***
Kini sepasang calon suami istri itu bersiap meninggalkan ruangan. Ada rasa lega di d**a Mira, bercampur harapan akan hari besar yang kian mendekat.
Sementara itu, Matteo tetap dengan ekspresi datarnya. Bagi pria itu, hari tersebut tampak seperti serangkaian kewajiban yang harus diselesaikan tanpa jejak antusiasme, tanpa getar perasaan yang berarti.
Saat mereka tiba di teras butik, Matteo mendadak menghentikan langkahnya. Raut wajahnya tetap datar, sulit ditebak.
"Sopir pribadiku akan mengantarmu pulang," ucapnya singkat.
Ia lalu berjalan menuju sebuah mobil asing yang terparkir tak jauh dari kendaraan hitamnya. Mira terdiam sesaat sebelum mengikuti dari belakang.
Tanpa menatapnya lama, Matteo membukakan pintu mobil asing itu. Sikapnya tetap sopan namun terasa begitu jauh.
"Masuklah," pintanya singkat, tangannya masih menahan pintu mobil tetap terbuka.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada ruang untuk bertanya.
Mira terdiam sejenak sebelum akhirnya melangkah masuk. Matteo tetap berdiri di samping mobil, ekspresinya tak berubah. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan sesuatu yang tak mampu ia pahami atau mungkin tak ingin ia akui.
Setelah menutup pintu dan memastikan Mira duduk dengan aman, Matteo berbalik menuju mobil hitamnya tanpa menoleh lagi.
Di dalam mobil yang mulai bergerak perlahan, Mira masih menatap punggung bidang pria itu. Sosoknya berdiri kaku di samping kendaraan, tampak begitu dekat namun terasa jauh.
Hingga akhirnya jarak memisahkan mereka, dan bayangannya menghilang dari pandangan meninggalkan perasaan asing yang tak mampu ia beri nama.
Di sela-sela waktu berkendara, sopir itu sesekali memperhatikan wajah Mira yang diam melalui kaca spion.
Tatapannya tidak mengandung niat buruk. Ia hanya menjalankan perintah mengawasi setiap gerak-gerik wanita yang kini duduk tenang di kursi belakang mobil.
Mira sendiri menatap lurus ke depan. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya bergejolak. Pikirannya masih tertuju pada pria yang tadi bersamanya. Hatinya kian gelisah memikirkan bagaimana nantinya pernikahan mereka.
Hari ini, tidak bisakah dia peduli sedikit saja pada fitting ini?
Apakah pekerjaannya selalu menjadi prioritas utama pria itu?
Berbagai pertanyaan bercampur rasa marah mulai memenuhi pikirannya, membujam semakin dalam hingga membuat daadanya terasa sesak.
Mira mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Ia menoleh ke arah jendela, menatap jalanan yang terus bergerak menjauh, seolah menggambarkan perasaannya saat ini tertinggal.
Kalau sejak awal, memang tidak menginginkan pernikahan ini, mengapa dia tidak menentang saja pernikahan yang diinginkan keluarganya sendiri? gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Rasanya ia ingin berteriak sekarang juga. Jika boleh jujur, ia sendiri belum siap untuk menikah. Ia masih ingin mengejar kariernya sebagai desainer, membangun nama, dan membuktikan kemampuannya dengan caranya sendiri.
Mira juga masih ingin melakukan hal-hal yang biasa dilakukan anak muda di luar sana bebas berkarya, bepergian ke berbagai tempat, berbelanja tanpa rasa bersalah, dan tertawa tanpa beban.
Namun sebuah keputusan tiba-tiba mengubah nasibnya dan memaksanya untuk menikah dengan Matteo pria asing yang nyaris tidak ia kenal, bahkan pria itu sendiri tampak tak peduli pada pernikahan mereka sendiri.
Mengeluh pun terasa sia-sia. Bahkan ayahnya, satu-satunya orang yang selama ini ia harapkan bisa membela, tak mampu mengubah keputusan itu atau membatalkan perjodohan yang sudah ditetapkan.
Mira menelan ludah, dadanya terasa sesak. Ia bukan takut pada pernikahan, melainkan pada kehidupan yang akan ia jalani setelahnya hidup yang tidak ia pilih akan bersama dengan Matteo. yang nama itu saja terasa asing di lidahnya.
Yang ia kenal dari pria itu hanyalah dingin yang tak pernah mencair, kesibukan yang tak berujung, dan jarak yang sulit ditembus. Tak ada percakapan panjang, tak ada upaya saling mengenal. Pernikahan ini lebih mirip kesepakatan bisnis daripada penyatuan dua hati.
Di kursi penumpang Mira tersenyum kecil sebuah senyuman yang dipaksakan. Namun di baliknya, ada kegelisahan yang tak pernah benar-benar ia ceritakan pada siapa pun. bagi Mira Pernikahan ini terasa seperti titik henti, bukan awal hidupnya.
***
Setelah melewati perjalanan yang terasa begitu panjang, mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan rumahnya.
Gadis itu tersentak dari lamunannya. Ia menarik napas dalam-dalam, sebelum turun ia juga berusaha menata kembali emosinya. Wajahnya kembali datar, menyembunyikan kekacauan yang masih bergemuruh di dalam hatinya.
Tak ingin menunggu lebih lama, Mira segera membuka pintu mobil sebelum sang sopir sempat membukakannya lebih dulu.
"Maaf, Nyonya," ucap sopir itu dengan nada hormat seraya menundukkan kepala, mengira Mira merasa tidak berkenan atas kelalaiannya.
"Pak, mengapa Anda meminta maaf?" tanya Mira dengan suara tenang. "Anda sama sekali tidak melakukan kesalahan."
Mendengar ucapan itu, pria paruh baya tersebut akhirnya memberanikan diri mengangkat kepalanya.
"Saya kira Nyonya sedang tidak berkenan," jawabnya dengan nada sedikit bergetar.
"Tuan akan sangat tidak menyukai jika saya melakukan kesalahan."
Mira sedikit terkatup rapat setelah mendengar penjelasan dari sopir tersebut. Ia tidak menyangka ketakutan sebesar itu bisa muncul hanya dari kekhawatiran akan melakukan kesalahan kecil.
Mira terdiam sejenak. Baru sekarang ia benar-benar menyadari betapa ketatnya aturan yang dibuat Matteo, bahkan bagi orang-orang yang telah lama mengabdi.
Ia menghela napas pelan, lalu menatap sopir itu dengan lembut.
"Saya tidak marah," ucap Mira dengan nada tenang. "Namun, mohon jangan menyamakan saya dengan Tuan Matteo. Barangkali beliau memiliki standar dan cara sendiri dalam menegur bawahannya, tetapi saya tidak demikian."
Ia menatap pria paruh baya itu dengan sorot mata yang lembut namun tegas.
"saya tidak terbiasa memarahi seseorang yang lebih tua dari saya, terlebih jika orang tersebut tidak berbuat kesalahan. Oleh karena itu, ke depannya saya berharap Bapak tidak lagi merasa cemas saat berada di hadapan saya."
Sopir itu terdiam, menyimak setiap kata dengan penuh hormat.
"Dan saya harap Bapak tidak perlu merasa takut hanya karena hal kecil seperti ini."
Ekspresi pria itu tampak sedikit berubah, seolah beban di pundaknya berkurang walau tak sepenuhnya lenyap. Ia kembali menundukkan kepala dengan hormat.
"Baik, Nyonya"
"Untuk saat ini, silakan Bapak beristirahat dan kembali," lanjut Mira. "Berhati-hatilah dalam perjalanan."
Pria paruh baya itu menunduk lebih dalam dari sebelumnya.
"Terima kasih atas pengertian Nyonya," ucapnya tulus, sebelum melangkah pergi, Mira berdiri di tempatnya, menatap kendaraan itu hingga perlahan menghilang di balik gerbang.
D4danya terasa sedikit sesak. bahkan para pelayan saja hidup dalam ketakutan, lalu seperti apa kehidupan pernikahan yang menantinya? ia mengalihkan pandangan ke pintu utama yang kini terbuka setengah. Ini akan selalu menjadi rumah tempatnya pulang dan dari sinilah ia mendapat kehangatan keluarganya kecilnya.
***
Di kediaman Roseti. makan malam tengah berlangsung di ruang makan yang hangat itu Mira duduk bersama keluarga kecilnya, terbiasa tanpa kehadiran sang ibu disana.
Suasana di meja makan tampak akrab. Setiap orang menikmati hidangan dengan tenang, sesekali bercakap ringan dan tertawa kecil. Di balik kesederhanaan momen ini, tersirat rasa hangat yang membuat hati Mira sedikit lega, seolah beban yang menumpuk di hari-harinya dapat terlepas sejenak.
"Bagaimana janji temu hari hari ini, Nak?" tanya Merlin dengan suara lembut.
"Apakah semuanya berjalan lancar? Bibi yakin kamu pasti sudah memilih desain gaun pengantin impianmu," lanjutnya, sambil tersenyum hangat.
Dalam benaknya, Merlin membayangkan keponakannya Mira mengenakan gaun putih nan anggun, seperti yang gadis itu selalu impikan sejak kecil. sebuah gaun pengantin elegan, layaknya yang sering muncul dalam film kartun kesukaannya dulu.
Mira tersenyum tipis, menunduk sambil menyusun kata-kata. "Bibi… aku sudah bukan anak kecil lagi sekarang," ujarnya, sedikit tersipu malu.
Senyum hangat muncul di wajahnya.
"Semuanya berjalan dengan baik, dan seleraku pun sudah berubah, Bibi. Aku kini lebih menyukai gaun yang sederhana.. apalagi pernikahan ini hanya…" ucapnya, lidahnya seakan tersendat, ragu untuk melanjutkan.
"Maksudku… aku kini lebih menyukai gaun yang sederhana," ucap Mira dengan nada tenang. "Sebagai desainer, aku paham betapa tidak nyamannya gaun yang terlalu mewah dan berat bagi pengantin wanita. Jadi, untuk hari pernikahanku, aku memilih yang sederhana."
Di balik kata-katanya yang tenang, Mira menyembunyikan kegelisahan yang muncul saat janji temu tadi bersama Matteo. Ia menahan perasaan itu rapat-rapat, tak ingin menambah kekhawatiran keluarganya terutama sang ayah.
Merlin menatap Mira dengan lembut, seakan memahami maksud di balik senyum tipisnya.
"Itu keputusan yang bijak Nak. Semakin dewasa, tentu selera kita juga berubah. Gaun yang sederhana pun bisa terlihat sangat anggun, apalagi jika dipilih dengan hati. Yang terpenting, kamu merasa nyaman dan bahagia saat memakainya." ucap Bibinya, suaranya hangat dan menenangkan.
"Harapan bibi Semoga pernikahan kalian nanti berjalan lancar hingga hari-H," tambahnya, harap tersirat di balik raut wajahnya yang tenang.
Mira menghela napas, hatinya terasa ringan. Kehadiran Bibi Merlin yang selalu pengertian membuatnya merasa aman, seolah semua kekhawatiran kecil itu bisa ia simpan sendiri tanpa membebani orang-orang yang dicintainya.
Mira mengangkat kepala, menatap mata Bibi-nya, hatinya terasa lega.
"Terima kasih, Bi. Sejak awal aku memang ingin pernikahan ini terasa sederhana, tapi penuh makna… bukan hanya soal penampilan, tapi juga tentang perasaan dan kebahagiaan yang bisa kita rasakan bersama." Ucapnya.
"Ayah pun berharap demikian," sahut Damien, menatap Mira dengan serius namun lembut. "Ayah berharap, melalui perjalanan menuju pernikahan ini, hubunganmu dengan nak Matteo bisa semakin erat dan harmonis."
Ia menekankan kata-katanya, tangannya mengepal di atas meja seolah menegaskan ketulusan harapannya.
Mira tersenyum, hatinya hangat oleh perhatian kedua orang yang ia hormati. Ia mengangguk pelan, seolah menyetujui setiap ucapan ayah dan bibinya.
Namun, di balik lengkung bibir itu, hatinya justru bergejolak bertentangan dengan semua harapan yang mereka gantungkan padanya.
Ia memilih diam, menelan segala kegundahan sendirian, sebab tak ingin merusak suasana hangat yang tercipta di antara mereka.
***