Gempita dan Genta nampak serius menyelesaikan pekerjaan. Mereka juga nampak serasi dikarenakan pemikiran yang sepadan. Apa yang dipikirkan Gempita tentang pekerjaan hampir sama dengan apa yang dipikirkan pula oleh Genta. Hal itu membuat keduanya senang karena pekerjaan juga terasa lebih ringan.
Beruntung Genta mendapat asisten seperti Gempita yang mampu bekerja sama dengan baik. Awalnya dia memang ragu dan takut jika Gempita tidak sesuai ekspektasinya. Ternyata ekspektasi memang berbeda dengan realita. Gempita tidak seperti ekspektasi Genta, jauh dibandingkan itu.
Kali ini tiba-tiba saja Kale datang ke kantor menemui Gempita. Tentu saja Gempita maupun Genta terkejut, karena Kale masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sangat tidak sopan dan kurang ajar, tak layak untuk ditiru kelakuannya.
Semua yang berkunjung harus bisa menjaga kesopanan dan kesantunannya. Sekalipun orang yang dikunjungi sangatlah dikenal.
"Tidak sopan!" gertak Genta sembari melayangkan bolpoin tepat mengenai kening Kale. Genta kesal sekali dengan orang yang tidak punya sopan santun seperti Kale. Padahal selama ini Kale juga dididik untuk selalu menjaga sopan santun kepada siapa pun dan di mana pun juga. Tapi tidak tahu kenapa kali ini sama sekali tidak bisa mempraktikkan sopan santun yang diajarkan kedua orang tuanya.
"Kamu juga tidak sopan! Ada tamu malah digetok pakai bolpoin!" tukas Kale. Sebenarnya keduanya juga sama-sama tidak sopan, tapi tidak menyadarinya.
Genta tak lagi menggubris. Baginya Kale jauh lebih tidak sopan daripada dirinya. Bagi Genta, Kale pun wajar mendapat balasan atas ketidaksopanannya tadi. Meski demikian Kale tetap tidak terima dengan perlakuan Genta padanya.
"Hey, Kale!"
Gempita langsung berdiri dan menghampirinya. Dia dan Kale segera bergenggaman tangan, melompat, dan berputar. Sebuah hal aneh yang selalu mereka lakukan ketika bertemu. Katanya sebagai sapaan sebuah pertemuan. Ciri khas tersendiri bagi keduanya. Dan Genta muak melihatnya. Sangat alay, lebay, dan tidak penting sekali.
"Pekerjaanmu sudah selesai? Ayo pergi ke bioskop!" ajak Kale dan Gempita mengangguk.
Gempita sangat antusias jika berkenaan dengan film. Dia juga penasaran dengan dunia perfilman Indonesia yang sebenarnya jika disaksikan di bioskop secara langsung. Selama ini dia menyaksikan melalui virtual, dan sensasinya berbeda.
"Sebentar, ya...."
"Ehm... Genta," lirih Gempita mendekati Genta, dia ingin meminta izin.
"Pergilah! Cepat keluar dari sini, jangan membuatku kesal!" Sebelum Gempita mengutarakan maksudnya yakni berpamitan, Genta terlebih dahulu mengiyakan. Lagi pula pekerjaan Gempita sudah selesai, jadi dia boleh pulang. Genta ingin Gempita dan Kale keluar dari ruang kerjanya. Dia tidak mau melihat ketidakwarasan kedua orang itu lagi.
Dua insan itu kemudian pergi meninggalkan lelaki yang masih serius dengan rancangan sebuah gedung di kertas yang sangat lebar itu. Ruangan hanya menyisakan Genta dan juga suara jarum jam yang berdetak samar. Tak ada siapa-siapa lagi di sana. Tapi tak membuat Genta beranjak pula meninggalkan ruangan itu.
Kembali dengan rutinitasnya ketika sendiri– bergelut dengan pikirannya. Galeri di ponselnya dia buka. Dulu hampir tiap hari diisi dengan foto Tamara dengan dirinya. Sekarang sudah tak ada yang bertambah.
Senyum Tamara membuatnya teringat akan hal apa saja yang pernah dilalui. Mereka juga sering nonton film di bioskop, sama yang Kale dan Gempita lakukan saat ini. Dan Tamara selalu ketiduran ketika 15 menit terakhir. Dan saat itu Genta terpaksa menggendongnya keluar dan masuk ke mobil, karena film kedua akan segera diputar. Menggemaskan sekali.
