15. TAMU SPESIAL

1475 Words
Sementara di sebuah gedung pencakar langit, Matteo mulai menarik senj4ta 4pi dari balik jas hitamnya. Tatapannya taj4m, dingin, dan penuh perhitungan. Lampu-lampu kota berkilau di balik kaca besar, kontras dengan ketegangan yang menggantung di udara lantai itu. Langkah kakinya nyaris tak bersuara saat ia bergerak menyusuri koridor sempit. Setiap detik terasa begitu panjang. Suara napas musuh yang tersembunyi di balik pilar beton samar terdengar, disertai dentingan pel*ru yang telah terisi penuh di magasin senj4t4 Matteo. Matteo memberi isyarat singkat dengan dua jarinya. Dari balik lorong lain, David muncul, senj4ta terangkat sejajar dengan d**a. Wajahnya tegang, namun matanya fokus dan waspada. "Area timur aman," bisik David melalui alat komunikasi di telinganya. Belum sempat Matteo menjawab, langkah kaki berat terdengar dari arah tangga darurat. Dalam sekejap, empat pengawal elit lainnya bergerak serempak, membentuk formasi setengah lingkaran. Mereka adalah tim yang sudah terlatih bertahun-tahun. bergerak tanpa suara, saling memahami tanpa perlu banyak perintah. "Kontak!" seru salah satu pengawal. Rentetan temb4k4n kembali mengguncang lantai gedung. Cahaya moncong senj4ta menyambar-nyambar, memantul di dinding kaca. Matteo dan David saling bertukar posisi dengan cepat, saling melindungi punggung satu sama lain. David melempar granat asap, menutupi pandangan musuh, memberi celah bagi tim untuk bergerak maju. "Sekarang!" perintah Matteo tegas. Tiba-tiba "Dor" Para pengawal menyerbu dari dua sisi. Temb4k4n terarah dilepaskan nyaris bersamaan, memutus perlawanan musuh satu per satu. Jeritan singkat terdengar sebelum tubuh musuh roboh ke lantai. Suara temb4k4n perlahan mereda, berganti dengan keheningan yang menegangkan. Asap menipis. Tubuh-tubuh musuh terlihat tergeletak tak bergerak. David menurunkan senj4t4nya lebih dulu, menghela napas panjang. "Gedung bersih." Matteo mengangguk, sorot matanya tetap waspada. "Pastikan tidak ada yang tersisa. Kita tak boleh lengah." Perintah Matteo. Para pengawal segera menyisir area, memastikan setiap sudut aman. Saat semuanya dinyatakan terkendali, Matteo berdiri di dekat jendela besar, dengan wajahnya yang tetap dingin. menatap kota yang masih berdenyut dengan cahaya malam. Misi itu berhasil. musuh berhasil dilumpuhkan. Namun bagi Matteo, keberhasilan ini bukan akhir. Ia tahu, selama permainan kekuasaan masih berjalan, ia dan timnya akan terus berdiri di garis depan, menghadapi bahaya yang mungkin datang kapan saja. *** Di kediaman Vittale, Sofia terjaga dalam sunyi yang panjang. Jarum jam telah melewati tengah malam, detiknya berdetak pelan namun terasa menghantam d**a. Ia duduk di tepi ranjang, mencoba memejamkan mata, tetapi bayangan putra sulungnya yang tak kunjung pulang terus menghantui pikirannya. Ada rasa cem4s yang sulit dijelaskan, seolah firasat buruk berusaha menyusup di sela-sela doanya. Ia bangkit perlahan, melangkah ke ruang tamu. Lampu sengaja dibiarkan menyala kebiasaan lama yang tak pernah ia tinggalkan. Baginya, cahaya itu adalah tanda, bahwa rumah ini selalu menunggu. Sesekali ia menoleh ke arah pintu, berharap sekaligus takut. "Lindungi putraku." Bisiknya lirih. Penuh doa. Tak lama kemudian, suara pintu terbuka terdengar. Sofia tersentak, lalu berbalik cepat. Di ambang pintu, sosok yang ia tunggu akhirnya muncul lelah, namun utuh. "Mama, belum tidur?" Suara itu terdengar pelan. Sofia segera melangkah maju. Di ambang pintu berdiri putranya. wajahnya lelah, jasnya kusut, dan Sorot matanya belum sepenuhnya kembali tenang. Tanpa bertanya, Sofia memeluknya erat, seolah takut sosok itu akan menghilang jika dilepas. "Selama kau belum pulang, mama memang tidak bisa tidur, nak." ucapnya lembut. Matteo membalas pelukan itu, menunduk hormat, merasakan ketenangan yang tak pernah ia temukan di mana pun selain di rumah. Sofia menghela napas panjang, air mata hangat jatuh tanpa bisa ia cegah. ia menepuk punggung bidang Matteo perlahan, menenangkan entah dirinya sendiri atau anak yang baru saja pulang dari bah4y4 yang tak pernah ia ceritakan. Malam yang tadinya penuh kegelisahan, kini berubah menjadi kehangatan tentang kasih seorang ibu yang tak pernah lelah menunggu. *** Seminggu telah berlalu sejak sepasang calon suami istri itu pergi bersama untuk menjalani janji temu pembuatan gaun pernikahan mereka. Sejak saat itu, keduanya justru kembali larut dalam kesibukan masing-masing. Tak ada upaya, bahkan sekadar niat, untuk menyisihkan waktu demi saling mendekat seolah jarak di antara mereka justru dibiarkan tumbuh, pelan namun pasti. Meski hari-H kian mendekat, tinggal hitungan minggu, tak ada perubahan berarti yang terjadi. Matteo tetap tenggelam dalam pekerjaannya sepanjang hari, sementara Mira, setelah tak lagi disibukkan oleh urusan luar, hanya diperbolehkan Damien menghabiskan waktu di rumah. Beruntung, kesunyian itu sesekali terpecah oleh kehadiran Issabela sahabat dekatnya, yang menyempatkan diri datang berkunjung, menemani Mira di hari-hari sunyi sebelum ia benar-benar melangkah ke gerbang pernikahan. Kadang-kadang, gadis itu pun tak bisa menghindar dari pikirannya sendiri tentang jarak di antara mereka yang tak kunjung menyusut. Namun selama Mira memahami betapa sibuknya calon suaminya, ia memilih untuk tak menentang jarak itu. Terlebih lagi, sifat kaku Matteo kerap membuat kebersamaan mereka terasa melelahkan, bahkan menyesakkan, hingga Mira lebih sering belajar berdamai dengan jarak daripada memaksakan kedekatan mereka. Di balkon kamar Mira... Dengan menambahkan sedikit sentuhan biru pada kanvasnya, Mira hampir merampungkan lukisan langit biru yang ia ciptakan. Di sisa-sisa upaya menyempurnakan karya itu, ia tersentak sebuah mobil melaju memasuki gerbang rumah. Dari balkon kamarnya, Mira dapat mengamati kendaraan itu dengan jelas, pandangannya tertahan sejenak, seolah langit di atas kanvasnya tiba-tiba berpindah ke dunia nyata. Mobil mewah itu tampak begitu asing baginya, ini adalah kali pertama Mira melihatnya. Konsentrasinya buyar ketika kendaraan itu menepi tepat di teras rumah. Rasa penasaran segera menguasai dirinya, hingga tanpa sadar ia mengintip dari balik pot-pot bunga yang berjajar di beranda kamarnya. Terlalu larut dalam rasa ingin tahu, Mira tak menyadari bahwa kakaknya, Gavin telah berdiri di sampingnya, mengamatinya dengan ekspresi geli. "Matteo datang!" serunya cukup keras. Mira sontak terkejut, tubuhnya refleks menegang saat suara itu datang dari belakang membuyarkan diam dan debar yang sedari tadi ia simpan sendiri. Gadis itu benar-benar kesal pada kakaknya, sampai-sampai menatap Gavin dengan sorot mata sinis. "Kakak! Kau membuatku terkejut!" seru Mira, sementara suasana hatinya sudah porak-poranda. Gavin justru tertawa lepas. "Hahaha… maafkan aku. Tapi serius, apa yang kau lakukan dengan mengintip seperti itu, hm?" tanyanya penasaran, nada jahilnya masih kental, seolah kejutan barusan adalah hiburan sore yang berharga. Mira memilih mengabaikan pertanyaan itu. Ia memalingkan wajah dengan raut kesal yang belum juga reda sebab terkadang, yang membuat hati berantakan bukanlah orang di luar pagar, melainkan saudara sendiri yang terlalu menikmati kegugupanmu. "Kenapa kakak pulang cepat?" tanya Mira sambil melirik setelan jas Gavin yang masih rapi. Sepertinya pria itu baru saja selesai dengan urusan luarnya. "Sengaja," jawab Gavin santai dengan senyum tipis. "Soalnya hari ini kita kedatangan tamu spesial." Nada bicara Gavin yang misterius sukses membuat rasa penasaran Mira memuncak, seolah ada sesuatu yang menunggunya di balik pintu rumah. "Ayo turun," ujar Gavin pelan. "Turun? Memangnya siapa yang datang?" tanya Mira. Rasa ingin tahunya menggantung di udara. "Ikuti saja aku," ujar Gavin sambil tersenyum kecil. Suaranya tenang, seolah ingin menenangkan Mira. Ia sengaja menyimpan nama tamu itu rapat-rapat, membiarkan kejutan kecil menunggu di lantai bawah. "Kakak… jangan bercanda seperti itu," keluh Mira lirih. "Tadi aku hampir saja melihat siapa orang yang kakak maksud." Nada suaranya terdengar pelan dan kecewa, seperti harapan kecil yang sempat tumbuh lalu ditarik kembali dengan halus. "Apakah itu… hm… maksudku..." Mira terdiam sejenak, lalu menarik napas kecil. "Apa pria itu… benar Matteo?" tanyanya pelan. Ia menunduk. Wajahnya memanas, semburat merah menjalar di kedua pipinya, terlalu jelas untuk disembunyikan. "Hahaha… serius?" Gavin tertawa kecil, matanya menyipit penuh godaan. "Kamu langsung kepikiran Matteo?" Mira makin menunduk. "Tenang saja," lanjut Gavin santai. "Aku cuma ingin melihat ekspresimu. Itu bukan Matteo." Ia terkekeh lagi. "Lagipula, sejak kapan dia tiba-tiba muncul ke rumah dengan santai?" Ia tersenyum tipis sebelum melanjutkan, suaranya terdengar yakin. "Dunia pria itu hanya berputar pada pekerjaan dan rutinitas. Jadi, kamu tak perlu berharap. Dia tak akan datang." Kalimat itu terucap sederhana, tanpa emosi berlebih, justru karena itulah terasa nyata. Mira terdiam. Pandangannya meredup, seolah ada sesuatu di d4danya yang runtuh perlahan tanpa suara, tapi meninggalkan sesak. "Aku tahu," ucap Gavin pelan. Suaranya kini jauh lebih hati-hati. "Meski kau tak sepenuhnya menyukai perjodohan ini, pasti ada titik di mana kau ingin dekat dengan pria itu." Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, tatapannya dipenuhi penyesalan. "Aku juga bisa melihat jarak di antara kalian. Maaf… kakak tak seharusnya berkata seperti tadi. Mira, Kakak tidak bermaksud membuatmu sedih," Penyesalan itu terasa nyata. Gavin melangkah mendekat, lalu merengkuh Mira dalam pelukan erat, seolah ingin meredam luk4 kecil yang tanpa sengaja ia ciptakan. "Kakak tidak salah se..." "Sudah," potong Gavin lembut. "Kau tak perlu melanjutkannya. Kakak paham." Ucapan itu cukup menenangkan Mira. Ia pun mengangguk pelan. Dalam pelukan itu, Mira terdiam. Sesaat ia membiarkan dirinya rapuh, lalu perlahan menarik napas panjang, seolah mengumpulkan kembali kepingan perasaannya yang sempat runtuh. Tangannya terangkat, membalas pelukan Gavin dengan ragu, namun cukup kuat. Bukan karena luk4nya telah sembuh, melainkan karena ia memilih berdiri di atas rasa sak!t itu. Mira menutup mata. Ada hal-hal yang memang tak bisa ia harapkan, dan untuk pertama kalinya, ia mencoba menerimanya tanpa memberontak. Akhirnya mereka turun bersama, melangkah menuju tamu yang identitasnya masih menjadi rahasia bagi Mira. *** Siapa ya tamu spesial itu? Eem... jangan-jangan itu beneran Matteo? penasaran sama kelanjutannya? Ikuti terus Api Cemburu dan Cinta!!! ^_^ Thank You, Guys.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD