Radit segera pergi ke ruang pemeriksaan, setelah itu dia meninggal kan Sherli yang sedang di periksa oleh dokter.
dia juga sudah menitipkan Sherli,pada salah satu perawat yang ada di sana.
kini pria itu segera menuju tempat di mana tadi dirinya melihat fira, gadis itu berjalan sambil meringis.
sampai di sana, ternyata fira sudah tidak ada, tak habis akal dia mendekati ruangan bersalin dan menghampiri salah satu perawat.
"permisi suster, boleh saya ikut bertanya?"
"ya, ada yang bisa saya bantu tuan?"
" begini suster,istri saya akan melahirkan di rumah sakit ini, namun saya datang terlambat, apakah suster bisa menunjukan di mana tempatnya, saya sangat ingin menemaninya di saat dia sedang berjuang sus"
"oh tentu saja tuan, siapa nama istri Anda?"
"Ana Safira.ya Ana Safira" jawab Radit, dia sedang mencoba membuat perawat itu percaya.
"oh,, silahkan tuan ikut saya"
Radit pun mengikuti langkah perawat itu sambil bernafas lega.
"silahkan tuan" perawat mempersilahkan Radit masuk ke dalam ruangan fira. merasa pintu terbuka, fira yang sedang berbaring menoleh ke arah pintu yang terbuka, betapa terkejutnya dia melihat siapa yang masuk.
seakan dunia berhenti berputar, tatapan mereka saling beradu, menyimpan rindu yang begitu dalam.
perlahan Radit mendekat ke arah fira, beruntung tidak ada orang, nenek sedang ke kantin, sedang Hani menerima panggilan dari pegawainya.
"tu,, tuan"ucap fira terbata.
"ya ini aku.kenapa kamu berani membawa pergi anaku?" ucapnya dingin.
namun, tidak mendapatkan jawaban dari fira, wanita itu malah sibuk Meringis menahan sakit.
seketika Radit memangkas jarak antara mereka,
"ada apa, kenapa, apa yang sakit?"ucapnya panik.
tangannya mencari letak di mana sakit yang membuat fira menahan sekuat tenaga.
fira ingin menyingkirkan tangan itu, namun tidak dengan anak yang ada di dalam kandungan nya.
bayi di dalam semakin merespon ketika tangan Radit menyentuhnya, kontraksi semakin cepat membuat fira tidak memperdulikan tangan Radit.
"tuan, tolong panggil kan dokter, sepertinya anak kita sudah ingin keluar"
mendengar kata anak kita, membuat Radit menghentikan gerakannya.
"cepat tuan, aku sudah tidak tahan"
Radit segera sadar dari keterkejutan nya.
"ba,,baik"
Radit segera memanggil dokter, sesaat kemudian dia kembali, bersama seorang dokter dan beberapa perawat,
"baiklah nyonyah, biar saya periksa dulu" ucap dokter cantik itu.
"pembukaan sudah komplit, mari kita bersiap. tuan bantu nyonyah dengan memberikan semangat,"ucapnya lagi.
"tapi dok"fira sedikit keberatan.
"ada apa, bukankah dia suami Anda?"
fira ingin menjawab, namun segera di sela oleh Radit.
"iya dok, saya suaminya" ucap Radit, namun mendapat tatapan tajam dari fira.
"baiklah silahkan tuan pegang tangan istrinya, dan terus beri dia semangat" di angguki oleh Radit.
"ibu, ikuti saya boleh?" ucap dokter, memberikan instruksi kepada fira, dan di angguki oleh wanita itu.
"tarik nafas,, ngejan sekarang Bu.
satu dua tiga ayo Bu" ucap dokter lagi,
fira pun menuruti semua instruksi sang dokter.
sedang di luar ruangan.
Hani dan nenek sedang kebingungan, karena salah satu dari mereka, tidak di perbolehkan masuk oleh perawat yang berjaga.
"suster tolonglah, itu di dalam adik saya sendirian lho dia" ucap Hani memohon.
" maaf Bu, tapi pasien atas nama,ibu Ana Safira sudah di dampingi suaminya" perawat itu memberikan penjelasan, yang membuat kedua orang itu semakin bingung.
di dalam ruangan bersalin.
fira masih berusaha mengejan untuk yang ke tiga kalinya.
"ibu tolong ikuti saya ya, jangan mengejan sebelum saya perintahkan" ucap dokter.
"dokter, apa tidak ada cara lain, supaya istri saya tidak menahan sakit seperti ini?" Radit sungguh tidak tega melihat fira begitu menderita.
"sabar tuan, kita coba sekali lagi. bagaimana ibu, apakah sudah siap dan mengerti?"
fira mengangguk mengiyakan"
hitungan ketiga fira mengejan,sesuai hitungan dokter, dan keluarlah bayi mungil dan cantik,
"owek ,owek ,owek"
suara tangisan bayi pun terdengar.
fira meneteskan air mata bahagia, sedang Radit, tak henti hentinya menciumi punggung tangan dan dahi fira.
"silahkan tuan, Anda boleh melihat bayi Anda dan biarkan kami membersihkan ibunya"
"baik dokter" Radit pun pergi ke tempat di mana bayinya berada,
pria itu melihat wajah bayi itu yang sangat mirip dengan wajah mendiang ibunya.
air matanya mengalir tanpa terasa, air mata haru dan bahagia.
"suster, apa boleh aku, menggendongnya?"
" sebaiknya tuan urus administrasi terlebih dahulu, agar ibu dan bayi segera mendapat ruang rawat segera"
"oh,, baik suster"
Radit bergegas menuju tempat administrasi, dan memesan kamar VVIP untuk fira dan anak nya.
setelah selesai dengan urusan administrasi,pria itu kembali ke tempat di mana fira masih berada di sana.
" tuan,, Anda masih di sini?" fira terkejut, karena Radit kembali ke tempat itu.
"apakah aku harus pergi,dan membawa bayi kita?"
pertanyaan Radit membuat fira geleng geleng.
fira dan bayinya sudah berada di ruangan yang sudah di pesan oleh Radit, namu Hani dan sang nenek Masih juga belum tau.
Hani yang kesal kembali menanyakan tentang fira.
"suster bagaimana, apa kami sudah bisa menemui adik ku?"
tanya Hani, pada perawat yang berjaga.
"oh ya nona, ibu Ana Safira sudah di ruang VVIP no xx silahkan"ucap perawat itu pada Hani.
tadi ketika Radit keluar, untuk mengurus administrasi, Hani melihat nya, hanya saja mereka tidak saling mengenal.
hani menggandeng tangan nenek, memasuki lift untuk menuju ruangan yang tadi di sebut oleh seorang perawat.
"nak, bagaimana mungkin fira berada di ruangan yang sangat mahal itu, bagaimana kami akan membayarnya?" ucap nenek pada Hani.
"aku juga tidak tau nek, lebih baik kita lihat saja dulu, kalau masalah pembayaran nenek tidak usah risau" Hani berusaha menenangkan neneknya,
langkah mereka berhenti tepat di depan kamar dengan nomor xx, ragu ragu Hani mengetuk pintu.
setelah pintu terbuka Hani hendak kembali pergi, karena yang dia lihat seorang pria tampan dan gagah, yang membukakan pintu, namun langkahnya terhenti,saat sebuah suara memanggil mereka.
"nenek, Hani" fira memangil dengan suara agak lirih.
yang di panggil tak sungkan lagi segera masuk, tanpa perduli pada pria yang masih berdiri di sebelah pintu.
"sayang, bagaimana kabarmu, ah cantiknya cicit nenek" tanya nenek, sambil tangannya menyentuh bayi mungil yang sedang menikmati ASI dari pabrik nya.
menyadari fira sedang memberikan ASI eksklusif, Hani segera melihat ke arah pria yang sedang menutup kembali pintu kamar itu,
"hai,, tuan kenapa Anda di sini dan menutup pintu itu, sedangkan ada adik saya yang sedang memberikan ASI pada anaknya, dasar tidak sopan" hardik Hani pada Radit.
pria itu ingin menjawab, namun, Hani kembali berkata.
"bukankah Anda yang tadi sedang membayar administrasi untuk istri Anda, lalu kenapa Anda di sini, siapa Anda, di mana istri Anda?"
akankah Radit dan fira akan berkata jujur kepada mereka?