2. Manusia beku

1002 Words
"Aaaaaa... Copot. Copot, Pak. Copot, ampun. Ampun Pak," Teriak Jesika sambil menelan ludahnya secara susah payah saat dirinya menatap kedua mata Ando yang tengah melotot pada dirinya. "Dari tadi aku menunggumu di ruanganku dan kau ternyata tengah asik - asikan bergosip di sini. Kau ini niat bekerja atau bergosip?" Tanya Ando, dirinya berusaha untuk menahan amarah di dalam hatinya. "Ya. Bergosip donk pak. Upsss," Jesika menutup bibir mungilnya, karena selalu keceplosan saat berbicara pada sosok Ando," Ma---ksudku kerja Pak. Ma---af pak bibirku ini memang suka salah bicara," Adu Jesika dengan wajah polosnya. "Bukan bibirmu yang bersalah, tapi otakmu itu. Kau ini hanya bisa membuat diriku darah tinggi saja. Jesika. Jesika," Kata Ando sambil menarik kasar rambut tebalnya, karena merasa frustasi akan tingkah laku sekretaris barunya itu. Yang sangat suka membuat ulah di mana - mana tentu saja itu membuat Ando semakin frustrasi. "Maaf Pak. Ta---di itu kan, aku menabrak orang jadi seperti ini,...!!!! Ucap Jesika langsung. "Makanya, kalau berjalan itu jangan bibir yang berjalan. Tapi kakimu," Kata Ando dengan wajah dinginnya. "Memangnya, bibir bisa berjalan ya. Pak?" Tanya Jesika dengan mimik wajah polosnya, membuat Ando berusaha mati - matian untuk menahan amarahnya sendiri. "Oh astaga. Sekarang kau masuk. Masuk Jesika," Teriak Ando semakin frustrasi saja. "Iya pak. Iya," Jawab Jesika dengan wajah menahan rasa kesalnya. Dirinya terpaksa masuk ke ruangan Ando atas permintaan Atasannya sendiri. "Kalau bukan karena aku tengah membutuhkan seorang sekretaris, sudah aku pastikan jika aku lebih memilih untuk memecat dirinya saja. Sabar Ando. Sabar," Batin Ando sambil mengelus dadanya untuk menenangkan dirinya. Ando segera melangkah memasuki ruang kerja miliknya, dirinya lebih memilih untuk duduk di kursi kebesarannya saja. Jesika juga memilih duduk di kursi yang menghadap ke arah depan, tentunya Jesika bisa leluasa untuk menatap wajah tampan Ando yang terlihat begitu dingin bagi dirinya. Sebenarnya Jesika sangat takut, Takut pada kemarahan pria itu. "Dengarkan aku. Besok aku akan mengadakan meeting dengan beberapa investor dan. Ya, kau catat semua jadwalku besok. Bukan hanya besok saja, tapi setiap hari kau harus mencatat semua jadwalku. Kau paham Jesika?" Tanya Ando sambil menatap sosok Jesika dengan profesionalnya. "Iya. Baik pak," Jawab Jesika dengan kedua mata menatap fokus pada sosok Ando. Seakan Jesika tengah sibuk menatap dirinya saja, membuat Ando menatap tajam pada sosok Jesika. Ando sangat yakin jika ucapannya tadi tidak di dengar oleh Jesika sedikit pun. brakk Ando memukul meja kerjanya dengan perasaan marah saat ia tahu jika Jesika tidak fokus dengan apa yang sudah ia katakan tadi. Membuat Ando lagi - lagi terbawa emosi akan tingkah laku Jesika yang seakan sangat susah untuk di atur oleh dirinya. "Aaaaa copot. Copot. Copot jantungnya bapak," Pekik Jesika tanpa berpikir terlebih dahulu. "Apa kau bilang? Jantung ku copot? Apa kau sangat suka bila aku mati hah? Kau ini ya. Ya ampun, kenapa aku bisa mempunyai seorang sekertaris seperti dirimu. Kau bukannya membantuku ta..!!! Ucapan Ando harus terhenti. Saat ia mendengar suara seseorang yang memanggil dirinya. Suara yang sangat family bagi Ando membuat ucapan kasar Ando harus terhenti. "Papa. Papa. Pah," Panggil Tania sambil berlari masuk ke ruangan Ando. Membuat Ando tersenyum tipis ke arah si kecil Tania yang tengah berlari kearahnya. Wajah ceria Tania membuat kemarahan Ando seketika memudar, tergantikan dengan wajah penuh kasih sayangnya. **** "Ya ampun. Apa aku tengah bermimpi saat ini? jika ternyata es beku ini bisa tersenyum juga," Cicit Jesika sambil menatap terpesona pada sosok Ando yang terlihat begitu tampan baginya. "Apa kau bilang?" Tanya Ando sambil menatap tajam pada sosok Jesika yang tengah berada di hadapannya saat ini. Membuat Jesika berusaha untuk menelan ludahnya, karena merasa takut dan gugup saat melihat kedua mata Ando yang tengah memancarkan aura dingin pada dirinya saat ini. "Oh. Ti---dak pak ma----maksud saya, es beku di kulkas rumah saya itu sedikit rusak dan es bekunya itu suka mencair pak," Balas Jesika sambil berbalik fakta sebenernya, Ando tidak menanggapi ocehan Jesika yang dia anggap sedikit tidak jelas itu. "Sayang. Kau datang bersama siapa? Ehmm?" Tanya Ando sambil menggendong Tania ke atas pengakuannya. "Jadi es beku ini punya anak," Batin Jesika yang merasa lesu saat mengetahui status Ando. "Bersama dengan Tante dong pah, tadi Tante menjemput Tania di sekolah. Bukannya tadi tante kesini pah," Kata Tania sambil mengelus bulu tipis yang ada pada wajah Ando yang rupawan itu. "Tante kemari? Kok papa tidak melihat tantemu ya, Sayang?" Tanya Ando dengan nada penasaran, pasalnya dia memang belum bertemu adik perempuannya itu. "Mungkin Tante langsung ke ruangannya kali pah, Oh ya pah. Tante cantik ini siapa," Tunjuk Tania ke arah Jesika. jesika yang dibilang cantik pun tersenyum manis dengan bangganya. "Dia bukan siapa - siapa Sayang, dia hanya orang yang tidak waras saja. Ucapannya semua tidak ada yang benar kau tahu itu," Jelas Ando pada putri semata wayangnya. Jesika yang mendengar perkataan Ando harus menahan emosinya, karena dibilang tidak waras oleh atasannya sendiri "Dasar kepala batu hiks... hiks... masa cantik - cantik gini di bilang tidak waras, Dasar es beku iss... iss...," Batin jesika sambil Membuang muka ke arah lain. "Masa si pah, tante ini tidak wa...!!! Tania menghentikan ucapannya itu. "itu bohong sayang yang tidak waras itu papamu, Seperti es beku dan kepalanya itu bagai kepala batu yang keras sekeras wajahnya itu," Kata Jesika tanpa sadar. Membuat kedua mata tajam Ando membesar. "APA kau bilang?" Ando berdiri sambil mengepalkan kedua tangannya menahan amarah, Jesika yang melihat kemarahan Ando hanya mampu meneguk salivanya menahan rasa takut. "Ma---af Pak, saya tidak bermaksud untuk ber...!!! Ucapan Jesika langsung terhenti saat mendengar gerak tawa Tania. "Hahahahahaha," Suara tawa Tania yang begitu keras, membuat Ando dan Jesika menatap bingung pada sosok gadis kecil itu. "Upss. Maaf, hihihi," Tawa geli Tania yang merasa salah tingkah. "Sayang, sebaiknya Tania ke ruangan tante saja ya. Soalnya Papa ada urusan pekerjaan. Oke," bujuk Ando pada si kecil Tania agar segera pergi sebelum ia lepas kendali. Ando benar-benar di buat emosi atas sikap dari sekretarisnya itu, yang kelewatan kurang ajar terhadap dirinya. Padahal, ia adalah seorang atasnya yang seharusnya di hormati. Tapi sayangnya, Jesika justru memancing amarahnya dengan cara berbicara tanpa henti bahkan tanpa jeda sekalipun. TBC,
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD