Sungai Ciliwung

2070 Words
Sebenarnya, rasa kesal karena wawancaranya hari lalu ditunda masih mendominasi. Namun, hari ini dia harus melupakan semua hal yang membuat hatinya kesal. Hari ini akhirnya jadwal wawancara diadakan lagi. Sudah tak sabar dirinya menunggu giliran. Dia telah bertekad jika ada kekacauan lagi, maka dia tidak akan sekali-kali menginjakkan kaki di perusahaan itu lagi. Ada banyak calon pekerja yang menunggu di luar ruang wawancara. Mereka semua nampak gugup, tidak seperti Gempita yang justru santai dan yakin sekali jika bisa menduduki posisi di perusahaan tersebut. Ya, dia yakin pula dengan gelar sarjananya dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Tidak hanya gelar, tapi juga nilainya ketika kuliah, serta kemampuannya yang memang tidak diragukan lagi. Dan yang terjadi ternyata tidak sesuai angannya dari awal. Dirinya ditolak dikarenakan Bos perusahaan tersebut trauma bekerja sama dengan orang Jepang. Dulu katanya pernah ada orang Jepang yang bekerja di sana, lalu dia membuat onar karena stress. Dan kini pekerja tersebut berakhir di rumah sakit jiwa dikarenakan stress dengan pekerjaannya. Ah, hal itu langsung membuat stigma negatif. "Kenapa tidak bisa mempercayaiku?" "Kenapa langsung menjudge semua orang seperti di pikiran negatif itu! Padahal tida semuanya seperti itu. Terutama aku, aku bisa mengendalikan diriku!" Brakkk! Pintu ruangan ditutup dengan keras oleh Gempita– sebagai ungkapan kekesalannya, katanya. Siapa yang tidak kesal jika begitu. Dia tak habis pikir dengan Bos itu yang menganggap semua orang Jepang akan berakhir seperti karyawannya dulu. Padahal tidak semuanya, dan Gempita tidak termasuk orang yang mudah stress seperti di pikiran Bos gila itu. Orang Jepang memang mudah stress jika terus ditekan. Dan yang paling fatal adalah mereka kerap bunuh diri sebagai pilihan terakhir untuk memecahkan masalah. Tapi Gempita tidak demikian, dia benar-benar memiliki mental kuat. Bahkan Gempita juga memiliki segudang prestasi yang seharusnya bisa menarik perhatian perusahaan besar. Ah, perusahaan itu memang sudah gila karena telah menolak Gempita. Mereka pasti akan menyesal karena tidak memberi kesempatan pada Gempita. Ttiiiinnn! Suara klakson membuyarkan lamunan Gempita, dan gadis itu terlonjak karena terkejut. Ada mobil di depannya, dia tak sadar karena berjalan dengan keadaan melamun. Dia baru sadar saat mendengar klakson mobilnya. Dan dirinya hanya menatap sekilas serta menanti pengemudi turun menghampirinya. "Dasar bodoh! Kalau mau mati cari mobil lain, jangan di depan mobilku. Aku tidak mau mencari masalah!" gertak Genta. Ya, itu adalah Genta yang berencana pergi ke perusahaan yang beberapa waktu lalu mengajukan kontrak kerjasama. Tapi belum sampai, dia malah dihadang dengan perempuan yang ternyata dikenalnya. "Hikss... Genta...." Gempita berhambur memeluk tubuh lelaki yang tadi memarahinya. Tentu saja Genta terkejut dan berusaha untuk melepasnya. Namun, Gempita tidak mau. Dia tetap ingin memeluk Genta. Gempita hanya ingin mendapat pelukan jika dirinya sedang terpuruk, dan pada saat itu hanya ada Genta. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya satpam perusahaan tersebut yang tadi dipanggil Genta dengan cara melambaikan tangan. "Tolong parkirkan mobil saya dengan benar," ucap Genta sembari memberikan kunci mobilnya. Dia takut mengganggu orang lain karena mobil tersebut tepat berada di depan perusahaan. Genta masih membiarkan tubuhnya dipeluk Gempita. Bukan apa, karena dia memang sulit melepaskan tubuh perempuan itu. Sedangkan Gempita tak lama kemudian akhirnya melepas pelukan dan mengusap air mata yang sempat keluar. Dia lalu menampilkan senyum cerianya lagi membuat Genta heran dan berpikir jika Gempita sudah gila. "Aku sudah lega! Terima kasih, Genta!" ucapnya riang. Dia kemudian beranjak pergi meninggalkan Genta dan perusahaan yang menyebalkan. "Dasar orang gila," gumam Genta menggelengkan kepalanya menatap perempuan yang melangkah pergi setelah memeluk dirinya. Benar-benar tak habis pikir dengan perempuan itu. Genta kemudian pergi menemui Presiden Direktur perusahaan tersebut guna mengatakan jika dia menolak kontrak kerjasamanya. Sebenarnya keuntungan yang dia peroleh nanti akan sangat besar, tapi rumor mengatakan jika perusahaan itu sangat keras dan menekan pegawainya supaya bekerja tak mengenal waktu. Dengan begitu perusahaan akan lebih cepat mendapat keuntungan. Sistem kerja perusahaan tersebut sangat tidak sesuai dengan Genta yang pelan namun pasti. Tak perlu waktu lama untuk menolak kontrak tersebut, kini Genta sudah beranjak dan hendak pergi ke perusahaan utama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia cukup lega karena telah membatalkan kerjasamanya, tidak masalah jika harus kehilangan keuntungan besar. Suatu ketika pasti akan diganti oleh Tuhan. "Hey! Kenapa kamu di dalam mobilku?" Teriak Genta terpekik mendapati Gempita yang duduk di mobilnya. Dia tadi melihat Gempita telah pergi meninggalkannya, tapi entah kenapa tiba-tiba berada di dalam mobilnya. "Ehm, Genta... Apakah aku bisa menjadi temanmu? Aku ingin berteman denganmu. Boleh, ya?" lirih Gempita dengan tatapan menunduk karena tak berani menatap Genta yang terlihat marah. Dia bahkan tidak memberi jawaban Genta terlebih dahulu atas pertanyaan yang tentu saja menyebalkan bagi Genta sendiri. "Aku tidak mengerti kenapa di dunia ini ada orang sepertimu!" Genta menggelengkan kepala dan langsung mengemudikan mobil. Percuma jika harus mengusir Gempita terlebih dahulu karena perempuan itu sudah pasti tidak mau turun. Genta sangat menghapalnya. "GENTA!" "Astaghfirullah hal adzimmm...." Genta terkejut hebat mendengar teriakan Gempita. Dirinya hampir saja melepas kemudi karena kedua tangannya memegang dadanya yang bergemuruh. Benar-benar tak habis pikir dengan perempuan itu. Jantung Genta menjadi tidak aman mendengar teriakan Gempita tadi. "Aku mau jadi temanmu. Boleh, kan?" Kali ini Gempita benar-benar memohon dan mengatupkan kedua tangan. Menampakkan wajahnya yang imut pula, namun Genta tidak tersentuh sama sekali. Dia masih mengelus dadanya dengan satu tangannya yang tetap mengemudikan mobil. "Ah, terserah kamu saja! Ingat ya, jangan berteriak lagi. Bikin copot jantung kamu, tuh!" "Hehe, maafkan aku...." Gempita kembali diam dan Genta pun sama, dia fokus mengemudikan mobil. Pekerjaannya telah menanti, dia harus menambah kecepatan mobilnya supaya lebih cepat sampai ke kantornya. "Kita mau ke mana?" "Membuangmu ke Sungai Ciliwung!" jawab Genta seadanya. Nampaknya dia masih kesal dengan teriakan Gempita tadi, makanya ketus. "Buanglah aku ke perusahaan saja, jangan ke Sungai Ciliwung! Sungguh, aku ingin bekerja!" ucap Gempita satir, sudah seperti mendeklamasikan puisi saja. Dia berkata puitis dengan tangan yang juga melenggok seolah memang sedang membaca puisi sungguhan. Tak ada jawaban dari Genta, dia nampaknya jijik dengan perilaku Gempita tadi yang menurutnya alay sekali. Tidak sesuai dengan Genta yang dingin. Lelaki itu lalu turun ketika sudah sampai di perusahaan tempat utama dia bekerja. Dan Gempita mengikutinya. Dia tidak mau jauh dari Genta. Dan matanya melirik ke sana kemari mengamati gedung bertingkat yang teramat megah. Sangat terpukau. "Kamu benar-benar membuangku ke perusahaan? Ah, terima kasih Genta... Ehm, di mana ruang kerjaku? Aku sudah tidak sabar!" Yang terjadi malah hal yang tidak diduga. Gempita mengira jika Genta benar-benar membuangnya di perusahaan guna bekerja. Sementara Genta memijat pelipisnya seolah menurunkan tingkat kekesalannya menghadapi Gempita yang makin lama makin menyebalkan. "Ini tempat kerjaku! Bukan tempat kerjamu!" "Apa tidak ada posisi untukku? Aku ingin bekerja, Genta..." Gempita merengek sembari menarik jas yang tengah dikenakan Genta, sudah seperti anak kecil membuat Genta malu saja dilihat karyawan lain yang satu lift dengan mereka. "Diam dan jangan memalukanku! Lagian kenapa sih ngikutin aku sampai sini. Kenapa tidak pulang naik taksi?!" ujar Genta pelan, namun tetap dengan nada kesal. "Tidak mau. Aku mau bersamamu saja," sahut Gempita. Dia tidak lagi menarik ujung jas Genta karena takut membuat Genta marah lagi padanya. Dia sendiri tidak mau pulang karena memang tidak akan ada kerjaan jika di rumah, makanya dia harus mencari kesibukan untuk hari ini. Syukur-syukur mendapat kesibukan pula esok hari dan hari-hari setelahnya. Begitu yang sedang dihadapkan Gempita saat ini. Kini, mereka sudah sampai di ruangan Genta. Lelaki itu langsung duduk menyelesaikan tugasnya dan tak lagi menghiraukan Gempita yang terus saja mengikutinya. Biarkan saja untuk kali ini, dan setelahnya Genta pastikan akan membuat Gempita kesal hingga tidak lagi mengikutinya. "Genta... Ruangan kerjamu sangat luas. Wahh, rapi dan cantik sekali...." Gempita terus memuji seisi ruangan Genta yang memang teramat rapi. Nampaknya Genta memang pecinta kerapian dan keindahan— satu frekuensi dengan Gempita. Perempuan itu tertarik dengan miniatur-miniatur gedung pencakar langit dunia yang dijajar rapi di etalase ruangan pribadi Genta. Dia sudah seperti anak kecil yang menemukan mainan baru, dan Genta mengawasinya supaya Gempita tidak membuat masalah. Sungguh menggelakkan. Mereka malah seperti seorang ayah yang mengawasi anaknya. Genta yang menjadi ayah, sementara Gempita jadi anak yang nakal. "Jangan disentuh! Itu mahal!" "Letakkan ke tempatnya!" "Jangan dimainkan, astagaaaa..." "Hati-hati nanti rusak!" Diberi peringatan seperti itu tak membuat Gempita patuh, dia justru semakin menggoda dan jadi terpingkal-pingkal saat melihat Genta panik takut koleksinya dirusak. "Genta, biarkan aku menyentuhnya sebentar." Gempita membuka etalase dan ingin mengambil miniatur gedung bertingkat yang menarik perhatiannya. Dan seketika Genta beranjak dari duduknya, dia menghampiri Gempita dan lekas menutup kembali etalasenya. Tidak boleh dibuka sama sekali. Genta sangat menjaga barang miliknya supaya tetap baik-baik saja. "Pelit sekali!" gerutu Gempita. Dia menghentakkan kakinya dan melototkan matanya sama seperti yang sedang Genta lakukan. Kesal sekali karena tidak boleh ini itu. Dia jadi bingung sebenarnya apa mau Genta. Kenapa sangat pelit padanya. Gempita lalu beralih menuju ke iPad Genta yang menyala dan menunjukkan desain gedung yang belum rampung. Masih ada setengah bagian lagi yang harus diselesaikan. Itu adalah proyek Genta bulan ini. Gempita sangat tertarik dengan rancangan gedung tersebut. "Kamu boleh melihat-lihat, tapi jangan mengacaukan semuanya!" seru Genta dengan pelan dan sedikit melembut, berharap Gempita ketika tidak dikasar bisa memahami dengan baik. Genta yang duduk di tempat semula menghela napas. Dia ingin menghampiri Gempita supaya tidak berbuat macam-macam dengan iPadnya, namun kakinya tidak tergerak karena dia sudah lelah. Genta membiarkan Gempita berbuat semaunya. Benar-benar menyesal, harusnya dia sedari awal tidak membiarkan Gempita ikut dengannya. "Genta? Apa kamu seorang arsitek? Kenapa kamu membuat desain gedung ini? Apa kamu nanti akan membuat gedung yang sungguhan?" tanya Gempita tanpa ada jeda membuat Genta pusing hendak menjawab yang mana. Gempita sangatlah cerewet. Rasa keingintahuannya benar-benar tinggi. Tapi wajar saja jika dia bertanya karena banyak sekali pertanyaan yang termuat dan harus diajukan. "Hm...." Dan akhirnya Genta hanya berdehem, apa yang ditanyakan Gempita memang benar. Dehemannya sudah menjawab semuanya. Genta berharap itu pertanyaan-pertanyaan terakhir karena dia ingin fokus menyelesaikan pekerjaannya. Ah, sepertinya Genta tetap tidak akan fokus jika ada Gempita di sana. "Bolehkah aku menyelesaikannya?" Gempita meminta izin. Dia teringin sekali untuk menyelesaikan rancangan gedung Genta karena di kepalanya telah terpikir bagaimana kelanjutannya. Oleh karenanya dia akan menuangkan pikirannya ke rancangan tersebut. Tentu saja membuat Genta tersenyum meledek mendengar perkataan Gempita. Sementara Gempita malah terlihat semakin serius, wajahnya penuh harap, membuat Genta semakin ingin meledeknya. "Tahu apa kamu tentang dunia arsitektur?" ledek Genta. Wajar jika dia sepeti itu, karena Gempita memang tidak meyakinkan. Tidak mungkin Gempita bisa menyelesaikannya. Genta benar-benar tidak memercayai Gempita. Dan yang terjadi malah di luar dugaan. Gempita segera mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya yang tadinya untuk melamar pekerjaan di perusahaan yang menolak dirinya. Dia yakin bahwa itu bisa menumbuhkan kepercayaan Genta dan tidak meledeknya lagi. Gempita lalu memberikan ijazah sarjana dan magisternya kepada Genta membuat lelaki itu terbelalak. "Aku lulusan arsitektur di Universitas Tokyo. Lulusan terbaik dan sebenarnya aku diterima di perusahaan terbaik pula, tapi karena harus pindah ke Indonesia makanya tidak jadi," jelas Gempita pada Genta. Dia memegang stylush pen milik Genta sedari tadi, Gempita sangat gatal ingin melanjutkan desain gedung Genta. Ternyata Gempita lulusan arsitektur di universitas yang sama dengannya. Dan mereka hanya berjarak dua tahun saja. Nilai Gempita juga sangat bagus, dia merupakan lulusan terbaik di angkatannya. Genta membolak-balik berkas lain yang menunjukkan nilai akademik dan non akademik. Gempita benar-benar berprestasi, bahkan ada beberapa olimpiade yang dia ikuti. Meski demikian, hal ini masih membuat Genta tidak percaya karena sikap Gempita selama ini tidak mencerminkan hal tersebut. "Bagaimana? Apa kamu masih mau meremehkanku?" Genta hanya diam. Awalnya dia memang ragu dengan gadis itu. Tapi setelah mengetahui semuanya, dia mulai percaya dengan kemampuan yang dimiliki Gempita. Tapi tunggu dulu. Genta harus berpikir dengan baik-baik untuk hal ini, dia tidak mau salah dan mendapat resiko tinggi. Genta masih perlu berpikir panjang. "Genta... Apa kamu tidak memercayaiku bahwa aku lulusan arsitektur? Aku juga menggeluti bidang yang sama sepertimu!" ujar Gempita. Dia masih bertanya dengan Genta yang masih berdiam diri juga dengan berkas di tangannya— lelaki itu seolah masih mencari kebenaran atas berkas tadi. Padahal berkas yang ada memang benar, tidak ada unsur rekayasa sama sekali. Gempita benar-benar tidak sabar dengan jawaban Genta. Dia mulai menorehkan stylush pen di layar iPad menambahkan beberapa garis untuk rancangan gedung Genta yang belum rampung. Dan Genta menahan iPadnya, dia belum percaya sepenuhnya dengan Gempita. Genta masih menahan Gempita supaya tidak mengotak-atik rancangan gedungnya yang belum rampung. Genta menatap Gempita yang duduk di depannya dengan wajah yang kesal karena sedari tadi dia menahan perempuan itu untuk tidak bertingkah dengan desainnya yang belum rampung. Genta mengamati Gempita dengan seksama, mencoba menyesuaikan dengan berkas yang Gempita berikan tadi. Ini benar-benar di luar dugaan. Nilai Gempita bahkan ada beberapa yang melambung tinggi daripada nilainya dulu. Sangat sulit dipercaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD