mencari

1064 Words
setelah pergi dari tempat Rachel, kini Radit kembali ke perusahaan. dia juga harus tetap bekerja, apapun yang terjadi, karena semua karyawan bergantung pada perusahaan milik nya. dalam perjalanan,dia terus memikirkan perkataan Rachel. "oh Ana Safira. dia sudah mengundurkan diri dari kemarin" "oh ya kenapa?" "saya tidak tau, karena dia tidak ingin memberi tau" ucap Rachel dingin. "apa boleh saya minta alamat rumah nya?" "saya tidak tau dimana rumahnya, semua data yang ada di sini,saya tidak bisa memberi tau kepada siapapun, itu sudah menjadi peraturan" Radit sudah kehabisan kata, dia lebih baik pergi dan akan mencari tau di tempat lain, namun tidak sekarang karena dia harus bertemu rekan bisnisnya di kantor. dan di sinilah dia sekarang, di depan kantor milik nya, berjalan beriringan dengan asisten pribadi nya. "apakah semua sudah siap?" tanpa melihat lawan bicaranya, Radit bertanya pada Tio. "sudah tuan, bahkan mereka sudah menunggu kita" Radit mengangguk, tanda mengerti, langkahnya terhenti sesaat, karena ada seseorang yang sedang tersenyum sangat manis padanya, "hai,, Radit" sapa Sherli, dengan nada manja. "hai Juga" ucap Radit dingin, membuat Sherli menciut. niatnya datang ke kantor itu,ingin menggoda seorang Raditya. "issh,, terlalu dingin. tapi tenang aku pasti bisa mendapatkan mu" ucapnya dalam hati sherli. Radit berjalan menuju lift, di ikuti Tio asisten pribadi nya. Sherli pun ikut melangkah, mengsejajar kan langkahnya,berjalan dengan gaya ponggah,bak nyonyah besar di sana. Radit tidak perduli dengan adanya Sherli. pintu lift terbuka, langkah lebar Radit menuju ruangan meeting masih di ikuti Sherli, saat hendak masuk ke dalam, tiba tiba Tio menghentikan langkahnya,menatap tajam kearah Sherli. Gadis itu pun segera memutar badannya, dan berjalan menuju ruang tunggu. pertemuan berlangsung selama dua jam, kini Radit masuk ke dalam ruangan kerjanya,namun, dia terkejut saat melihat Sherli Duduk di kursi kebesarannya. wajah pria itu berubah menjadi merah padam, selama ini tidak pernah ada yang berani melakukan itu. "sherli, sebaiknya kamu turun dari sana"ucap pria itu dingin. sherli melangkah mendekati Radit. tangannya menyentuh d**a bidang pria itu, membuat sentuhan yang memabukkan. Radit memejamkan matanya, darah nya memanas, merasakan sentuhan jemari lentik wanita seksi di depannya. "kenapa, bukankah kita akan bersama, setelah ini aku akan menjadi milik mu selamanya"ucap Sherli,dengan nada sensual nya. jemari lentik itu masih bermain di area perut bak roti sobek itu, kini bibirnya menyentuh bibir Radit, mencium pria itu. Radit pria dewasa, dia tidak bisa menolak ciuman manis Sherli,dan segera membalas dengan lumatan pada bibir berwarna merah merona milik wanita itu. ciuman lembut berubah menuntut, tangan Radit kini sudah berada di balik gaun mini Sherli, memainkan gunung kembar di balik penutupnya. "ahh, Radit" sherli mulai mendesah,menyebut namanya. tangan Sherli pun kini bermain dengan senjata Radit membelai nya,membuat sentuhan yang menggairahkan. "oh,,baby" Radit pun terbawa permainan yang di ciptakan oleh Sherli. saat sedang menikmati indahnya percintaan, pintu ruangan itu terbuka,tanpa di ketuk terlebih dahulu, Radit berjingkat terkejut, dan segera sadar dengan apa yang sedang terjadi. "maaf tuan,saya sudah mengganggu" Tio bicara sambil menundukkan wajahnya. "tidak masalah, ada apa katakan?" "bukankah kita akan mencari seseorang?" Radit mendesah berat,dia baru sadar kalau dirinya harus mencari keberadaan fira. "ada apa sayang?" sherli masih mencoba merayu,tangannya kini menggandeng tangan Radit, pria itu segera melepaskan nya, "pulang lah, aku ada urusan" ucapnya datar. "tapi kita belum selesai" "pulang sekarang, atau kita tidak akan bertemu lagi" Radit sedikit memberikan ancaman pada gadis itu. "baiklah, aku slalu menunggu kabar mu" "hemm" sherli meninggalkan tempat itu dengan sedikit kesal. "apakah Radit sedang mencari keberadaan Gadis malam itu?" tanyanya pada diri sendiri. "tidak akan ku biarkan, kamu menjadi milik orang lain" sherli mengambil benda pipih di dalam tas, dan segera mencari nama seseorang di sana. "(halo, dia sedang mencari gadis itu, bagaimana ini?)" "(kamu tenang saja, gadis itu bahkan tidak ingin dia menemukannya)" "(benarkah?)" "(lakukan saja tugasmu, dan nikmatilah)" "(baiklah)" sherli menyimpan kembali ponselnya,dan memasuki mobil miliknya. perlahan mobil itu meninggalkan gedung tinggi menjulang, yang bertuliskan Raditya group. "apa Anda menikmati nya Bos?" Tio menyindir Radit, saat Sherli sudah pergi dari tempat itu. "diamlah" "wah, ternyata Anda benar-benar menikmati nya, ya Bos. berati kita tidak usah mencari gadis itu lagi dong?" Tio menaik turunkan alisnya. "cekk, apa hubungannya dengan pencarian gadis itu?" "bukankah Anda sudah mendapatkan gantinya?" "aku hanya sedang mengikuti permainan nya, dan ingin tau apa yang pecundang itu inginkan" "bukankah dia teman Anda Bos?" Radit hanya tersenyum miring, mendengar kata teman. Bimo sudah memberi tahukan semua yang terjadi malam itu, hingga membuat Radit berhutang banyak hal pada pria itu. "apa yang kamu dapat hari ini?" "tidak ada, semua akses tertutup rapat, sepertinya ada yang sengaja menutup nya" "apakah tedi, pelakunya?" "saya rasa bukan Bos, karena menurut penyelidikan mereka, tedi bahkan tidak mengenal gadis itu" Radit mengangguk. "apa kamu berfikir yang sama?" "ya mungkin Bos" "aaakkkh. Rachel, wanita itu benar benar tidak bisa di sentuh, apa kamu tau apa sebabnya?" "karena, nona Rachel, di lindungi orang dari dunia hitam" "maksud kamu, mafia?" Tio mengangguk, menjawab pertanyaan Bos nya. "issh,, kenapa ada wanita cantik yang berteman dengan mafia sih?" Tio tidak perlu menjawab pertanyaan Radit, karena itu memang tidak butuh jawaban, dia hanya menahan tawanya. di tempat lain, fira sudah melakukan aktivitas nya, dia mencoba mencari pekerjaan di daerah tersebut, apapun itu tidak masalah,asalkan dia bisa membantu neneknya mencari uang. "permisi, apakah di sini masih ada lowongan pekerjaan?" "maaf, nona,di sini sudah penuh" untuk kesekian kalinya, fira bertanya dari satu tempat ke tempat lain, namun jawabannya masih sama. "kemana lagi, aku harus mencari pekerjaan?" tanyanya pada diri sendiri. duduk sejenak, menghilangkan Lelah di bangku taman. "fira. kamu fira kan?" fira segera melihat,siapa yang memanggil namanya. "hani, kamu di sini?" mereka berpelukan, hani adalah sahabat fira semenjak masih sekolah, "kamu ngapain di sini, fir, bukankah kamu ada di kota?" fira tersenyum,mendengar pertanyaan dari sahabatnya. "ya, aku sudah kembali,aku sedang mencari pekerjaan di sini, aku tidak tega meninggalkan nenek sendirian" elaknya. "wah benarkah, bagaimana kalau kamu bekerja di tempat ku?" "apa tidak apa apa?" "tentu saja, aku sangat senang kalau kamu mau" "ya aku mau, kapan aku bisa mulai bekerja?" "besok,datang lah ke kafe, kamu tidak lupakan di mana tempatnya?" mereka berdua tertawa, karena pertanyaan hani adalah sebuah candaan. "bagaimana aku bisa lupa,tempat di mana aku selalu mendapatkan pelukan seorang ayah, yang hanya aku dapat dari paman" kafe Hani,adalah kafe milik kedua orang tuanya,kini mereka sudah tiada,dan Hani lah yang harus menjalankan bisnis kafenya, karena hanya Hani lah anak mereka. mereka begitu menyayangi fira, seperti mereka menyayangi Hani, namun fira enggan bergantung pada mereka, karena meresa selalu merepotkan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD