butuh perjuangan

1057 Words
Radit melihat ke arah Hani. pria itu mendekat ke arah fira, melewati Hani dan nenek yang masih bingung. Radit mengambil tangan fira, menggenggam nya. "dia.dia ISTRIKU, Anda siapa?," ucapnya ringan. tiba tiba tangan fira mendarat di pelipisnya. "aduh, sayang, kok aku di jitak si?," Radit meringis. Hani dan nenek, mereka tertawa melihat seorang pria tampan, dan sedikit sombong, ternyata Takut hanya dengan pukulan kecil fira. tiba tiba Hani kembali fokus,dan apa tadi ,istriku. "tunggu tuan, Anda tadi bilang, dia istri Anda? lalu kenapa Anda tidak mengenal kami?," ucap Hani sambil berkacak pinggang. Radit kembali melihat wajah fira, berharap wanita itu dapat membantu dirinya, namun, tidak, fira justru memalingkan wajahnya. "sayang, jelasin ke mereka, siapa aku," rengek Radit. "apa yang harus saya jelaskan, tuan, sedangkan saya sendiri tidak tahu siapa tuan bahkan nama tuan, kita bertemu hanya sekali, itupun sebuah kesalahan." mendengar perkataan fira, Radit menjadi semakin bingung, benar semua yang fira katakan, dia saja tau nama fira karena melihat cctv dan mencari banyak informasi, dari berbagai sumber. "ehem. saya adalah ayah, dari anak itu," ucapnya kemudian sambil menunjuk bayi yang sedang tertidur di dalam gendongan fira. melihat fira yang masih menggendong anaknya, Radit segera mengambil alih. "nenek, maaf, terlalu lama untuk saya bisa menemukan fira, saya sudah membayar banyak orang untuk mencarinya, tetap saja tidak ketemu," pria itu berkata, sambil menatap sendu wajah wanita senja itu. " sudahlah semua sudah terjadi, tapi, bisakah Anda meninggalkan kami tuan?," ucap nenek membuat Radit membulatkan matanya. sedangkan Hani dan fira sama terkejut, mata mereka saling beradu."nek," ucap fira kemudian. "sst, kamu diem" sela nenek. lalu pandangannya kembali menatap wajah Radit. "kamu, selesaikan dulu urusan kamu, dengan wanita yang tadi kamu bawa.kalau sudah tidak ada urusan barulah kamu datang lagi" " tapi nek, itu anaku, bagaimana kalau saya ingin bertemu," Radit keberatan, pasalnya Sherli tidak akan mudah lepas dari dirinya. "fira," Radit kembali memelas di depan fira. " bener apa yang nenek katakan, sebaiknya tuan selesaikan masalah Anda terlebih dahulu, sebelum Anda mendekati kami, nenek hanya takut akan ada salah faham nantinya" "tapi fir." ucapan Radit terhenti, saat melihat fira membuang pandangannya ke arah lain, pria itu mengacak-acak rambutnya. "ok, aku pergi, tolong jaga anak kita, namanya,Alia.Alia Raditya Dika.ingat, jangan pernah kamu ganti, aku bakalan cepat kembali buat hidup bersama kalian," Radit mendekat ke arah fira, mencium kening wanita itu. fira menjadi tidak nyaman dengan perlakuan Radit, apalagi di sana ada Hani dan nenek. setelahnya pria itu memandang bayi yang sudah tertidur di dalam boks bayi, Sama seperti tadi Radit pun menciumi bayi mungil itu. "aku pamit nek, aku nitip mereka, maaf, sekali lagi merepotkan." setelah mengatakan itu Radit pergi sambil menganggukkan kepalanya pada Hani. fira sudah tidak lagi bisa menahan air matanya, saat melihat pintu tertutup, wanita itu menangis tergugu, Hani segera mendekat, memberikan pelukan yang menenangkan. di luar Radit berjalan menuju kamar,di mana dia meninggal kan Sherli di rumah sakit ini. perlahan pria itu membuka pintu kamar itu, lalu pandangannya tertuju pada Sherli yang masih tertidur di brankar rumah sakit. sherli membuka matanya,ketika mendengar langkah kaki mendekati ranjang nya. "sayang, kamu dari mana aja sih, aku nungguin kamu dari tadi tau," ucap Sherli manja. "aku tadi ada keperluan, bagaimana kaki kamu, udah baikan?," tanyanya kembali. "kata dokter nggak papa, besok udah bisa pulang," ucapnya. "oh, baiklah, kamu istirahat dulu aku mau kelur sebentar," Radit berdiri hendak pergi. "nanti kalau balik beliin aku jus ya," Radit mengangguk sambil berlalu. Radit kembali ke hotel, dia ingin menghubungi asisten nya, dia ingin mencari kebenaran tentang dirinya dan Sherli. sesampainya di hotel, Radit menuju ke kamar mandi, dia ingin membersihkan tubuhnya sebelum menghubungi Tio. setelah kurang dari tiga puluh menit, Radit sudah keluar, dan segera Menganti bajunya. Radit menganbil benda pipih, dan mencari nama asistennya, dan panggilan tersambung. "halo Tio, saya mau kamu selidik lagi, apa yang terjadi antara aku dan Sherli," ucapnya tanpa semangat. "ya Bos, ada apa, kenapa Anda tiba-tiba mau cari bukti sekarang, bukankah Anda bilang ada waktunya?," Tio sedikit bingung dengan Bos nya. "ini sudah waktunya,aku sudah bertemu fira, dan anak kami" di sebrang sana, Tio membulatkan matanya. "berati Anda benar-benar punya anak Bos, benar, ada Radit junior?," Tio sangat bersemangat berbanding terbalik dengan Bos nya. "fira Junio bukan Radit junior," ucap Radit. "apapun itu, aku ikut bahagia bos, akan aku selesaikan masalah Sherli Bos" " bagus, kalau bisa secepatnya" " baik Bos," setelah mengatakan itu Radit memutuskan sambungan telepon, pria itu mendengar perutnya berbunyi, dia baru menyadari ternyata dari tadi pagi dia belum makan sama sekali. Radit mengambil telepon yang tersedia di dalam hotel, pria itu memilih memesan makanan nya, entah mengapa dia tidak bersemangat, padahal dia baru bertemu dengan fira dan bayinya. Radit kembali ke rumah sakit dia tidak hanya membawa jus pesanan Sherli, namun juga banyak makanan untuk, fira, Hani dan nenek. sesampainya di rumah sakit Radit langsung menuju ke kamar fira, dia sudah sangat merindukan anaknya, dia tidak perduli bila nanti akan mendapatkan penolakan dari nenek Safira. perlahan tangannya membuka pintu, pemandangan pertama yang dia lihat adalah, Safira yang sedang memangku buah hatinya, tanganya sambil menepuk-nepuk tubuh mungil itu. melihat pintu terbuka, fira segera melihat siapa yang datang, wanita itu terkejut, bukankah tadi dia sudah bilang, kalau dia akan pergi seperti keinginan nenek. pandangannya mereka berdua, lalu fira membuang pandangannya ke arah lain. Hani sedang mengantar nenek untuk pulang, wanita senja itu terlihat begitu lelah, jadi fira melarangnya untuk menungguinya di rumah sakit. "kenapa sepi,?" tanya Radit. fira kembali menatap wajah tampan itu. "Hani mengantarkan nenek pulang," ucapnya Sangat pelan. mendengar itu, Radit menarik sudut bibirnya, dia akhirnya bisa dekat dengan anaknya tanpa harus ada yang melarang. "kalau begitu, katakan pada Hani, untuk kembali besok, malam ini aku yang akan menjaga kalian," Radit berkata begitu ringan seakan semuanya baik baik saja. sedang fira, mata wanita itu menatap tajam ke arah Radit,dan di balas sebuah senyuman yang tidak bisa di pungkiri begitu manis. bila saja bukan situasi yang sulit dan mereka adalah pasangan kekasih, ingin sekali fira di pelukan oleh pria di depannya itu. " berikan ponsel mu, biar aku yang bicara," ucapnya lagi. fira tidak menjawab namun matanya mengarah pada ponsel yang tergeletak di atas meja naskah. Radit mengikuti arah pandang fira, lalu berjalan menuju di mana ponsel itu berada. setelah membuka ponsel milik fira, dan menemukan kontak bernama Hani, Radit segera menekan tombol memangil. panggilan tersambung dan suara di seberang sana pun sudah terdengar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD