Kamu Cantik

2070 Words
Genta hanya ingin menjaga dirinya dari segala macam godaan yang bisa saja kembali dilontarkan Papa maupun Mamanya seperti sebelumnya. Maka dari itu Genta mengajak Gempita ke sebuah tempat makan yang tak jauh dari kantornya. Tempat makan pecel lele. Genta langsung memesan dua porsi untuk dirinya dam juga Gempita. Karena pengunjung lumayan ramai, mereka jadi bingung hendak duduk di mana. Semuanya penuh, padahal tempat yang disediakan cukup banyak. Maklum juga saatnya santap malam, makanya ramai pengunjung. Terlebih lagi pecel lele di sana sangat nikmat, sangat wajar jika ramai pula. "Kita makan di mobil saja kalau tempatnya sudah penuh," ujar Genta. Dia malah pusing mengamati keramaian di depan matanya. Genta sering sekali jika tidak ada tempat tersisa, dia membawanya pulang atau memakannya di dalam mobil. Oleh karenanya, dia menawarkan pada Gempita. "Kita bisa bergabung dengan mereka," ucap Gempita seraya menarik Genta menuju ke sebuah tempat yang baru saja diisi oleh dua orang muda mudi yang duduk membelakangi Genta dan Gempita, mereka sepertinya sedang pacaran. "Bisakah kami bergabung dengan kalian? Tempatnya penuh, dan yang tersisa hanya meja ini," seru Gempita dengan sopan meminta izin untuk bergabung. Dua muda mudi itu lantas berpaling setelah mendengar suara Gempita. Ternyata itu adalah Kale dan temannya, Elena. Awalnya mengira keduanya adalah orang asing. "Kale!" teriak Gempita antusias. "Gempita!" sahut Kale antusias pula. Mereka lalu menautkan kedua tangan dan berputar. Ah, sudah seperti anak kecil yang bertemu dengan temannya saja. Sungguh memalukan. Genta yang melihatnya sangat jengah, dia duduk di tempat Kale semula. Gempita kemudian duduk di samping Kale membuat posisi perempuan yang bersama Kale tadi tersingkir. Begitu pula dengan Genta. Gempita dan Kale benar-benar telah melupakannya. "Kabarmu baik, kan, Genta?" sapa Elena dengan baik kepada lelaki yang kini di sampingnya. Dia juga mengenal Genta, itu dikarenakan Kale sering menceritakannya. Juga Genta sendiri sering datang ke kedai kopi dan Elena selalu melayaninya. "Ya." Genta menyahut dengan singkat, dia memang seperti itu terhadap perempuan sekalipun sangat dikenalnya. Terlalu dingin. "Elena, perkenalkan, dia Gempita. Perempuan yang sering kuceritakan padamu," ucap Kale memberitahu Elena mengenai Gempita. Baru kali ini Elena bertemu dengan perempuan yang sering diceritakan Kale. "Kamu tidak cerita yang aneh-aneh kan, Kale?" tanya Gempita diselingi dengan tawa kecil, tidak disangka jika dirinya menjadi bahan pembicaraan antara Kale dengan perempuan yang belum dikenalnya. "Tidak kok, tidak perlu khawatir." "Aku Elena, teman Kale dan Genta," ucap Elena mengulurkan tangannya kepada Gempita. Dan Gempita pun membalas uluran tangannya, dia kemudian memperkenalkan diri pada Elena dengan sopan. Sangat senang bertemu dengan Elena. "Usiamu berapa? Kerja di mana?" tanya Gempita antusias. Dia senang sekali berjumpa dengan teman baru. "Ah, aku dua puluh dua tahun. Mahasiswa semester akhir. Aku bekerja di kedai kopi Kale." "Di kedai kopi Kale? Sudah beberapa kali aku ke sana, tapi tidak melihatmu?" Gempita bertanya lagi. Dia heran karena tidak bertemu dengan Elena padahal dia sudah beberapa kali mendatangi kedai kopi Kale. "Ah, dulu pas kamu datang Elena sedang ada kelas, jadi kamu tidak melihatnya," ucap Kale. Lelaki itu menjawab pertanyaan Gempita mendahului orang yang ditanya tadi. "Lain kali kita main bareng, ya, Elena." "Main? Kek anak kecil aja!" celetuk Genta ketika Gempita seperti itu. Dan dia langsung mendapat cubitan kecil di tangannya. "Tenang, nanti kita atur," ucap Elena. Dia terkikik geli dengan perkataan Gempita yang memang agak menggelikan karena seperti anak kecil. Elena dan Gempita bercakap-cakap cukup banyak, namun tak jarang pula diganggu Genta maupun Kale. "Nanti main sama aku aja, Gempita," timpal Kale dengan senyum yang mengembang sempurna. Dia bahkan tak segan-segan merangkul Gempita. "Kale, aku pulang duluan, ya?" izin perempuan yang bersama Kale tadi. Elena merasa sesak melihat kedekatan Kale dengan Gempita. Tidak disangka pula bahwa malam itu dia dipertemukan dengan perempuan yang membuat Kale jatuh hati. Dan Kale mengiyakannya dengan mudah. Kale pun juga tak memiliki keinginan untuk mengantarkan Elena pulang. Sungguh, kehadiran Gempita membuat posisi Elena tersingkir. Kembali sesak d**a perempuan yang diam-diam menyukai Kale. "Kenapa kamu tidak mengantarkannya pulang?" tanya Gempita, dia heran dengan Kale yang begitu saja membiarkan Elena pulang. Padahal tadi pasti datang bersama. "Ah, tidak penting itu. Cuma temen kok, lagipula dia biasa pulang sendiri. Beda sama kamu. Kalau kamu wajib aku yang antar hehe." Raja gombal sedang memulai aksinya. Genta yang berada di sana semakin muak mendengar ocehan saudara kembarnya. Sudah kesekian kalinya Genta mendengarkan gombalan Kale yang baginya sangatlah lebay dan menjijikkan. "Wahh... Sudah datang...." Gempita senang karena ada pelayan menghampiri mejanya dengan makanan di atas nampan. "Iya, Gempita. Makanlah, aku akan menantikanmu," seru Kale. Tadinya selesai makan dia ingin segera pulang, tapi karena ada Gempita, dia mengurungkan niat awalnya. Pesanan Genta dan Gempita akhirnya datang. Keduanya lekas menikmati pecel lele yang sangat nikmat disandingkan dengan jus jeruk yang memang cocok. Sambal tomat dan lalapan begitu menggugah, apalagi lele goreng yang baru saja diangkat dari penggorengan. "Selamat makan bidadari cantik," celetuk Kale lagi. Dan Gempita sedikit tersipu mendengarnya. "Jangan membuatku mual, aku baru mau makan malam!" gertak Genta yang justru membuat Kale langsung menoyor kepalanya. Bagi Kale, Genta hanya pengganggu saja. Ingin rasanya menendang Genta dari sana. Sementara Genta sudah tidak peduli lagi. Dia yakin sedang memikirkan pembalasan untuk Kale yang telah menoyor kepalanya di sela makannya. Selain menjengkelkan, perlakuan Kale tadi benar-benar kurang ajar. Harusnya Kale menghormati Genta yang lebih tua beberapa menit. "Apa kamu tidak bisa makan pedas?" tanya Genta ketika tak sengaja menatap wajah Gempita yang mulai memerah. Sepertinya memang tidak terbiasa makan pedas. Terkena pedas sedikit saja langsung seperti itu. "Aku tidak biasa makan pedas. Tapi mulai saat ini aku harus membiasakannya karena makanan Indonesia itu pedas-pedas huuhhhh..." jawab Gempita tersengal. Jus jeruk miliknya sudah habis karena kepedasan. Keringat pun membasahi wajahnya yang merah karena pedas. "Kalau memang tidak bisa makan sambal, sisihkan saja. Tidak perlu dimakan, kamu makan lelenya saja," timpal Kale. Dia begitu kasihan melihat Gempita yang semakin menjadi-jadi. Genta dan Kale sama-sama kebingungan menghadapi Gempita yang kepedasan. "Ambil punyaku!" seru Genta dan Kale serempak menyodorkan jus jeruk mereka kepada Gempita karena jus jeruk perempuan itu telah habis. Mereka berdua hanya ingin membantu perempuan yang benar-benar kepedasan itu. Gempita jadi kebingungan hendak mengambil jus jeruk milik siapa. Dan akhirnya dia meneguk semuanya tanpa jeda dikarenakan rasa pedas belum juga berangsur menghilang. Sementara Genta langsung memesan es jeruk lagi. Kale jadi bingung karena Gempita tidak mau berhenti memakan pecel lele tersebut meskipun wajahnya menunjukkan dirinya sudah tak sanggup menghabiskannya lagi. Sudah berulang kali Kale meminta Gempita untuk memakan sambalnya. Tapu perempuan itu menolak dengan dalih sayang jika dibuang. Sedangkan Genta sudah mulai mengacuhkannya, dia malah semakin asyik menikmati pecel lelenya yang masih menyisakan setengahnya. Ikan merupakan makanan favoritnya juga, sama seperti Kale. Namun, Genta bisa memisahkan daging dan durinya, dia tidak membutuhkan bantuan orang lain untuk memakannya, berbeda sekali dengan Kale. "I'm finish!" celetuk Gempita menunjukkan piring rotannya yang sudah tersapu bersih. Hebat sekali mampu menghabiskan pecel lele yang sangat pedas itu. Ingus mulai menetes cukup deras dari hidungnya yang juga telah memerah. Apalagi kedua mata dan pipinya, merah sekali. Dia segera membasuh tangannya karena takut nanti ikut panas dan pedas. Tidak lupa mengusap ingusnya dengan tisu yang telah disediakan. "Sudah, kan? Kalau sudah ayo pulang, aku akan mengantarkanmu," seru Genta sembari menyeruput es jeruk yang baru saja datang. Dia sudah selesai lima menit terlebih dahulu dari Gempita. "Biar aku yang mengantarkannya pulang," tukas Kale dengan cepat. Dia lalu menggandeng Gempita dan segera mengajaknya naik ke motor miliknya. "Genta, aku pulang diantar Kale. Kamu hati-hati pulangnya. Terima kasih untuk hari ini," seru Gempita sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan Genta. Tak ada perlawanan dari Gempita, tapi perempuan itu merasa bersalah kepada Genta. Harusnya dia pulang bersama Genta karena tadinya berangkat bersama. Tapi tak masalah, karena Genta juga acuh dan tak mempermasalahkannya. Genta lekas membayar makanannya tadi. Dia dibuat kesal dengan Kale karena ternyata belum membayar makanan Kale dan Elena tadi. Anak itu memang perlu diberi pelajaran karena kembali kurang ajar pada Genta. Beruntung ada Genta, kalau tidak, tidak tahu juga apa yang akan terjadi pada Kale. Semacam tidak punya dosa saja, Kale tersenyum bahagia mengendarai motornya. Harinya ditutup dengan hal yang menyenangkan yaitu memboncengkan Gempita lagi. Jika sudah ada Gempita, semua hal diacuhkan sama halnya dengan membayar pecel lele tadi. Ah, bisa-bisanya dia melupakan hal penting. Jika jodoh memang tidak akan ke mana. Selalu akan dipertemukan dengan cara yang tak terduga pula. Entah kenapa Kale yakin sekali bahwa Gempita memang akan ditakdirkan menjadi jodohnya. Padahal belum tentu. Tapi Kale tetap bertekad untuk membuat Gempita menjadi miliknya. "Gempita..." teriak Kale di tengah lajunya sepeda motor. "Iya?" "Kamu cantik! Sangat cantik!" "Jangan menggodaku," sahut Gempita sembari memberi cubitan kecil di perut Kale. Lelaki itu jadi tergelitik, dia lalu mengusap tangan Gempita yang melingkar di perutnya. Tangan yang kenyal, putih, dan mulus itu pun tak segan-segan dikecup. Kale benar-benar jatuh cinta dengan Gempita. Sementara Gempita merasa aneh dengan perlakuan Kale, dia cukup terkejut dengan Kale yang tiba-tiba mencium tangannya. Itu sangat tidak sopan baginya. Gempita lekas melepas kedua tangannya yang tadi melingkar di perut Kale. "Kaleee, bawa motornya hati-hati jangan mencium tanganku terus...." "Iyaaaa...." Dalam gelapnya jagad, dua orang muda mudi itu bercanda ria di atas motor yang melaju. Keduanya sama-sama senang atas kehadiran satu sama lain. Ditemani dengan rembulan yang berbentuk sabit, mereka sedang berbahagia. "Gempita...." "Iya, Kale?" Gempita yang tadi terhenyak karena memikirkan perlakuan Kale tadi pun kembali tersadar. Dia membiarkan Kale menarik tangannya dan menyuruh untuk berpegangan, mungkin Kale takut jika dirinya terjatuh. Gempita membiarkan perlakuan Kale kali ini karena juga menyangkut keselamatan dirinya. "Apa kamu sudah memiliki pacar?" tanya Kale tiba-tiba. Dia memang terlalu cepat untuk menanyakan hal ini, namun tidak mengapa. Mengetahui dari awal jauh lebih baik sebelum melangkah lebih jauh lagi. "Tidak, memangnya kenapa?" Tentu saja pertanyaan Kale cukup membuat Gempita kebingungan. Sedangkan Kale malah bersorak sorai dalam hatinya. Dia lega karena Gempita ternyata memang jomlo, dia jadi bisa leluasa melangkah untuk menaklukkan hati perempuan itu. "Tidak. Ehm, lelaki seperti apa yang kamu sukai?" Kale bertanya lagi. Dia memerlukan informasi lebih lanjut sebelum melangkah lebih jauh lagi. "Entahlah. Tapi aku sangat menyukai orang yang satu frekuensi denganku, memiliki beragam kesamaan denganku, dan intinya bisa mengerti keadaanku apa pun itu," jawab Gempita. Dia selama ini memang tidak pernah menargetkan lelaki seperti apa yang berhak menemani hari-harinya nanti. Namun, dia sangat menyukai lelaki yang seperti dikatakannya tadi. "Untuk saat ini apa kamu menyukai seseorang?" "Iya, Kale. Aku menyukai seseorang." Tanpa ragu Gempita memberikan jawaban pada Kale. Untuk saat ini memang ada yang membuatnya jatuh hati. Namun, dia baru bisa memendamnya karena rasanya sendiri juga belum pasti. Dia harus memastikannya terlebih dahulu apakah rasa yang ada itu hanya rasa kagum saja atau lebih dari itu. "Siapa, Gempita? Apa orangnya sedang berada di dekatmu?" tanya Kale lagi. Dia berharap bahwa orang yang dikatakan Gempita itu adalah dirinya. "Tidak bisa kusebutkan. Aku masih perlu meyakinkan rasaku lagi. Aku belum tahu apakah aku jatuh cinta padanya atau hanya sekadar mengagumi saja." Kale yang mendengarnya jadi semakin yakin bahwa yang dimaksud Gempita memang dirinya. Kale juga yakin bahwa semua ini masih memerlukan waktu panjang untuk Gempita sendiri maupun dirinya. Kale sendiri juga masih perlu meyakinkan rasanya pada Gempita apakah benar-benar serius atau tidak. "Wah, sudah sampai...." Gempita turun ketika motor Kale berhenti. Dia sudah dinantikan papanya di halaman rumahnya. Seperti biasanya pula, pasti papanya khawatir karena dirinya pulang malam. "Malam, Om," sapa Kale seraya menundukkan kepalanya dengan sopan kepada Pak Hideko— papa Gempita. "Selamat malam. Sudah tahu malam, kan? Segeralah pulang. Terima kasih sudah mengantarkan Gempita," sahut Pak Hideko dingin, berbicara apa adanya pula. Kale berusaha memakluminya. Dia lekas melajukan motornya lagi usai berpamitan pada Gempita dan juga Pak Hideko. Agak ngeri dengan Pak Hideko. Dia pikir dirinya tadi akan ditawari untuk mampir sejenak, kemudian Kale menolak karena sudah malam. Tapi yang terjadi tidak seperti itu. "Dia Kale?" tanya Pak Hideko memastikan. Dia tahu bahwa kenalan anaknya itu kembar, dia sulit membedakannya. Namun jika ditelisik dengan jeli, terdapat perbedaan di keduanya. Raut wajah Genta dingin, sementara Kale sebaliknya. "Iya, tadi Kale. Sangat mirip dengan Genta, dia juga sama baiknya dengan Genta. Tapi Kale lebih hangat dan periang orangnya, sedangkan Genta tidak," jawab Gempita. Mereka berdua berjalan masuk ke rumah dan tidak lupa mengunci pintu dulu. "Tapi kamu lebih menyukai Genta bukan meski orangnya dingin?" goda Pak Hideko seraya mencolek hidung putrinya yang merah. Dia senang sekali menggoda anak yang sangat dia sayangi. "Tidak, Pah. Ah, Gempita lelah sekali hari ini...." Gempita yang malu dan salah tingkah menutupinya dengan cara menyalakan televisi di ruang keluarganya. Dia kemudian merebahkan diri sejenak membiarkan Papanya yang kemungkinan ingin membuatkannya teh seperti biasanya pula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD