Kilas Balik — 11
# Apa yang Terjadi?
____________________
LANGKAH Samudra terhenti ketika dirinya melihat Benua yang sedang berjalan sendiri dari halte bus. Ada senyuman yang timbul di wajahnya ketika melihat Benua yang banyak berubah semenjak sekolah di sini. Samudra tidak tahu, apakah langkah yang diambilnya benar atau salah. Namun dia berharap bahwa semua akan baik-baik saja. Benua mungkin sedikit tertekan karena berbaur dan mulai belajar di sekolah formal biasa. Namun lama-kelamaan, Benua pun akan tumbuh seperti dirinya. Hanya itu yang Samudra inginkan. Membuat Benua merasakan dunianya. Dunia yang dikatakan Benua sebagai dunia orang sempurna.
Mereka memang kembar, namun untuk seorang Benua—perbedaan diantara keduanya seakan hal yang sangat nyata. Samudra gudangnya kesempurnaan dan Benua sebaliknya. Tidak ada hal sempurna yang terlihat dari diri Benua, itu yang selalu dia rasakan setiap kali mendeskripsikan tentang dirinya sendiri. Kembarannya begitu sangat dipuja, sedangkan dirinya sangat tidak disuka. Mereka kembar yang tidak identik. Sangat tidak identik. Walaupun begitu, Benua sangat menyayangi Samudra. Begitupula Samudra terhadap Benua.
Brandon menepuk bahu Samudra sebelum masuk terlebih dulu ke sekolah. Samudra hanya membalas dengan senyuman tipis. Dia memilih untuk menunggu Benua yang belum sadar dengan kehadirannya. Benua tampak ceria pagi ini. Terlihat sekali dari raut wajahnya ketika berjalan. Samudra juga heran, mengapa Benua tumben-tumbenan membaca buku sepagi ini. Padahal setiap malam Benua mengeluh betapa susahnya belajar. Namun hari ini, Benua tampak sangat rajin.
Namun beberapa mobil mewah masuk ke dalam sekolah seenaknya, tanpa mau tahu siapa yang sedang berjalan di sana. Membuat Benua hampir saja tertabrak salah satu mobil berwarna hitam itu.
"Ben," teriak Samudra yang kemudian berlari mendekat ke arah Benua yang mengelus dadanya karena kaget.
"Sam," ucap Benua yang menyadari adanya Samudra disampingnya.
Samudra menatap Benua dari atas sampai bawah, memastikan bahwa Benua tidak apa-apa.
"Lo enggak pa-pa, 'kan?" Tanya Samudra memastikan sekali lagi.
Benua mengangguk, "aku enggak pa-pa kok, cuma kaget aja. Aku tadi yang ceroboh karena nyebrangnya sembarangan."
"Oke, enggak pa-pa." Jawab Samudra yang kemudian mengambil sebuah buku yang dibawa oleh Benua. "Lo kalau jalan, jangan sambil baca buku." Sambung Samudra kemudian.
Benua hanya mengangguk, "maaf ya, Sam."
"Hm..."
Baru saja hendak masuk ke dalam sekolah, Samudra dan Benua sudah dihadang oleh sang pemilik mobil hitam itu. Samudra sudah menduga hal ini akan terjadi; ketenangannya selalu saja hilang hanya karena ada oknum-oknum kurang kerjaan yang mempermasalahkan hal-hal tidak penting. Lagipula Samudra yakin bahwasanya orang di depannya ini hanya akan membuang-buang waktunya dengan marah-marah atau menyalahkan Benua, lagi.
"Udah balik aja Lo," tandas laki-laki pemilik mobil hitam itu. Di belakang laki-laki itu ada dua orang temannya yang sama-sama membawa mobil juga.
Samudra menghela napas panjang dengan menatap ke arah lain. Agar semua urusan cepat selesai, maka Samudra memilih untuk diam saja. Tidak mau menggubris apapun yang dikatakan laki-laki di depannya ini karena tidak penting juga.
"Lo budek?" Tanya laki-laki itu mulai kehabisan kesabaran karena melihat Samudra yang tidak bereaksi apapun.
Samudra mendorong Benua untuk berjalan lebih dulu, "gue nyusul! Sana masuk duluan! Jangan sampai telat masuk kelas."
"Tap—" Benua tidak melanjutkan protesnya karena melihat wajah Samudra yang serius.
Benua berjalan meninggalkan Samudra dan ketiga laki-laki itu. Benua hanya bisa berharap bahwa semua akan baik-baik saja. Semoga Samudra tidak mendapatkan satu masalah lagi karenanya. Jika sampai Samudra membuat masalah lagi—walaupun tidak sepenuhnya salahnya—bisa-bisa Samudra di skors dari sekolah. Benua tidak mau jika semua itu sampai terjadi.
Benua menatap ke belakang, tidak ada suara ribut yang mencurigakan. Namun tetap saja Benua merasa tidak tenang jika belum melihat Samudra berada disampingnya sekarang. Ah, andaikan saja dirinya tidak ceroboh seperti tadi. Harusnya dia membaca sambil duduk, bukannya sambil jalan. Benua benar-benar baru merasakan jika pepatah yang seringkali orang tua katakan kepada anaknya adalah hal yang sangat benar dan wajib untuk dilakukan.
"Ben," panggil Brandon yang baru saja keluar dari kelas. "Kamu sendirian aja? Kayanya tadi Samudra nunggu kamu di depan gerbang deh," sambung Brandon sambil menatap ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Samudra yang tidak ada di mana-mana.
Benua mengangguk pelan dan memilih untuk masuk ke dalam kelas. Brandon berjalan di belakang Benua, menunggu penjelasan. Sedangkan Benua meletakkan tasnya di atas meja, sesekali menatap ke arah pintu kelasnya. Berharap Samudra segera datang.
"Kenapa sih? Samudra di mana?" Tanya Brandon yang mulai merasa khawatir dengan perubahan wajah Benua yang sedikit panik.
Benua menatap Brandon, "masih di depan ... sama Laut."
"Laut?" Kaget Brandon.
"Iya..." Jawab Benua sambil menatap ke kanan dan ke kiri, mencari orang yang dikenalnya. "Kok tumben Aldi belum masuk kelas, ya?" Sambung Benua sambil menatap bangku milik salah satu temannya yang kosong—tepatnya disamping Brandon.
"Bentar dulu, Samudra ngapain di depan sama Laut? Si Laut sama teman-temannya enggak?" Tanya Brandon kembali dengan khawatir.
Benua mengangguk, "iya ... sama kedua temannya. Tapi kenapa Aldi belum berangkat? Dia telat?"
"Samudra ngapain sih di depan sama Laut? Ada teman-temannya Laut lagi. Gimana kalau dia dikerjain?"
"Aldi kok belum berangkat sih? Dia telat atau ada sesuatu yang terjadi?"
"Bantu Samudra enggak ya?"
"Cari tahu tentang Aldi enggak ya?"
"Kalau aku bantuin Samudra, nanti aku yang kena pukul."
"Kalau aku cari tahu tentang Aldi, nanti Samudra yang kena masalah lagi."
Baik Benua dan Brandon saling menatap satu sama lain setelah pembahasan mereka tidak nyambung sama sekali. Benua yang bertanya tentang Aldi dan Brandon yang bertanya tentang Samudra.
"Kenapa kita enggak urus Sam dulu aja? Aldi diurus nanti," usul Brandon yang tidak sabar. "Palingan juga telat si Aldi." Sambung Brandon dengan serius.
Benua menggeleng pelan, "kalau masalah Sam, pasti dia bisa ngurus sendiri kok. Kita cari tahu Aldi dulu aja. Aku khawatir sama dia."
Brandon menghela napas panjang, "kamu kok enggak khawatir sama Sam, sih? Dia lagi sama Laut dan teman-temannya. Gimana kalau dia diapa-apain?"
Benua terdiam, bukannya dia tidak peduli dengan Samudra yang sedang bersama dengan Laut. Namun dia lebih khawatir dengan keadaan Aldi yang tidak dia ketahui kabarnya sejak kemarin. Lagipula Benua tidak mungkin mengatakan perihal kebingungannya kepada Brandon apalagi Samudra.
"Ben," panggil Brandon yang mulai geregetan. "Kalau enggak buru-buru lihat Sam, takutnya dia diapa-apain lho. Paling enggak, kita bisa bilang ke guru kalau terjadi sesuatu sama dia. Ayolah!" Sambung Brandon setengah memaksa.
"Masalahnya itu besar," ceplos Benua karena sudah tidak sabar dengan Brandon.
Brandon yang mendengar itu hanya menaikkan sebelah alisnya, "kalau gitu, kita bantuin Sam. Mau sebesar apapun masalahnya, bisa diselesaikan 'kan?"
"Bukan itu," tandas Benua kepada Brandon.
"Jadi?"
Benua terdiam cukup lama. Dia tidak siap menceritakan masalah beberapa hari yang lalu kepada Brandon. Dia takut masalah ini akan sampai pada telinga Samudra. Benua tidak mau membuat Samudra mendapatkan masalah karena membelanya, sekali lagi. Cukup sudah pembelaan Samudra untuk dirinya.
"Jangan bilang sama Sam," ucap Benua akhirnya.
Brandon mendudukkan dirinya di kursi, "maksudnya? Ini rahasia?"
"Ya..." Jawab Benua seadanya. "Aku enggak mau Sam mendapat masalah lagi kalau mendengar semuanya." Sambung Benua.
Ketika mendengar kata rahasia, Brandon memilih untuk diam. Dia belum bisa mengatakan ya atau tidak jika itu berhubungan dengan sebuah kata rahasia. Jika Benua berusaha merahasiakan dari Samudra, maka hal itu sangat penting, bukan? Dan Brandon tidak mau masuk dalam lingkaran yang akan membuatnya bingung. Bukankah ada baiknya untuk tidak tahu sama sekali daripada tahu dan menyembunyikan dari yang satunya? Baik Samudra maupun Benua adalah temannya.
"Kalau masalah rahasia, kayanya mending aku enggak tahu aja deh, Ben. Aku enggak mau berjarak dari kalian. Maksudku, aku enggak mau kalau ngerasa enggak enak sama kamu atau Sam. Kalian 'kan temanku semuanya." Jawab Brandon yang mengambil keputusan yang Benua rasa memang paling tepat.
Benua tersenyum lega, untunglah Brandon menolaknya. Setidaknya, Benua tidak perlu mengatakan apa yang terjadi kepadanya dan juga Aldi yang entah bagaimana kabarnya. Walaupun sangat penasaran, dia tidak boleh panik.
"Kamu tenang aja soal Sam. Dia bakalan baik-baik aja. Aku lihat dia bicara dengan santai." Ucap Benua yang menepuk bahu Brandon sebelum dia melangkah keluar dari kelas.
Benua menatap beberapa orang yang baru saja masuk ke sekolah. Mencari Aldi, namun tidak ada tanda-tanda sama sekali. Apakah kemarin Aldi juga tidak masuk? Apakah lukanya parah? Apakah Aldi tidak bisa sekolah karena dirawat di rumah sakit? Apa semuanya baik-baik saja?
"Selamat pagi, Pak Antoni." Sapa Benua ketika berpapasan dengan seorang laki-laki yang menjabat sebagai gurunya itu.
Antoni yang sedang terburu-buru pun menyempatkan diri untuk berhenti dan membalas sapaan Benua yang tampaknya tidak hanya menyapa.
"Selamat pagi, Ben. Kamu sudah berangkat hari ini?" Tanya Antoni dengan menatap Benua yang tampak baik-baik saja.
Benua mengangguk, "iya, Pak. Alat bantu dengar saya baru saja dibeli Ayah saya. Apa saya boleh bertanya, Pak?"
"Hm ... apa kita bisa pending tentang pembicaraan kita ini, Ben? Bapak benar-benar sedang mempersiapkan sesuatu. Tapi Bapak janji akan mengajak kamu bicara lagi jika semuanya selesai." Ucap Antoni dengan wajah yang tidak enak.
"Baik, Pak. Maaf karena mengganggu waktunya." Jawab Benua kemudian.
"Eh, sama sekali enggak. Tetapi hari ini, Bapak sedang banyak pekerjaan. Kamu belajar yang rajin, ya! Jangan terprovokasi dengan berita apapun yang kamu dengar ke depannya." Peringat Antoni dengan memegang kedua bahu Benua.
"Hm ... terimakasih karena Bapak tidak menceritakannya kepada Sam."
Antoni hanya tersenyum dan berlalu pergi dari hadapan Benua.
"Apa yang harus Bapak lakukan, Ben?" Keluh Antoni dalam hati.
•••••••••