Cukup Perhatian

2072 Words
Sedikit cemburu dengan Genta karena Gempita bekerja dengannya. Tidak menyangka bahwa Genta akan membiarkan Gempita bekerja dengannya. Sebelumnya Genta tidak pernah meminta bantuan siapa pun atau memerlukan asisten. Entah apa alasannya. Jika memang karena kemampuan Gempita atau Genta sendiri memang kerepotan dengan pekerjaannya hingga memerlukan asisten, maka itu baik-baik saja. Namun, jika ada hal lain, itu sangat mengkhawatirkan. Tapi tak masalah, meskipun Gempita dan Genta akan selalu bersama, Kale akan memastikan jika Gempita hanya miliknya. Kale juga akan mencuri waktu untuk tetap bersama Gempita. Kale selalu yakin dengan dirinya sendiri. Padahal terlalu yakin juga tidak baik. Takutnya nanti malah yang datang hanya kekecewaan. Bukankah sakitnya bukan main nantinya? Biarkan saja dulu. Manusia memang bebas berbuat apa pun, mereka akan terhenti jika suatu ketika tersadar. Dan hal itu memang akan terjadi di akhir, bukan di awal. Pagi-pagi sekali, Kale sudah berada di depan rumah Gempita bermaksud mengantarkan perempuan itu bekerja. Gempita sangat terkejut saat membuka pintunya mendapati Kale sepagi itu. Sebelumnya Kale juga tidak memberitahu dirinya terlebih dahulu jika akan datang sepagi itu. "Hai, bidadari cantikku, Ohayou gozaimasu..." sapa Kale sembari mengerlingkan matanya menggoda. Sungguh, dia memang layak diberi penghargaan lelaki playboy. "Ohayou gozaimasu, Kale San!" sahut Gempita atas sapaan Kale tadi. Dia sudah tidak terkejut lagi. Dia awalnya memang mengira bahwa halusinasi saja, tapi ternyata itu kenyataan bahwasanya Kale memang berada di rumahnya sepagi itu. "Ada apa pagi-pagi sekali ke mari?" Gempita menanyakan maksud kedatangan Kale yang memang belum diketahuinya. "Tentu saja mengantarkanmu bekerja!" Pemuda itu kemudian memakaikan helm ke kepala Gempita dengan hati-hati. Kemudian mencubit pipinya karena gemas. "Jangan dicubit, nanti tambah besar," ujar Gempita tergelak. "Jangan menyentuh anak saya!" gertak Pak Hideko yang baru saja keluar hendak memastikan anaknya pergi dengan baik. Dia kesal sekali dengan Kale yang main sentuh terhadap Gempita. Pak Hideko juga heran dengan kedatangan Kale pagi itu. "Maaf, Om. Gempita sangat menggemaskan, saya tidak bisa menahannya," ucap Kale. Dia menundukkan pandangannya karena takut melihat wajah Pak Hideko yang merah menahan marah. Setelah berpamitan dengan Pak Hideko, mereka pun segera melaju menyusuri jalanan ibu kota yang mulai padat. Pengendara baik itu sepeda motor atau pun kendaraan roda empat berebut jalan supaya segera sampai ke tempat tujuan. Begitu juga dengan Kale. Lelaki itu gesit sekali mencari celah hingga akhirnya dia bisa lebih cepat melaju dibandingkan dengan pengendara lain. Dan hal ini membuat Gempita sedikit ketakutan karena Kale melaju dengan cepat. Gempita jarang sekali berada di posisi seperti itu. "Kalau sudah pulang, beritahu aku. Aku akan menjemputmu, tunggu saja di sini. Okay?" titah Kale ketika sudah sampai di tempat Gempita bekerja. "Apa tidak merepotkanmu? Aku bisa memesan ojek online nantinya. Bisa juga diantar Genta." Gempita merasa tidak enak dengan Kale yang sudah seperti ojek pribadinya. Ia tidak ingin merepotkan Kale lagi. "Tidak ada yang direpotkan, aku justru menyukainya. Ehm, daripada sama Genta mending sama aku aja." Tentu saja Kale menentangnya, dia tidak mau Gempita diantar Genta karena takut jika semakin dekat mereka malah jatuh cinta. Kale tidak ingin itu terjadi. Sifatnya memang seperti itu jika ada yang disuka, maka orang lain tidak boleh menyentuhnya. "Baiklah, terserah kamu." Perempuan itu kemudian masuk ke ruangan kerjanya setelah Kale hilang dari pandangan. Dia terkejut karena sudah ada Genta di sana, fokus dengan pekerjaannya pula. Gempita lalu melirik ke jam dinding, ternyata masih jam tujuh– dirinya tidak terlambat. Tapi harusnya dia datang terlebih dahulu dari Genta. Besok Gempita akan memastikan hal itu. Awalnya aneh ketika ruangan itu sekarang tidak diisi dirinya saja, melainkan juga ada perempuan yang dulunya merengek meminta pekerjaan. Lama kelamaan dia mulai membiasakannya. Hari ini Genta dan Gempita akan meninjau lokasi yang berjarak cukup jauh serta menghabiskan waktu kurang lebih satu jam. Kontraktor akan segera melaksanakan pembangunan. Barang bangunan pun sudah mulai berdatangan. Genta dan Gempita harus memastikannya terlebih dahulu. Mereka akan mengecek semuanya dengan baik. "Apakah masih jauh?" tanya Gempita saat baru saja setengah perjalanan. Dia merasa tidak nyaman, terlihat dari caranya duduk. Perempuan itu seolah ingin menahan sesuatu yang membuatnya benar-benar tidak nyaman. "Setengah jam lagi kalau tidak macet," sahut Genta. "Ada apa denganmu?" tanya Genta kemudian ketika melirik Gempita yang seperti cacing kepanasan. Bergerilya ke sana ke mari dengan wajah yang panik tak karuan. "Aku pengen pipis!" Genta menggelengkan kepala. Gempita benar-benar seperti anak kecil. Dan akhirnya mobil berhenti di sebuah pom bensin yang kebetulan tidak jauh dari kawasan mereka. Perempuan itu langsung berlari menghampiri kamar mandi karena tak bisa lagi menahan. Ternyata hal itulah yang membuat Gempita tidak nyaman sedari tadi. "Sudah, Genta. Terima kasih banyak," seru Gempita. Dia duduk kembali di mobil Genta dan tidak lupa memasang seatbelt-nya. Lega sekali rasanya karena hal yang membuatnya tidak nyaman telah pergi. Perjalanan pun akhirnya kembali berlanjut. Tak berselang lama mereka telah sampai di kawasan yang sepi dan sangat sunyi. Hanya ada beberapa orang saja di sana, ada yang sedang mengatur tata letak bahan bangunan, dan masih banyak lagi. "Gedung rancanganku akan dibangun di sini?" tanya Gempita sembari melirik kawasan tersebut. Sangat luas. Matanya memicing karena silau sekali. Namun, dia sangat senang saat terjun ke lapangan seperti ini. "Bukan sepenuhnya rancanganmu, tapi juga ada sangkut pautnya denganku!" tukas Genta tak terima jika Gempita mengakui seluruh rancangan itu miliknya. "Iya iya... Galak sekali!" "Sudah tahu galak, tapi kamu masih mengusikku!" "Nye nye nye nyee!" "Berani menjawab?" Genta menghela napas panjang menghadapi tingkah laku Gempita. Apalagi perempuan itu tiba-tiba meninggalkannya. Mungkin lelah juga beradu mulut dengannya. Sudah ada beberapa orang yang mulai membuat denah dan pembagian tempat untuk para pekerja esok harinya. Mereka nampak bersemangat sekali, padahal cuaca begitu terik. Nampaknya semua orang yang di sana juga sangat menyukai pekerjaan mereka, sama seperti Genta dan Gempita yang tidak mengeluh apa pun yang terjadi. Genta kemudian mendata semua perlengkapan tanpa terkecuali. Semuanya sudah lengkap, tinggal pelaksanaannya saja. Dengan begini, dirinya bisa mengambil proyek lain sembari menunggu proyek ini rampung. Masih lama, kurang lebih enam bulan lagi gedung akan berdiri sempurna. Dirasa persiapan sudah matang dan berjalan sesuai angan, Genta pun berencana untuk meninggalkan tempat itu. Pekerjaannya masih banyak, bahkan ada yang belum terjamah. Dia harus segera kembali dan menyelesaikannya sebelum bertambah banyak. "Genta, ada yang mengundangmu ke acara seminar di Bandung," seru Gempita. Dia baru saja mendapat notifikasi email surat undangan seminar tersebut. Gempita pun langsung memberitahukan pada Genta. Tugasnya seperti itu. Dia akan meminta izin terlebih dahulu pada Genta jika ada sesuatu. "Nanti akan aku cek lagi. Ayo kembali sekarang," sahut Genta. Dia melangkah terlebih dahulu menuju ke mobil. Dia sudah bersiap untuk pulang. Sedangkan perempuan itu masih berdiam menatap iPad yang memaparkan surat undangan. Dia heran kenapa ada yang mengundang lelaki dingin dan galak itu ke acara seminar motivasi. Apakah Genta bisa berbuat baik terhadap peserta seminarnya nanti? Apa Genta pantas mengisi seminar semacam itu? Kalau dilihat dari tampangnya, Genta memang tidak cocok. Ah, Gempita jadi berpikir keras untuk ini. Dia jadi penasaran dengan Genta. Perempuan itu ingin tahu lebih dalam tentang Genta. "Menunggu apa kamu? Menunggu ku tarik dan ku seret dengan paksa?" gertak Genta yang membuat Gempita tersadar bahwasanya dia sudah tertinggal cukup jauh dari Genta. "Iya, tunggu sebentar...." Gempita berlari terbirit-b***t mengejar Genta yang semakin cepat saja melangkah. Dia jadi tidak yakin bahwa Genta akan mengakhiri seminar itu. Lihat saja kelakukannya, kasar, galak, dan tidak sabaran. Mereka kemudian meninggalkan proyek pembangunan itu dan kembali ke kantor. Memang cukup melelahkan, tapi tidak ada kata mengeluh sedikit pun. Genta dan Gempita harus tetap semangat karena pekerjaan yang belum rampung masih banyak sekali. "Genta... Apa email tadi salah masuk, ya? Aku tetap tidak bisa memercayai kalau kamu diundang ke acara seminar motivasi," ucap Gempita saat sudah sampai di ruangan kerja. Dia terduduk seraya mengamati iPad yang memuat email ajakan tadi. Dia malah mengira bahwa ajakan seminar itu salah kirim. "Apa yang membuatmu tidak memercayainya?" tanya Genta dengan malasnya. Dia melepas jasnya dan meletakkannya ke stand hanger, begitu pula dengan topi yang digunakan untuk menghalau panas matahari tadi. "Kamu kan dingin dan galak. Mana bisa jadi kalem saat memberikan motivasi di acara seminar nanti." Gempita menjawabnya dengan lirih. Dia takut mengatakannya, tapi karena Genta yang bertanya, maka dari itu dia berani menjawab. Sementara Genta langsung beraut wajah masam. Dia berdiri dan menghampiri Gempita yang masih terduduk. Perempuan itu bergidik ngeri saat Genta menghampirinya. "Genta... Aku hanya berkata jujur. Kamu kan memang dingin dan pemarah. Kenapa begitu saja marah. Genta... Jangan membuatku takut...." Gempita semakin panik saat Genta kini sudah berdiri di depannya. Dia ingin pergi, namun tidak bisa karena dihalang Genta. "Genta... Jangan!" teriak Gempita membuat telinga Genta sakit mendengarnya. "Apa, sih!" Genta kembali marah. Dia kemudian mengambil dengan paksa iPad yang berada di tangan Gempita. "Oh, kamu ingin mengambil iPad rupanya," seru Gempita. Dia malah jadi malu sendiri karena telah berpikiran yang tidak-tidak pada Genta. Malu sekali. Genta kemudian kembali ke tempat duduknya. Dia membaca surat undangan untuk menghadiri seminar motivasi yang rupanya berlangsung di Bandung tidak lama lagi. Dirinya lalu melihat daftar kerjanya untuk ke depan, apakah di hari itu dirinya bisa menghadiri atau tidak. "Aku bisa mengosongkan jadwalmu untuk tiga hari lagi jika kamu ingin menghadiri acara tersebut," celetuk Gempita. Dia tahu bahwa jadwal Genta padat, tapi sebenarnya bisa diatur kembali. "Ya, lebih baik dikosongkan. Tapi bicarakan baik-baik dengan client, jangan sampai aku menerima protes dari mereka." Genta memberikan iPad tersebut kepada Gempita. Perempuan itu lantas mengatur jadwal tiga hari lagi. Padat sekali rupanya, tapi tidak masalah, dia bisa mengaturnya lagi. Mereka kembali disibukkan dengan tugas masing-masing. Genta paling sibuk karena Gempita belum membantunya. Perempuan itu masih berusaha bernegosiasi dengan para client. Tidak mudah karena semuanya juga sudah mengatur jadwal masing-masing, dan kemudian diubah. Tentu hal itu tidak mudah lagi mengatur jadwal. "Aku ingin makan siang terlebih dahulu. Kalau kamu mau ikut, segera bersiap," ujar Genta, dia melenggang keluar dari ruangannya. Sementara Gempita jadi kalang kabut, dia belum sempat bersiap tapi Genta sudah meninggalkannya. Dia pun langsung berlari tidak lupa membawa iPad yang masih menyala. Dia mengejar Genta, dan beruntung dia masih ditunggu Genta di lift. "Genta, kita mau makan siang di mana?" tanya Gempita dengan napas yang masih tersengal akibat berlarian. "Entahlah, tapi aku ingin makan sesuatu yang pedas," sahut Genta menggoda Gempita. Dia tahu sekali bahwa Gempita sulit untuk makan makanan pedas. Genta ingin mengerjai perempuan itu. "Aaa... Baiklah...." Genta melajukan mobilnya menuju ke kedai mie pedas yang belakangan ini viral karena rasanya yang nikmat dan sangat memanjakan lidah. Dia tertawa dalam hatinya melihat Gempita yang sedikit bergidik ngeri saat menatap pengunjung yang wajahnya merah karena menahan pedas. "Carilah tempat duduk terlebih dahulu, biar aku yang memesan makanannya." Genta menyuruh Gempita untuk mencari tempat duduk, dan perempuan itu menurut. Usai memesan, Genta duduk di samping Gempita yang masih asyik menatap iPad, mungkin kesulitan mengatur jadwalnya. Tapi Genta tidak peduli, baginya hal tersebut sudah menjadi tugas Gempita. Dan tak lama kemudian makanan yang telah dipesan Genta tadi datang. Dua porsi mie pedas dengan satu porsi pangsit goreng dan udang keju untuk melengkapi makan siangnya. Tidak lupa pula memesan minumannya, yaitu dua gelas es lemon tea. "Genta...." "Hm...." Genta acuh, dia tahu bahwa Gempita pasti takut memandang mie di hadapannya. Genta malah asyik mencicipi udang goreng yang dipadukan dengan saus istimewa. Gempita mengambil sumpit. Dia bergidik ngeri menatap mie di hadapannya yang merah sekali, pasti rasanya sangat pedas. Dia malah memilih untuk makan pangsit goreng terlebih dahulu tanpa cocolan sambal. "Makan cepat, kita harus segera kembali." "Ambil saja punyaku. Aku akan memakan pangsit dan udang gorengnya saja." Gempita menyodorkan piring mienya kepada Genta. Dia tidak mau makan karena takut sakit perut, takut lidahnya terbakar juga. "Tampilannya saja yang merah. Rasanya tidak pedas, aku memesan level rendah untukmu," ucap Genta, dia mendorong kembali mie milik Gempita. Gempita masih tidak percaya. Dia ragu sekali untuk memakannya. Dia kemudian menyumpit sedikit dan mencobanya. Ternyata tidak pedas padahal tampilannya sangat merah dan terlihat pedas. "Iya, tidak pedas. Terima kasih, Genta...." Gempita girang, dia bahkan memeluk Genta yang duduk di sampingnya. Tentu saja Genta langsung terhenti memakan mienya, dia jadi salah tingkah. Sementara Gempita senang, dia lahap memakan santap siangnya. Ternyata Genta memikirkan dirinya. Gempita sangat senang untuk hal itu. Tadinya dia mengira bahwa Genta tidak peduli dan memesan mie pedas, tapi ternyata dugaannya salah. Genta rupanya perhatian dan mengerti bahwa Gempita tidak suka pedas. Awalnya Genta hampir lupa, dia memesan dua mie pedas. Namun, kemudian teringat dengan Gempita yang tidak bisa makan pedas. Tadinya juga ingin mengerjai perempuan itu, tapi nanti malah Genta sendiri yang jadi kewalahan. Misalnya saja Gempita sakit perut, pada akhirnya dia akan kesulitan membantu Genta menyelesaikan pekerjaaan. Begitulah cerita mengenai mie pedas yang sebenarnya tidak pedas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD