Aree Tiba di hari pesta pernikahan Ramel dan suaminya. Sesuai permintaan Mama, gue datang bersama Wangga. Pesta digelar siang hari dengan tema outdoor. Bocah laki-laki di samping gue celingukkan, kelihatan bingung ada banyak orang di sekitarnya. Melihat mantan menikah lebih dulu, ada semacam perasaan nggak rela di hati. Hubungan kita berakhir kurang baik, apa lagi, hubungan di antara gue dan dia di masa lalu menghasilkan Wangga. Gue berdecak sebal, bagaimana bisa cewek itu menikah jauh lebih cepat dari dugaan gue. "Bunda." Wangga menunjuk Ramel. "Om itu siapa? Kenapa duduk di samping Bunda?" "Ayah baru lo," jawab gue jujur. Apa? Gue bilang jujur ke Wangga. Untuk apa ditutup-tutupi kalau suatu hari pun, Wangga akan paham kenapa ibunya menolak dinikahin sama Ayah kandungnya sendiri.

