16. WAKTU BERLALU TANPA MENUNGGU

1653 Words
*** Setibanya di ruang tamu, langkah Mira seketika terhenti. Ia terpaku, seolah waktu berbalik arah. Di hadapannya berdiri pria yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam ingatan. Senyum itu… tatapan itu… Jack. Tak ada yang berubah. Mata biru miliknya masih memandang dengan cara yang sama, seakan delapan tahun berlalu hanyalah jeda singkat. Pertemuan itu menghantam Mira tanpa aba-aba, menyeretnya kembali pada kenangan yang terkubur dalam-dalam pada malam kel4m delapan tahun silam, pada luk4 yang belum sepenuhnya sembuh. Mira menjabat tangan Robert lebih dulu. "Kamu sudah tumbuh dewasa, Nak. Bahkan semakin cantik," ucap pria paruh baya itu dengan senyum lembut, seraya mengelus kepala gadis yang di matanya seolah tak pernah benar-benar bertambah usia. Setelah melepaskan jabatannya dengan Robert, Mira berbalik. Namun langkahnya tertahan. Tatapannya bertemu dengan seorang pria yang sejak tadi membisu, matanya tak pernah beranjak darinya. Ada canggung yang menggantung di udara, ada rindu dan jarak yang saling bert4br4kan dalam diam. "Mira?" Gadis itu terdiam lama, tenggel4m dalam lamunannya sendiri. Hingga akhirnya, untuk ketiga kalinya suara Jack memanggil namanya, barulah Mira tersentak kembali ke kenyataan. "H-huh?! a-aku…" Napasnya tercekat saat menyadari tangan kanan Jack telah terulur sejak tadi, menunggunya dalam kesabaran yang nyaris tak bersuara. "Maaf..." ucap Mira akhirnya. Suaranya bergetar tipis, gugup bercampur rasa yang tak pernah benar-benar pergi. Jack tersenyum samar. Bukan senyum lebar, melainkan senyum kecil yang penuh kesabaran, seolah ia telah menunggu momen itu lebih lama dari yang Mira bayangkan. "Tidak apa-apa," jawab Jack pelan. Ada kehangatan yang terselip di suaranya ketika ia mencubit lembut hidung mancung Mira sebuah gestur kecil yang sarat rindu dan gemas, yang tak pernah benar-benar pudar. "Lama tidak bertemu. Apa kabar?" tanya Jack lembut, seolah tak ingin merusak suasana. "Kamu sudah tumbuh dewasa sekarang." Lanjutnya lirih. Mata birunya memandang Mira dengan kekaguman yang jujur, seakan waktu boleh saja berlalu, namun perasaannya memilih untuk tetap tinggal. Mira mengangguk kecil, senyum tipis terbit di bibirnya. "Aku baik," hanya itu balasan Mira, tapi nadanya tenang. Jack tersenyum. Bisa mendengar suara itu saja sudah cukup membuat d4danya menghangat, meski canggung dan jarak masih terasa di antara mereka. "Aku rasa banyak yang telah berubah… tapi aku senang kita bisa kembali bertemu." "Tentu saja, Jack. Kamu pergi terlalu lama," ujar Gavin akhirnya. Suaranya tenang, namun mengandung beban waktu. Ia telah duduk di sofa sejak tadi, menyaksikan pertemuan itu dalam diam. "Delapan tahun," lanjutnya pelan. "Saat itu Mira masih delapan belas tahun masih gadis sekolah yang setiap pagi dan sore kamu antar jemput." Kalimat itu menggantung di udara, membawa serta kenangan lama yang tak pernah benar-benar hilang, hanya tertimbun oleh jarak dan waktu. Jack mengalihkan pandangannya dari Mira ke arah Gavin. Senyumnya masih terjaga, namun tak lagi sepenuhnya ringan. "Waktu memang suka berlari tanpa menunggu siapa pun," ujarnya tenang. "Tapi beberapa hal… tetap tinggal, meski kita mencoba pergi." Tatapan itu bertahan lebih lama dari yang seharusnya, seolah menyampaikan sesuatu yang tak perlu diucapkan. Gavin membalasnya tanpa bangkit dari duduknya. "Dan ada juga yang memilih bertahan," katanya singkat. Nada suaranya datar, tapi maknanya tak sesederhana itu. Di antara mereka, udara terasa lebih berat. Kata-kata Gavin jatuh satu per satu, dan Mira merasakannya seperti gema yang memantul di ruang hatinya. Delapan tahun angka itu terdengar begitu jauh, namun kenangannya justru terasa dekat, terlalu dekat. Delapan belas tahun. Usia di mana ia masih belajar mengenal dunia, di mana setiap pagi dan sore ada sosok Jack yang menunggunya, memastikan ia pulang dengan selamat. Kini, berdiri di hadapannya, Mira sadar waktu memang telah membawa mereka ke arah yang berbeda, namun perasaannya tak sepenuhnya ikut pergi. Ada rindu yang tertahan, ada luk4 yang belum sepenuhnya sembuh, dan ada bagian kecil dalam dirinya yang masih mengenali pria itu seperti dulu, tanpa perlu banyak kata. Jack tersenyum tipis saat ingatan itu kembali menghampirinya. Senyum yang tenang, namun sarat kenangan yang tak pernah benar-benar pudar. "Hm… aku masih mengingat semuanya," ucapnya lirih. Tatapannya tetap terpaku pada Mira, seolah dunia di sekeliling mereka meredup dan hanya menyisakan sosoknya di hadapan. Sementara itu, Mira menelan perlahan. Kata-kata kedua pria itu terasa berat di dadanya, membangkitkan perasaan yang selama ini berusaha ia pendam. Napasnya yang menjadi tak teratur, ditarik dengan susah payah, seakan masa lalu dan masa kini bert4br4kan di satu titik yang sama. Jack kemudian mengambil posisi duduk di sisi Gavin, sementara Mira masih berdiri di tempatnya, di hadapan keluarganya dan dua tamu yang baru saja tiba. Entah mengapa, pemandangan itu justru membuat d4d4 Mira terasa tak tenang, seolah ada kegelisahan samar yang merayap perlahan. Namun tidak ada yang memahaminya selain ia sendiri. Mira memilih menjauh. Tanpa banyak kata, ia melangkah pelan, berniat kembali ke kamarnya untuk mencari jarak dari suasana yang tiba-tiba terasa terlalu penuh oleh kenangan. "Mira, ke mana kau akan pergi?" suara Gavin menyusul, menahan langkahnya. Nada suaranya dipenuhi tanya, seolah ia menangkap sesuatu yang tak diucapkan adiknya. "Aku akan kembali ke kamarku sebentar," ucap Mira, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. "Kanvas-ku masih tertinggal di beranda. Aku ingin menyimpannya dulu." Alasan itu terdengar cukup logis terlalu logis, seolah ia membutuhkan pembenaran untuk menjauh dari ruangan itu. "Baiklah," jawab Gavin setelah jeda singkat. "Tiga jam lagi jangan lupa turun. Kita makan malam bersama." Mira hanya mengangguk kecil. Tak ada kata tambahan, tak ada tatapan yang berani ia pertahankan lebih lama. Ia paham betul ucapan kakaknya, dan ia tahu kepergiannya barusan meninggalkan keheningan canggung yang perlahan mengisi ruang tamu. Langkah Mira menjauh, dan Jack mengikutinya dengan tatapan yang tak ia sadari terlalu lama tertahan. Mata birunya menelusuri punggung itu hingga menghilang di balik tangga, seolah ada bagian dari dirinya yang ikut pergi bersama langkah Mira. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Namun di balik ketenangan wajahnya, ada sesuatu yang bergejolak rindu yang terpendam, penyesalan yang terlambat, dan perasaan yang seharusnya telah usai, namun nyatanya masih bernapas. Ketika sosok Mira benar-benar menghilang, Jack menarik napas perlahan. Tatapannya beralih ke arah lain, namun pikirannya tertinggal di sana pada gadis yang dulu ia tinggalkan, dan kini kembali ia temui dengan jarak yang tak lagi sama. ** Di dalam kamarnya, Mira menggenggam d4d4nya yang berdegup begitu kencang, seolah jantungnya berusaha mengejar napas yang tertinggal. "Huh… huh…" Udara keluar masuk dari paru-parunya satu per satu, berat dan tergesa, seperti seseorang yang baru saja menuntaskan lari panjang. Ia memejamkan mata, perlahan mengatur pernapasannya. Detik demi detik berlalu, hingga denyut itu mulai mereda. D4d4nya tak lagi sesak, dan akhirnya Mira bisa bernapas dengan tenang meski hatinya masih belum sepenuhnya diam. Mira menyandarkan tubuhnya di sisi tempat tidur, lalu mengalihkan pandang ke luar jendela. Langit sore di hadapannya perlahan memudar, warna jingga satu per satu ditelan malam yang datang tanpa permisi. Ia kembali memejamkan mata, mencoba menyatu dengan dirinya sendiri. Dalam hening itu, keputusasaan tampak jelas rapuh, dan tak lagi tersembunyi. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" bisiknya lirih. "Kumohon, jangan biarkan perasaan lama ini menetap di hatiku. Aku mohon…" Doa itu meluncur pelan, sarat harap, seolah ia menggantungkan seluruh sisa kekuatannya pada langit yang kian gelap. Gadis itu kembali bangkit. Langkahnya perlahan mengarah ke kanvas yang tergantung di tempok kamarnya. Jemarinya terangkat ragu, menyentuh permukaan putih yang dipenuhi warna-warna yang ia torehkan dengan perasaan yang tak pernah benar-benar ia ucapkan. Ia menatapnya lama. Setiap guratan seolah menyimpan potongan masa lalu tawa yang pernah tulus, rindu yang tertahan, dan luk4 yang perlahan ia ubah menjadi seni. Di balik lapisan cat itu, Mira melihat dirinya yang dulu gadis delapan belas tahun dengan harapan rapuh dan hati yang mudah percaya. D4d4nya kembali terasa hangat dan perih dalam waktu yang bersamaan. Kanvas itu bukan sekadar lukisan ia adalah saksi bisu dari perasaan yang tak pernah sepenuhnya pergi… ** Sementara itu, di dalam ruang kerja pribadi sang Pemimpin Fercgrey yang selalu bernuansa gelap, Matteo masih tenggelam dalam kesibukannya. Kedua tangannya menari cepat di atas keyboard, ritmenya teratur, seolah mencerminkan kendali penuh yang selalu ia miliki. Tatapannya dingin, tak mudah teralihkan. Namun ketenangan itu retak. Fokusnya mendadak goyah ketika ingatannya terseret pada tatapan kosong Mira saat itu. tatapan yang sempat ia lihat sebelum menyerahkan gadis itu pada sopir pribadinya. Matteo menghentikan gerakan tangannya. Ia mengangkat kedua tangan, menekan pelipisnya kuat-kuat, seakan ingin mengusir bayangan yang tak seharusnya hadir di pikirannya. Ia mencoba kembali pada pekerjaannya, memaksa diri mengalihkan pikiran dari gadis itu. Namun semakin ia menepis, semakin jelas sosok Mira terpatri diam, namun mengusik ketenangan yang selama ini ia bangun dengan sempurna. "Mengapa aku memikirkannya?" Matteo menatap layar di hadapannya tanpa benar-benar melihat apa pun. Angka-angka dan laporan itu tetap ada, namun pikirannya melayang jauh dari ruang kerja gelap yang selama ini menjadi bentengnya. Tatapan kosong Mira kembali menyelinap tenang, namun menyimpan sesuatu yang tak sempat ia pahami. Bukan tatapan menuntut, bukan pula menyalahkan. Justru itulah yang mengusiknya. "Seharusnya aku tak peduli." Ia menarik napas dalam, rahangnya mengeras. Selama ini, perasaan hanyalah gangguan. Keterikatan adalah kelemahan. Dan ia telah lama belajar untuk menyingkirkan keduanya. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Matteo menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa asing. mengabaikan Mira ternyata tidak semudah yang ia kira. Ia menutup mata sesaat. "Fokuslah," perintahnya pada diri sendiri. "Dia bukan bagian dari duniamu." Tapi jauh di lubuk hatinya, ada suara kecil yang mulai berani bertanya. "benarkah demikian?" Langkahnya bergerak perlahan, menembus cahaya lampu kota yang memantul di deretan gedung pencakar langit indah, namun terasa dingin, seperti dunia yang telah lama ia kuasai tanpa benar-benar ia rasakan. Di balik tatapan tajam dan wajah datar yang nyaris tak pernah berubah itu, tersimpan sesuatu yang tak mampu ia jelaskan, bahkan pada dirinya sendiri. Langkah Matteo diiringi para pengawal elit yang selalu siaga di sisinya, formasi mereka rapi dan senyap. Di depan pintu utama, mobil mewahnya telah menunggu, mesin masih hidup, seolah tak pernah dibiarkan menua. Seorang pengawal segera membukakan pintu. Tanpa sepatah kata, Matteo masuk ke dalam. Kali ini, ia menyerahkan kemudi pada sopir pribadinya sebuah keputusan langka yang menandakan kelelahan yang tak ingin ia akui. Matteo menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang, menutup mata sesaat. Di balik kenyamanan itu, ketenangan justru terasa semu. Malam berjalan pelan, dan sang pemimpin kembali melaju dingin, berkuasa, namun tak sepenuhnya kosong. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD