Keesokan harinya, cahaya matahari jatuh lembut menembus kaca jendela tinggi, membelai lantai marmer dengan kehangatan yang nyaris tak terasa. Dari balik tirai tipis, Mira memandangi langit biru yang terhampar luas tenang, bersih, seolah tak pernah mengenal luka. Ruangan itu sunyi. Hanya sesekali suara burung melintas, ringan, hampir seperti bisikan. Namun anehnya, Mira tidak merasa sendiri. Dalam diam seperti ini, hatinya justru menemukan sesuatu yang lama hilang ketenangan yang tidak dipaksakan. Pintu terbuka perlahan. Mira menoleh. Thomas masuk dengan langkah tenang, seperti biasa tak pernah tergesa, tak pernah berisik. Senyum hangatnya terukir lembut, membawa rasa akrab yang tak perlu dijelaskan. Senyum kecil muncul di bibir Mira. Sejenak, kesunyian itu berubah menjadi kehangat