"Hai, Tamara. Sedang apa kamu? Tidakkah engkau lihat bagaimana diriku di sini? Rinduku sangat menggebu, ingin sekali rasanya bertemu dan memelukmu lagi."
Genta berucap lirih. Air mata hampir menetes jika dia tidak lekas menahannya. Senyum getir kemudian ditampilkannya.
Sudah cukup lama perempuan itu pergi. Dan sudah cukup lama pula Genta masih larut dengan kesedihannya. Mencintai perempuan itu hanya membutuhkan waktu beberapa saat saja, sedangkan melupakannya tidak secepat itu. Bahkan seumur hidup pun belum tentu bisa.
Genta benar-benar kesulitan untuk melupakan Tamara. Teramat sulit. Beragam cara ditempuhnya, tapi tetap saja tidak bisa. Dia sendiri bingung kenapa sampai kini tak kunjung hilang pikirannya mengenai Tamara. Sepertinya Genta memang sudah terpatri pada perempuan yang telah lama pergi menghadap pencipta.
Sang bulan dan bintang mulai menyapa. Genta sudah berada di jalan untuk pulang, pekerjaannya memang belum rampung, dia akan melanjutkannya di hari berikutnya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, pantas saja jalanan ramai. Ya, ramai dengan para muda mudi yang hendak menikmati malam minggu.
Lelaki itu sudah tidak tertarik lagi dengan malam yang identik dengan menghabiskan waktu berdua dengan kekasih. Ya, semenjak kepergian kekasihnya. Dia tidak b*******h lagi untuk bersenang-senang. Yang ada pada diri Genta adalah kesedihan yang tak kunjung berakhir.
Dua orang di tepi jalan melambaikan tangan ketika mobilnya hendak menghampiri mereka– bermaksud menghentikan. Tidak terlihat jelas karena kawasan gelap dan hanya ada stau penerangan saja, itu pun tidak terang. Genta semakin mendekat dan akhirnya bisa melihat siapakah itu. Kale dan Gempita. Dia mengernyitkan dahinya mencoba menebak apa yang sebenarnya sedang dilakukan Kale dan Gempita di tepi jalan.
"Sedang apa kalian?"
"Motornya Kale mogok, bisakah kita menumpang mobilmu?" Gempita memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada Genta Dia juga meminta izin dengan ragu.
"Masuklah, Gempita. Dan kamu pindahlah ke belakang, biar aku yang mengemudikan mobilnya, Genta!" seru Kale. Dia kemudian menggiring Genta supaya duduk di kursi belakang.
Genta hanya bisa menurut karena Kale terus memaksanya. Genta sebenarnya juga cemas sekali. Dia tahu Kale bisa mengendarai mobil. Tapi lelaki itu sudah seperti mencari maut saat mengendarainya. Dan benar saja, baru berjalan beberapa meter mobil melaju di atas kecepatan rata-rata membuat Gempita dan Genta terombang-ambing dengan rasa takut yang menjadi-jadi. Keamanan mereka benar-benar dipertaruhkan meskipun sudah mengenakan seatbelt.
"Pelan-pelan! Sialan kau!" Genta nampak kesal dengan saudaranya, dia menoyor Kale dari belakang. Genta tetap mengawasi Kale yang mengendari mobil bak orang kesetanan. Dia tidak tahu bagaimana cara menghentikan Kale, Genta ingin sekali menggantikan lelaki itu mengendarai mobil.
"Kale... Aku belum mau mati. Apa kamu bisa memelankan mobilnya?" Kali ini Gempita yang memintanya. Dia sebenarnya pernah pergi dengan Kale menggunakan mobil, tapi saat itu Kale terlihat tenang. Mungkin karena terjadi kemacetan hingga tak ada jalur lagi. Dan kali ini Kale seolah memanfaatkan jalanan yang lengang hingga akhirnya melaju dengan kecepatan tinggi.
"Ini sudah pelan, Gempita," sahut Kale dengan santainya. Sedangkan Gempita dan Genta sudah sangat pucat. Mereka berdua pusing dan mual karena menaiki mobil yang dilajukan dengan kecepatan tinggi.
"Kaleeee!"
"Kale hati-hati!"
"Kale awas ada kunang-kunang, jangan ditabrak!"
"Arghh Kaleeee!"
Gempita berteriak sekencang mungkin, dia pun berpegangan dengan erat supaya dirinya tetap berada di tempat. Sementara Genta hanya bisa diam menanggapi perkataan Gempita yang juga tidak masuk akal, mungkin karena terlalu takut juga. Genta pasrah sekali, biar saja Kale puas. Dia nanti pasti akan memberikan balasan.
"Pelankan sedikit atau aku akan mencekik lehermu?!" seru Genta yang akhirnya diiyakan Kale. Genta berusaha tenang meski sebenarnya jantungnya berdegup cepat. Dia khawatir jika terjadi sesuatu pada mobil yang ditumpanginya. Terlebih lagi mobil Genta itu masih baru, tentu tidak mau kenapa-kenapa.
"Iya, aku akan pelan. Maafkan aku...."
Iya pelan. Tapi terlalu pelan. Hingga lima menit baru dapat satu meter. Kale benar-benar menyebalkan. Menyesal Genta berhenti dan memberikannya tumpangan. Harusnya Genta tadi pura-pura tidak mengenal Kale dan Gempita saja.
Genta tak ambil pusing. Dia kembali membiarkan Kale berbuat semaunya. Toh, mau dinasehati seperti apa juga Kale tidak akan patuh. Yang ada malah semakin menjadi-jadi. Kale memang agak lain.
"Kale, cepat perbaiki motormu. Jangan mengendarai mobil lagi. Aku benar-benar takut dan...." Gempita langsung turun ketika sudah sampai di depan rumahnya, dia mengeluarkan isi perutnya karena merasa mual. Dia sudah menahannya cukup lama, akhirnya lega juga.
Kale menjadi merasa bersalah. Dia hanya bisa meringis sembari menggaruk tengkuknya karena bingung harus berbuat apa. Ternyata banyak yang tidak suka caranya ketika mengemudikan mobil.
Kemudian mobil melaju kembali dan kini Genta sudah duduk di depan bersampingan dengan Kale. Genta tak lagi membiarkan Kale yang mengendari mobilnya. Mereka telah bertukar posisi sebelum meninggalkan rumah Gempita.
"Hari ini aneh sekali Gempita. Tadi pas nonton bioskop dia malah memejamkan mata terus dan bersembunyi di tubuhku. Dan saat aku antar pulang dia malah muntah-muntah. Masa iya naik mobil saja mabok," cerita Kale seolah tak tahu apa yang terjadi. Dan mendengar celotehan Kale itu, Genta malah semakin muak. Ingin rasanya meninggalkan Kale di tengah jalan. Untungnya Genta masih punya hati, hingga niat konyol itu tidak akan dilakukannya.
"Memangnya kalian menonton film apa? Kalau dia mabok tadi ya wajar sih, kamu aja bawa mobilnya kaya orang kesetanan!" sahut Genta sedikit kesal, Genta saja juga sebenarnya merasakan hal yang sama seperti Gempita. Dia kemudian mengatur napasnya karena akhirnya terbebas dari Kale yang kesetanan mengendarai mobilnya.
"Tadi aku menonton film action dan horor yang terbaru itu, loh. Tentang film pembunuhan yang berakibat fatal kepada masyarakat sekitar. Sumpah keren banget, sih. Adegan pembunuhannya benar-benar diceritakan secara jelas. Ngeri juga, darah sampai berceceran. Dan yang paling parah, mayatnya digantung di lantai dua. Baru diketahui dua bulan kemudian. Sudah membusuk, tidak terbayang baunya seperti apa. Bahkan belatung banyak memghampirinya."
Mendengar cerita Kale yang tanpa jeda itu membuat Genta menggelengkan kepalanya. Horor dan action memang bagus, tapi tidak bagi perempuan. Sudah pasti Gempita sangatlah takut apalagi ada adegan pembunuhannya. Kale benar-benar bodoh. Genta pikir mereka menonton film romantis, eh ternyata tidak.
"Aku tadi memang awalnya ingin menonton film romantis. Tapi aku tidak menyukainya. Pasti alurnya biasa saja, membosankan. Lebih baik action campur horor. Jauh menantang dan tidak membosankan sama sekali meskipun diulang-ulang," tambah Kale. Dia tahu bahwasanya orang berkencan harusnya menonton film romantis, tapi karena dia tidak suka makanya tidak menonton film bergenre itu. Kale terlalu mementingkan dirinya sendiri sampai melupakan orang yang diajaknya kencan.
"Kale... Sepertinya kamu memang sudah bosan untuk hidup. Biarkan aku membunuhmu malam ini," seru Genta menggertakkan giginya.
"Izin dulu sama Mama," sahut Kale dengan santainya. Dan hal itu tentu saja membuat Genta semakin kesal dengan kembarannya.
Mobil hening seketika. Genta berusaha memadamkan amarahnya. Dia kembali tenang dan mengemudikan mobil dengan tenang pula, tidak seperti Kale tadi. Dirinya sudah lelah jika harus berdebat dengan Kale lagi.
"Genta, apa kamu tidak memiliki rasa pada Gempita?" tanya Kale kemudian. Dia ingin memastikan sesuatu. Sudah cukup lama Gempita dan Genta bekerja bersama, beragam pikiran negatif dan positif pun muncul di benaknya. Kale ingin tahu lebih jelas tentang mereka.
"Tidak!"
"Padahal kan kamu sering bertemu dengannya, dekat dengannya... dan kalian tak jauh sedetik pun bukan?"
"Kalau aku bilang tidak ya tidak!"
"Baguslah. Aku hanya khawatir kamu mengambil Gempita dariku. Pokoknya awas saja kalau Gempita malah memilihmu daripada denganku!" ancam Kale yang tak digubris Genta.
Gempita memang membuat Genta nyaman. Tapi Genta tahu, ini hanyalah rasa nyaman dikarenakan pekerjaan bukan hal lain —apalagi tentang perasaan. Tidak ada rasa seperti itu.
"Genta...."
Genta yang hendak turun dari mobil karena sudah sampai di rumah pun mengurungkan niatnya karena Kale memanggilnya.
"Apa kamu tidak memiliki perasaan lagi pada perempuan?"
"Tidak!" jawab Genta dengan cepat. Baru saja melangkahkan satu kakinya, Kale kembali berbicara.
"Atau jangan-jangan kamu menyukai lelaki? Genta, tobatlah! Itu hal yang tidak benar! Kamu harus segera sadar! Astaga, Genta! Bagaimana jika Mama mengetahuinya!"
Kale seperti orang kesetanan. Dia berbicara ngalor ngidul membuat Genta tak bisa lagi menahan emosinya. Genta turun dan membuka pintu mobil supaya Kale keluar. Dia menarik saudara kembarnya hingga akhirnya keluar juga.
"Seharian ini kamu membuatku naik darah terus! Biarkan aku membunuhmu!"
Genta mendorong Kale hingga tersungkur. Tentu saja Kale langsung panik, dia berusaha kabur dari jangkauan Genta. Tapi sayang, Genta lebih dahulu menarik kakinya.
"Genta... Aku tadi hanya bercanda. Lepaskan aku!" teriak Kale. Dia berharap Papa, Mama, atau siapa pun yang sedang di rumah keluar membantunya supaya terhindar dari amukan Genta. Kale tahu bahwa Genta pemarah, tapi dia tetap saja mengganggu lelaki itu.
"Kau ini sebenarnya manusia atau bukan, Hah! Dasar menyebalkan!" Genta masih menggenggam erat kaki kanan Kale. Sementara Kale juga berusaha sekuat tenaga lari dari jangkauan Genta.
"Mahhh...."
"Tolong Kale...."
Dengan tangan yang masih menggenggam kaki Kale, Genta berjalan memasuki rumahnya. Kale terseret cukup jauh, dan kini dia hanya bisa pasrah tubuhnya beradu dengan lantai. Tapi seru juga, Kale jadi teringat dengan masa kecilnya bersama Genta.
"Allahu akbar! Ada apa ini?" seru Bu Lili menggelengkan kepalanya melihat anak kembarnya pulang dengan keadaan tidak masuk akal. Genta menyeret Kale entah dari mana. Yang jelas, Bu Lili yakin pasti mereka baru saja bertengkar.
"Biarkan Genta membunuh Kale malam ini!" seru Genta kepada Mamanya. Dia kemudian menatap Kale untuk memastikan apakah saudaranya itu baik-baik saja setelah diseretnya cukup jauh.
Genta pun langsung melepaskan kaki Kale saat melihat saudaranya itu bukannya takut malah menikmati. Bagi Kale diseret Genta tadi seolah mencoba wahana di tempat bermain. Aih, Kale itu sebenarnya manusia atau bukan.
"Genta... Seret lagi. Aku sangat menyukainya!"
Kale malah terkikik. Dia masih tertidur di lantai menyaksikan saudaranya menaiki tangga hendak ke kamar. Bu Lili pun lekas membantu Kale untuk berdiri. Dia kembali mengelus d**a melihat tingkah anak-anaknya yang membagongkan.