Teguh mengetuk ruangan Ivan yang masih menyala lampunya padahal dia kira dokter sekaligus mentornya itu sudah pulang sejak sore tadi. Dia sudah hapal sekali kebiasaan Ivan yang tidak ingin pulang malam kecuali itu jadwalnya untuk jaga. Semua itu dikarenakan putrinya yang masih kecil dan juga karena anaknya sudah tidak memiliki ibu lagi di usia yang masih balita.
Semuanya memahami kebiasaan Ivan ini, tapi hari ini tampak berbeda.
“Dokter belum pulang?” tanya Teguh saat akhirnya Ivan mengizinkannya masuk.
Ivan tersenyum pada Teguh yang menyadari ruangannya masih menyala terang. “Cuma mau memeriksa beberapa hal,” jawabnya.
Padahal layar komputernya di hadapannya yang tidak sedang mengoperasikan software apapun.
Teguh mengangguk paham lalu pamit pergi karena ada panggilan dari perawat yang membutuhkan bantuannya.
Ivan kini kembali sendirian di ruangannya dan melepaskan senyum yang tadi terpatri di wajahnya karena orang lain datang menemuinya. Dia kembali merasa resah karena tidak bisa berhenti berpikir tentang Nirmala yang masih ada di rumah sakit ini. Namun bukan soal Nirmala yang menjadi fokus Ivan, lagi-lagi ini soal mata istrinya yang berada pada gadis itu.
“Apa aku harus melihatnya lagi?”
Rasanya masih kurang bagi Ivan melihat kalau masih ada salah satu bagian dari tubuh istrinya yang masih hidup. Apalagi itu adalah bagian mata, mata yang setiap dia bangun tidur kala itu selalu dipandanginya. Memberikannya semangat dengan matanya yang terpancar berbinar dan pernah menangis bersama saat jatuh bangun dalam perjalanan sebagai dokter tapi kemudian Aluna memilih cuti karena kehamilannya.
Namun kecelakaan dua tahun lalu juga menjadikan Aluna korban, dia berada di dalam mobil yang berada di antara dua truk. Kecelakaan yang sama dengan yang menimpa Nirmala kala itu. Saat itu Aluna masih bisa diselamatkan tapi berakhir dalam keadaan koma, keadaannya terlalu parah yang bahkan merenggut nyawa rekan kerjanya.
Saat itu keadaan sungguh sangat menyedihkan untuk Ivan. Dia seperti langsung kehilangan arah begitu mendengar istrinya dinyatakan sebagai salah satu korban kecelakaan. Saat berita kecelakaan itu keluar, Ivan sedang melakukan operasi dan begitu dia selesai dengan operasinya, dunia serasa runtuh tepat di atas kepalanya.
Kejadian di hari itu masih melekat di pikiran Ivan tanpa teringgal satu kepingan pun. Menjadi hari yang paling mengerikan bagi Ivan untuk diingat namun nyatanya otaknya menolak untuk melakukan itu. Bahkan dia masih bisa mengingat ketika dokter menyatakan waktu kematian Aluna di hadapannya setelah akhirnya mendonorkan matanya setelah sebelumnya dalam keadaan mati otak.
2 tahun lalu menjadi titik di mana Ivan dan Saad, dua sahabat ini seperti memutuskan tali erat yang mereka bangun sebelumnya.
***
Koridor rumah sakit sudah sangat sepi di pukul 9 malam. Orang yang menjenguk pasien sudah tidak diperbolehkan lagi datang sejak pukul 8 malam lalu pukul 8.30 keadaan sudah harus steril. Satu kamar rawat inap hanya boleh memiliki satu penjaga.
Dengan masih menggunakan jas dokter yang berwarna putih di tubuhnya, Ivan akhirnya keluar dari ruangannya untuk menuju ke suatu tempat. Dia beberapa kali bertemu perawat dan staf rumah sakit lainnya yang bertugas di shift malam, Ivan akan menyapa atau menyapa balik mereka.
“Malam, Dokter Ivan!” sapa seorang perawat yang tengah membawa cairan infus.
“Malam!” balas Ivan seraya menganggukkan kepalanya ramah.
Beberapa rekan kerjanya melihat bingung pada Ivan yang tidak biasanya masih berada di rumah sakit ketika malam hari. Yang Ivan sendiri heran kenapa dia sampai harus membohongi orang tuanya supaya menjaga putrinya untuk malam ini. Ivan mengatakan pada orang tuanya jam 6 sore tad kalau dia sedang akan melakukan operasi dadakan.
Yang padahal tidak ada, jadwal jaga malamnya pun masih 3 hari lagi.
“Loh, Ivan.”
Zaki, rekan kerja Ivan yang bertugas di IGD melihat dengan terkejut saat Ivan menghampiri departemen ini.
Ivan mengangkat tangannya untuk menyapa Zaki lalu berjalan mendekatinya.
“Tum ... ben?” Sudah dijelaskan kalau banyak penghuni rumah sakit yang tahu kalau Ivan anti kerja malam hari tapi hari ini berbeda.
Dan sudah beberapa orang yang bertanya begitu meski cuma lewat tatapan mata, sehingga Ivan cuma bisa mendengus geli.
“Lagi ngerjain jurnal gue aja dan lebih fokus di sini,” kata Ivan yang jelas itu berbohong.
Kalau sekadar membuat jurnal, dia bisa melakukannya di rumah bahkan sembari menggendong putrinya sekali pun.
Kepala Zaki terangguk menerima informasi tersebut meski masih heran akan keberadaan Ivan di malam hari masih di rumah sakit. “Terus ngapain di IGD? Mau gue bantu bikin jurnalnya?” tanyanya kemudian.
“Ya nggak lah. Mau jenguk anak sahabat gue,” jawab Ivan yang agak merasa kaku saat melafalkan kata “sahabat” di depan Zaki.
Sahabat katanya?
“Ooh ... yang tadi kena serangan panik, ya?” tanya Zaki yang ingat ada pasien datang tanpa luka namun butuh penanganan segera.
Ivan mengangguk lalu segera pamit pada Zaki yang kemudian juga masih harus melihat rekam medis beberapa pasien yang masuk sejak pagi ini. Dia kemudian berjalan menuju ruang rawat yang masih berada di bawah departemen IGD untuk melihat Nirmala.
Iya, Ivan memang hendak menemui Nirmala lagi.
Dia sudah tidak tahan dengan keresahan yang dirasakannya. Otaknya menolak rencana Ivan ini karena bisa merunyamkan rencana yang dibuat oleh Ivan sendiri dulu, bahwa dia tidak akan pernah menemui lagi orang yang mendapatkan donor mata istrinya. Tapi hatinya menolak gagasan tersebut, Ivan tidak bisa memikirkannya dan kini dia sudah sangat ingin melihat mata istrinya lagi pada Nirmala.
Bahkan saat ini Ivan sudah berdiri di depan ruang rawat dimana Nirmala berada. Berdiri di sana dengan keraguan yang menyelimutinya lagi sebab dia benar-benar akan semakin menghancurkan janjinya sendiri. Dan mungkin nantinya Ivan akan semakin tidak bisa menahan dirinya untuk melihat Nirmala di kemudian hari.
SRETT
Dibukanya pintu ruang rawat Nirmala, tapi Ivan justru melihat ada orang yang tidak dikenalnya di sana. Dia tidak menemukan Saad atau istri dari seseorang yang dulu menjadi sahabatnya ini.
“Oh, Dokter ...”
Seorang anak muda yang terlihat familiar di mata Ivan kemudian berdiri menyapanya. Mungkin mengira kalau Ivan adalah dokter yang akan memeriksa keadaan Nirmala yang ternyata sudah terlelap. Tertidur dengan kondisi yang tenang dan sekilas seperti sudah baik-baik saja.
Ivan pun jadi terdiam karena ternyata rencananya menjadi gagal untuk melihat mata Aluna. Yang dilihatnya sekarang hanyalah anak dari sahabatnya, sehingga rasa takut dan keraguan di hati Ivan pun seperti sirna. Rupanya jika Nirmala menutup matanya, semua perasaan campur aduk di benak Ivan pun menghilang. Ivan tidak tahu kalau efeknya cuma bisa terjadi ketika dia bisa melihat bola mata sang istri.
“Di mana orang tua Nirmala?” tanya Ivan pada anak muda tersebut.
“Oom dan Tante pulang untuk istirahat dan saya menggantikannya, Dok,” jawabnya.
Saad dan Susi ternyata sudah pulang, padahal tadi Ivan sudah menyiapkan mentalnya jika berhadapan dengan dua orang itu. Jika nantinya Saad tidak memperbolehkan Ivan menemui Nirmala, Ivan tidak akan memaksakan diri. Itu niat Ivan sebelum memutuskan datang kemari.
“Lalu apa kamu saudaranya?” tanya Ivan, memastikan identitas pemuda di hadapannya ini.
“Mm ... nama saya Rafi. Saya teman dekatnya Nirmala, Dok,” jawabnya lagi seraya memperkenalkan diri.
Yang sebenarnya Rafi sendiri masih ingat wajah Ivan karena pagi tadi mereka bertemu di super market. Dia sudah mengenali Ivan sejak pria yang berprofesi sebagai dokter ini masuk ke dalam ruangan. Pria yang tidak berhenti diceritakan oleh Nirmala setelah orang tuanya pulang.
Katanya Nirmala sudah tidak tahan ingin menceritakan kalau dia baru saja bertemu dengan seseorang yang mendekati tipe idealnya. Tapi sayangnya sudah menikah karena Nirmala melihat ada cincin di tangan kanan Ivan.
Padahal niat Rafi datang kemari karena ingin menjaga Nirmala menggantikan orang tuanya yang sudah kenal baik dengan Rafi juga. Namun malah harus mendengar curhatan cewek ini yang membuat hatinya patah.
“Saya kira orang tuanya masih di sini. Ya sudah, kalau begitu saya pamit,” kata Ivan yang sudah tidak menemukan alasan lagi berada di tempat ini.
Dia pun tidak mau menimbulkan curiga pada orang lain jika terlalu lama di sini.
“Baik, Dok.”
“Hm, ternyata bener udah nikah,” gumam Rafi sembari melihat Ivan yang keluar dari ruangan ini.
Cincin yang mungkin terbuat dari materi palladium di jari manis tangan kanan Ivan. Untung saja pria yang masuk dalam kategori “tipe ideal Nirmala” ini sudah menikah. Kalau saja belum, maka Rafi akan punya saingan yang sangat berat tentu saja.
“Ngapain sih lo kudu suka sama yang udah Om-om?! mana katanya temen bapak lo juga,” gumam Rafi lagi tapi lebih tepatnya sedang mendumel pada Nirmala yang tidur dengan sangat pulas.
“Rasain! Kalau aja lo nggak tidur, lo pasti bisa ketemu tipe ideal lo itu!” dumel Rafi lagi, tapi dengan penuh perhatian dia memperbaiki selimut di tubuh Nirmala.