KRETEK
“Uhh ...”
Ivan baru saja membuat peregangan di lehernya yang terasa sangat kaku usai mengoperasi sampai 7 jam lamanya. Tidak hanya lehernya, kaki dan tangannya pun rasanya seperti akan lepas. Dan kini dia harus menghadapi putrinya yang pasti sedang ngambek karena Ivan harus menerima panggilan darurat lagi.
Dia berencana melakukan video call sembari memakan makan siang di sore hari bersama putrinya, tapi residennya masuk ke dalam ruangan.
“Ada apa?” tanya Ivan saat Teguh membuka pintu ruangannya bahkan tanpa mengetuk pintunya.
“Dok, ada keadaan darurat!” jawab Teguh dengan wajah yang panik.
Meski dia rindu putrinya, mendengar jika ada keadaan darurat maka Ivan akan mengesampingkan semua hal untuk sementara waktu. Dia segera memakai snellinya lagi dan keluar dari ruangan mengikuti Teguh menuju IGD.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Ivan sembari terus berjalan cepat menuju IGD.
“Anak 10 tahun. Fraktur terbuka, jari hancur karena masih memegang petasan ketika meledak,” jawab Teguh yang ingat laporan dari petugas IGD yang menghubunginya.
Ivan memijat pelipisnya mendengar bahwa yang mengalami keadaan darurat adalah anak-anak. Dia yang juga sudah memiliki anak kerap merasakan ikut prihatin jika ada keadaan seperti ini. Sebab bukan sekali ini kejadian seorang anak terluka akibat petasan dilarikan ke IGD.
“Hah, aku akan melarang Ivana mengenal apa itu petasan,” gumamnya pelan tapi penuh tekad.
Pokoknya sang putri tidak akan dia ijinkan memainkan benda seperti itu karena bahaya dan resikonya tidak sebanding dengan perasaan senangnya. Bukan cuma luka kepada diri sendiri, banyak kejadian petasan telah membuat banyak orang terkena akibatnya namun rupanya masih belum kapok juga. Tiap tahun malah justru ada saja yang membuat petasan dengan volume yang makin besar. Entah tradisi atau bukan, jika ini mengancam nyawa, bukankah sebaiknya dihindari saja?
Di IGD, ada banyak orang berlalu lalang. Harusnya dia hari ini tidak masuk karena sudah ada dokter lain juga yang menjaga tapi sep,ertinya masih melakukan operasi dengan kasus Fraktur joint depressed lebih dari 5 mm. Sepertinya sampai malam nanti juga Ivan masih akan berada di rumah sakit dan tidak bertemu dengan Ivana dan membacakan putrinya itu dongeng sebelum tidur.
“Sshh ...”
Ivan tanpa sadar meringis melihat keadaan anak 10 tahun yang dilaporkan Teguh tadi. Jari tangan kanan anak ini benar-benar hancur sampai kulitnya tidak menutupi tulangnya. Namun yang menjadi perhatian Ivan adalah anak ini tidak menangis atau merasa kesakitan.
“Mana hasil scan-nya?” pinta Ivan pada perawat yang ada di sana.
“Ini, Dok!”
Tindakan langsung dilakukan oleh Ivan untuk melihat apakah masih ada kemungkinan jadi ini akan disambungkan karena masih anak-anak pasiennya. Tapi melihat betapa parahnya keadaan pasiennya kali ini, Ivan harus melihat segala aspek sebelum memutuskannya.
“Siapkan ruang operasi,” perintah Ivan pada Teguh yang langsung diiyakan oleh residennya itu.
Ivan kemudian melihat monitor yang menampilkan hasil pemeriksaan awal yang dilakukan bagian IGD pada pasien anak yang akan segera dia operasi ini. Tapi kemudian dia mendengar ada seseorang yang menyebutkan nama yang jadi familiar bagi Ivan. Nama dari seseorang yang pagi tadi dia sempat temui dan membuat hati Ivan berdebar amat kuat.
“Nirmala, tenang ... tenang ... kita ada di rumah sakit. Kita nggak ada di jalan raya, Nirmala ...”
Seolah bergerak sendiri, Ivan berusaha mencari dari mana asal suara orang yang memanggil nama Nirmala tadi. Dia bahkan melongok ke ranjang-ranjang pasien lain yang ada di IGD ini sampai kemudian dia melihat jika benar kalau Nirmala yang dia kenal ada di rumah sakit tempatnya bekerja.
“Nirma ... tenang ... tenang, kita nggak di jalan lagi.”
Dengan mata kepala Ivan, dia bisa melihat jika Nirmala sedang sesak napas dengan beberapa teman seumurannya berada di sekelilingnya. Ivan melihat semua itu namun tidak melakukan apapun karena kakinya cuma bisa terdiam di tempat seolah terpaku.
“Saya akan berikan suntikan obat penenang.”
Lalu Ivan bisa melihat sesak napas yang dialami Nirmala kemudian berhenti sejalan dengan reaksi obat penenang yang disuntikkan oleh Zaki, dokter di IGD ini. Zaki yang melihat ada Ivan juga di dekatnya pun menyapa dan menghela napas karena sempat kewalahan menghadapi pasien yang barusan dia tangani.
“Gangguan panik. Kayaknya ada hal yang memicu kepanikannya itu tapi dia tahan-tahan terus dan berakhir meledak paniknya,” ujar Zaki yang ingin bercerita saja soal pasiennya.
Tapi karena itu Ivan jadi tahu apa yang terjadi pada Nirmala. Karena jujur, dia juga khawatir kalau ada penyakit parah yang diderita perempuan ini. Ivan tidak mau itu terjadi karena dia masih berharap bisa melihat mata itu lebih lama. Karena dengan Nirmala hidup panjang, berarti Ivan masih bisa melihat dan merasakan keberadaan istrinya di dunia ini.
“Tapi dia nggak papa?” tanya Ivan kemudian.
Meski Zaki bingung karena Ivan bertanya keadaan pasiennya, tapi dia mengangguk saja. “Ya. Kayaknya abis siuman bakal lebih tenang dan akan dirujuk ke poli psikiatri sambil nunggu walinya.”
Walinya, seketika Ivan ingat kalau dia punya janji yang bahkan Ivan buat sendiri dengan wali Nirmala. Tapi rupanya usai melihat sendiri mata itu, Ivan tidak bisa menahan dirinya untuk tetap memegang teguh janjinya.
***