17. RASA SAKIT YANG TAK INGIN ia AKUI!

1407 Words
** Makan malam telah siap, namun Mira tak juga menampakkan diri di ruang makan. "Yasmin… panggilkan Mira. Mungkin dia masih menyelesaikan lukisannya di kamar," perintah Gavin pada pelayan itu. "Baik tuan." Yasmin segera mengangguk lalu melangkah pergi, patuh tanpa menoleh. "Biar aku saja yang melakukannya," tiba-tiba suara Jack terdengar, tenang namun tegas. Kata-kata itu membuat langkah Yasmin sempat terhenti, seolah ragu antara patuh dan terkejut. "Jack… kamu pasti lelah setelah perjalanan panjang. Biar Yasmin saja yang menjemputnya," ucap Gavin dengan nada tenang, menahan kekhawatiran yang samar. "Baiklah," jawab Jack, menurut tanpa banyak protes. Namun di balik sikap tenangnya, ada rasa belum puas yang menggelayut keinginannya untuk bertemu Mira tadi masih mengganjal. Karena segan terhadap keluarga, ia menahan diri, menekan keinginan itu ke dasar hatinya. Lagipula, kepulangannya kali ini memang untuk Mira. Jack sudah menyiapkan libur panjang, memberi dirinya waktu untuk merencanakan pertemuan itu dengan sempurna. Di kamar Mira, Yasmin sudah mengetuk pintu berulang kali. Namun keadaan tetap sunyi, tak ada jawaban. Dengan hati-hati, ia akhirnya terpaksa memasuki kamar itu tanpa izin, sebab kekhawatiran akan keadaan Mira tak bisa ia abaikan. Yasmin menemukan gadis itu terlelap, tenggelam dalam tidurnya yang tenang. Yasmin ragu membangunkannya, takut mengusik ketenangan yang jelas masih dibutuhkan Mira. Akhirnya, ia memilih keluar diam-diam, meninggalkan kamar itu, lalu kembali ke ruang makan tanpa Mira. Keluarga yang sudah menantikan kehadiran Mira menoleh ketika terdengar langkah Yasmin kembali. Sebuah rasa penasaran dan sedikit kekhawatiran tergambar jelas di wajah mereka. "Di mana Mira? Kenapa dia tidak ikut?" tanya Damien, suaranya hangat namun menyiratkan cemas yang tulus, menunggu jawaban yang mungkin tak mudah diberikan Yasmin. "Maaf, Tuan. Nyonya Mira sedang tidur, jadi aku enggan untuk membangunkannya," jawab Yasmin, menundukkan kepala dengan sopan. "Baiklah, kamu boleh pergi," perintah Gavin singkat, nada suaranya tegas namun tenang. Yasmin mengangguk patuh, lalu perlahan melangkah meninggalkan ruangan, meninggalkan keheningan di belakangnya. "Tidak biasanya Mira tidur di jam begini," seru Gavin, nada suaranya penuh keheranan, seakan ia hafal setiap kebiasaan adik perempuannya itu. "Kamu benar, Nak," jawab Merlin sambil menatap ke arah lantai atas, tempat Mira terlelap. "Itu baik untuk kesehatannya. Apalagi sekarang, semakin dekat dengan hari pernikahannya. Mira benar-benar membutuhkan istirahat yang cukup." Merlin menambahkan ucapannya sambil menyuap steak ke mulutnya. Setiap kalimatnya terasa hangat, penuh kepedulian yang tak perlu disembunyikan. "Mira, akan menikah?" suara Jack terdengar serak, tangannya mengepal tanpa sadar. Kejutan membekap d4danya seolah seluruh dunia yang selama ini ia kenal tiba-tiba berubah arah. "Iya, Nak… Mira akan menikah," jawab Merlin, senyum lembut terukir di wajahnya, meski matanya menyiratkan sedikit kepedulian. "Dan mungkin… sekitar dua atau tiga minggu lagi." Merlin menoleh pada Gavin, nada suaranya berubah sedikit serius. "Gavin, apa kamu belum memberitahukan hal ini pada Jack,?" Tanya Merlin. "Jack… maafkan aku," ucap Gavin. Senyum tipis dan enggan tersungging di wajahnya. "Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk, sampai tak sempat memberitahumu soal pernikahan Mira. Lagipula… sekarang kau sudah di sini, jadi aku bisa menyampaikannya secara langsung." Jack terdiam. Ia tak percaya bahwa kebenaran sebesar ini baru ia dengar sekarang. Gavin sahabat sekaligus kakak laki-laki Mira tak pernah menyinggung hal itu kepadanya. Bahkan Merlin, ibu tirinya, pun memilih diam. Tak satu pun informasi sampai ke telinganya selama ia berada di Amerika. Luk4 itu m3n*suk lebih dalam daripada yang bisa ia ungkapkan. Jack merasakan jarak yang tak pernah ia sadari, sebuah pengkhianatan lembut dari kesunyian dan kata-kata yang tak pernah diucapkan dan kini, rahasia itu memukulnya tanpa ampun, meninggalkan rasa sak!t yang terselip di antara rindu dan penyesalan. Sebuah panas aneh merayap di dadanya, campuran antara cemburu dan resah yang tak bisa ia kendalikan. Setiap detik yang berlalu, bayangan Mira bersama pria lain menus*k pikirannya gambar yang belum pernah ia bayangkan harus ada. Tangannya masih mengepal, rahang mengeras, dan matanya menatap kosong seolah berusaha menyingkirkan rasa sakit yang tak ingin ia akui. Bagian dalam dirinya memberontak rasa ingin melindungi, rasa ingin hadir di setiap sisi hidup Mira, kini berubah menjadi rasa iri yang men*suk. Hati Jack bergolak antara rindu yang tak tersampaikan dan rasa cemas yang menggerogoti. Ia sadar, perasaannya pada Mira lebih dalam dari yang pernah ia duga, dan kenyataan bahwa Mira akan menikah kini menimbulkan kekosongan yang tajam, menyisakan resah yang tak mudah diusir, seperti luk4 lama yang tiba-tiba dibuka kembali. Raut wajah Jack berubah seketika selera makannya pun ikut memudar, dan setiap suapan terasa tak lagi berarti. "Nak, kenapa makanannya belum disentuh?" tanya Merlin, wajahnya dipenuhi kekhawatiran pada anak tirinya itu. "Aku sedang tidak berselera, Nona Merlin" jawab Jack, suaranya datar, hampir tanpa emosi. Dengan tenang, ia bangkit dari meja makan. "Sebaiknya aku beristirahat saja di kamarku," tambahnya, tatapannya tetap dingin dan tak terpaut pada siapapun, meninggalkan semua yang ada di sekitarnya dalam kebingungan dan rasa waswas. "Tadi dia bilang sangat lapar… tapi sekarang malah tidak," protes Merlin, raut wajahnya memperlihatkan rasa aneh dan khawatir terhadap perubahan sikap Jack. Robert menepuk lengan istrinya pelan, mencoba menenangkan wanita itu. "Sudahlah, Sayang. Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya. Jack sudah dewasa. Jika memang lapar, dia pasti akan makan sendiri." Kata-kata Robert terdengar ringan, namun penuh pengertian, seolah ingin meredam kekhawatiran yang tumbuh di hati Merlin tanpa menyinggung perasaan Jack. "Baiklah, suamiku," jawab Merlin, napasnya sedikit lebih tenang. "Lebih baik sekarang kita makan, dan menikmati makan malam ini. Sudah lama sekali kita tidak menikmati momen hangat seperti ini," ucap Robert seraya tersenyum pada Damien, Gavin, dan istrinya. Damien mengangguk setuju menanggapi ucapan Robert. Mereka pun melanjutkan makan malam. Suasananya hangat, namun terasa sunyi oleh ketidakhadiran dua sosok yang kini menyimpan kenangan indah sekaligus kelam di antara mereka kenangan yang dulu tersembunyi sebagai rahasia, kini menempati ruang hati yang sulit dilupakan. ** Pagi masih terlalu dini. Rumah itu sunyi, seolah semua penghuninya masih terlelap di kamar masing-masing. Namun, rasa lapar mulai mengusik Mira, membuatnya tak bisa kembali memejamkan mata. "Sepertinya aku harus makan dulu… baru bisa tidur lagi," gumamnya pelan. Ia pun bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke dapur dengan hati-hati, menikmati pagi yang masih tenang sambil mencari sesuatu untuk mengisi perutnya. Gadis itu mengolesi mentega tipis di atas roti, lalu memasukkannya ke dalam pemanggang. Sambil menunggu, Mira mulai meng!ris sayuran untuk roti panggangnya, menikmati ketenangan pagi yang jarang ia dapatkan. Hingga tanpa peringatan, rasa tenang itu runtuh. Mira merasakan sesuatu seperti ada sepasang mata yang mengawasinya. Tangannya seketika melambat, lalu berhenti. Ia menoleh ke arah kursi. Jack. Pria itu duduk diam di kursi dapur, menatapnya dengan sorot mata yang hangat, namun entah mengapa tatapan pria itu justru membuat d4da Mira menegang. Seolah ia telah lama berada di sana, tanpa suara, menyerap setiap geraknya. Mira menelan ludah, jantungnya berdetak tak beraturan, sementara udara di dapur mendadak terasa lebih sempit. "J- jack…" Nama itu terlepas dari bibir Mira, seperti bisikan halus dan lembut yang entah mengapa terdengar begitu merdu bagi pria itu. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Mira, suaranya bergetar tipis, gugup di hadapan Jack yang tiba-tiba muncul di dapurnya. Tangannya tiba-tiba menahan roti panggang di atas talenan, jari-jari gemetar sedikit. Ia menggeser pandangan, mencoba menenangkan diri, tapi matanya tak lepas dari sosok Jack. Jack tersenyum, senyum tipis penuh arti, seolah memaksa waktu berhenti sejenak. Tatapannya membuat Mira bingung jantungnya berdetak lebih cepat daripada yang ia sadari. Tangan Mira menekuk tepian roti, hampir meneteskan mentega yang tadi ia oleskan tanda kecil kegugupannya yang tak bisa ia sembunyikan. "Aku juga ingin roti panggang buatanmu," ucap Jack akhirnya, suaranya tenang dan santai, namun sarat makna. Wajahnya damai, seolah benar-benar mencoba menikmati momen kecil yang terasa begitu penting dekat, tapi juga canggung bagi keduanya. Mata Mira membulat sempurna, tercengang mendengar permintaan Jack. "A… aku? Maksudmu… kamu ingin aku yang membuatkan?" Suaranya kecil, bergetar, bingung, tapi terselip rasa malu. Jack menatapnya santai, senyum tipis muncul di bibirnya. "Lalu siapa lagi? Hanya ada kita berdua di sini. Tidak mungkin aku minta tolong pada orang lain." Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi seketika membuat udara di sekitar mereka hangat penuh ketegangan manis yang canggung, namun begitu dekat, seakan momen kecil ini hanya milik mereka berdua. "Baiklah… akan kubuatkan, untukmu." ucap Mira, suaranya kecil, bergetar tipis antara gugup dan lega. Tanpa banyak protes, ia segera menyiapkan roti panggang untuk Jack. Tangannya bergerak pelan, penuh perhatian, menaruh potongan roti ke dalam mesin pemanggang. Sesekali matanya mencuri pandang ke arah Jack, yang duduk diam sambil menatap setiap gerakannya tenang, tapi seakan setiap gerakan Mira memiliki arti khusus baginya. Mira tetap terlihat tenang, seolah tidak melihat keberadaan Jack di sana. Dengan cara itu, ia berusaha menenangkan diri, tidak ingin menunjukkan sisi dirinya yang bisa menimbulkan kesalahpahaman apalagi, hitungan minggu ia akan segera menikah dengan pria pilihan ayahnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD