ngidam

1005 Words
suasana kafe begitu ramai,sudah satu Minggu ini fira bekerja.gadis itu sangat menikmati pekerjaannya. "bagaimana hari ini?"ucap Hani,yang baru saja tiba di kafe. "seperti yang kamu lihat" "ah, aku sudah sangat yakin, bila kafe ini kamu yang pegang, pasti akan lebih baik" "Anda terlalu berlebihan nona" hahaha,,, mereka tertawa bersama, tidak ada beban di wajah gadis itu, perlahan menguap seiring berjalannya waktu, bukan melupakan kejadian itu, namun fira hanya mencoba menyembunyikan luka sebaik mungkin. "baiklah, aku harus kembali bekerja, apa kamu ingin sesuatu?"tanya fira pada Hani. "tidak, aku juga akan memeriksa pakerjaan ku"di angguki oleh fira. Gadis itu segera berlalu,dan kembali duduk di meja kasir,karena pengunjung sangat ramai. "kita ke mana lagi Bos?"Tio bertanya. sedari tadi mereka sudah pergi ke semua tempat, yang mungkin ada hubungannya dengan fira. "kita pulang,aku sangat lelah" Tio mengangguk tanda mengerti. mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan kota itu, kota yang ramai namun terasa sepi menurut Radit. "Bos, aku dengar dari anak buah, hari ini, wanita itu menemui tedi" "beri perintah pada anak buah mu, untuk terus mengawasi mereka berdua" "siap Bos" mobil berhenti di sebuah apartemen. hari ini Radit tidak ingin pulang ke rumah, dia tidak ingin di ganggu oleh Sherli, pria itu tau Sherli pasti akan mencari nya. satu bulan kemudian. "owek,owek, kenapa harus mual setiap pagi sih?" ucap Radit dengan wajah pucat. wajah pria tampan itu terlihat sangat pucat, setelah mengeluarkan cairan dari dalam tubuhnya. sudah dua Minggu ini, setiap pagi,dia akan memuntahkan apapun yang masuk ke dalam perutnya. "kita ke dokter saja Bos" "saya tidak sedang sakit, Tio!" "tapi,ini sudah lebih dari satu Minggu, Bos" Radit kembali duduk di kursi kebesarannya, tanpa ingin menjawab perkataan asisten nya. "bagaimana, apa ada kabar baik untuk saya hari ini?" Tio mengangguk. "tedi sudah mulai mendekati para investor kita, tapi saya sudah bergerak lebih dulu Bos" "bagus, berikan dia sedikit celah, setelah itu, kita hempaskan para parasit itu" "siap Bos" tidak lama, terdengar ketukan pintu dari luar ,Tio segera membukakan nya. "silahkan masuk, dokter"ucap Tio. membuat Radit memicingkan matanya. "maaf Bos, Anda tidak mau pergi ke rumah sakit, jadi saya yang panggil dokter ke sini, saya hanya takut Anda kenapa napa Bos"perkataan Tio,membuat Radit mendengus. "mari, silahkan,bapak berbaring di sofa" ucap dokter cantik itu. Radit pun melakukan apa yang dokter itu katakan. "apa keluhan Anda"dokter itu berkata, tangannya sambil memeriksa. "muntah dan mual setiap pagi Dok" bukan Radit yang menjawab,melainkan Tio. Radit memutar bola matanya malas. "apa Anda pernah, tiba tiba ingin makan sesuatu?" "hampir setiap hari Dok, keinginan nya bahkan yang aneh aneh" lagi asisten itu yang menjawab. dokter yang ber name tag Siska itu, tersenyum, melihat tingkah dua pria itu. "apakah Anda sudah punya istri?" "belum"kali ini mereka berdua menjawab bersamaan, senyum dokter Siska semakin melebar. Radit berfikir sejenak, sepertinya pertanyaan dokter itu sedikit mengganjal di hatinya. "dokter, apa hubungannya sakit saya dengan seorang istri?" "begini pak Radit, sakit yang bapak alami saat ini, biasa terjadi pada pria yang sudah beristri, karena bisa jadi istri anda saat ini sedang hamil, dan Anda terkena hamil simpati" mendengar penjelasan dokter,Radit dan Tio saling pandang. "oh,, terima kasih atas penjelasannya, Dok, terus sampai kapan itu akan berakhir?" ucap Tio kembali. " kurang lebih, tiga sampai empat bulan" kedua pria dewasa itu membulat kan mata nya, mereka membayangkan selama itu. "tapi tenang saja , saya akan meresepkan obat, untuk mengurangi rasa mual.tapi hanya mengurangi bukan mengobati" dokter Siska segera membuat resep obat untuk Radit. "silahkan tebus di apotek, semoga lebih baik, saya permisi pak" "ya, terima kasih dokter" ucap Radit. setelah kepergian dokter Siska, mereka berdua duduk kembali. "Bos, apa mungkin?" Tio membuka obrolan yang sudah dia tahan sejak tadi. " tentu saja mungkin, aku sudah menanamkan benih di sana,bahkan lebih dari satu kali"ucap Radit cepat. "sungguh, berapa kali Bos?" Tio bertanya dengan polosnya, sedang Radit yang sadar akan ucapnya, dia segera mengalihkan perbincangan mereka. "aku harus segera menemukan dia, bagaimana bila dia tidak bisa menjaga dirinya, lalu anak kami" "saya setuju Bos, tapi kita harus kemana mencari nya?" "entah lah, yang jelas kita tidak mungkin diam saja kan?" Tio mengangguk, dan mereka kembali di sibukkan dengan pekerjaan lagi seperti biasa. di tempat lain.fira makan dengan lahap,nenek nya selalu memperhatikan kesehatan dirinya. "jadi, nanti sore, pergi ke dokter?" "jadi nek, aku pergi bareng Hani" "oh,ya sudah,hati hati saat bekerja nanti, kalau bisa lebih baik tidak usah bekerja" fira menatap sang nenek dengan senyuman. "aku baik baik saja nek, bukankah aku makan sangat banyak?" wanita berusia senja itu, menghembuskan nafasnya perlahan, tangannya mengusap lengan fira. "tidak ada yang perlu di khawatir kan, nanti ketika aku sudah tidak sanggup, aku akan berhenti tanpa nenek minta, bagaimana?" "baiklah" setelah menghabiskan sarapan, fira segera berkemas untuk pergi ke kafe, semenjak fira di ketahui hamil, Hani selalu mengantar jemput nya setiap hari. "aku pergi dulu nek, Hani sudah menunggu di luar" "hati hati, jangan lupa makan" fira mengangguk, menyalami tangan sang nenek lalu pergi. Hani memasang senyum manis, saat melihat wajah sahabat nya. "sepertinya keponakan ku semakin sehat saja" "ah, itu harus. karena aunty nya sangat memanjakan nya" fira masuk ke dalam kursi penumpang, di sebelah Hani yang mengendalikan setir, mereka terlibat perbincangan ringan, untuk memulai hari mereka. "apa kamu yakin tidak ingin memberi tahukan kepada pria itu, tentang kehamilan mu?" "apakah kamu sudah tidak sanggup,menjadi tempat ku berlindung" "haisss, bukan itu maksudku, bukankah wanita hamil ingin di manja oleh pasangannya?, itu yang aku dengar" "aku sudah cukup mendapat kasih sayang dari kalian, lagi pula dia bukanlah pasangan ku" Hani mengerti, dan tidak lagi melanjutkan ucapannya, dia hanya ingin sahabatnya itu bahagia. tak terasa mobil sudah sampai di depan cafe, sudah ada karyawan yang sedang mulai membereskan tempat itu bersiap untuk memulai aktivitas, Hani dan fira jalan ber iringan masuk ke dalam kafe tersebut sambil menyapa beberapa karyawan di sana. fira bekerja seperti biasa, tidak ada drama mual dan muntah, karena tanpa dia tau semua itu Radit lah yang mengalami, wanita itu tidak terlihat seperti orang yang sedang hamil, hanya badannya saja yang sedikit berisi. seperti biasa,dia menyembunyikan luka itu rapat rapat, dengan senyuman yang manis setiap hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD