Madu "Tatapan lo bisa bikin orang salahpaham," celoteh Aree, nggak mau berhenti mengoceh sepanjang perjalanan pulang. "Bisa aja orang ngira lo ibunya." "Beruntung gue bukan ibunya." Gue melipat kedua tangan di depan d**a. "Karena kalau gue ibunya, gue pastiin lo masuk liang lahat, terus ada batu nisan yang ada nama lo." Seperti kata dia, gue emang bukan siapa-siapanya Wangga. Gue cuma orang asing yang kebetulan bekerja sama keluarganya. Cuma yang pasti, kalau gue ibunya Wangga, sumpah, Aree bakal gue gantung tinggi-tinggi sampai lidahnya keluar. Wangga tertidur lelap di pangkuan gue. Walaupun sejujurnya lumayan berat memangku anak berusia enam tahun dengan postur tinggi di atas rata-rata, tapi nggak bohong, gue merasa lega melihat Wangga tidur senyenyak itu. Sehabis ribut-ribut sa

