kontraksi

1029 Words
tak terasa waktu berjalan begitu cepat. usia kandungan fira sudah sembilan bulan, kini gadis itu sudah tidak lagi bekerja. " nak, apa semua sudah siap?" ucap nenek fira, sedikit khawatir. "sudah nek. semua perlengkapan bayi sudah ada di dalam tas besar itu," jawab fira, sambil menunjuk tas yang ada di samping lemari. meski dokter menyatakan masih satu Minggu lagi,namun fira memilih mempersiapkannya dari dini, karena dia tidak ingin nanti neneknya terlalu repot. sebenarnya setiap malam wanita cantik itu selalu menangis, kala mengingat bagaimana anaknya bertanya, keberadaan ayahnya. bel berbunyi saat keduanya sedang menonton siaran TV , fira mencoba bangun dari duduknya, untuk membukakan pintu, begitu pintu terbuka, muncullah wajah cantik sahabat nya yang datang membawa beberapa paper bag, yang berisikan berbagai baju bayi dan makanan untuk fira. "hai fira, hai nenek, bagaimana mana kabar keponakan dalam perut ini?." Hani bertanya sambil masuk ke dalam rumah, gadis itu masuk ke dalam rumah tanpa di suruh, karena baginya, rumah itu adalah rumah ke duanya. "kami semua baik.bagaimana dengan kamu hani?," jawab nenek, sembari balik bertanya. "aku. tentu saja sangat baik, dan mulai hari ini sampai dia lahir aku akan menginap di sini," Hani berkata sambil menunjuk perut besar fira. "benarkah, apa tidak merepotkan?" tanya fira. "kalau bukan aku yang repot, lalu siapa lagi, apa harus tetangga sebelah?" "bukan itu maksudku, aku sudah terlalu banyak merepotkan kamu" "apa sekarang kamu berubah pikiran?"tanya Hani. "tentu saja tidak"jawab fira sambil mencebik, membuat Hani tersenyum lebar. di tengah perbincangan mereka, nenek datang dari arah dapur, "hentikan perbincangan bodoh kalian, sekarang waktunya makan siang"sela sang nenek. "ah,,aku suka itu"ucap Hani sambil berjalan menuju dapur. mereka menikmati makan siang bersama. di tempat lain Radit sedang bertugas di luar kota. akhir akhir ini, Sherli enggan melepaskan pria itu, semenjak kejadian di pesta ulang tahun perusahaan. malam itu. untuk kedua kalinya tedi memanfaatkan Sherli,untuk menjebak pria itu, walaupun pada kenyataannya tidak terjadi apa-apa antara mereka. namun,gadis itu berbuat seolah-olah, mereka sudah melakukan sesuatu, sejak saat itu Radit tidak bisa lagi menjauhi wanita itu. Sherli selalu memberi ancaman pada pria itu, kalau dia akan menyebar video percintaan mereka. "ini kunci kamar mu" Radit mengulurkan tangannya,memberikan sebuah kunci yang berbentuk kartu. "sayang, kenapa kamar kita harus masing-masing?," ucap Sherli manja. tangan gadis itu tidak pernah lepas, bergelayut pada lengan Radit. "mau, atau, aku tinggal?"ancam Radit. sherli menerima kunci itu sambil mendengus, namun Radit tidak perduli, pria itu terus melangkah menuju lift yang akan membawanya ke tempat di mana kamar nya berada. "lho,, kok,kita beda lantai juga sih sayang", Sherli kembali mengajukan protesnya. Radit sengaja memilih lantai yang berbeda, agar gadis itu tidak terlalu sering mengganggu pekerjaan nya. "karena, semua kamar sudah penuh,"jawabnya dingin. sherli lebih dulu keluar dari dalam lift,karena lantai yang dia tuju di bawah lantai Radit. wanita itu berjalan mencari keberadaan kamar yang sudah di pesan oleh Radit. setelah masuk Sherli menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang, melempar asal heelsnya,kemudian tangannya mencari benda pipih yang ada di dalam tas,mencari nama seseorang untuk dia hubungi. "halo sayang.kamu kesini dong aku sendiri ini, si Radit sialan itu memesan dua kamar,"ucapnya pada seseorang di sebrang sana. "Sherlock alamatnya baby, aku akan menemanimu" "baiklah, aku tunggu". panggilan terputus wanita itu bergegas ke kamar mandi, dia akan bersiap menyambut seseorang yang sudah dia hubungi. Radit nampak sudah segar karena pria itu segera mandi,begitu tiba di kamar hotel. pria itu berdiri di balkon, melihat pemandangan kota itu dari sana. fikirannya masih tentang fira, dan anak yang dia kandung. "apakah, dia sudah lahir, lelaki atau perempuan, pasti anak kami sangat manis"racaunya. hari sudah mulai gelap. Radit yang merasa lapar, memutuskan pergi ke restoran yang ada di dalam hotel. dia tidak ingin bepergian,karena ingin segera beristirahat dan mulai bekerja besok paginya. mengambil ponsel untuk menghubungi Sherli, bagaimana pun wanita itu dia yang membawanya. "halo. Sherli aku sedang di restoran, apa kamu mau makan?" "tidak, aku belum lapar,nanti saja bila sudah lapar aku akan memesan," ucap Sherli di sebrang ponsel. "baiklah" setelah itu panggilan berakhir, Radit melanjutkan langkahnya menuju restoran, sesampainya di sana Radit memesan makanan seperti pengunjung lainnya. pagi itu semua begitu sibuk, di dalam rumah fira, wanita itu sudah merasakan kontraksi. Hani panik,dan seperti orang linglung, dia bingung apa yang harus dia lakukan. "Hani,berhenti jalan tanpa tujuan, apa yang akan kamu lakukan?," ucap nenek karena menjadi pusing melihat dia berjalan mondar mandir, "ah,, nenek apa yang harus saya lakukan" "kamu hanya perlu diam,duduk dan minumlah segelas air putih" Hani menuruti apa yang nenek perintahkan. "ah,, aku sedikit lega" ucapnya setelah meminum air putih, "sebenarnya, aku atau kamu yang akan melahirkan, kenapa jadi kami yang sibuk menenangkan mu?,"fira berkata, sambil sesekali meringis menahan sakit. "maaf aku sungguh panik.tapi sekarang sudah lebih baik, apakah sekarang kamu sudah siap?" fira mendengus, mendengar pertanyaan Hani. "aku bahkan sudah siap, dari sebelum kamu seperti orang yang sedang kesurupan" mendengar perkataan fira, Hani meringis, gadis itu membawa tas besar milik fira memasukkan nya ke dalam mobil, lalu kembali lagi memapah fira untuk berjalan. sedangkan nenek, membereskan sisa kekacauan dan segera mengunci pintu.mereka bertiga masuk ke dalam mobil meninggalkan rumah itu, menuju rumah sakit. "aduh,," "sreeeeeet"mobil berhenti mendadak, ketika Hani mendengar suara aduh fira. "Hani, apa yang kamu lakukan, apa kamu ingin mengajak bunuh diri?" "hah,, bukan itu, justru aku yang ingin bertanya, kenapa kamu mengaduh?" "ah,,dasar kamu itu, lanjutkan mobilnya, aku hanya meng ekspresi kan rasa sakit ku" Hani ber "oh" ria lalu kembali menjalankan mobilnya. setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, kini mereka sudah berada di depan rumah sakit, seorang perawat segera menghampiri mereka dan membawa fira ke sebuah ruangan bersalin. di dalam, dokter segera memeriksa jalan lahir fira. "Masih pembukaan tiga, apakah Anda masih bisa berjalan nyonya?" "Masih dokter, tapi aku ingin berjalan di luar ruangan saja agar lebih rileks" "oh, itu lebih baik, namun Anda harus hati hati" "baik, terima kasih dokter", ucap Hani mewakili fira. setelah itu fira di bantu Hani berjalan di depan ruangan itu. di saat yang sama,seorang pria sedang mendorong kursi roda yang di duduki seorang wanita seksi. tatapan nya tak sengaja bertemu dengan fira, wanita itu tidak terlalu memperdulikan orang di sekitarnya, karena sedang menahan sakit yang datang dan pergi. namun berbeda dengan pria itu, dia tertegun sesaat. "fira. ya fira ku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD