8. Donor Mata

1758 Words
2 tahun yang lalu, sebuah kecelakaan beruntun terjadi di sebuah jalan menurun yang panjang dan berkelok. Tepatnya di sebuah jalan yang akan dilalui menuju tempat wisata terkenal di daerah Jawa Barat. Kecelakaan tragis itu merenggut banyak nyawa karena sebuah truk besar yang kehilangan fungsi rem di jalan menurun yang panjang. Mobil, motor bahkan truk di depannya ringsek dan mengalami banyak kerusakan parah. Korban meninggal sebanyak 8 orang dengan korban luka parah sampai belasan. Korban yang banyak ini dikarenakan sedang hari libur, tepatnya di hari Minggu. Saat itu ada sebuah sepeda motor yang ringsek hingga dua penumpangnya juga sama parahnya seperti keadaan sepeda motor tersebut. Mereka tidak sadarkan diri dengan banyak darah yang menguccur dari luka yang terbuka. Tapi yang paling parah adalah wanita yang menjadi penumpang ketimbang pengendaranya sebab terlempar hingga beberapa meter dari letak motornya berada. Mereka langsung dibawa ke rumah sakit dengan ambulan, saat itu rumah sakitnya sangat ramai sehingga dibagi dua karena korban lukanya cukup banyak. Tindakan operasi langsung diambil untuk pemumpang perempuan tersebut karena cedera kepala yang parah sedangkan walinya masih dalam perjalanan namun sudah mengizinkan adanya tindakan operasi. “Nirmala! Nirmala!” Nama perempuan itu terus disebut oleh seorang wanita yang merupakan ibunya. Seorang pria paruh baya berdiri di belakang wanita yang menjadi istrinya ini, memberikan kekuatan. Tapi sebenarnya dia juga sama hancurnya. Mendengar anaknya sendiri menjadi korban kecelakaan yang dia lihat di televisi adalah hal yang tidak pernah dia duga. Memang belum ada daftar nama korban yang dirilis, tapi begitu sebuah berita merilis kondisi kecelakaan langsung di TKP, barang-barang anaknya terlihat. Saat itu kedua orang tua perempuan dari Nirmala ini seperti tersambar petir. Izin untuk melakukan wisata kemarin malam seperti layaknya perpisahan untuk mereka dari sang putri. Operasi berlangsung selama hampir 4 jam dengan darah yang harus ditambah banyak karena sempat ada pendarahan ketika operasi berlangsung. Walau semua pada akhirnya operasi berjalan lancar, namun semua itu masih harus menunggu hingga pasien siuman. “Ma??! Mama???! Kenapa semua gelap?! Mama!??” “Mama di mana? Mama!!” “Papa ... pa... semua kenapa gelap??” Teriakan terdengar di sebuah ruang rawat intensif kala itu saat Nirmala akhirnya siuman. Saad dan istrinya merasa lega melihat putri mereka siuman dengan cepat yaitu sehari setelah operasi. Tapi kelegaan mereka rupanya langsung sirna saat mendengar jika putri mereka tidak bisa melihat. Dokter saat itu langsung memberikan tes dan pemeriksaan singkat, tapi Nirmala tetap tidak bisa melihat hingga akhirnya dia dinyatakan buta. Benturan keras yang dia alami saat kecelakaan saat dia terlempar dari kursi penumpang motor yang dikendarai temannya, menjadi penyebab dia mengalami ini. Dan begitu menyadari keadaannya yang kini menjadi gelap, Nirmala tidak berhenti berteriak karena dia ketakutan. Dunianya yang mendadak menjadi gelap terasa sangat menakutkan. Dia tidak bisa melihat lagi mama dan papanya, ini sangat mengerikan. Teriakan Nirmala karena belum bisa menerima kondisinya membuat dia harus diberi obat penenang melalui suntikan. Saat dalam keadaan bius itu, Saad hanya bisa menahan diri untuk tidak menangis. Karena yang paling sedih di sini adalah putrinya. Maka dia berusaha mencari solusi atas kondisi putrinya. Begitu dia menemukan fakta bahwa Nirmala bisa melihat lagi jika menemukan donor mata yang cocok, Saad berjuang untuk mencari tahu. Dia ke sana kemari untuk bisa meyelamatkan keadaan putrinya yang sangat ingin menjadi seorang animator. Dia tidak ingin putrinya kehilangan mimpinya karena keadaan ini. Sampai suatu ketika dia bertemu seseorang yang sangat dia kenal dan dia memohon dengan sangat pada seseorang itu untuk membantunya. *** Saat ini. “Hi, Nak ...” Saad menyapa putrinya yang akhirnya siuman setelah diberi obat penenang. Gangguan panik yang sudah lama tidak dialami putrinya kembali lagi dan Saad merasa bersalah karena telah mengizinkan putrinya untuk melakukan wisata ke daerah pegunungan. Karena jika menuju ke sana otomatis akan melewati tanjakan dan ketika pulang akan melewati tanjakan yang menjadi jalan turun. Dan jalanan yang menurun adalah momok paling besar yang membuat Nirmala trauma. Sebab itu, Nirmala sering menolak ajakan untuk melakukan wisata ke tempat yang punya turunan panjang dan curam. Namun karena mengira semua telah berlalu, Nirmala nekat meminta izin ayahnya untuk pergi bersama teman-temannya. Dia tidak tahu jika traumanya masih ada, tidak pergi ke mana-mana. “Papa ... Mama ...” Nirmala langsung mengenali dua wajah yang sangat dia sayangi. Dia terbangun dengan keadaan yang lemah dan tidak yakin dengan penampilannya yang masih rapi. Tapi dia senang karena saat ini dia telah aman dan bersama orang tuanya. “Mama ...,” panggil Nirmala pada mamanya, dia ingin meminta sebuah pelukan. Susi, istri Saad ini langsung menghampiri putrinya dan memeluk putrinya dengan erat. Dia juga sama khawatirnya seperti sang suami yang langsung berlari menuju mobil sampai lupa menggunakan alas kaki karena keadaan putri mereka ini. Lalu Nirmala tertidur kembali karena pengaruh obat bius yang masih tersisa sehingga Saad kemudian keluar untuk membelikan alas kaki untuknya dan untuk sang istri. Saat melewati sebuah lorong, dia bertemu dengan seseorang yang menatapnya dengan berbagai emosi yang tidak bisa Saad jabarkan. Tapi ada salah satu hal yang Saad pahami dari tatapan itu yaitu, kekhawatiran. “Ivan,” ucap Saad, menyebutkan nama sahabatnya semasa kuliah hingga beberapa tahun setelahnya juga masih akrab. Namun tidak dengan kini. Ivan berjalan dengan cepat menuju tempat Saad berdiri. “Kamu bilang kamu akan menjaganya dengan baik. Tapi kenapa kondisinya begitu?” Ivan melontarkan pertanyaan tajam pada Saad yang kini berdiri berhadapan dengannya. Saad cukup terkejut mendengar pertanyaan itu, namun dia memakluminya karena dia tahu dengan baik maksud pertanyaan itu. “Aku menjaganya dengan baik, Ivan ... Dia putriku ... tentu saja aku menjaganya bak permata—“ “Tapi kenapa dia seperti tadi?!” sentak Ivan, memotong kalimat Saad. Selain kalimat tajamnya, tatapan Ivan juga kini menghakimi Saad seolah dia adalah orang yang sangat jahat karena menghianati kepercayaannya. Namun Saad merasa tidak terima jika dibilang dia tidak menjaga sesuatu yang amat berharga yang Ivan percayakan padanya. “Ivan! Kamu sudah keterlaluan jika berpikir aku tidak menjaga mata pemberian istrimu yang ada pada anakku dengan baik. Ini bukan seperti yang kau pikirkan!” jelas Saad pada Ivan dengan nada yang tak kalah tajam. “Dia putriku, aku tak akan pernah membuatnya sakit untuk kedua kali—“ “Cih!” Ivan mendecih hingga membuat Saad tidak percaya Ivan akan melakukan itu. Saad menghela napas untuk menjaga emosinya agar tidak terpancing kembali. Dia harus mengerti karena Ivan pasti melihat keadaan Nirmala tadi sehingga menjadi sangat khawatir. “Dia tidak ada masalah dengan mata yang didonorkan oleh istrimu ... Nirmala mengalami gangguan panik karena suatu hal akibat kecelakaan dua tahun yang lalu,” ujar Saad memberikan pengertian. Saat itu Ivan menjadi diam dan kelihatan emosinya menjadi melunak. Namun rahangnya masih sangat kaku karena dia memang benar-benar khawatir akan terjadi sesuatu pada mata Nirmala. Padahal dia sangat tahu jika gangguan panik tidak sampai memberikan efek ke sana. Tapi dia sendiri juga mengalami kepanikan. “Jika tidak percaya, kamu bisa menemui Nirmala dan melihat sendiri kondisinya,” kata Saad. Dia sendiri tidak yakin dengan perkataannya. Karena dia dan Ivan pernah berjanji untuk tidak pernah mempertemukan Nirmala dan Ivan. Namun sepertinya ini harus terjadi cepat atau lambat. “Kamu dokter, jadi pasti bisa memeriksa kondisinya secara sekilas,” sambung Saad. Namun Ivan menunduk lalu menggelengkan kepalanya. Bukan cuma Saad, Ivan pun menjadi ragu untuk menemui Nirmala. Keyakinannya menjadi pudar lagi untuk melihat Nirmala ketika dia ingat janjinya untuk tidak melihat mata sang istri. Ivan takut dia akan kalut dan hancur kembali untuk kesekian kalinya. “Kenapa tidak mau?” tanya Saad saat keheningan menjeda pembicaraan mereka. Ivan kembali mendongak dan menatap pada sahabat lamanya ini. “Karena aku tidak yakin apakah aku akan kuat melihat matanya lagi.” “Setidaknya temui putriku seolah kita masih bersahabat seperti dulu. Bukankah dulu kamu pernah menimangnya dan menemaninya bermain?” *** Ivan tidak tahu, betapa gilanya dia yang dengan nekatnya menyetujui kalimat Saad hingga sekarang dia sudah berada di kamar inap Nirmala. Dimana kini dia berdiri di ujung ranjang masih dengan snelli serta seragam operasinya yang berwarna biru tua. Dia benar-benar telah melanggar janji yang telah dia buat untuk tidak menemui orang yang menerima donor mata dari istrinya. Yang ternyata takdir tidak membiarkan Ivan untuk lolos dari agenda yang telah dibuatnya. Mau berlari sejauh apapun, jika takdir sudah berbicara maka Ivan tidak bisa menghindarinya. “Halo, Dokter. Kita bertemu lagi,” sapa Nirmala yang ingat kalau mereka hari ini juga bertemu di mall. Dengan senyum yang kaku, Ivan membalas sapaan Nirmala. Karena dia sedang berjuang untuk menahan diri supaya tidak menerjang perempuan ini untuk melihat mata Aluna. “Nirma udah tahu, kan, Dokter Ivan ini sahabatnya papa dulu. Pernah gendong kamu juga waktu kecil loh,” ujar Saad untuk mencairkan suasana. “Wah, beneran? Aku kok nggak inget ya, Pa?” sahut Nirmala yang tidak menyangka dia pernah digendong dokter dengan paras tampan di hadapannya ini. Bisa dibilang kalau Dokter Ivan adalah tipe idealnya. Sesuai dengan aktor favoritnya So Ji Sub yang memiliki fitur wajah sangat laki tapi sekaligus lembut. Badannya tegap dan juga yang pasti pintar karena berprofesi sebagai seorang dokter. Nirmala sampai tidak sadar terus menatap wajah sahabat papanya ini. “Ya iya lah. Itu waktu kamu kecil mana bisa ingat. Lagi pula waktu itu Ivan masih cupu, nggak seganteng sekarang,” kata Saad yang langsung diiyakan Nirmala. Tuh kan, ayahnya saja bilang kalau Dokter Ivan ini ganteng, batin Nirmala. Dia masih tidak bisa menahan diri untuk terus menatap wajah Ivan serta menganggumi postur tubuhnya yang tegap dan kelihatan kekar. Tapi dia harus segera tersadar kalau mungkin saja Dokter di hadapannya ini sudah punya istri dan anak. Astaga, jangan jadi pelakor, Nirmala! Berbeda dengan Ivan yang sejak tadi menatap Nirmala karena ingin melihat binar mata yang dulu milik istrinya. Bagian dari tubuh istrinya yang masih hidup sampai saat ini walau pemiliknya telah bersatu dengan tanah dan kembali pada Tuhan sebagai pemilik sejatinya. Tangannya terkepal kuat karena rasanya dia sangat rindu, ingin mencoba mendekat untuk memperhatikan secara jelas mata istrinya tapi tidak bisa. Hingga yang ada adalah air mata yang terkumpul di pelupuk matanya. “Kalau begitu saya permisi dulu karena ada pemeriksaan pasien yang baru saja dioperasi,” ucap Ivan tiba-tiba karena tidak ingin menangis di ruangan ini. Dia keluar dari sana bahkan saat 3 orang yang ada di sana menjawab kalimat pamitnya. Ivan berlari menyusuri lorong panjang dan membiarkan rekan-rekannya menatap dengan bingung. Langkah kakinya terus melaju hingga dia sampai di ruangannya lalu langsung menguncinya begitu dia masuk. “Ooh ...” Rintihan sakit Ivan muncul selurus dengan sakit di dadanya. Tubuhnya merosot ke lantai hingga kemudian tangisan diamnya berderai. Sudah lama dia tidak menangis seperti ini, yang sampai sesakit ini. “Aluna .... Aluna ....”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD