Anak yang Pemaaf

1576 Words

Madu "Lo dilahirin bukan untuk dihina, bukan untuk dipukul. Lo dilahirin, untuk bahagia." Wangga diam memandangi gue dengan mata mengerjap-ngerjap. Bocah itu mendadak jadi pendiam karena kejadian tadi. Dimaki, dihina, bahkan dia sempat didorong sama si Tina dajjal! Setiap kali di samping Wangga, perasaan gue kayak diaduk-aduk. Padahal dia bukan anak yang pendiam atau pemurung karena Ibu sama ayahnya nggak peduli. Wangga tumbuh baik, kok. Dia juga sangat tenang menghadapi olokkan teman-temannya. Nggak punya Mama lah, nggak punya Ayah lah. Mereka nggak tahu aja kalau Ayah sama ibunya Wangga masih bernapas, hidup sejahtera sama keluarga masing-masing. "Jangan ajarin dia aneh-aneh, deh!" Ini, nih, ayahnya Wangga yang gue maksud. Berwujud, tapi otak sama perasaan nggak ada. Cowok beram

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD