakinkan meski suaranya bergetar halus, membocorkan kegelisahan yang tak sempat ia sembunyikan.
Gavin menatapnya lekat, sorot matanya dipenuhi kekhawatiran yang tulus.
"Aku hanya cemas padamu. Wajahmu terlihat pucat," katanya pelan. "Kalau kau ingin pulang, bilang saja. Aku akan mengantarmu kembali."
Perhatian itu terasa hangat, hampir melembutkan benteng yang sejak tadi Mira bangun di dalam dirinya. Namun di balik tatapan tenang yang ia paksakan, ada badai kecil yang masih berputar, belum menemukan tempat untuk reda.
"Tidak perlu, kak. sekarang aku sudah baik-baik saja. Lagi pula, ada Kakak di sisiku." Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, seolah yang ingin ia rapikan bukan hanya rautnya, tetapi juga perasaan yang sempat goyah.
Gavin mengangguk kecil, meski sorot matanya masih menyimpan sisa cemas. "Baiklah. Ayo, kita masuk."
Bersama, mereka pun melangkah melewati ambang pintu kediaman Vittale dua langkah berdampingan itu membawa ketenangan yang diucapkan, dan kegelisahan yang masih diam-diam disembunyikan.
***