13. Dejavu

1740 Words
Pagi hari ketiganya sudah berada di lokasi proyek pembangunan mereka, Ketiganya duduk di meja bundar. Sanskar yang duduk di samping Jesika sejak tadi tangan nakalnya terus saja bergerak mengelus - gelus paha mulus Jesika. Pagi ini Jesika kebetulan sekali memakai rok mini di atas lutut, terlihat begitu seksi dengan atasan santainya itu. "Pak sanskar," Bentak Jesika yang langsung berdiri dan tidak lupa melayangkan tamparannya tepat di wajah tampan Sanskar. Sontak saja hal itu membuat Sanskar ikut berdiri menatap tajam pada sosok Jesika yang sudah berani - beraninya menampar dirinya. Tepatnya di depan umum seperti itu, hingga beberapa pasang mata menatap ke arah mereka bergantian. "Bapak sudah kurang ajar padaku. Berani - beraninya bapak berniat melecehkan aku," Teriak Jesika menahan rasa jijik pada sosok Sanskar. "Kau. Berani sekali kau menampar diriku," Nada suara Sanskar yang terdengar keras itu. Pria itu sudah bersiap - siap untuk mengangkat tangannya, Sanskar tentu saja berniat untuk menampar Jesika saat ini. Tapi terhenti saat melihat sosok Ando yang datang dan menatap tajam pada dirinya. "Apa yang kau lakukan Sanskar?' Nada suara Ando mulai mendingin." Katakan padaku? Apa yang kau lakukan? Apa apaan kau ini hah," bentak Ando lagi sambil menatap tajam pada Sanskar. "Pak Ando hiks.. hiks..,! Tangis Jesika pecah saat Jesika memeluk tubuh tegap Ando. Tentunya, mencari kehangatan untuk melindungi dirinya dari si brengsek... itu. "Pak ini ti....." "Diam kau Sanskar. Berani - beraninya kau melakukan hal bejat... seperti itu," Bentak Ando." Kau tidak apa - apa kan, Apa yang telah dilakukan oleh bajingan... ini pada dirimu?" Selidik Ando sambil membalas pelukan Jesika pada dirinya. "Hiks... Pak di---dia berniat ingin melecehkan saya, pak hiks.. di..," "Bohong pak. Jangan pernah mempercayai ucapan wanita mu..." "DIAM KAU, Kau kira aku tidak melihatnya tadi. Caramu menyentuh dirinya, kau kira Jesika adalah gadis murahan.... seperti yang kau ucapkan. Begitu," Bentak Ando sambil memberikan bogem mentah pada wajah Sanskar, hingga tubuh Sanskar tersungkur seketika. "Jaga tingkah lakumu, jika tidak? Kau silahkan akan kaki dari perusahanku, kau mengerti?" Bentak Ando menahan luapan amarahnya. Jesika yang merasa dirinya aman dan merasa dilindungi pun kembali memeluk Ando sambil terisak. "Hiks.. Pak, Terima kasih telah menolong saya. Hiks... hiks... a---aku takut sekali, jika saja bapak tidak disini entah apa yang akan terjadi pada saya," Kata Jesika sampai berurai air mata. Sanskar yang melihat kedua sepasang manusia itu tengah saling memeluk satu sama lain. Seketika hal itu Membuat darah Sanskar mendidik. "Lihat saja apa yang akan aku perbuat pada kalian. Kalian berdua akan menyesal karena telah berani memperlakukanku seperti ini, Tunggu saja tanggal mainnya," Batin Sanskar menatap kedua sepasang manusia itu bergantian. dengan tatapan tajamnya. Melihat kemesraan keduanya membuat Sanskar berusaha untuk memikirkan sebuah rencana, Tanpa keduanya sadari jika maha bahaya mulai mendekati mereka. Mereka tidak tahu jika sosok Sanskar adalah pria berhati iblis dan penuh dengan dendam. "Sialan.... kalian berdua, awas. Tunggu saatnya ajar akan menjemput kalian. Kalian telah salah mencari masalah padaku, jika sampai aku melakukan hal itu maka kau akan tewas... ha-ha-ha. Lihat saja Jesika, apa yang akan aku lakukan pada gadis sok jual mahal seperti dirimu itu. Dasar gadis bodoh dan terutama kau Ando. Atasan angkuh seperti dirimu tidak pantas bernafas di dunia ini," Batin Sanskar menatap keduanya seakan - akan ingin menyerang mereka sekarang juga. Sanskar segera berdiri sambil melipatkan kedua tangan memohon dengan wajah memelasnya. "Maafkan aku Jesika. Maaf, jika aku tadi melakukan hal itu pada dirimu. Aku sungguh memohon maaf padamu, Tolong maafkan diriku Jesika," Kata Sanskar dengan nada tipuan. Jesika tetap memilih bungkam walau hatinya ingin membunuh sosok pria yang dengan entengnya berpura - pura manis di depannya saat ini. "Pergilah kau. Urus pekerjaanmu itu dan ingat, aku tidak ingin kau berbuat ulah seperti tadi. Karena itu sangat menjijikkan bagiku," Balas Ando menatap tajam bawahannya itu. "Ba----baik pak," Jawab Sanskar sambil menundukkan kepalanya dan segera pergi meninggalkan keduanya begitu saja. "Terima kasih pak hiks... aku sangat takut dengan sikap bejatnya padaku tadi," Kata Jesika yang berurai air mata. "Iya, sama - sama. Ayo hapus air matamu itu. kau duduklah dulu aku akan mengambilkan minum untuk dirimu," Ucap Ando lalu meninggalkan Jesika untuk mengambil minum untuk gadis itu. "Benar - benar kurang ajar dia. Dasar brengsek.... dia benar-benar sangat menjijikkan bagiku," Batin Jesika penuh rasa benci. "ini minumlah dulu, Jika Sanskar kembali mengganggu dirimu lagi. Kau bisa beritahu aku, biar aku pecat dia," Kata Ando saat melihat sikap Jesika yang tengah berusaha untuk menahan rasa takutnya. "Baik pak. Terima kasih sebelumnya pak," Balas Jesika dengan senyuman yang terbit dari sudut bibir mungilnya itu. Keduanya duduk bersama menatap para pekerjanya. Sanskar mulai melancarkan aksi bejatnya kali ini. Lagi-lagi Sanskar mengunakan cara bejat.... Ini. Sudah 3 tahun dia tidak melakukan hal sebejat itu lagi. Karena dia tidak tahu harus melakukan semua ini pada siapa. Hari ini sisi iblis yang dimiliki Sanskar kembali, Dirinya tengah merusak mobil yang akan Ando kemudikan nanti. "Mampus kau. Sekalian saja kau menyusur ke neraka bersama dengan dia ha-ha-ha," Ucap Sanskar saat menatap mobil itu penuh arti dan mengingat masa lalu itu. Masa lalu yang pernah terjadi, hal ini seperti Dejavu saja. Selesai memporakporandakan mesin mobilnya. Kini Sanskar dengan santainya menghampiri Ando dan Jesika yang masih duduk dengan santainya, tanpa melihat bahaya yang akan mereka temui nanti. Melihat kedatangan Sanskar membuat Ando menatap Sanskar dengan raut wajah datarnya itu. "Ada perlu apa kau kemari Sanskar? Kau ingin melakukan sesuatu hal lagi di dalam kepalamu itu?" Tanya Ando tanpa berbicara formal lagi. "Tentu tidak pak. Mana mungkin aku melakukan hal menjijikkan itu lagi, Sungguh aku menyesal pak tentang semua yang sudah aku lakukan tadi. Jujur aku tidak tahu setan... apa yang tengah memasuki diriku, Sehingga aku melakukan hal segila tadi,! Balas Sanskar dengan suara yang dibuat - buat agar terlihat menyesal di depan Ando." Oh ya pak. Ada rekan kita yang berada disini ingin menemui bapak. Katanya, ada hal penting yang ingin beliau bicarakan pada anda," Tambah Sanskar dengan nada santainya. "Baiklah. Kali ini aku akan mempercayai ucapanmu itu. Tapi awas jika kau berani berbuat hal yang tidak senonoh itu lagi," Ancam Ando sambil menunjuk wajah Sanskar," Rekan bisnis kita ingin bertemu denganku? Tapi aku tidak mendapatkan pesan atau telepon darinya," Ujar Ando merasa bingung akan hal ini. "Mungkin menurutnya mengirim pesan padaku sudah cukup, Karena di dalam pesannya dia mengatakan dia tengah sibuk. Jadi tidak sempat menghubungi anda." Tangkas Sanskar cepat. Ando mencoba untuk memikirkan jika dirinya pergi bagaimana dengan nasib sekertarisnya itu. Jika ia tinggalkan Jesika disini, dia belum sepenuhnya percaya pada sosok Sanskar yang bisa berubah begitu cepat. "Jesika kau tidak apa - apa kan aku tinggal sebentar? Soalnya, Aku harus pergi untuk menemui rekan bisnisku?" Tanya Ando hati-hati. "Pak bisakah saya ikut dengan bapak saja. Saya merasa tidak aman berada disini," Balas Jesika saat menatap Sanskar. Nampak sekali ada rasa jijik di dalam hatinya. "Apa kau yakin Jesi? Apa kau tidak lelah selama setengah hari ini," Kata Ando yang sebenarnya cukup mencemaskan kondisi sekertarisnya itu. "Tentu tidak pak. Aku masih cukup kuat untuk berpergian," Jawab Jesika yang segera berdiri dan tidak lupa memeluk lengan Ando. Ando yang diperlakukan begitu hanya bisa memilih diam, Membiarkan dirinya di tarik pergi dari hadapan Sanskar. "Wow. Sekali tepuk 2 burung... masuk kedalam jebakanku. Secara tidak langsung aku mendapatkan dua mangsa sekaligus. Baiklah, terserah kau saja Jesika. Bila kau ingin menyumbangkan nyawamu juga, Aku cukup menikmati pertunjukkannya saja. Biar sekalian kau menyusur dia ke neraka, Biar aku bisa mengambil alih perusahan Mahabarata dan menguasai seluruh hartanya. Semua harta milik Mahabarata tentunya. Selamat tinggal untuk kalian," Batin Sanskar dengan sudut bibir berbentuk Senyuman miring. ***** Keduanya sudah berada di dalam mobil siap menuju restoran yang di maksud oleh Sanskar. Tanpa adanya rasa curiga sedikitpun, Ando justru dengan mudahnya menuruti perkataan manajernya itu. "Aku harus cepat sampai di restoran itu, aku tidak mau rekan kerjaku menungguku terlalu lama. Akan sangat merusak citra nama keluargaku nanti," Ucap Ando yang mulai mengendarai mobil hitam itu. "Kau benar pak. Kita harus bergegas menemui rekan bisnis bapak, Agar tidak merusak citra perusahan bapak," Balas Jesika sambil menatap ke depan. Ando mulai mempercepat mengendarai mobilnya. Tapi keduanya tidak menyadari di bawah mobil tersebut, Ada sebuah serang yang terputus dan tentu saja mengakibatkan bensin menetes memenuhi jalan raya. Saat Ando mengemudi dirinya mulai merasakan ada kejanggalan pada mobil yang ia kendarai itu. Sebuah perasaan tidak tenang dalam pikiran Ando mulai terlintas. Ando yang ingin menginjak rem mobilnya, terasa sekali jika rem mobil itu tidak berfungsi sama sekali. Bahkan beberapa kali Ando mencobanya tetap saja sama. "Ada apa ini? Kenapa rem mobil ini tiba-tiba saja tidak berfungsi?" Batin Ando yang terus menginjak - ginjak rem mobil itu, tapi tetap tidak berfungsi saat ia menginjaknya. "Pak Ando, AWAS,! Pekik Jesika saat menatap ke arah depan, Terlihat sebuah mobil truk tepat di depan mereka. Bersiap menabrak mobil yang tengah mereka tumpangi itu. Ando tersentak kaget hingga Jantungnya terpacu lebih cepat bahkan detak jantungnya semakin cepat. Ando segera membelokkan mobilnya ke sisi kiri untuk menghindari mobil truk itu. "Jesika. Rem mobil ini tidak dapat berfungsi lagi," Kata Ando saat kembali mengingat akan masa lalunya kembali. Ando juga mengingat masa depan putrinya dan juga adiknya, jika dirinya tiada nanti. Jika dirinya mati apa yang akan terjadi pada keluarganya nanti. "hiks.... Pak ja---jadi kita bagaimana pak?" Tanya jesika takut - takut dan harap-harap cemas kali ini." Pak, kita sedang dalam bahaya bagaimana ini pak? Apa yang harus kita lakukan?" Tambah jesika semakin dibuat panik saja. "jangan menangis.... Aku yakin kau akan baik - baik saja, Ayo Jesika. Sebaiknya, kau segera lompat keluar dari mobil ini. Jika tidak, kau benar-benar akan mati sia-sia bersamaku. Cepat Jesika,! Teriak Ando yang terus berbelok ke kanan dan ke kiri, tentunya untuk menghindari semua mobil yang berada di depannya itu. "Ti----tidak pak hiks... Kita akan lompat bersama - sama. Aku tidak mau meninggalkan bapak sendirian di dalam mobil berbahaya ini," Balas Jesika dengan hati was - was saat menatap ke arah depan. "Aku tidak bisa ikut denganmu Jesika. Dan itu tidak akan bisa," Bantah Ando." Jesika. Cepatlah, kita tidak mempunyai banyak waktu lagi, Aku mohon lompatlah keluar Jesika selagi kau bisa. Kau tidak memiliki banyak waktu, cepat lompat jesika. CEPAT LOMPAT,! Teriak Ando yang mulai ketakutan. Hatinya tengah ketakutan, Takut itulah yang Ando rasakan saat ini." Aku mohon, JANGAN sampai kejadian ini terulang lagi, aku tidak bisa lagi membahayakan nyawa seseorang tidak lagi dan tidak akan bisa," Batin Ando dengan wajah memerah dengan air mata yang mengalir karena rasa takut dan tekanan di masa lalu, membuat dia takut. Takut mencelakakan Jesika seperti halnya di masa lalu. TBC,
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD