Saat waktu pagi menjelang siang seitar pukul 11, Nirmala akhirnya bisa bersiap pulang. Urusan administrasi telah diurus oleh orang tuanya dan Rafi tengah bersamanya di kamar rawat sebelum nanti akan mengantarnya pulang.
Rafi yang seharusnya berangkat ke Jakarta siang ini untuk manggung bersama teman-temannya , berencana akan menyusul sekitar pukul 3 nanti. Dia masih ingin menemani Nirmala dan setidaknya sampai mengantarkan cewek yang dia sukai ini tiba di rumahnya. Tapi sayangnya Nirmala tampak tidak memandangnya sebagai “cowo”, melainkan cuma teman saja.
Kenapa juga Rafi harus terjebak friendzone sementara dia bisa memilih perempuan mana yang bisa dijadikan pacar. Tapi kalau masalah hati tidak bisa dipaksakan, kan?
Sebagai anak band, Rafi bukan sosok playboy seperti yang dianggap oleh orang-orang selama ini.
“Kuy kita ke lobi, Oom bilang dia udah selesai urusin administrasinya,” ajak Rafi yang menerima pesan dari Saad.
“Okay,” sahut Nirmala. “Sinihin tas gue, Raf,” pinta Nirmala tapi Rafi malah menggendong tas Nirmala di pundaknya.
“Jalan aja, mumpung gue baik,” kata Rafi lalu mendorong Nirmala yang hendak menolek bantuannya.
Sampai di lobi, Rafi melihat perubahan ekspresi Nirmala yang jadi lebih cerah. Semua itu karena pria “tipe ideal” cewek ini ada di sana dan tengah berdiri berhadapan dengan Saad dan Susi. Bahkan Nirmala sepertinya lupa kalau dia bisa jatuh cinta pada suami orang kalau menatap pada Ivan begitu.
“Tatap teruss!” cibir Rafi yang kesal karena keberadaannya tampak transparan bagi Nirmala.
“Brisik!” balas Nirmala.
Karena dia pikir kalau soal wajah dia sama sekali tidak kebanting dari sosok Ivan. Tapi jika membicarakan tentang tubuh yang kekar dan kesan “matang”, Rafi akui kalau dia kalah telak. Ivan itu seperti jelmaan kata-kata: semakin tua semakin tampan.
Namun Rafi berpikir ada yang aneh dengan interaksi di antara ayah Nirmala dan Ivan. Mereka yang katanya berteman lama, tapi tampak sangat canggung dan sepeti ada batas yang sedang dijaga supaya tidak runtuh. Tapi mungkin saja karena mereka lama tidak bertemu jadi tampaknya begitu, pikir Rafi kemudian.
“Sebelum pulang. Ucapkan salam untuk teman papa, Nirma,” ucap Saad pada putrinya.
Dan dengan senang hati Nirmala akan melakukannya. Dia bahkan maju selangkan untuk mendekat pada Ivan lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Ivan yang menerima uluran tangan itu pun ragu, dia menoleh ke arah Saad untuk melihat reaksi ayah Nirmala ini, namun dia tidak bisa membaca ekspresi teman lamanya itu.
“Jaga diri baik-baik,” ucap Ivan yang pada akhirnya menyambut salaman dari Nirmala.
Dia juga mengucapkan kalimat yang maknanya sebenarnya sangat dalam baginya. Ivan meminta Nirmala untuk menjaga diri baik-baik karena ada bagian dari tubuh istrinya yang perlu Nirmala jaga dengan sepenuh hati. Sebab setelah ini, Ivan mungkin tidak akan bisa melepaskan keberadaan gadis ini begitu saja.
Seseorang mungkin akan menganggapnya gila.
Tapi ... apakah orang lain bisa memahami perasaan Ivan yang masih merindukan istrinya lalu tiba-tiba bisa melihat mata sang istri lagi? Tidak ada, tidak akan ada yang bisa mengerti kecuali pernah mengalami hal yang sama.
“Baik, Dokter. Terima kasih,” ucap Nirmala tidak lupa dengan senyum lebarnya.
Lalu setelahnya dengan canggung dia juga bersalaman dengan Saad dan Susi. Salam yang tampak sekali tidak menujukkan keakraban di antara mereka berdua. Kekeluargaan yang dibagun semasa mereka kuliah sampai beberapa tahun setelahnya, lenyap entah kemana.
Apalagi tadi Ivan sempat berdebat dengan Saad saat ayah Nirmala itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Dimana di sana Ivan baru saja tiba usai dini hari tadi pulang ke rumah hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Tujuan Saad menemui Ivan adalah untuk mengatakan jika Ivan tidak boleh lagi menemui Nirmala karena itu terlalu beresiko.
Selain itu, kerahasiaan identitas pendonor mata Nirmala akan terkuak jika Ivan terus muncul di depan gadis tersebut. Karena sesuai hukum juga demikian kecuali memang kerabat dan wali pendonor yang memberitahukannya sendiri. Namun Saad ingat kalau Ivan sendiri yang ingin ini tetap menjadi rahasia.
Lalu kenapa sekarang seperti ini?
Makanya dua teman lama ini berdebat panjang soal apakah Ivan benar-benar tidak bole lagi menemui Nirmala. Sampai akhirnya diputuskan jika Ivan hanya boleh berada jauh dari Nirmala. Jangan sampai membuat ini menjadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan jika Ivan nekat untuk melanggar batas.
Saad tidak siap melihat Nirmala depresi karena mengetahui donor matanya diambil dari istri teman ayahnya sendiri yang meninggal pada kecelakaan di lokasi yang sama dengan Nirmala. Selain itu fakta kalau mata tersebut adalah milik seorang ibu yang harus meninggalkan putrinya di dunia yang keras ini, Saad yakin jika Nirmala akan langsung terbebani.
***
Bersama Teguh, residen yang paling giat berada di sekitar Ivan, pria ini mulai melakukan jadwal visit padda pasiennya. Mendengar keluhan dan banyak hal lainnya yang kadang tidak berkaitan dengan kesehatan dengan sabar dan ramah. Ivan dalam jubah dokter sangat berbeda dari biasanya karena dia ingat sumpah bersama sang istri kalau mereka harus menjunjung profesionalitas kerja.
Tapi begitu dia kembali ke ruang kerjanya dimana cuma ada dia di sana. Semua topeng ramah itu hilang dalam sekejap mata. Tatapan kosong Ivan bahkan muncul karena memikirkan soal mata istrinya lagi yang ada pada Nirmala. Dia masih tidak terima jika cuma bisa melihat mata istrinya dari jauh, karena kalau seperti itu, yang dia lihat cuma Nirmala, bukan mata Aluna.
“Tawaran itu ...”
Tiba-tiba saja dia Ivan teringat akan sesuatu sehingga langusng mengembalikan kesadarannya lagi. Dia juga kemudian mengobrak-abrik laci meja kerjanya untuk menemukan sebuah amplop yang dikirimkan padanya 3 minggu yang lalu.
Dengan gelisah dia mencari keberadaan benda putih dan panjang itu karena Ivan seperti punya ide cemerlang untuk bisa membuat dirinya tetap menjaga janjinya pada Saad, tapi dia tetap bisa menemui Nirmala dalam jarak dekat sekaligus.
“Hah ... untung nggak kebuang,” gumam Ivan dengan antusias saat menemukan amplop dengan stempel logo universitas tempat Nirmala belajar.
Dibukanya amplop itu lalu Ivan menarik secarik kertas sehingga dia bisa kembali membaca isinya. Surat ini adalah penawaran untuk Ivan menjadi dosen tamu di jurusan ortopedi yang letak fakultasnya bersebelahan dengan fakultas tempat Nirmala menempuh kuliah. Ini merupakan sebuah kebetulan yang entah kenapa bisa disiapkan oleh semesta untuk terjadi.
Lalu tanpa pikir panjang lagi, Ivan langsung menghubungi nomor yang tertera di dalam surat untuk mengonfirmasi kesediaannya.
“Baik. Tidak pelu, besok saya yang akan ke kampus langsung,” kata Ivan sebelum mematikan sambungan telepon dari staf yang dia hubungi.
Senyumnya muncul saat dia telah berhasil menjalankan rencana yang tiba-tiba saja tersaji di hadapannya. Seolah dia tidak ingat kalau sempat mengabaikan surat itu karena dia sudah bilang pada pihak kampus jika dirinya tidak mungkin menambah jam kerja. Sebab separuh hidupnya juga harus ada untuk putrinya yang masih kecil.
Namun kini Ivan tampak melupakannya demi bisa melihat mata dari istrinya yang amat dia rindukan.
***